
Pak Kades menyambut kedatangan para warganya karena memang hari ini ada kumpulan dirumahnya.
Kumpulan rutin setiap bulan yang diadakan oleh bapak bapak dikampungnya secara bergilir dan bulan ini giliran dirumah Pak Kades.
Slamet tampak hadir paling awal dirumah Pak Kades karena memang Ia memiliki misi untuk mencari tahu kebenaran tentang kehamilan Ani namun sayang sepanjang acara Slamet tidak mendapatkan informasi apapun. Ia bahkan tidak melihat Ani keluar untuk ikut menjamu tamu.
"Ada apa mas Slamet kok kayak gelisah gitu?" tanya guntur salah satu tetangga yang ikut acara kumpulan.
"Nggak apa apa," Slamet memaksakan senyumnya, Ia tak menyangka dari raut wajahnya ketara jika Ia sedang gelisah.
Hingga acara berakhir, Slamet masih tidak melihat batang hidung Ani padahal Bu Kades dan beberapa keponakannya keluar untuk menjamu namun Ani tidak keluar sama sekali.
Slamet semakin yakin pasti Pak Kades menyembunyikan Ani agar tidak ketahuan jika Ani tengah hamil.
Slamet keluar dari rumah Pak Kades dengan raut wajah lesu. Ia hanya bisa terus menebak tanpa bisa membuktikan kebenaran tentang kehamilan Ani. Pak Slamet berjalan sendirian sambil melamun hingga tak sadar Ia menabrak Hani, salah satu keponakan Pak Kades.
Hani terhuyung dan barang bawaannya jatuh ke tanah.
"Gimana sih Pak!" sentak Hani.
"Maaf Neng lagian Neng juga buru buru amat jalannya." Slamet tidak mau disalahkan karena memang Hani lah yang berjalan cepat sampai menabraknya seperti itu.
Slamet membantu Hani mengambil barang bawaan Hani yang berceceran ke tanah dan Ia sangat terkejut melihat apa yang dibawa Hani. Mangga muda, ya Hani membawa mangga muda.
"Malam malam gini emang mau rujakan Neng?" tanya Slamet memberikan plastik berisi buah mangga yang tadinya berceceran.
"Iya, itu si Ani ngrepotin minta cariin mangga muda malam malam begini. Enaknya dirasain sama orang giliran bunting orang lain yang repot." omel Hani namun seketika Hani tampak sadar jika Ia sudah salah bicara. Wajah Hani langsung pucat ketakutan.
Hani melewati Slamet begitu saja tanpa mengatakan apapun lagi.
"Neng... Neng Hani..." panggil Slamet akhirnya berlari mengejar Hani karena Ia ingin penjelasan lebih detail mengenai kehamilan Ani namun Hani malah berlari sangat kencang lalu masuk kerumah Pak Kades membuat Slamet berhenti tidak lagi mengejar Hani.
"Sekarang sudah jelas, sudah sangat jelas kalau ada maksud lain dibalik perjodohan ini. Pak Kades benar benar keterlaluan!"
Slamet memutuskan untuk pulang, Ia ingin segera memberitahu pada Faris tentang informasi yang sudah Ia dapatkan ini.
"Bapak baru pulang." Faris duduk didepan seolah menunggu kepulangan Slamet.
"Kamu pasti nungguin informasi dari Bapak kan?" tebak Slamet membuat Faris tersenyum karena memang benar jika Ia sedang menunggu kepulangan Slamet.
"Gimana pak? Apa Bapak dapat sesuatu?"
__ADS_1
Slamet mengangguk, "Iya, sepertinya Ani memang hamil."
"Buktinya apa Pak?"
"Pas jalan pulang Bapak ditabrak sama Hani, ponakan pak Kades trus dia bawa buah mangga muda banyak banget, Bapak iseng iseng nanya dia malah keceplosan bilang kalau Ani bunting gitu." jelas Slamet.
"Nah itu si Hani bisa kita jadikan bukti kalau kita melawan Pak Kades." saran Faris lalu digelengi oleh Slamet.
"Jangan, kasihan Neng Hani. kamu pikirin cara lain tapi jangan melibatkan orang lain yang penting sekarang kita sudah tahu kebenarannya." kata Slamet yang akhirnya diangguki oleh Faris.
Semalaman Faris tidak bisa tidur karena memikirkan cara melawan Pak Kades. Meskipun Ia sudah memiliki senjata namun tetap saja Ia harus hati hati dalam bertindak sebab Pak Kades orang yang sangat licik, jika sampai salah langkah bisa bisa Ia terkena jebakan Pak Kades.
Dan paginya, Faris bangun sebelum subuh. Ia langsung pergi ke ladang untuk mengambil beberapa mangga muda.
Beruntung Ibunya memiliki beberapa pohon Mangga dan selalu berbuah jadi Faris tidak kebingungan mencari mangga muda.
"Kamu udah dapat caranya?" tanya Slamet saat melihat Faris pulang dari ladang membawa seplastik mangga muda.
"Sudah Pak."
"Hati hati Ris."
"Kalian pada ngomongin apa sih? Ibu nggak paham." Asih yang berada disana pun tak paham dengan arah pembicaraan Faris dan Slamet.
"Bapak belum cerita?"
Slamet menggelengkan kepalanya, "Semalam Ibu sudah tidur."
"Memang ada apa pak?" tanya Asih.
Slamet akhirnya menceritakan tentang kehamilan Ani yang memang benar terjadi membuat Asih terkejut dan tak menyangka.
"Kenapa Pak Kades bisa sejahat itu sama kita ya pak?" Asih bahkan hampir menangis mendengar cerita Slamet.
"Sudahlah Bu, jangan dipikirkan. yang penting sekarang kita sudah tahu semuanya sebelum pernikahan terjadi, kita masih bisa menolak pernikahan itu, tidak peduli jika Pak Kades masih tetep memaksa." ucap Faris menghibur Asih.
"Benar Bu, Allah masih sayang sama Faris jadi diperlihatkan semua keburukan Pak Kades sebelum Faris menikah lagipula ini bisa menjadi senjata kita untuk melawan Pak Kades." tambah Slamet.
Asih akhirnya menghentikan tangisnya, Asih masih tak percaya kebaikan keluarga pak Kades hanyalah modus belaka dan dibalik itu semua ada kebusukan yang sudah direncanankan untuk Faris.
"Sudah Bu, sudah." Slamet menepuk nepuk punggung istrinya.
__ADS_1
Setelah mandi dan sarapan bersama keluarganya, Faris segera berangkat menuju rumah pak Kades membawa mangga muda hasil dari ladangnya.
"Wah wah calon menantu ku sudah datang sepagi ini." sambut Pak Kades saat membuka pintu untuk Faris.
"Bawa apa ini?" tanya Pak Kades melihat kantong plastik yang diletakan dimeja oleh Faris.
"Mangga muda pak."
Seketika senyum Pak Kades memudar setelah mendapatkan jawaban dari Faris.
"Apa maksudmu membawa mangga muda sepagi ini? Tidak sopan!"
Faris tersenyum, rasanya sedikit menyenangkan melihat Pak Kades sudah mulai emosi.
"Bukankah Ani sangat membutuhkan ini?"
Mata Pak Kades melotot, pura pura tak mengerti apa yang Faris ucapankan.
"Apa maksudmu? Aku sama sekali tidak mengerti. Ani tidak suka mangga muda jadi dia tidak akan membutuhkan ini!"
"Biasanya memang gitu pak, yang disukai jadi tidak suka dan yang tidak disukai jadi suka." kata Faris santai membuat Pak Kades semakin geram.
"Sebaiknya kau katakan saja apa maksudmu itu!"
"Baiklah jika Pak Kades tidak mau mengakui tapi saya tahu rencana busuk Pak Kades."
Brakkkk... Pak Kades memukul meja hingga menimbulkan suara keras membuat semua orang yang ada didalam keluar ke ruang tamu.
"Ada apa pak, kenapa marah marah?" tanya Bu Kades.
Disamping Bu Kades ada Ani yang mengenakan daster pendek, Faris menatap ke arah perut Ani lalu tersenyum sinis karena belum terlihat buncit.
"Rencana busuk? Jaga ucapanmu atau aku akan mwmbuatmu tidak bisa bicara lagi!" ancam Pak Kades.
"Lakukan saja Pak dan sebelum Bapak melakukan itu saya sudah lebih dulu memberitahu warga tentang kehamilan putri Bapak satu satunya itu!" balas Faris tanpa takut.
Semua orang tampak terkejut, Pak Kades, Bu Kades bahkan Ani sampai jatuh ke lantai sementara Hani yang juga ada disana terlihat pucat ketakutan.
Bersambung...
Jangan lupa like vote dan komen yaaa
__ADS_1