
Sara memantapkan hatinya agar hari ini bisa ikut ke kantor dengan Faris. Kembali bekerja untuk menghilangkan suntuk serta galau yang masih melanda hatinya namun siapa sangka Ia malah bertemu dengan pria menyebalkan yang seharusnya tidak Ia temui lagi.
Sara menatap ke arah Arga kesal sementara Arga malah menatapnya nakal.
"Duduk." suara Herman terdengar tegas.
"Baiklah Ayah baiklah, aku akan duduk." ucap Arga melepaskan kedua tangannya dari anak buah ayahnya.
"Dia Arga anak semata wayangku dan mungkin dia akan melanjutkan perusahaanku. Aku memohon padamu Faris, bantu putraku agar bisa sepertimu." pinta Herman menatap ke arah Faris.
Arga malah sibuk menatap ke arah Sara yang menunduk tak mau menatap ke arahnya.
"Saya Faris." ucap Faris memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya.
Arga menjabat tangan Faris setelah itu berpindah mengulurkan tangannya ke arah Sara. "Apa dia sekretarismu?" tanya Arga namun Sara tak segera menerima uluran tangan Arga.
"Bukan, dia adik ku. Dia juga pemilik perusahaan."
"Ohh, wanita karir." celoteh Arga namun lagi lagi tak digubris oleh Sara.
"Kenapa tidak menjabat tangannya?" tanya Faris dengan nada berbisik pada Sara.
Mau tak mau Sara akhirnya menerima uluran tangan Arga membuat Arga tersenyum lebar, "Sara."
"Ah nama yang cantik, secantik orangnya." goda Arga yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Sara.
"Apa yang kau lakukan! Jangan bercanda!" omel Herman.
"Baiklah ayah, mari kita mulai semuanya." kata Arga santai.
Meeting pun akhirnya dimulai dan Arga sering menatap ke arah Sara sesekali mengedipkan mata membuat Sara bertambah kesal.
Sementara itu dikantor Ken. Pria itu tampak mengemasi barangnya karena Ia mengundurkan diri dari perusahaan Wira. Bukan tanpa sebab Ken melakukan itu, Ken merasa malu pada Wira atas apa yang sudah Ia lakukan jadi Ia memilih berhenti meskipun Wira masih memberi kesempatan untuknya.
"Bos..." Dylan masuk ke ruangannya, menatap sedih ke arah Ken. Meskipun Ken menganggu hubungan Dylan dengan Rani, Dylan tetap memaafkan Ken karena Ken lah orang yang membantu Dylan mendapatkan pekerjaan ini.
"Bagus kau disini, kemarilah." pinta Ken yang langsung diangguki oleh Dylan.
Dylan berjalan mendekati Ken,
"Ini akan menjadi kantormu."
Dylan tentu saja terkejut dengan ucapan Ken, "Apa maksudnya Bos?"
"Kau akan menjadi Bos menggantikan aku." Jelas Ken.
Dylan menatap Ken tak percaya, "Tidak Bos, bagaimana bisa ini terjadi?"
"Aku akan melepaskan pekerjaan ini dan Tuan Wira memintaku agar mencari pengganti. Aku pikir kau cocok menjadi penggantinya, aku tahu kinerjamu." ucap Ken merasa yakin jika Dylan bisa menggantikannya.
"Ta tapi Bos..." Dylan masih belum yakin.
__ADS_1
"Aku sudah mengatakan pada Tuan Wira, jika bisa nanti malam datang dan temui Tuan Wira. Katakan jika tugasku sudah selesai." ucap Ken.
Dylan masih menatap sedih, rasanya Ia tak ingin berpisah dengan Ken.
"Kenapa menatapku seperti itu? Bukankah seharusnya kau senang jika tidak ada aku disini?"
Dylan menghela nafas panjang, "Setelah ini apa yang akan bos lakukan?"
"Aku akan menikmati uang hasil kerjaku selama ini, bersenang senang dengan banyak gadis." ucap Ken santai.
"Berhentilah melakukannya Bos, tobatlah."
Ken tersenyum sinis, "Sudah terlanjur Dylan, aku sudah kehilangan semuanya tanpa diberi kesempatan." Kata Ken membuat Dylan terdiam.
"Dan untuk Rani..."
Dylan menatap Ken karena pria itu menyebut nama Rani, "Selamat untuk hubungan kalian, jika boleh jujur sebenarnya aku menyukainya."
Dylan berdecak, "Aku tahu itu Bos, sekarang Rani milik ku dan aku akan segera menikahinya." kata Dylan memperingatkan Ken.
Ken tersenyum lalu menepuk pundak Dylan, "Awalnya aku cemburu dan tak terima tapi sekarang aku sudah menyerah, jaga Rani dengam baik, jangan sampai kau kehilangan segalanya."
"Tentu saja bos, aku akan melakukan itu."
Ken menyerahkan laptopnya pada Dylan, "Apapun yang kau butuhkan ada disini."
"Baik Bos, saya akan bekerja sebaik mungkin."
"Kau mau kemana?" tanya Rani tampak terkejut saat Ia akan masuk keruangan Ken tapi pria itu malah keluar.
"Kau pasti senang karena tidak akan bertemu denganku lagi, disini maupun dirumah."
Rani menghela nafas panjang, "Aku tahu kau di usir karena selingkuh tapi aku tidak menyangka jika kau juga akan dipecat dari perusahaan."
Ken tersenyum, "Aku tidak dipecat, Tuan Wira masih menginginkan ku tapi aku yang memilih pergi dari sini."
"Apa kau malu?" tanya Rani.
"Menurutmu?"
Rani tersenyum, "Kau memang harus malu."
Ken ikut tersenyum, "Rasanya aku ingin mengigit bibirmu yang manis itu agar kau berhenti bicara."
Rani bergindik takut dan memilih pergi meninggalkan Ken.
"Jika kau ingin mencari bosmu dia ada didalam." teriak Ken membuat Rani menghentikan langkahnya kembali berbalik menatap Ken.
"Apa kau sudah menemukan penggantinya?"
Ken mengangguk, "Ada didalam."
__ADS_1
Rani kembali berjalan ke arah Ken lalu membuka pintu ruangan Ken karena Ia harus meminta tanda tangan untuk dokumen yang Ia bawa dan betapa terkejutnya Rani saat melihat Dylan ada didalam sana sedang duduk dikursi milik Ken.
"Kau pasti terkejut?" tanya Dylan yang langsung diangguki oleh Rani.
"Kenapa kau disini?"
"Aku bosnya sekarang."
Rani semakin terkejut, "Bagaimana bisa?"
"Bos Ken memintaku menggantikan posisinya jadi aku berada disini."
"Wow luar biasa, jadi aku harus memanggilmu Pak sekarang?" goda Rani.
Dylan tertawa, "Jangan panggil aku Pak, terdengar tua dan aku tidak suka."
"Baiklah, katakan aku harus memanggilmu apa?" tanya Rani.
"Apapun asal terdengar romantis."
Rani berdecak, "Kita sedang dikantor mana mungkin aku memanggilmu sayang." protes Rani.
"Kalau begitu panggil saja aku Bos sayang."
Rani tertawa, "Jangan bercanda, aku akan memanggilmu Pak saat kita berada dikantor, silahkan tanda tangani dokumen ini Pak." pinta Rani menyodorkan dokumen yang Ia bawa.
Dylan memanyunkan bibirnya, "Aku benar benar tidak suka kau memanggilku Pak." protes Dylan dan Rani hanya tertawa.
Sementara itu, Faris dan Sara segera beranjak dari duduknya karena pertemuan dengan pihak Herman sudah selesai.
Kini tinggalah Herman dan Arga yang masih duduk disana.
"Kenapa kau menatap ke arah gadis tadi, apa kau menyukainya?" tanya Herman melihat gerak gerik mencurigakan Arga apalagi Arga tak lagi melawan saat Herman memintanya duduk. Biasanya Arga akan kabur saat meeting baru berjalan setengah namun kali ini Arga hanya diam dan menurut membuat Herman curiga.
"Apa terlihat jelas Ayah?"
"Tentu saja! Jangan macam macam Arga! Dia anak rekan Ayah."
Arga berdecak, "Ayah aku mau menjadi penerus perusahaan ini tapi dengan satu syarat."
"Syarat apa?"
"Jodohkan aku dengan gadis tadi."
Bersambung...
Untuk nama Sara dan Arga ini berbeda dari novel sebelumnya yaa dan sama sekali tidak ada sangkut pautnya.
Author lupa kalau pernah memakai nama itu dan karena sudah terlanjur ya sudahlah pakai nama itu saja hehe
Jangan lupa like vote dan komen yaaa
__ADS_1