TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
152


__ADS_3

Setelah mengobrol ditaman, Dylan tidak segera mengantar Rani pulang melainkan mengajak gadis itu kembali berjalan jalan menggunakan motornya.


Tanpa keduanya sadari sudah pukul 8 malam, mau tak mau Dylan harus mengantar Rani pulang.


Dylan ikut masuk ke dalam agar bisa berpamitan dengan Faris namun sayang ternyata Faris tidak ada dirumah.


"Pada keluar jalan jalan Neng, cuma ada Tuan Wira tapi sedang istirahat dikamar." kata Bik Sri saat Rani menanyakan pada Bik Sri.


"Kalau begitu saya pamit pulang dulu, nanti nitip salam saja buat Mas Faris." ucap Dylan yang langsung diangguki oleh Bik Sri.


Rani menemani Dylan keluar rumah, "Apa kau tidak akan melepaskan tanganku?" tanya Rani melihat Dylan masih mengenggam tangannya sedari tadi.


Dylan menggelengkan kepalanya, "Rasanya aku ingin membawamu pulang lagi kerumahku."


Rani tertawa, "Itu jelas tidak mungkin. Kita belum menikah."


Dylan mengangguk, "Aku akan segera menikahimu."


"Secepat itu?" tanya Rani.


Dylan mengangguk, "Apalagi yang kita tunggu, kita sudah sama sama cocok."


Rani tersenyum entah mengapa Ia masih ragu untuks segera menikah mengingat Ia juga baru saja bekerja.


"Kita bicarakan lagi besok, aku akan pulang sekarang." pamit Dylan yang langsung diangguki oleh Rani.


Sebelum mengenakan helmnya, Dylan menyempatkan untuk mencium kening Rani.


"Segeralah tidur, jangan begadang."


"Siap bos." balas Rani yang langsung membuat Dylan terkekeh.


Dylan melajukan motornya meninggalkan rumah Wira dan Rani pun segera masuk kerumah.


Sementara itu ditempat lain, Faris, Vanes dan Sara sedang menunggu film dimulai. Masing masing mereka membawa tiket untuk masuk.


"Aku akan membeli popcorn dan minuman." ucap Faris memberikan tiketnya pada Vanes.


Kini tinggalah Vanes dan Sara. Vanes menepuk bahu Sara, meminta gadis itu agar tidak melamun karena Vanes melihat sedari tadi Sara melamun.


"Aku berharap film komedi ini bisa membuatmu tertawa." ucap Vanes.


Sara tersenyum, "Apa aku terlihat menyedihkan?"


Vanes menggelengkan kepalanya, "Tidak sama sekali hanya saja kau banyak melamun."


"Sejujurnya aku masih tidak mood tapi kau memaksaku."

__ADS_1


"Pop corn dan minuman datang." ucap Faris yang baru saja datang menghentikan obrolan Vanes dan Sara.


"Rasa coklat kesukaanmu sayang." ucap Faris memberikan pop corn milik Vanes tak lupa Ia juga memberikan milik Sara.


"Aku tidak tahu rasa apa yang kau sukai jadi aku juga membelikan rasa coklat untukmu."


Sara menerima pop corn pemberian Faris, meskipun Ia tidak menyukai pop corn rasa coklat namun Ia ingin menghargai usaha Faris yang sudah membelikan pop corn untuk dirinya.


Film segera dimulai, Faris mengenggam tangan Vanes dan mengajaknya segera masuk, Sara yang ada dibelakang mereka tampak berjalan mengikuti pasangan sejoli itu.


Sara menghela nafas panjang berkali kali saat semua penonton yang lainnya tertawa melihat film itu sementara dirinya sama sekali tidak bisa tertawa.


Sara merasa bosan hingga Ia memilih keluar tanpa berpamitan dengan Vanes dan Faris.


Sara pergi ke toilet, meraup wajahnya dan menatap dirinya dicermin.


Ia menertawakan dirinya dan juga nasib buruk yang saat ini menimpanya saat ini, "Bagaimana bisa hidupmu berubah menjadi mengerikan seperti ini." gumam Sara.


Sara keluar dari toilet, berjalan tanpa tujuan hingga Ia melihat seorang pria berlari ke arahnya dan menabrak dirinya hingga Sara jatuh ke lantai.


Pria itu tidak jatuh dan kembali berlari membuat Sara kesal dan tak terima hingga mengejar pria itu.


"Hey... Berhenti. Dasar kurang ajar!" omel Sara namun masih tak digubris oleh pria itu.


Sara masih mengejar pria itu hingga dia tidak bisa berlari lagi karena didepan tidak ada jalan lagi.


"Mau kemana kau? dasar pria kurang ajar. bagaimana bisa kau kabur setelah membuat seorang wanita jatuh." omel Sara namun lagi lagi pria itu tidak mengubris omelan Sara.


Pria itu kebingungan hingga membawa Sara memasuki ruangan kosong disamping mereka.


"Apa yang kau lakukan!" protes Sara saat pria itu mencoba membegap mulutnya.


"Mendesahlah."


Mata Sara langsung saja melotot mendengar permintaan pria itu namun belum sempat Sara protes, pria itu kembali membegap bibir Sara.


"Aku sedang dikejar oleh kawanan mafia. Jika kau tidak mendesah, mereka akan menangkap kita dan menembak mati kita." bisik pria itu.


Mendengar kata mati membuat Sara ketakutan, Ia tidak memiliki pilihan lain selain menuruti permintaan Pria itu.


Suara tapak kaki berlari yang tadinya jauh kini semakin dekat hingga ada suara suara pembicaraan mereka yang didengar oleh Sara.


"Kemana dia pergi?"


"Aku yakin disebelah sini."


Sara menatap ke arah pria itu yang kini sudah berkeringat. Pria itu menatap Sara dengan tatapan memohon dan Sara tidak punya pilihan lain selain menuruti ucapan Pria itu.

__ADS_1


"Apa dia?" suara seseorang kembali terdengar dan Sara segera mengeluarkan suara ******* sekeras mungkin agar didengar oleh para mafia itu.


"Sial, apa mereka tidak ada tempat lain hingga harus bercinta disini." omel beberapa orang yang kembali didengar oleh Sara.


Sara menatap pria itu tersenyum nakal ke arahnya. Setelah semua mafia itu pergi, Sara menghentikan desahannya.


"Kau benar benar kurang ajar." omel Sara saat pria itu menertawakannya.


"******* mu terdengar seperti pemain handal, aku suka itu."


Sara memukul lengan pria itu, "Dasar kurang ajar, segera minta maaf karena kau sudah menabrak ku tadi!"


Pria itu masih tertawa, "Siapa namamu?"


"Minta maaf sekarang! Dasar mesum!"


"Aku akan minta maaf jika kau memberitahu namamu."


"Jika kau tidak minta maaf, aku akan memanggil kawanan mafia tadi agar kau ditangkap."


Pria itu masih tertawa, "Dan kita akan ditembak bersama." ucapnya santai.


"Dasar menyebalkan!" omel Sara lagi.


"Namaku Arga. Senang bertemu denganmu cantik." ucap pria bernama Arga itu lalu pergi meninggalkan Sara.


"Dasar brengsek tidak tahu malu!" umpat Sara sedikit berteriak namun tidak digubris oleh Arga dan pria itu kini sudah tidak terlihat lagi.


Sara berjalan kesal menuju parkiran mobil. Entah berapa lama Ia sudah pergi, Sara merasa Vanes dan Faris akan cemas mencarinya.


Dan benar saja, Saat sudah sampai parkiran mobil, Vanes menatapnya khawatir.


"Kemana saja? Kami mencarimu."


"Aku tidak tahan dan pergi ke toilet. Maafkan aku sudah membuat kalian cemas." ucap Sara merasa bersalah mengingat Ia tidak pamit dengan Vanes jika akan ke toilet.


"Sudah sudah tidak apa apa yang penting kau baik baik saja sekarang, kami cemas takut jika kau melakukan sesuatu yang buruk." ucap Faris.


Sara tertawa, "Apa kalian pikir aku akan bunuh diri?"


"Tadinya begitu tapi melihatmu bisa tertawa sekarang, aku tidak akan memikirkan hal konyol itu lagi." kata Vanes menghentikan tawa Sara.


"Kenapa diam? Kembalilah tertawa." pinta Faris.


"Aku tidak gila." omel Sara lalu memasuki mobil.


Faris dan Vanes tersenyum lega melihat Sara sedikit membaik.

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa like vote dan komen yaaa


__ADS_2