
Vanes dan Faris baru saja sampai dirumah Asih dan langsung disambut wajah terkejut Asih.
Faris memeluk tubuh Asih yang semakin lama semakin kurus bergantian dengan Vanes yang mencium punggung tangan Asih lalu memeluknya.
"Kenapa nggak bilang kalau mau pulang?" tanya Asih mengajak putra dan menantunya masuk kerumah. "Biasanya kalian pulang kalau hari libur, ini kan bukan hari libur?"
"Rencana dadakan Bu, cuma mau mampir."
Asih menghentikan langkahnya lalu berbalik menatap Faris, "Memangnya kalian mau kemana?"
"Mau ke bali bu."
Asih kembali terkejut, "Ngapain ke bali?"
Faris tersenyum, "Mau honeymoon Bu, kami pulang sekalian mau minta restu sama Ibu supaya honeymoon kami membuahkan hasil dan Vanes bisa segera hamil."
Asih ikut tersenyum lalu menepuk bahu Faris, "Ibu doakan semoga usaha kalian membuahkan hasil."
Faris dan Vanes mengajak Asih pergi jalan jalan sekalian makan siang bersama direstoran.
"Disini mahal, lebih baik uangnya disimpan buat kamu berangkat honeymoon." kata Asih membuat Faris dan Vanes tersenyum.
"Sekali kali makan direstoran Bu, Faris sedih ngeliat Ibu tambah kurus."
Vanes mengangguk setuju, "Sampai saat ini Vanes masih berharap, Ibu mau tinggal bersama kami."
Asih tersenyum, "Kalau Ibu ke kota, kasihan bapak kamu disini sendirian."
"Ibu... Bapak kan sudah-" ucapan Faris terhenti kala Vanes mengenggam tangan Faris, memberikan kode pada Faris agar tidak melanjutkan ucapannya.
"Kalau Ibu ke kota, nanti rumah yang dikampung bakal ada yang ngurusin kok dan sewaktu waktu Ibu mau pulang juga bakal dianterin." kini giliran Vanes yang berbicara namun Asih masih tetap menggelengkan kepalanya.
"Ibu tidak bisa. Kalian ingat sama Ibu, mau jenguk Ibu rasanya sudah membuat Ibu bahagia dan itu lebih dari cukup." ungkap Asih.
Tampak raut wajah Vanes dan Faris berubah kecewa karena untuk kesekian kalinya mereka gagal merayu Asih tinggal bersama dikota.
Setelah makan siang bersama, Faris dan Vanes mengajak Asih pergi ke pasar. Sudah lama sekali Faris ingin membelikan Asih kalung dan akhirnya sekarang Faris bisa membelikan kalung dengan uang gaji bekerja diperusahaan mertuanya.
"Pilih yang Ibu sukai." pinta Vanes ikut menemani Asih memilih kalung di toko emas.
"Aduh, Ibu beneran nggak pengen. kalian tabung saja uangnya, kebutuhan kalian itu banyak."
Vanes tersenyum, "Gajinya mas Faris juga banyak kok Bu, nggak apa apa Bu, pilih saja."
__ADS_1
Karena dipaksa Anak dan menantunya, Asih memilih kalung yang menarik matanya.
"Gelang sekalian ya Bu?" tawar Faris.
"Nggak, ini dulu aja. Besok lagi." tolak Asih dan kali ini Faris tak memaksa lagi.
Setelah dari pasar, Faris, Vanes dan Asih menyempatkan untuk pergi ke makam Slamet untuk membersihkan makam dan mengirim doa. Tak terasa air mata ketiganya menetes memandangi batu nisan milik Slamet. Dada Faris bahkan terasa sesak menahan rindu pada pahlawan hidupnya yang belum sempat Ia bahagiakan itu.
"Nggak terasa udah hampir 7 bulan Bapak nggak ada." gumam Asih saat kembali memasuki mobil.
Faris memeluk Ibunya, memberi kekuatan pada Ibunya agar tidak sedih.
"Ikut liburan sama kami mau bu?" tawar Vanes yang lagi lagi di gelenggi kepala oleh Asih.
"Nggak usah, Ibu nggak mau merepotkan."
"Nggak sama sekali Bu, justru kita malah seneng kalau Ibu mau ikut."
Lagi lagi Asih menggelengkan kepalanya, "Kalian fokus sama usaha kalian dulu saja, ibu tidak apa apa."
Faris dan Vanes tak lagi memaksa Asih, mereka cukup paham jika Asih memang selalu merasa sungkan padahal dengan anaknya sendiri.
Setelah mengantar Asih pulang kerumah, Faris dan Vanes segera pergi ke bandara dan butuh waktu 3 jam untuk sampai bandara.
Sepanjang perjalanan, Faris banyak diam dan melamun bahkan saat Vanes mengajaknya bicara, respon Faris sangat lambat.
"Rasanya sedih sekali sayang. Kita hidup bahagia disini sementara Ibu kesepian dikampung."
Vanes menghela nafas panjang, sedikit merasa bersalah karena dirinya yang membuat Faris harus berpisah dengan orangtuanya.
"Maaf mas, semua pasti gara gara aku."
Faris merangkul istrinya, "Nggak ada yang salah sayang, semua memang harus seperti ini." ucap Faris lalu mengecup kening istrinya. "Sudah jangan dibahas lagi, harusnya kita menikmati momen honeymoon ini dengan bahagia bukan dengan perasaan sedih." kata Faris yang langsung diangguki oleh Vanes.
Makan malam kali ini sedikit berbeda karena hanya ada Sara, Ken dan Rani dimeja makan. hening tidak ada yang memulai obrolan hingga akhirnya Sara yang lebih dulu memulainya, "Gimana kerjanya? Harus betah ya Ran?" tanya Sara sambil tersenyum, "Mas Ken nggak galak kan?" tanya Sara lagi padahal Rani belum sempat menjawab.
"Betah kok Mbak, mas Ken juga baik."
"Kalau mas Ken galak atau bikin kamu pusing, bilang sama aku." kata Sara yang langsung diamgguki oleh Rani.
Selesai makan malam, Rani kembali ke kamarnya sementara Ken dan Sara duduk didepan televisi. Mereka menghabiskan waktu malam berdua untuk menonton film.
"Aku nggak pernah galak sama siapapun." protes Ken pada istrinya saat mereka sudah berdua.
__ADS_1
"Aku tadi cuma bercanda mas," balas Sara lalu tersenyum, "kayaknya lagi sensitif banget." cibir Sara mengingat sejak Ken menjemputnya, pria itu banyak diam, hanya berbicara sekata dua kata saja, itu pun terdengar malas.
"Aku capek sayang." keluh Ken.
"Kalau capek kita tidur aja mas."
Ken menggelengkan kepalanya, "Katanya mau lihat film dulu."
"Nggak juga nggak apa apa mas, kalau capek istirahat, nggak harus nuruti kemauan aku."
Ken mengangguk lalu berdiri, "Ya sudah ayo kita ke kamar saja."
Setelah mematikan televisi, Sara mengandeng tangan Ken lalu keduanya menaiki tangga.
"Mau kemana?" tanya Sara saat keduanya berpapasan dengan Rani yang membawa laptop.
"Mau ke taman belakang mbak."
"Udah malem Ran, mau ngapain?"
Rani tersenyum, "Nggak bisa tidur mbak."
"Makanya buruan cari suami Ran, biar ada yang nemenin tidur."
Seketika senyuman Rani berubah seperti senyuman yang dipaksa.
"Aku ke bawah dulu ya mbak." pamit Rani melewati Ken dan Sara menuruni tangga.
"Jangan gitu sayang." ucap Ken saat Rani sudah turun ke bawah.
"Gitu gimana mas?"
"Ya nyuruh orang buat cari suami, kesannya kamu kayak ngeledek." nasihat Ken namun Sara malah tertawa.
"Yaela mas, aku nggak ngejek cuma ngasih saran."
Ken menghela nafas panjang lalu berjalan lebih dulu meninggalkan Sara.
Setelah memberikan jatah pada Sara hingga istrinya itu terlelap, Ken beranjak dari ranjang untuk mandi.
Masih mengenakan jubah mandinya, Ken keluar dan berdiri di balkon kamarnya sambil merokok. Mata Ken menatap ke arah taman dimana ada Rani yang sedang menatap layar laptopnya.
"Mas..." suara Sara mengejutkan Ken hingga Ken menjatuhkan rokoknya.
__ADS_1
"Ngapain kamu disitu?'
Bersambung...