
Pagi saat sarapan bersama, Rizal sesekali melirik ke arah Vanes dimana gadis itu asyik menikmati sarapannya tanpa meliriknya sekalipun.
Saat akan berangkat, Vanes masih ditempatnya namun kali ini Ia tidak membawakan kotak bekal untuk siapapun.
Rizal beranjak dari duduknya, tak berpamitan dengan Vanes tapi Ia sempat mendengar suara Faris berpamitan dengan Vanes.
"Berangkat dulu ya mbak." Pamit Faris yang langsung mendapat jawaban dari Vanes, "Ya hati hati, semangat bekerjanya."
Rizal menghentikan langkahnya, berbalik menatap Vanes dan Faris bergantian.
"Ada yang ketinggalan mas?" tanya Faris.
Rizal menggelengkan kepalanya dan kembali berjalan keluar rumah.
Kini Rizal dan Faris sudah berada didalam mobil, Pak Seto mulai melajukan mobilnya menuju kantor.
"Kamu sekarang kelihatan dekat ya sama Vanes?" tanya Rizal tiba tiba.
Faris menatap Rizal keheranan, "Enggak lah mas, aku ngerasa biasa aja."
Rizal menghela nafas panjang, "Berarti hanya perasaanku saja."
"Ada apa mas? apa aku kelihatan menganggu?"
Rizal menggelengkan kepalanya, "Bukan begitu Ris, aku hanya merasa sikap Vanes berubah akhir akhir ini. Aku pikir dia udah jatuh cinta sama kamu."
Seketika tawa Faris terdengar, "Nggak mungkinlah mas, aku sama Mas aja beda jauh. Ganteng Mas Rizal, tajir Mas Rizal."
Rizal mengangguk setuju, "Aku juga merasa begitu Ris."
"Bedanya aku tidak sebrengsek Mas Rizal, lihat saja dalam waktu dekat aku akan membuat Mbak Vanes jatuh cinta sama aku bukan sama Mas Rizal lagi." batin Faris dalam hati.
"Apa mas takut kalau sampai Mbak Vanes suka sama aku?" tanya Faris.
"Enggak lah, ngapain sih. Justru aku seneng."
"Ohh iya lah harusnya mas Rizal bersikap seperti itu karena Mas Rizal mencintai Mbak Mira."
Jlebb... Entah mengapa ucapan Faris terasa menusuk dada Rizal.
"Jadi kamu suka sama Vanes?" Rizal menatap Faris curiga.
__ADS_1
"Cowok mana sih mas yang nggak suka sama Mbak Vanes? Udah cantik, pinter masak, pinter ngurus rumah."
"Jadi kamu!" Rizal melototi Faris seolah tak terima dengan ucapan Faris.
"Tapi aku sadar kalau Mbak Vanes itu istrinya mas Rizal jadi rasanya tidak mungkin menyukai saudaraku sendiri." ungkap Faris.
Rizal terlihat kembali santai, tidak lagi emosi, "Ohh aku pikir kamu suka sama Vanes."
"Lagian nggak apa apa dong mas kalau ada yang deketin Mbak Vanes, kan biar adil nanti kalau pas kalian cerai bisa langsung nikah sama pasangan yang baru." kata Faris.
"Nggak bisa gitu Ris!" Rizal kembali tak terima.
"Nggak gitu gimana mas? Jangan jangan Mas udah jatuh cinta sama Mbak Vanes ya?"
"Gila kamu Ris, nggak mungkinlah aku suka sama dia, cintaku itu cuma buat Mi-"
"Mira kan? iya mas cuma buat Mbak Mira jadi nanti kalau cerai trus Mbak Vanes dapet pengganti, Mas nggak boleh marah atau cemburu lho." potong Faris dengan nada mengingatkan.
Rizal malah tertawa, "Enggak Ris, udahlah jangan ngomong ngawur kamu. Noh kita udah sampai, buruan turun trus kerja!" kata Rizal melihat mobil yang dikemudikan Pak Seto sudah memasuki area perusahaan.
Faris ikut tertawa, entah mengapa Ia merasa mood Rizal sedang tidak baik kali ini. Bahkan saat Ia membicarakan pengganti Vanes, raut wajah Rizal terlihat jelas jika Ia cemburu. Faris menebak jika Rizal sebenarnya sudah jatuh cinta pada Vanes namun tidak mau mengakuinya dan malah bertahan dengan selingkuhannya yang bibit bebet bobotnya tidak jelas.
Faris berdecak, Ia sudah sering menasehati Nisa agar tak menunggunya namun gadis itu sangat bandel dan masih saja menunggunya.
"Selamat pagi Pak Faris." sapa Nisa dengan senyum sumringahnya.
"Saya nggak disapa juga Nis?" protes Rizal yang berdiri dibelakang Faris.
"Eh, selamat pagi juga Pak Rizal." sapa Nisa akhirnya.
Rizal tertawa, "Digandeng Nis pacarnya biar nggak kabur." kata Rizal lalu berjalan melewati Faris dan Nisa.
Nisa langsung menatap Faris penuh protes, "Kenapa Pak Rizal ngomong kita pacaran pak? Jangan jangan bapak suka ghibahin saya ke pak Rizal ya?" tuduh Nisa.
Faris memutar bola matanya malas lalu menoyor dahi Nisa, "Jangan kepedean kamu Nis, kalau tiap pagi kamu nungguin aku disini, trus kita masuk bareng, kemana mana bareng, jelas aja bakal ada yang nyangka kita pacaran!"
Bukannya merasa bersalah, Nisa malah cekikikan, "Bagus dong pak, tinggal peresmian aja nih mau kapan."
Faris menatap Nisa tak percaya, Ia kembali menoyor dahi Nisa, "Sadar Nis sadar, baru juga berapa hari kerja, masih belum sanggup nafkahi anak gadis orang."
"Nggak harus langsung nikah kok pak, pacaran dulu juga nggak nolak."
__ADS_1
Faris menyerah, tak ingin lagi berdebat dengan Nisa yang selalu lebih unggul darinya.
Faris akhirnya melewati Nisa, berjalan lebih dulu meninggalkan Nisa membuat Gadis itu berteriak memintanya untuk menunggu.
"Bapak mau dibikinin kopi?" tawar Nisa saat sudah berada diruangan.
"Boleh deh tapi jangan dikasih jampi jampi lho Nis." ucap Faris sambil tertawa.
"Cowok sekarang itu nggak perlu dijampi pak, dikasih service yang memuaskan saja sudah pasti langsung klepek klepek."
Faris kembali menatap Nisa keheranan, semakin lama Ia tak mengerti maksud dari ucapan Nisa, "Service kayak gimana maksud kamu?"
"Nanti tanya saja sama Pak Rizal, pasti tahu deh." ucap Nisa sambil cekikikan lalu keluar untuk membuatkan kopi.
Faris sangat penasaran tapi sepertinya tidak begitu penting jadi mungkin nanti Ia akan menanyakan pada Rizal saja.
Sementara itu diruangan bos besar,
Mira merasa aneh dengan sikap Rizal saat ini. Sejak pagi tadi masuk ke ruangan ini, Rizal tampak banyak merenung, tidak sebawel biasanya. Bahkan saat Mira membahas tentang pekerjaan, Rizal beberapa kali blank hingga membuat Mira mengulang ucapannya.
"Apa yang terjadi padamu sayang? apa kamu sakit?" tanya Mira mengecek dahi Rizal namun sepertinya Rizal baik baik saja.
"Entahlah, rasanya aku sedang tidak ingin bekerja."
Mira tersenyum, "Kalau begitu istirahat saja, biar kantor aku yang handle."
Rizal menatap Mira lalu membawa gadis itu duduk ke pangkuannya, "Apa mungkin aku kurang service? mengingat semalam aku tidur sendiri."
Mira tersenyum nakal, "Baiklah Jadi dimana kita akan bermain, disini?"
Tak menjawab lagi, Faris langsung ******* bibir Mira dengan rakus. Tangan Rizal tidak tinggal diam, sudah berkeliaran melepaskan kancing baju Mira.
Namun saat Rizal melepaskan tautan bibirnya, Ia menatap Mira dan entah mengapa wajah Mira berubah menjadi Vanes.
Vanes tersenyum nakal, tetapi bukan untuknya namun untuk pria lain.
Brakkk... Rizal berdiri tiba tiba membuat Mira terkejut hingga akhirnya jatuh ke lantai.
"Apa yang kau lakukan?" teriak Mira dengan wajah marah dan barulah Rizal sadar jika yang bersamanya saat ini bukan Vanes melainkan Mira.
Bersambung...
__ADS_1