
Ken menatap Sara frustasi karena lagi lagi gadis itu mabuk. Ken tidak mau melakukannya lagi, tidak karena Ia tak mau Sara semakin membencinya.
"Ini hari pernikahan saudaramu, bagaimana bisa kau malah mabuk seperti ini!" omel Ken membawa tubuh Sara kembali masuk ke mobil.
Ken sudah menghubungi anak buahnya agar datang dan mengambil mobilnya, sementara Ia pulang menaiki mobil Wira yang tadinya dibawa oleh Sara.
"Apa kita akan pulang?" tanya Sara lalu tertawa.
"Tentu saja Nona."
"Jangan bawa aku pulang bawa aku ke... Emmm... Ke..."
"Nona mabuk, seharusnya Nona segera pulang." kata Ken.
"Tidak Ken, aku tidak mau pulang. Bagaimana kalau kita ke hotel?" tawar Sara menggoda Ken dengan memainkan dada Ken.
Ken menghentikan laju mobilnya, Ia melepaskan tangan Sara dari dadanya lalu membawa Sara duduk dengan benar dibangkunya, tak lupa Ia juga memasangkan sabuk pengaman untuk Sara.
"Kenapa kau melakukan ini? Apa kau jijik padaku?" tanya Sara lalu tertawa lagi.
Ken menghela nafas panjang, "Aku sama sekali tidak jijik Nona hanya saja jika Nona sadar nanti pasti akan menyalahkanku dan menuduhku sudah melecehkan Nona." ucap Ken.
Sara tertawa, "Katakan siapa yang sudah menuduhmu? Aku akan menghajarnya."
Lagi lagi Ken hanya bisa menghela nafas panjang dan kembali melajukan mobilnya. Ken merasa percuma menjelaskan pada Sara yang sedang dibawah pengaruh alkohol saat ini, Sara tidak akan paham.
"Aku mau kehotel, aku mau ke hotel." pinta Sara sambil memukuli dasboard mobil seperti anak kecil.
"Baiklah, saya akan membawa Nona ke hotel."
"Benarkah?" Sara menatap Ken dengan senang.
"Tentu saja Nona."
Ken membalikan arah, awalnya Ia ingin membawa Sara pulang kerumah Wira namun sekarang Ia berubah pikiran.
Ken akan membawa Sara kembali ke hotel tempat Vanes dan Faris mengadakan pesta pernikahan.
"Mabuk lagi?" tanya Wira saat berpapasan dengan Ken yang kini memapah tubuh Sara.
"Maafkan saya Tuan, saya tidak bisa melawan Nona."
Wira tersenyum, "Bukan salahmu, bawa saja dia ke kamar yang sudah disiapkan."
Ken memgangguk lalu mengendong Sara agar bisa membawa Sara ke kamar dengan cepat. sesampainya dikamar, Ken membaringkan tubuh Sara ke ranjang.
Ken sudah menahan dirinya sedari tadi agar tidak melakukan sesuatu yang bodoh namun melihat rok pendek yang dipakai Sara tersingkap memperlihatkan paha mulus milik Sara membuat Ken tak tahan.
Ken menyentuh paha mulus Sara yang pernah Ia nikmati itu sebelum akhirnya Ia sadar dan menggelengkan kepalanya, "Tidak Ken, jangan lagi." gumamnya lalu bergegas pergi dari kamar itu karena Ken tidak ingin khilaf dan memanfaatkan kondisi Sara yang tak sadarkan diri.
Ken menutup pintu kamar Sara lalu berbalik dan didepan ada kamar nomor 213, itu kamar pengantin Vanes dan Faris.
__ADS_1
Ken berdiri, menatap kamar itu sejenak sebelum akhirnya Ia menghela nafas panjang dan pergi dari sana.
Ken pergi ke taman hotel, Ia mengambil satu batang rokok dan menikmatinya sambil duduk dibangku.
"Aku pikir kau akan tidur dikamar Sara lagi."
Uhukk ... uhukk.. seketika Ken tersedak mendengar suara Wira yang kini berdiri disampingnya.
"Tuan..." wajah Ken bahkan berubah pucat.
"Aku hanya bercanda, jangan menganggapnya serius." ucap Wira lalu tertawa.
"Candaan Tuan membuat jantung saya mau copot." akui Ken.
Wira tersenyum, "Jika kau menyukai Sara, kau bisa menikahinya."
Uhuk... Uhuk... Lagi lagi Ken tersedak.
"Tuan, jangan bercanda lagi."
Wira menepuk bahu Ken, "Kali ini aku serius." ucapnya lalu pergi meninggalkan Ken.
Ken menatap punggung Wira yang menjauh lalu Ia berdecak, "Mana mungkin aku menikahi Nona yang bahkan membenciku."
Ken kembali mengambil rokoknya untuk Ia hisap lagi dan baru beberapa detik, seseorang duduk disampingnya.
"Belum tidur mas?" tanya orang itu yang tak lain adalah Rani.
"Aku nggak bisa tidur ditempat baru mas."
"Pasti rasanya asing ya?"
Rani mengangguk, "Dikampung kamarku biasa saja tapi bisa membuat tidurku nyenyak."
Ken tersenyum, "Kadang kenyamanan nggak harus selalu bagus."
Rani tersenyum dan malah asyik memandangi Ken.
"Apa wajahku kotor?" tanya Ken merasa sedikit risih karena Ia tak terbiasa dipandangi seperti itu.
"Nggak kok mas, maaf kalau buat Mas nggak nyaman." Rani tak lagi memandangi Ken, "Ngomong ngomong tadi Mas pergi kemana? Padahal acaranya belum selesai kok sudah pergi?"
"Ohh itu, aku nemenin Sara."
"Siapa Sara? Pacarnya mas?"
"Bukan, keponakan dari Tuan Wira."
"Mas suka?" tanya Rani yang membuat Ken langsung menatap Rani aneh.
"Maaf mas kalau aku bikin nggak nyaman." ucap Rani merasa berlebihan.
__ADS_1
Ken mengerus rokoknya lalu melemparnya masuk ke tempat sampah yang tak jauh dari sana. Ken lalu beranjak dari duduknya, "Ngantuk nih, tidur duluan ya." pamit Ken lalu pergi meninggalkan Rani.
"Iya mas, aku juga mau tidur sekarang." Rani ikut beranjak dan mengikuti langkah kaki Ken.
"Ada apa dengan gadis ini? Dasar aneh." batin Ken berjalan cepat agar segera masuk dan sampai di kamarnya.
"Selamat malam mas, semoga tidurmu nyenyak." ucap Rani sebelum akhirnya Ia berbelok.
"Benar benar gadis aneh, membuat risih saja." gumam Ken bergindik lalu segera memasuki kamar hotelnya.
...****************...
Vanes membuka matanya saat merasakan ada cahaya yang masuk melalui celah gorden dan mengenai wajahnya.
Vanes merasakan tubuhnya lengket dan terasa sakit semua.
Ia menepuk nepuk ranjang disampingnya sudah tidak ada Faris disana.
Baru ingin beranjak, Ia dikejutkan oleh suara Faris yang ada disamping kanan.
"Pagi sayang..." suara Faris tampak renyah dan bersemangat.
"Mas... Sudah bangun?" tanya Vanes tampak terkejut melihat Faris sudah segar habis mandi sementara dirinya baru bangun tidur dan masih belum mengenakan sehelai benangpun, hanya selimut tebal yang menutupi seluruh tubuhnya.
"Aku tidak terbiasa bangun siang." ucapnya sambil memandangi Vabes membuat Vanes salah tingkah.
"Aku malah baru bangun." Vanes merasa malu.
"Tidak masalah, aku tahu pasti kamu kelelahan karena semalam." bisik Faris lalu meniupkan nafas hingga membuat Vanes merasa geli.
"Badanku sakit semua." keluh Vanes.
"Baiklah Tuan putri, apa aku harus mengendongmu ke dalam kamar mandi?" tawar Faris yang langsung diangguki oleh Vanes.
Faris membuka selimut Vanes bersiap untuk mengendong Vanes namun Vanes malah kembali menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Aku bahkan sudah melihat semuanya." cibir Faris.
"Aku malu."
Faris menghela nafas panjang, tidak mungkin membawa selimut tebal itu ke kamar mandi jadi Ia memilih mengambil handuk lalu diberikan pada Vanes.
Faris sudah membawa Vanes ke dalam kamar mandi, segera menyalakan shower air hangat untuk Vanes.
Dan saat Vanes membuka handuknya, Ia merasakan tegang dibawah sana karena melihat tubuh polos Vanes.
"Sial, kenapa sulit sekali menahan diri." gumam Faris langsung melepas pakaiannya dan menyerang Vanes.
Bersambung....
Jan lupa like vote dan komen yaaa
__ADS_1