TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
96


__ADS_3

Ken terbangun setelah mendengar suara alarm ponselnya. Ia beranjak dari ranjang dan mencari ponsel yang masih berada dikantong celananya yang kini berserakan dilantai.


Alarm pukul 3 pagi karena Ken biasa bangun pukul 3 pagi.


Setelah mematikan alarm, Ken membuang kembali celananya ke lantai dan menaruh ponselnya dimeja.


Ken merasa kepalanya sangat pusing juga rasa dingin yang menembus kulitnya.


Ken menggelengkan kepalanya, mencoba menyadarkan dirinya dan betapa terkejutnya Ken saat melihat dirinya tak mengenakan sehelai benangpun. Ken melihat ke lantai, pakaiannya berceceran disana juga pakaian seorang wanita yang tidak asing.


"Pakaian yang dipakai Nona semalam." ucap Ken lalu melihat ke arah ranjang dan benar saja ada Sara disana tengah terlelap tanpa sehelai benangpun.


Ken memukuli kepalanya, "Bodoh bodoh, kenapa aku harus melakukannya lagi!" umpat Ken pada dirinya sendiri.


Setelah memukuli kepalanya, Ken menjambak rambutnya, Ia mencoba berpikir apa yang harus Ia lakukan dan katakan pada Sara jika gadis itu bangun dalam keadaan polos tanpa pakaian.


"Jika dia tahu apa yang terjadi pasti dia akan murka dan mengadukanku pada Tuan Wira, tidak, aku harus melakukan sesuatu." gumam Ken segera mengambil baju milik Sara yang berserakan dan juga bajunya.


Ken sudah mengenakan pakaiannya, Ia pun bersiap ingin memakaikan baju Sara.


"Sial, aku tahu cara melepasnya tapi aku tidak tahu cara memakaikannya." umpat Ken saat memasangkan Bra milik Sara namun tidak bisa terpasang dengan benar.


Setelah beberapa menit, akhinya Bra Sara terpasang dengan benar, menutupi gundukan gunung kembar milik Sara yang sempat membuat Ken kembali tergoda.


"Aku harus cepat." gumam Ken yang kini akan memasang ****** ***** milik Sara.


Ken memasang dengan pelan agar tidak membuat Sara bangun.


"Sedikit lagi sedikit lagi." gumam Ken hampir berhasil namun dirinya langsung dikejutkan oleh suara alarm ponselnya yang kembali terdengar bersamaan mata Sara yang terbuka.


"****! Sialan!" umpat Ken.


"Apa yang terjadi?" Sara yang terkejut segera menutupi tubuhnya menggunakan selimut yang ada disana.


"Dasar cabul! Ternyata kau mengambil kesempatan saat aku mabuk! Jangan jangan kau yang sudah menikmati kesucianku!" ucap Sara dengan nada marah.


"Tidak Nona, bukan seperti itu. Kita sama sama mabuk. Aku bahkan tidak tahu apa yang terjadi, saat aku bangun, sudah berada ditempat ini bersama Nona dan dalam keadaan-"


"Tutup mulutmu brengsek! Kau pikir siapa kau berani menyentuhku!"


Sara beranjak, masih menutupi tubuhnya dengan selimut lalu segera memasuki kamar mandi untuk memakai bajunya.

__ADS_1


Ken kembali menjambak rambutnya, apa yang Ia takutkan kini terjadi saat Sara sadar dan dia disalahkan atas apa yang terjadi padahal semua ini bisa terjadi karena Sara yang sudah menggodanya lebih dulu.


"Damn it, bersiaplah kau akan dipecat setelah ini." umpat Ken pada dirinya sendiri.


Sara keluar dari kamar mandi, sudah mengenakan kembali dressnya, Ia sama sekali tak menatap ke arah Ken. Hanya melewati Ken lalu keluar dari kamar hotel yang ada diclub malam.


Ken yang tak tahu harus melakukan apa, Ia mengikuti langkah Sara hingga keduanya memasuki mobil.


"Nona saya akan bertanggung jawab jika sesuatu terjadi pada Nona." ucap Ken yang langsung mendapatkan senyuman sinis dari Sara.


"Kau pikir aku mau mengandung anakmu? Aku akan menggugurkannya jika sampai hamil."


"Nona!" tanpa sadar Ken menyentak Sara.


"Kau berani padaku setelah apa yang kau lakukan padaku hah!" Sara pun ikut menyentak Ken.


"Kita melakukannya tanpa sadar Nona dan untuk kemarin saya akui memang saya lah yang sudah merenggut kesucian Nona tapi saya melakukan itu karena-"


Plak... Sara langsung saja menampar pipi Ken tanpa menunggu Ken menyelesaikan ucapannya.


"Kau benar benar brengsek!"


"Ya aku akan mengatakan pada paman atas pemerkosaan yang sudah kau lakukan dan lagi aku juga akan melaporkan pada polisi."


Seketika lemas tubuh Ken mendengar ancaman dari Sara. Masa depannya kini sudah diabang kehancuran hanya karena tidak bisa menahan hawa nafsunya sendiri.


Ken mulai melajukan mobilnya, keduanya sama sama diam tak lagi mengatakan apapun hingga sampai dirumah Wira.


Sara keluar dari mobil dan langsung masuk ke dalam. Ken masih mengikuti Sara sampai ke dalam hingga keduanya berpapasan dengan Wira yang sudah bangun.


"Kalian baru pulang?" tanya Wira menatap Ken lalu bergantian dengan menatap Sara.


Sara tak menjawab, Ia memilih langsung pergi meninggalkan Wira dan Ken.


"Ada apa lagi dengannya?" heran Wira sejak pertama datang kerumahnya Sara masih saja bersikap emosional.


"Maafkan saya Tuan, ini salah saya." akui Ken sambil menundukan kepalanya.


Wira kembali menatap Ken, "Apa yang terjadi?"


Ken hanya diam saja dan masih menunduk membuat Wira langsung menebak apa yang sudah terjadi, "Jangan katakan..."

__ADS_1


"Maafkan saya Tuan, sekali lagi maafkan saya."


Wira menghela nafas panjang, seolah sudah tahu maksud dari permintaan maaf Ken.


"Saya pantas dipecat Tuan, pecat saja saya." Ken kini bahkan berlutut dikaki Wira.


Wira berdecak, "Apa yang kau katakan itu, aku tak mengerti." ucap Wira membuat Ken terkejut menatap Wira tak percaya.


"Sekarang katakan padaku, apa kau sudah menyelesaikan tugasmu?' tanya Wira.


"Tugas Tuan?" Ken terlihat bingung.


"Ya tugasmu, apa persiapan pernikahan Vanes sudah selesai."


Ken benar benar dibuat linglung, Wira bahkan tidak marah atau memecatnya namun malah menanyakan masalah persiapan pernikahan Vanes.


"Jangan katakan kau bahkan belum menyiapkan." protes Wira.


Ken segera mengambil ponselnya, ada banyak pesan dari anak buahnya dan pesan terakhir yang dibaca Ken mengatakan jika semua sudah persiapan sudah selesai dan anak buahnya juga mengirimkan lokasi yang akan digunakan untuk menikah.


"Semua sudah siap Tuan."


Wira tersenyum mengembang, "Bagus, kerjamu memang selalu cepat." kata Wira lalu pergi meninggalkan Ken.


"Ada apa ini, kenapa Tuan bersikap seolah tak terjadi apapun?" gumam Ken kembali memukul kepalanya agar Ia sadar jika semua yang terjadi saat ini adalah nyata.


Tepat pukul 10 siang, Faris dan keluarganya tiba di istana Wira. Mereka disambut hangat oleh Wira beserta keluarganya.


Saat ini Faris dan keluarganya memberikan seserahan untuk meminang Vanes dan setelah itu mereka akan pergi ke hotel untuk ijab kabul dan menyambut tamu undangan yang datang.


"Yang tadi itu calon suamimu?" tanya Sara yang berada satu mobil dengan Vanes.


"Ya, bagaimana menurutmu?" tanya Vanes dengan senyuman sumringah.


"Biasa saja, tidak tampan." ucap Sara lalu kembali acuh tak menanyakan apapun lagi pada Vanes.


"Karena mungkin kau memiliki kekasih bule yang tampan jadi melihat Mas Faris biasa saja tapi kalau menurutku Mas Faris sangat tampan dan baik hati." kata Vanes membela kekasihnya.


"Tukang pamer." cibir Sara yang malah membuat Vanes tertawa.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2