
Arga menghentikan laju mobilnya. Ia memukul setir mobilnya saat mengingat ucapan Ken yang begitu merendahkan Sara.
Jika saja Arga tidak menahan diri, mungkin Arga sudah memukul bibir Ken hingga boyok agar pria itu tak lagi bicara hal buruk tentang Sara.
Arga menatap ke arah club malam, Ya Ia saat ini memang berada diclub malam. Arga ingin minum segelas whisky untuk menghilangkan rasa kesalnya karena ucapan Ken.
"Woi broo, udah lama nggak kesini." sapa bartender yang langsung memberikan segelas whisky untuk Arga seolah sudah tahu apa yang di inginkan oleh Arga.
"Lagi kesel gue!"
"Kenapa? Masalah bokap lagi?" tebak si bartender.
Arga menggelengkan kepalanya, "Bukan, masalah lain."
"Habis mukul anak orang lagi Lo?" tebak si bartender seolah sudah tahu segala sesuatu tentang Arga.
"Kagak ada, nggak bakal gue ceritain." ucap Arga lalu meneguk habis segelas whisky nya.
"Anjir Lo, gue udah penasaran juga!" omel Si bartender.
Arga cuek, tak merespon omelan temannya, Ia menggelengkan kepalanya, menikmati alunan musik dj yang sedikit menghiburnya.
"Eh itu si Tika ngeliatin Lo!"
Arga menoleh ke arah gadis yang bernama Tika, tersenyum ke arahnya lalu berjalan menghampirinya, "Beb, kok udah lama nggak ke tongkrongan?" tanya Tika ingin mencium pipi Arga namun seketika ditolak oleh Arga.
"Kenapa sih Beb nggak pernah mau dicium!" protes Tika.
"Lo udah nggak perawan, males gue!" balas Arga jujur lalu berbalik meminta segelas whisky lagi pada si bartender.
Tika tampak kesal dengan ucapan Arga, "Semisal gue masih perawan juga Lo bakal nolak kan?"
Arga tersenyum nakal, "Kagak lah, gue memang anti sama gadis nggak perawan."
"Anjing emang Lo!" umpat Tika lalu duduk disamping Arga, "Sibuk ngapain?" tanya Tika mengambil minuman Arga lalu menyesapnya hingga habis.
Melihat minuman nya dihabiskan oleh Tika, Arga hanya diam saja karena tak ingin berdebat dengan Tika.
"Sibuk kerja, menata masa depan."
Uhukkk... Uhukkk... Seketika Tika tersedak mendengar ucapan Arga.
"Gila, beneran sibuk kerja? Nglanjutin perusahaan bokap?" tanya Tika tampak tak percaya.
Arga hanya mengangguk, merasa bosan apalagi melihat Tika, Arga memutuskan untuk pulang.
"Beb, gue masih kangen." keluh Tika namun tak digubris oleh Arga.
Arga berjalan keluar dari club dan memasuki mobilnya.
__ADS_1
Kepalanya yang tadi terasa pening kini lebih baik. Arga melajukan mobilnya meninggalkan club untuk pulang kerumah.
"Mampir ke hotel?" tanya Herman saat melihat putranya baru pulang padahal sudah hampir pukul 12 malam.
"Pengen nya gitu yah... Tapi Saranya nggak mau!" balas Arga membuat Herman kesal lalu menjitak kepala Arga.
"Awas kamu macem macem, Ayah batalin permintaan kamu!" ancam Herman.
"Slay Yah... Aman lah." ucap Arga lalu naik ke atas kamarnya.
Arga menutup pintu kamarnya, Ia pergi ke kamar mandi lalu mengguyur tubuhnya dengan air shower yang dingin agar pikirannya ikut dingin.
Segelas whisky juga air dingin yang menyiram kepalanya membuat Arga lebih tenang dan kini Ia bisa segera tidur.
Arga bisa tidur dengan nyenyak berbeda dengan Sara yang masih belum bisa memejamkan mata. Sara merasa tak nyaman memikirkan banyak hal tentang Arga.
Arga sempat menatapnya datar saat mendengar ucapannya padahal sebelumnya Arga tidak pernah menatapnya datar seperti tadi dan lagi Arga tersenyum saat memainkan ponselnya membuat Sara penasaran dengan siapa Arga mengirim pesan.
Sara memukul bibirnya, "Kenapa kau bicara tanpa berpikir, dia pasti kecewa dengan ucapanku!" gumam Sara lalu terdiam dan berpikir.
Sara lalu berdecak, "Untuk apa pula aku peduli, bukankah bagus jika seperti itu dia tidak akan lagi mengejarku!" gumam Sara lagi lalu menarik selimutnya, siap untuk tidur.
Sara sudah memejamkan matanya, satu menit... Dua menit... dan Ia masih belum bisa tidur.
"Sial, menyebalkan!" omel Sara lalu bangun dan mengambil ponselnya yang ada dinakas. Sara mencari kontak Arga, Ia sudah menemukan nomor Arga. Sara ingin menelepon Arga untuk minta maaf namun jarinya terasa berat untuk mendial nomor Arga.
Sara kembali memejamkan mata. Rasanya masih belum tidur namun Sara memaksa hingga akhirnya Ia terlelap.
Paginya....
Sara bangun dalam keadaan lebih baik. Tak lagi merasa bersalah meskipun Ia masih mengingat senyuman Arga semalam saat memainkan ponsel.
Sara mandi dan bersiap untuk sarapan. Hari ini weekend jadi Ia tidak pergi ke kantor.
"Mau kemana Ran?" tanya Sara saat keluar kamar dan melihat Rani membawa tas punggung besar.
"Pulang kampung mbak."
"Lah, kemarin Faris sekarang kamu." celetuk Sara.
"Iya nih mbak," Rani tersenyum memperlihatkan gigi rapinya.
"Naik kereta? Ikut dong, bosen juga dirumah." kata Sara lalu tersenyum.
"Naik motor mbak sama Dylan, tapi kalau mau ikut nggak apa apa."
Raut wajah Sara berubah sungkan, "Eh nggak usah cuma bercanda kok." ucap Sara lalu menepuk bahu Rani.
Rani mengangguk dan turun ke bawah diikuti Sara.
__ADS_1
Dimeja makan, sudah ada Faris, Vanes dan Wira.
"Pucet amat muka Lo!" ucap Sara saat melihat Vanes.
"Habis muntah soalnya." Faris yang menjawab.
"Masuk angin?" tebak Sara.
Vanes menggelengkan kepalanya, "Kita belum ngasih kabar bahagia sama kalian ya." ucap Vanes sambil tersenyum.
"Kabar bahagia apa?" Rani dan Sara tampak penasaran.
"Alhamdulilah Vanes hamil." ucap Faris yang langsung membuat raut Sara dan Rani terlihat bahagia.
"Beneran?" tanya Sara.
Faris dan Vanes mengangguk.
"Semoga lancar sampai lahiran ya mbak..." ucap Rani.
"Iya Ran... Semoga kamu sama Dylan juga cepat nikah ya." balas Vanes.
Rani mengangguk dan tersenyum malu.
"Sara juga tuh, cepet bangkit, udah ditungguin sama Arga juga." celetuk Faris.
Sara berdecak, "Nggak usah bawa bawa gue deh!"
Wira yang sedari tadi diam kini tampak ikut berbicara, "Kamu mau ngapain hari ini?" tanya Wira pada Sara.
"Nggak tahu juga Pa... Nggak ada rencana kemanapun juga." balas Sara yang memang bingung karena Ia tak memiliki siapapun untuk diajak pergi.
"Anterin Papa pergi ke tempat pemancingan ya? Papa mau mancing."
Sara mengangguk, "Oke deh Pa..."
Selesai sarapan Rani berpamitan pada Wira karena Dylan sudah menjemputnya dan Sara bersiap untuk mengantar Wira. Ia memakai dress floral warna cerah juga rambutnya Ia cempol membuat Sara terlihat cantik juga seksi.
Sara pergi menggunakan mobil Wira karena mobilnya masih dikantor. Ia segera melajukan mobinya pergi ke tempat pemancingan yang tak jauh dari rumah Wira.
Sesampainya dipemancingan, Sara ikut keluar dari mobil, "Harusnya bikin sendiri dirumah biar nggak perlu kesini kalau mau mancing." saran dari Sara.
"Lebih asik disini lah kan bisa mancing sama temen temennya Papa." balas Wira lalu melambaikan tangan pada seseorang membuat Sara ikut melihat ke arah lambaian tangan Wira.
Dan betapa terkejutnya Sara saat melihat ada Herman dan Arga disana. Kedua orang itu berjalan mendekati Sara dan Wira.
Bersambung....
Jangan lupa like vote dan komen yaa
__ADS_1