
Faris memandangi sepasang muda mudi yang kini sudah mengenakan baju. mereka terlihat masih dibawah umur tapi sudah melakukan hubungan layaknya suami istri padahal Faris yang sudah dewasa saja belum sekalipun mencoba meskipun sebenarnya Ia juga penasaran seperti apa rasanya hingga banyak orang yang melakukannya dengan ilegal.
"Berapa umur kalian?''tanya Faris dengan nada galak.
"16 tahun Om." jawab si laki laki dengan suara bergetar takut.
Faris dan Vanes terkejut, "16 tahun dan kalian sudah melakukan hal seperti ini?" Faris menatap keduanya tak percaya, "Dimana rumah kalian?" Tanya Faris galak.
"Jangan Om, jangan adukan ini pada orangtua kami." ucap Si perempuan sambil menangis.
"Apa kalian tidak berpikir bagaimana jika sampai hamil!" omel Vanes terlihat geram.
"Tidak Mbak, tidak mungkin hamil karena kami bermain aman, kami memakai pengaman.". Ucap si laki laki memperlihatkan pengaman bekas dipakai yang ada dilantai.
"Astaga menjijikan sekali." gumam Vanes.
Faris memeganggi kepalanya yang berdenyut melihat tingkah kedua orang yang masih sekolah itu.
"Aku tetap akan memberitahu orangtua kalian." ucap Faris dengan mantap.
"Jangan om, jangan..." pinta si perempuan sambil menangis sementara si laki laki tampak kesal menatap Faris.
"Om kalau mau pakai saja dia tapi jangan adukan kami pada siapapun." ucap si laki laki sambil menunjuk ke arah perempuan yang baru saja Ia nikmati.
Mata Faris dan Vanes melotot mendengar ucapan si laki laki dan yang lebih gilanya lagi Si perempuan juga mengangguk setuju dengan tawaran si laki laki.
"Kau ini gila atau bagaimana? Kenapa mau diperlakukan seperti itu!" omel Vanes pada si perempuan.
"Tidak apa apa mbak, dari pada saya diamuk sama orangtua saya lebih baik saya dinikmati sama mas ini lagian mas ini juga ganteng dan..." si perempuan melihat ke arah senjata Faris yang terlihat menjulang besar karena Faris mengenakan celana ketat.
Melihat apa yang dipikirkan oleh perempuan yang masih dibawah umur itu, Vanes langsung membalikan tubuh Faris.
"Jangan macam macam kalian, kita nggak bercanda dan akan melaporkan kalian!" ancam Vanes yang kembali membuat pasangan itu ketakutan dan berlutut seketika.
Vanes menahan tubuh Faris agar tidak kembali berbalik meskipun Faris ingin berbalik, "Tetaplah diam dengan posisi seperti ini!" omel Vanes yang langsung dituruti oleh Faris.
"Mbak, kami mohon jangan laporkan kami." pinta si perempuan sambil menangis.
Vanes diam, berpikir sejenak sebelum akhirnya Ia mengambil keputusan, "Berjanjilah kalian tidak akan melakukannya lagi sebelum menikah!" ucap Vanes yang langsung diangguki sepasang kekasih itu.
__ADS_1
"Semudah itu!" Faris tak terima dan ingin berbalik namun lagi lagi Vanes menahannya.
"Jangan berbalik." omel Vanes.
Faris kebingungan, Ia masih belum mengerti apa yang dipikirkan oleh Vanes hingga melarangnya berbalik dan lagi Vanes bahkan dengan mudah ingin membebaskan sepasang anak dibawah umur itu.
"Baik mbak, kami janji tidak akan melakukannya lagi." ucap si laki laki.
"Jika sampai aku melihat kalian melakukannya lagi, aku tidak hanya melaporkan pada orangtua kalian tapi aku juga akan melaporkan pada polisi karena kalian telah melakukan zina ditempat umum."
"Ampun mbak... Ampun! Kami kapok dan tidak akan melakukannya lagi."
Vanes mengangguk dan membiarkan sepasang anak muda itu segera pergi dari rumah kosong itu, tak peduli hujan masih lebat diluar sana.
"Kenapa kau melepaskan mereka? Lihat saja besok pasti mereka akan melakukannya lagi. Aku benar benar tidak bisa mempercayai mereka!" omel Faris pada Vanes.
Vanes bukannya takut dan merasa bersalah, Ia malah menatap sengit ke arah senjata Faris yang masih terlihat menjulang berdiri tegak.
"Apa kau menyukai tubuh gadis tadi?" tanya Vanes seketika membuat Faris gugup.
"Ti tidak, mana mungkin."
"Lalu ini apa?" Vanes menunjuk ke arah senjata Faris yang langsung membuat Faris sadar dan menutupinya.
"Benar memang normal tapi yang membuatnya terlihat tak normal karena kau bahkan tidak tahu jika dia bangun!" omel Vanes masih kesal.
"Sekarang sudah tidak, lihat ini sudah tidak bangun lagi!" ucap Faris memperlihatkan senjatanya yang tak lagi menjulang.
Vanes yang masih kesal tak mengubris ucapan Faris dan memilih keluar dari rumah kosong itu.
"Hujannya tidak berhenti, aku benar benar kesal berada disini." gerutu Vanes sambil menghentak hentakan kakinya.
"Apa kau marah karena hal sepele seperti ini?" heran Faris yang kini sudah berada dibelakang Vanes.
"Sepele katamu? Kalau saja aku tak berada disana mungkin kau sudah mengiyakan permintaan anak laki laki tadi."
Mata Faris melotot tak terima, "Bagaimana kau bisa berpikiran seperti itu? Tidak mungkin aku cabul pada anak dibawah umur."
"Dia tidak bisa membohongiku!" ucap Vanes sambil menyentuh milik Faris yang lagi lagi bangun karena sentuhan Vanes.
__ADS_1
"Lihatlah, bahkan hanya dengan jarimu saja kau bisa membuatnya bangun."
Vanes menatap Faris, bukannya bangga Ia malah bergindik ngeri, "Kau mesum!"
Faris hanya bisa melonggo, menatap Vanes tak percaya, bagaimana bisa Vanes mengatakan dirinya mesum padahal Faris tidak berbuat apapun.
"Jangan berbicara apalagi dekat dekat denganku!" sentak Vanes yang langsung diangguki oleh Faris.
Faris dan Vanes saling diam hingga hujan reda dan barulah Faris mengajak Vanes bicara, "Mau pulang sekarang?"
"Tentu saja, siapa yang mau disini bersama orang mesum sepertimu!" omel Vanes.
"Baiklah, ayo kita pulang sekarang." ajak Faris mulai menyalakan motornya.
Jika biasanya saat membonceng motor Vanes selalu mendekat dan memeluk dari belakang namun kali ini tidak, Vanes sama sekali tidak menyentuh Faris.
Faris yang ikut kesal akhirnya melajukan motornya dengan kencang hingga mau tak mau Vanes mendekat dan memeluk Faris.
"Kau curang sekali." omel Vanes lagi.
"Sekarang apa lagi yang ku lakukan!" Faris pura pura kesal padahal wajahnya tersenyum puas karena berhasil membuat Vanes memeluknya.
"Kau melajukan motornya dengan kencang agar aku memeluk mu! Huh dasar mesum!"
Faris berdecak, "Aku tidak berniat melakukan itu, aku hanya ingin cepat sampai karena tahu kau sedang kesal dan tidak mau dekat denganku!" kata Faris.
Vanes semakin kesal, Ia kembali menjauh lalu memukuli punggung Faris, "Dasar menyebalkan, dasar menyebalkan!" omel Vanes membuat Faris terkekeh.
Sesampainya dikosan, Vanes turun dan tangannya langsung digapai oleh Faris.
"Jangan marah lagi." pinta Faris.
"Kau tahu bahkan aku sama sekali belum tahu dengan hal semacam itu dan tentang milik ku yang menjulang itu... Aku benar benar tidak bisa menahannya." ucap Faris penuh ketulusan.
"Dia sangat nakal, besok jika kita sudah menikah , berikan pelajaran untuknya agar dia tak lagi nakal seperti itu."
Seketika tawa Vanes mengema membuat Faris merasa lega karena Vanes tak lagi marah padanya.
Bersambung....
__ADS_1
Ada yang ketawa nggak nihhh...
Komen dong hehe