TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
156


__ADS_3

Wira terdiam cukup lama mendengar ucapan Herman. Ia tahu jika Herman memiliki seorang putra, Wira pernah bertemu dengan putra Herman yang bernama Arga namun saat Arga masih balita karena setelah itu Arga pindah keluar negeri membuat Wira tidak pernah lagi bertemu dengan keluarga Herman. Hanya beberapa kali saja bertemu Herman itupun karena ada kunjungan dinegara yang ditinggali Herman.


"Kenapa diam? Apa mungkin kau tidak akan menerima permintaan ku ini?" tanya Herman tak sabar melihat respon Wira hanya diam.


Wira menghela nafas panjang, "Aku ragu setelah kau tahu status Sara, apa mungkin Kau masih bisa menerima Sara?"


Herman mengerutkan keningnya tak mengerti, "Apa maksudnya ini? Apa mungkin Sara sudah menikah?" tebak Herman.


"Sara pernah menikah tetapi pernikahan mereka gagal dan Sara memutuskan untuk bercerai. Saat ini Sara tengah mengurus surat perceraiannya dan sekarang sudah ada yang datang melamar, benar benar mengejutkanku." jelas Wira yang tentu saja membuat Herman terkejut bukan main.


"Jadi Sara itu janda?"


Wira mengangguk, "Bicarakan dulu dengan putramu, aku tidak ingin kau dan putramu kecewa nantinya."


Herman mengangguk setuju.


"Apa putramu sudah bertemu dengan Sara?"


"Ya, dia tertarik dengan Sara tapi setelah mengetahui statusnya, entahlah aku akan menanyakan lagi padanya." kata Herman.


"Ya kau harus membicarakan ini, ngomong ngomong aku turut berduka cita atas meninggalnya istrimu, maaf dulu aku tidak bisa datang kesana."


Herman mengangguk paham, "Aku mengerti, kita dipisahkan oleh jarak dan kesibukan, aku juga bahkan tidak datang saat pemakaman istrimu."


Wira tersenyum, "Kita sama sama menjadi duda sekarang."


Herman tertawa, "Ya kau benar, apa kau ada rencana untuk menikah lagi?"


Wira tersenyum mengingat Ia menyukai Bik Sri dan ingin menikahinya namun Bik Sri menolaknya, "Lamaranku baru saja ditolak."


Herman tampak terkejut, "Apa dia gila? bagaimana bisa dia menolak lamaran mu padahal aset dan hartamu sangat banyak."


Wira tertawa, "Dia tidak gila harta seperti wanita lainnya."


"Kau masih menemukan wanita seperti itu? Beruntung sekali." ucap Herman.


"Lalu kau? Apakah kau memiliki rencana untuk menikah lagi?"


Herman menggelengkan kepalanya, "Putraku pasti tidak akan terima jika aku mengkhianati Ibunya."


Wira tersenyum, "Mungkin Arga masig belum rela ada yang menggantikan posisi ibunya."


"Ya itu benar."


Setelah tadu sudah mengantar teh kini Bik Sri mengantar pisang goreng yang masih hangat juga beberapa camilan sehat untuk tamu Wira.


"Bagaimana menurutmu?" tanya Wira pada Herman saat Bik Sri sudah kembali ke dapur.

__ADS_1


"Apanya yang bagaimana?" Herman bingung tak mengerti maksud Wira.


"Wanita yang baru saja mengantar camilan."


Uhuk... Uhuk... Herman yang baru akan menelan pisang goreng pun tersedak saat mendengar ucapan Wira.


"Dia pembantumu? Kau menyukai pembantumu?" Herman menatap Wira tak percaya.


"Apa masalahnya, selisih kami 10 tahun. Dia janda dan memiliki 1 anak, dia baik dan sangat keibuan."


Herman masih tak percaya, "Entahlah hanya saja kenapa seleramu jadi menurun seperti ini padahal dulu istrimu saja mantan dokter."


Wira tertawa, "Perasaan memang tak bisa ditebak."


...****************...


Saat jam istirahat, Sara keluar dari ruangannya, Ia ingin mencari makan siang diluar dan berpapasan dengan Faris yang sepertinya juga akan keluar.


"Kau mau makan siang?"


Faris mengangguk, "Sekalian menjemput Vanes, mau ikut?'' tawar Faris yang langsung digelengi kepala oleh Sara, "Baiklah aku akan pergi sekarang jika kau tidak mau ikut." ucap Faris melewati Sara dan pergi meninggalkan Sara.


Sara menghela nafas panjang, Ia merasa kesepian jika harus makan siang sendiri namun Ia juga tidak mau menganggu Faris dan Vanes karena mau bagaimanapun Ia juga memiliki rasa cemburu atas keberuntungan Vanes yang memiliki suami sebaik Faris.


Sara menekan lift saat Ia memutuskan untuk makan siang di kantin saja bersama karyawannya namun saat lift terbuka, Sara melihat pria menyebalkan yang tak ingin Ia lihat.


"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Sara terdengar sewot.


"Aku ingin mengajakmu makan siang bersama."


Sara berdecak, "Tidak, aku sibuk."


"Aku tahu kau pasti sibuk dan aku pun juga sama sibuk tapi aku meluangkan waktu kesini agar bisa makan siang bersamamu, apa kau tidak menghargai usahaku sama sekali?" tanya Arga dengan raut wajah sedih membuat Sara merasa bersalah.


"Tapi aku juga tidak mengharap kau datang kesini." ucap Sara dan kali ini dengan nada lebih lembut.


"Aku tahu aku tahu... Aku hanya ingin berterima kasih atas bantuanmu semalam jadi aku ingin mentraktirmu makan siang, bagaimana?" tawar Arga.


"Lupakan tentang semalam dan tidak perlu berterima kasih."


Arga menggelengkan kepalanya, "Ayolah, aku tidak mau berhutang budi padamu." ajak Arga masih mencoba meyakinkan.


"Tidak, aku tidak menganggapnya sebagai hutang jadi lupakan saja."


Arga kembali menggelengkan kepalanya, "Tidak, aku benar benar harus berterima kasih padamu."


Sara menatap Arga malas, Ia kembali dibuat kesal oleh sikap Arga yang sedikit pemaksa namun melihat raut wajah Arga yang sedih dan memohon membuat Sara tidak punya pilihan lain selain menerima ajakan Arga.

__ADS_1


"Baiklah baiklah, hanya sekali ini saja." kata Sara yang langsung membuat Arga bersorak.


Arga mempersilahkan Sara masuk ke lift lebih dulu, dibelakang Sara, Arga kembali bersorak dengan senyuman merekah, tidak ada lagi raut wajah sedih karena Ia hanya berpura pura agar Sara mau ikut makan siang dengannya.


"Cari restoran terdekat saja." pinta Sara saat keduanya memasuki mobil.


"Kenapa? Apa kau takut pergi denganku?"


Sara mengangguk, "Aku tidak terbiasa pergi dengan orang asing."


Kini Arga tertawa, "Kita bukan lagi orang asing karena perusahaan kita bekerja sama."


Sara memutar bola matanya malas, "Kemana raut wajah sedihmu? Kenapa sekarang kau terlihat senang?" cibir Sara.


"Aku akan melunasi hutangku, tentu saja aku bahagia." ucap Arga dan Sara kembali memutar bola matanya malas.


Setelah beberapa menit, akhirnya mereka sampai di restoran terdekat.


"Apa yang ingin mau makan?" tanya Arga saat membuka buku menu.


"Terserah, aku makan apapun."


Wajah Arga berubah takut, "Kau kanibal? Apa kau juga akan memakanku?"


"Tentu saja jika harus ku lakukan!"


Arga tertawa, "Kau sama sekali tidak bisa diajak bercanda."


"Aku tidak suka bercanda dengan orang asing." balas Sara acuh.


"Hey jangan menganggapku orang asing, anggap aku ini temanmu." pinta Arga.


"Tidak mau, seorang teman tidak akan mempermalukan satu sama lain."


Arga kembali tertawa, Ia cukup tahu jika Sara masih kesal dengan dirinya masalah semalam, "Baiklah baiklah, aku benar benar minta maaf, lagipula hanya aku yang mendengar suaramu."


Sara melotot tak terima, "Kau gila? Mereka yang mengejarmu juga mendengar suaraku!"


"Iya aku tahu tapi kita tidak punya pilihan lain, jika saja kau tidak mengejarku mungkin kau tidak akan terlibat."


Sara akhirnya diam, tak lagi protes karena apa yang Arga ucapkan benar. Jika saja semalam Ia tidak mengejar Arga mungkin Sara tidak harus melakukan itu.


Benar benar bodoh.


Bersambung...


Jangan lupa like vote dan komen yaaa

__ADS_1


__ADS_2