TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
240


__ADS_3

Bibir Arga menyunggingkan senyum saat melihat Herman dan Asih masih berada di meja makan. cukup membuat Arga Heran karena kebiasaan Ayahnya selalu makan dengan cepat namun kenapa malam ini Ayahnya begitu lamban?


Dengan wajah usilnya, Arga ikut duduk disalah satu kursi yang ada disana. Kedatangan Arga tentu saja tidak disambut oleh Herman karena menurut Herman, Arga sangat menganggu.


"Ngapain kamu disini?" tanya Herman dengan pandangan mata mengusir, meminta Arga pergi dari meja makan.


"Mau dengerin Ayah sama Bu Asih ngobrol."


Herman berdecak sementara Asih segera menghabiskan makannya lalu beranjak dari duduknya.


"Saya sudah selesai kalau kamu mau ngobrol sama Ayah kamu." kata Bu Asih lalu pergi dari sana.


Herman yang kesal dengan Arga pun langsung menjitak kepala Arga, "Gara gara kamu!" omel Herman.


"Sakit Yah..." Arga mengelusi kepalanya yang baru saja di jitak oleh Herman.


"Ayah lagi mau Pdkt malah digangguin." omel Herman lagi.


Arga tertawa, "Nggak usah marah gitu dong Yah... Kalau Arga tebak Bu Asih sebenarnya juga suka sama Ayah."


Herman menatap putranya, "Jangan bercanda kamu!"


Arga berdecak, "Serius Yah... Coba perhatiin deh kalau pas Ayah lagi deketin Bu Asih pasti Bu Asih langsung salting kan? Bysanya kalau orang suka kan gampang salting."


"Masa gitu?" Herman tersenyum sumringah.


Arga mengangguk, "Iya Yah, percaya deh sama Arga."


Herman menghela nafas lega, "Semoga saja lah penantian aku ini nggak sia sia biar bisa segera nikah sama Dik Asih."


Arga tertawa mendengar ucapan Ayahnya, "Iya iya Dik Asih."


Sementara itu Asih kini sudah berada dikamarnya. Ia malu jika berada diluar dan masih ada Herman hanya akan menjadi bahan candaan para anak anak karena setiap kali Asih digoda pasti jantungnya berdegup kencang.


"Seperti masih muda saja." gumam Asih merasakan degup jantungnya menggunakan telapak tangan.


Asih duduk dipinggir ranjangnya, tak berapa lama pintu terbuka. Nampak Vanes memasuki kamarnya.


"Kok Ibu sudah dikamar aja padahal Om Herman masih diluar tuh." ucap Vanes lalu ikut duduk disamping Asih.


"Ibu sedikit lelah mau istirahat karena besok harus nemenin Rani dirumah sakit." balas Asih sedikit berbohong pada Vanes, tak ingin Vanes tahu jika sebenarnya Ia malu.


"Ya sudah kalau Ibu mau istirahat Vanes keluar sekarang." ucap Vanes segera beranjak dari duduknya.


"Kamu juga cepetan istirahat, kasihan bayi yang ada diperutmu pasti capek."


Vanes mengangguk, "Iya Bu."

__ADS_1


Vanes segera keluar dari kamar Asih. Tak disangka Herman menunggu Vanes diluar.


"Dik Asih nggak mau keluar?" tanya Herman yang memang sengaja meminta Vanes untuk membawa Asih keluar.


"Jangan kecewa ya Om... Ibu mau istirahat katanya capek." ucap Vanes sambil tersenyum geli.


Tak dipungkiri, Herman terlihat kecewa, meskipun begitu Herman bisa mengerti. Seharian dirumah sakit menjaga keponakannya tentu saja akan melelahkan untuk Asih.


"Ya sudah kalau begitu, Om juga mau pulang istirahat biar besok bisa bangun pagi."


"Mau kemana Om bangun pagi?" tanya Vanes penasaran.


"Ada lah, kepo amat." balas Herman lalu pergi meninggalkan Vanes.


"Oo dasar Om Herman. Lihat saja besok nggak mau lagi aku bantuin manggil Dik Asih!"


Herman hanya tertawa mendengar teriakan Vanes.


Paginya...


Asih bangun lebih awal hari ini karena harus mengemasi baju ganti untuk Rani dirumah sakit juga baju miliknya jika harus berganti dirumah sakit.


"Nanti Faris anterin dulu sebelum ke kantor." ucap Faris pada Ibunya saat mereka sedang sarapan di meja makan.


"Ibu naik taksi saja tidak apa apa dari pada kamu nanti terlambat."


Asih tersenyum lega, "Ya sudah kalau begitu, asal tidak menganggu pekerjaanmu saja."


"Nanti kalau Vanes sudah pulang, biar Vanes ikut kesana buat nemenin Ibu." kata Vanes.


Asih menggeleng tak setuju, "Tidak perlu datang. kamu sedang hamil. Jangan datang kerumah sakit. Biar Ibu sendiri saja tidak apa apa."


"Tapi Bu..." Vanes sempat ingin protes namun langsung Ia urungkan saat melihat kedipan mata Faris yang memberi kode padanya agar jangan protes lagi.


"Ya sudah kalau begitu, Vanes langsung pulang."


"Kalau gitu biar aku saja yang nemenin Mbak Asih dirumah sakit." tawar Sri yang sedari tadi hanya menjadi pendengar dan kini ikut berkomentar.


"Nggak perlu, nanti Rani malah sungkan kalau banyak orang disana."


"Bu Asih bener, kamu dirumah saja nemenin aku." celetuk Wira yang langsung membuat semua orang tertawa.


"Papa huu... Bucin amat!" Vanes menyoraki Wira.


Selesai sarapan, Faris, Vanes dan Asih segera keluar dari rumah. Ketiganya dikejutkan dengan mobil milik Herman yang ada didepan rumah juga Herman yang berdiri disamping mobilnya.


"Om Herman... Kok nggak masuk?" tanya Vanes.

__ADS_1


"Nggak usah, Om kesini cuma mau nganterin Dik Asih. mau kerumah sakit kan?" tebak Herman.


Faris dan Vanes langsung tersenyum geli, "Bener Om, ibu mau kerumah sakit." ucap Faris masih tersenyum lebar, "Tadinya Ibu mau naik taksi tapi kalau Om mau nganterin ya nggak apa apa, pasti Ibu juga mau. Ya kan Bu?" Faris menatap Asih cengegesan.


Asih menatap Faris kesal karena putranya tak membantunya sama sekali.


"Aduh, jangan naik taksi Dik, lebih baik dianter mas Herman saja. Pasti aman dan sampai tujuan." ucap Herman.


"Ya sudah kalau begitu Faris berangkat dulu Bu." pamit Faris langsung mengajak Vanes masuk ke dalam mobil.


"Faris..." Asih sempat memanggil Faris namun tak digubris oleh Faris.


"Mari dek..." Herman sudah membukakan pintu untuk Asih dan mau tak mau Asih masuk ke dalam mobil Herman.


"Sudah sarapan belum dik?" tanya Herman saat didalam mobil, mulai membuka obrolan.


"Sudah kok."


"Waduh sayang sekali, padahal mau tak ajak beli bubur ayam."


Asih tersenyum, "Mas belum sarapan?"


"Duh Dik Asih kok perhatian sekali sama Mas." celetuk Herman.


Asih menghela nafas panjang, padahal Ia hanya balik bertanya tapi malah dianggap perhatian.


"Dik Asih merasa nggak nyaman ya kalau deket sama Mas?" tanya Herman melihat raut wajah Asih berubah.


"Bukan begitu mas, saya hanya belum terbiasa dekat dengan pria lain selain mantan suami saya."


Herman mengangguk mengerti, "Benar benar calon istri idaman."


Asih mengerutkan keningnya tak mengerti,


"Karena kamu mampu menjaga kesetiaan hanya untuk suami kamu."


Asih akhirnya mengerti maksud Herman.


"Bukankah memang seharusnya seperti itu?" tanya Asih.


"Ya tapi kebanyakan wanita lain tidak seperti itu."


Asih hanya tersenyum.


"Ngomong ngomong apa kamu sudah bisa memberi jawaban untuk ku dek?"


Asih terdiam cukup lama sebelum akhirnya menjawab, "Nanti setelah acara resepsi Sara dan Arga saya pasti akan memberi jawaban."

__ADS_1


Bersambung ..


__ADS_2