TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
43


__ADS_3

Tantri berjalan mendekati ranjang Rizal. Ia menatap Rizal penuh tanya, menunggu jawaban Rizal yang masih menatapnya terkejut.


"Aku mendengar kau menyebut nama Mira, apa kau masih berhubungan dengan wanita itu?" tanya Tantri menyelidik.


"Ti tidak Ma, bukan begitu." Rizal terlihat gugup dan takut ketahuan.


"Lalu apa tadi? kau menyakiti Vanes?"


"Bu bukan juga Ma." Rizal benar benar bingung harus menjawab apa.


"Mama salah paham, Aku dan Mas Rizal kemarin sempat ketemu sama mantannya Mas Rizal. Sepertinya dia masih sayang sama Mas Rizal tapi Mas Rizal bersikap acuh kok karena menjaga perasaan Vanes." kata Vanes menolong Rizal.


Rizal tersenyum lebar ke arah Vanes seolah mengatakan Terimakasih sayang pada Vanes.


"Mas Rizal lagi sakit Ma jadi jangan mempermasalahkan apapun." tambah Vanes lagi.


Vanes terpaksa berbohong karena Ia tak ingin Mama Rizal tahu segalanya dan berakhir masalah. Ia hanya ingin menjaga Tantri dan Papa nya agar mereka tidak banyai pikiran.


"Benar juga kata kamu, ya sudah sekarang biar Mama yang gantian jagain Rizal, Vanes tidur aja." pinta Tantri.


Vanes mengangguk setuju, matanya memang sudah mengantuk dan lagi Ia juga malas berbicara dengan Rizal.


"Lah aku pengen ditemenin sama Vanes aja Ma." ungkap Rizal.


Tantri melotot tak terima, "Jadi kamu mau ngusir Mama?'


"Eng enggak kok Ma, ya sudah Vanes tidur, Mama yang nememin aku." balas Rizal takut dengan Tantri.


Vanes sempat tersenyum geli, Ia akhirnya tidur dikasur lipatnya. Tak lagi memperdulikan obrolan Rizal dan Mama mertuanya.


"Vanes sudah tidur?" tanya Tantri setelah beberapa saat dan melihat Vanes sudah memejamkan matanya.


Tidak ada jawaban dari Vanes yang menandakan jika Vanes sudah terlelap.


Plak... Tantri memukul lengan Rizal yang membuat pria itu mengaduh kesakitan.


"Sakit Ma..."


"Apa kamu masih berhubungan dengan Mira? Mama dengar tadi!"


Rizal langsung menunduk takut, tak berani menatap Tantri.


"Jangan bodoh Rizal, jika kau memilih Mira. Kita akan miskin. Kau tahu itu kan?"


Rizal mengangguk, "Aku sudah memutuskan hubungan dengan Mira Ma."


"Anak bodoh!" Tantri tetap saja marah, "Artinya kau sempat bersama Mira setelah menikah?" tebak Tantri yang membuat Rizal terdiam.


"Kau ini benar benar! Bukalah matamu, bahkan Vanes saja lebih cantik dari Mira." omel Tantri namun dengan suara berbisik karena takut Vanes terganggu tidurnya.

__ADS_1


"Iya Ma, Rizal tahu. Rizal menyesal dan tak akan mengulangi lagi." kata Rizal.


"Jangan bersikap bodoh jika kau tidak mau kembali hidup miskin,"


"Iya Ma... iya." Rizal terlihat sangat lelah.


Tantri diam sejenak, memandangi wajah putranya, "Mama ingin kau segera menghamili Vanes."


Rizal berdecak, "Tidak semudah itu Ma."


"Itu salahmu sendiri karena bersikap bodoh! Jika saja sejak awal kamu melihat Vanes, semua tidak akan seperti ini. Vanes itu mencintai kamu tapi kamu malah bersama orang lain!" omel Tantri.


"Sudahlah Ma... Berhentilah mengomel. Aku sudah menyesal!"


"Kau memang harus diomeli seperti ini agar cepat sadar dan tidak lagi menduakan Vanes!" kata Tantri.


Rizal tak sanggup lagi menjawab, Ia memilih diam agar Mamanya berhenti mengomel. Rizal benar benar sudah sadar telah menyakiti Vanes dan kini Ia berjanji tidak akan lagi melihat wanita lain selain Vanes.


"Lalu sekarang apa kau ingat sesuatu sebelum kecelakaan?"


Rizal terdiam sejenak, Ia mencoba kembali mengingat hingga mendapatkan sesuatu. Saat menyetir tadi, Rizal menginjak rem namun sayang semua remnya sama sekali tidak berfungsi.


"Remnya blong."


Rizal kembali mengingat, pagi tadi saat Ia berangkat kerja, semua baik baik saja tidak ada masalah apapun dengan mobilnya lalu kenapa waktu pulang mobilnya jadi bermasalah.


Rizal merasa ada yang sengaja merusak remnya tapi siapa?


Rizal menggelengkan kepalanya, Ia merasa sedang tidak memiliki musuh hanya saja sedang bermasalah dengan Mira.


Namun Rizal sangat yakin jika Mira tidak akan melakukan hal seperti itu mengingat Mira sangat mencintainya.


"Kira kira siapa yang ingin membunuhmu? Katakan agar aku bisa mengadukan ini pada Papa mertuamu dan kau aman."


Mendengar Papa mertuanya disebut membuat Rizal bergindik, "Sudahlah Ma, hanya kecelakaan biasa jangan dipermasalahkan lagi."


Tantri kembali memukul lengan Rizal, "Ini tidak bisa disebut kecelakaan biasa karena kau hampir mati, lebih baik katakan saja pada Papa mertuamu agar orang orang yang berniat jahat padamu segera ditangani oleh Papa mertuamu."


Rizal hanya menghela nafas panjang, Ia sudah lelah dan tidak berminat menjawab ucapan Mamanya itu.


"Ya sudah sekarang Mama mau kembali tidur, ingat kata Mama Rizal, ceritakan segalanya pada Papa mertuamu agar kau aman dari orang orang jahat. Mengerti?"


"Ya." balas Rizal dengan singkat.


Tantri akhirnya kembali tidur disofa membuat Rizal bisa bernafas lega karena tak lagi mendengar omelan dari Mamanya.


"Sebaiknya Papa tidak ikut mencari tahu masalah ini jika Papa mencari tahu, bisa terbongkar semua." batin Rizal lalu menggelengkan kepalanya.


"Ma..." panggil Rizal lagi.

__ADS_1


"Ada apa lagi? Aku tidur karena tak ingin mengomelimu lagi!" omel Tantri dari sofa namun dengan suara pelan.


"Kemarilah sebentar Ma..."


Tantri menurut, Ia kembali mendekati putranya.


"Ada apa?"


"Sepertinya Mama tidak perlu meminta Papa buat menyelidiki semua ini Ma." pinta Rizal.


"Kenapa?"


"Karena jika Papa menyelidiki ini, Papa juga akan tahu tentang hubunganku dan Mira, bukankah itu gawat Ma?"


Tantri langsung mengangguk setuju, "Benar juga katamu, ya sudah Mama akan menghubungi Pak Wira sekarang."


Tantri langsung berlari mengambil ponselnya lalu keluar dari ruangan Rizal tanpa mengubris panggilan dari Rizal.


"Apa Mama gila mau menelepon Papa ditengah malam begini." omel Rizal merasa kesal.


Diluar ruangan, Tantri sudah mendial nomor Wira 2 kali namun masih belum ada yang diterima.


Tantri tak menyerah, Ia kembali mendial nomor Wira hingga ke 5 kalinya barulah Wira menerima panggilan Tantri.


"Ada apa Mbak?" tanya Wira dengan suara mengantuk.


Tantri langsung saja menyadari kebodohannya, Ia ingat jika ini sudah tengah malam, tidak seharusnya Tantri menghubungi Wira di jam malam seperti ini.


"Aku terlalu senang sampai tak sadar sudah menghubungimu tengah malam begini, maafkan aku pak." ucap Tantri.


"Tidak apa apa, jadi ada apa?" tanya Wira dari telepon.


"Saya hanya ingin memberitahu jika Rizal sudah sadar dan meminta agar Pak Wira tidak perlu repot menyelidiki kasus Rizal, kecelakaan bisa terjadi karena kesalahan Rizal sendiri yang mengantuk."


"Ohh begitu, baiklah saya tidak akan melakukannya."


Tantri terlihat lega, "Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih."


"Tidak masalah Mbak, saya juga senang mendengar Rizal sudah sadar." balas Wira.


"Kalau begitu saya tutup teleponnya ya."


Setelah mendengar jawaban dari Wira, Tantri segera mengakhiri panggilan.


"Semua sudah beres." ucap Tantri tersenyum lalu senang.


Tantri kembali masuk ke dalam, "Pak Wira sudah ku beresk-" ucapan Tantri terhenti saat melihat Vanes ternyata bangun dan menatap ke arahnya.


"Papa kenapa Ma?"

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa like vote dan komen yaa


__ADS_2