
Lelap Arga terusik kala merasakan seseorang mengelus pipinya. Arga membuka matanya, Ia merasa melihat bidadari yang sangat cantik. Bidadari yang berbeda dari bidadari lainnya karena yang ada didepannya kini bidadari berhijab.
"Cantik sekali." gumam Arga membuka matanya lalu tertawa karena Ia merasa melihat Sara namun Sara memakai hijab.
"Tidak mungkin, apa aku berhalusinasi." gumam Arga lalu kembali memejamkan matanya.
"Apa kau tidak mau bangun!" suara omelan Sara membuat Arga yakin jika yang ada didepannya itu memang benar Sara, Arga sama sekali tidak berhalusinasi.
Arga kembali membuka matanya, Ia benar benar melihat Sara yang mengenakan hijab. Arga menatap Sara cukup lama hingga Sara merasa salah tingkah melihat tatapan mata Arga.
"Bangun!" ucap Arga sekali lagi.
"Kau... Kenapa kau memakai hijab?" tanya Arga menatap Sara dengan rasa kagum.
Melihat Sara memakai hijab seperti ini membuat Arga merasa adem dan semakin dibuat jatuh cinta dengan gadis itu.
"Pergilah mandi, setelah ini aku ingin mengajakmu ke suatu tempat." pinta Sara.
Arga mengangguk, Ia bergegas bangun. Kali ini Arga bisa melihat Sara secara menyeluruh. Sara memakai gamis panjang yang sangat bagus dan indah, warnanya senada dengan hijab yang dipakai Sara.
Tak hanya terlihat cantik namun Sara terlihat anggun dan menyejukan mata.
"Kenapa masih berdiri disitu, sana buruan mandi." omel Sara melihat Arga masih mematung ditempatnya.
Arga tersenyum lalu masuk ke kamar mandi.
Sara tidak turun ke bawah, Ia masih menunggu Arga hingga pria itu keluar dari kamar mandi dan hanya melilitkan handuk di pinggangnya.
"Pakai ini." ucap Sara menyodorkan paper bag tanpa menatap ke arah Arga yang telanjang dada.
"Apa ini?" Arga membuka paper bag ternyata setelan kemeja lengkap dengan jas dan warnanya sama seperti gamis yang dipakai Sara.
"Sebenarnya kita mau kemana?" tanya Arga sangat penasaran dengan apa yang akan dilakukan Sara padanya pagi ini.
"Sudah pakai saja, kita harus sampai sana pukul 8 pagi." pinta Sara.
Arga tak lagi protes, Ia segera memakai setelan kemeja yang diberikan oleh Sara.
Arga kini sudah terlihat rapi dan tampan mengenakan setelan yang diberikan oleh Sara.
"Aku lupa." celetuk Sara saat keduanya akan keluar kamar.
Sara mengambil crown didalam tas yang Ia bawa lalu Ia pasangkan dikepalanya.
"Kita seperti akan menikah hari ini, apa kita akan melakukan foto prewedding?"
Sara hanya mengangguk sambil tersenyum kecil, Ia benar benar tak sabar melihat respon Arga jika Ia akan membawa Arga ke Kua saat ini juga.
__ADS_1
Sara dan Arga turun ke bawah, sebelum berangkat mereka sarapan lebih dulu.
"Ayah kemana Bik?" tanya Arga pada asisten rumah tangganya saat melihat tidak ada Herman dimeja makan.
"Tuan sudah berangkat pagi tadi Den."
"Kok tumben pagi amat." heran Arga.
Asisten rumah tangga Arga hanya tersenyum geli seolah tahu apa yang akan terjadi namun Ia tak bisa memberi tahu Arga.
"Kenapa mengajak prewedding di hari kerja?" tanya Arga disela sela sarapannya.
"Karena wekeend kita harus ke kampung halaman Bik Sri."
Arga berdecak, Ia kembali mengingat jika pernikahannya di undur karena Calon mertuanya akan menikah di hari yang seharusnya menjadi pernikahan mereka.
"Apa kau kesal lagi?" tanya Sara melihat raut wajah Arga berubah.
"Aku hanya tidak ingin mengingat masalah itu."
Sara tersenyum, "Aku akan membuatmu senang hari ini."
Arga berdecak, "Bagaimana cara membuatku senang? Apa kau sudah mau tidur denganku?"
Sara mengangguk membuat Arga terkejut, "Nanti malam aku akan tidur denganmu."
"Jangan gila, aku hanya bercanda." ucap Arga merasa tak enak karena Ia tahu Sara tak ingin disentuh sebelum mereka menikah.
"Tidak, nanti malam aku tidak ingin tidur denganmu!" ucap Arga.
"Apa kau yakin?" Sara ingin tertawa saat ini juga namun Ia tahan.
"Ya tentu saja aku yakin, aku tidak mau tidur denganmu!" kata Arga.
Meskipun saat ini Arga masih kesal dan kecewa dengan Sara namun Arga tak ingin memaksa Sara melakukan hal yang tidak disukai Sara. Hanya ciuman bibir itu sudah cukup membuatnya senang.
"Baiklah jika memang tidak mau, aku akan tidur sendiri malam ini, sekali lagi apa kau yakin?" tanya Sara.
"Ya aku sangat yakin, jangan mencoba merayuku!"
"Baiklah baiklah, aku harap kau bisa menetapi janjimu." ucap Sara yang langsung diangguki oleh Arga.
Selesai sarapan, Arga dan Sara segera keluar dari rumah dimana Zil sudah menunggu disamping mobil mereka.
Arga sedikit terkejut dengan penampilan Zil pagi ini, terlihat berbeda karena Zil memakai kemeja putih dan dasi kupu kupu. Sangat rapi tidak seperti Zil yang biasanya hanya memakai kaos dan jaket.
"Kau pikir mau pergi ke pesta?" ejek Arga mengomentari penampilan Zil saat ini.
__ADS_1
"Anggap saja begitu Tuan."
Arga berdecak, "Aku hanya ingin foto prewedding dan kau juga berpakaian rapi, apa kau ingin ikut di foto juga?" ejek Arga lagi.
"Jika boleh saya ingin berfoto disamping Nona." balas Zil dengan santainya.
"Jangan harap kau bisa Zil." ancam Arga seketika membuat Zil tertawa.
"Ayolah Zil..." teriak Sara dari dalam mobil membuat Arga dan Zil segera masuk ke dalam mobil.
"Ternyata Nona sudah tak sabar ya?" goda Zil.
"Bukan seperti itu, aku hanya takut terlambat Zil." jelas Sara.
"Tidak akan Nona, perjalanan sampai sana hanya butuh waktu 20 menit dan saat ini masih pukul 7 pagi, jika kita berangkat sekarang pastinya akan menunggu disana." jelas Zil.
Sara menghela nafas panjang, "Terserah kau saja Zil, aku hanya tak ingin kita terlambat." kata Sara.
Arga yang duduk disamping Sara, menatap ke arah Zil dan Sara bergantian sambil bertanya tanya apa yang mereka bicarakan itu, sebenarnya Sara mau membawanya kemana?
"Apa kalian bersekongkol." tanya Arga memastikan jika Ia tidak dipermainkan saat ini.
"Ya Tuan, semalam Nona menelepon dan-"
"Zil!" potong Sara menyentak Zil sambil melotot ke arah Zil agar tidak membocorkan rahasianya.
"Ampun Nona ampun." ucap Zil lalu tertawa, "Maafkan saya Tuan, saya berada dipihak Nona." ucap Zil pada Arga.
"Kalau begitu kau minta gaji pada Sara saja!" omel Arga sudah sangat penasaran tapi Zil tak memberitahunya.
"Baiklah Tuan, Nona memang akan memberi saya bonus setelah lembur semalam." kata Zil.
"Sial... Sebenarnya apa yang kalian lakukan!" Arga mulai emosi.
Zil dan Sara malah tersenyum geli membuat Arga semakin emosi.
Setelah berada dimobil hampir 1 jam, mereka akhirnya sampai ditempat tujuan.
Arga sempat terkejut saat Sara membawanya ke Kua dimana sudah ada Herman, Wira, Vanes, Faris serta Rani yang menunggu kedatangan mereka.
"Sudah bisa dimulai sekarang." ucap Zil.
"Dimulai apa? Sebenarnya ada apa ini?" Arga masih bingung dengan apa yang terjadi.
"Aku mengajakmu kesini agar kau bisa menikahiku hari ini." ucap Sara.
Arga melonggo, menatap Sara tak percaya.
__ADS_1
Bersambung....
Jangan lupa like vote dan komen yaaa