TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
69


__ADS_3

Vanes kembali melihat jam yang melingkar dipergelangan tangannya, sudah hampir pukul 7 pagi namun Faris belum juga datang menjemputnya padahal biasanya Faris datang pukul setengah 7.


Vanes duduk dengan gelisah, pikirannya melayang memikirkan kejadian kemarin saat Ia mendengar suara rekaman Pak Kades.


Vanes yakin jika Pak Kades orang yang licik dan jahat. Pak Kades pasti melakukan sesuatu yang membuat Faris belum juga datang.


Tepat pukul 8 pagi, Vanes tidak bisa menunggu lagi. Ia akhirnya membolos tidak berangkat kuliah dan berencana pergi kerumah Faris.


Tak peduli apa kata Orangtua Faris atau bagaimana tanggapan orangtua Faris, Vanes hanya ingin tahu keadaan Faris.


...****************...


Hampir 2 jam Faris, Asih dan Slamet disidang oleh warga atas tuduhan yang dilontarkan Pak Kades pada Faris namun Faris dan keluarganya masih tetap pada pendirian mereka.


Tidak mau mengakui tuduhan Pak Kades.


Faris bahkan memberikan rekaman suara Pak Kades yang memaksanya menikahi Ani pada semua warga namun seolah telinga mereka ditutup, Semua warga lebih mempercayai Pak Kades ketimbang Faris.


"Lagipula orangtua mana yang tidak marah dan memaksamu menikahi Neng Ani jika jelas jelas Kau sudah menghamili Neng Ani!" kata Salah satu warga tampak tak terima dengan pembelaan yang dilontarkan oleh Faris.


"Kalian gila, coba dengarkan lagi rekaman ini dengan baik jangan asal menunduh!" Faris mulai frustasi dan kesal karena tidak ada satupun warga yang percaya padanya.


Faris mencoba menyalakan rekaman suara lagi namun salah satu warga merebut ponselnya dan membantingnya hingga ponsel Faris remuk dan mati.


"Apa yang kau lakukan!" sentak Faris tak terima meskipun yang membanting ponselnya lebih tua darinya.


"Sudahlah, sebaiknya kau tanggung jawab saja, jangan jadi pria pengecut!"


"Ya tanggung jawab, tanggung jawab!" teriak warga lainnya dengan serentak membuat Faris tak bisa membela dirinya lagi.


Slamet dan Asih tampak menunduk sedih karena tidak bisa membela putranya dari fitnah keji yang dibuat oleh Pak Kades.


Tampak Pak Kades tersenyum puas melihat semua warga percaya dengan ucapannya.

__ADS_1


"Jika memang aku memperkosa Ani, coba kalian buktikan. Jika memang terbukti, aku akan menikahi Ani!" ucap Faris dengan lantang membuat semua orang diam.


"Buktinya sudah ada dikami, Pak Kades yang melaporkan sendiri dan memberi bukti pada kami." ucap salah satu polisi yang ada disana sambil menunjukan amplop coklat yang entah isinya apa.


"Mustahil, kalian pasti bersekongkol dengan Pak Kades." tuduh Faris menatap polisi itu tak percaya.


"Jangan asal menuduh, kau bisa terkena pasal pencemaran nama baik!" sentak polisi lain terlihat marah.


"Lalu berikan bukti itu padaku, aku ingin melihat apa yang dia laporkan pada kalian!" ucap Faris dengan lantang tanpa ada rasa takut.


Polisi itu melemparkan amplop coklat yang berisi data laporan dari Pak Kades. Tak menunggu lama, Faris membuka amplop itu dan melihat jika foto dirinya yang ada disana itu editan.


"Ini jelas editan, apa kalian tidak bisa membedakan mana foto asli dan editan?" teriak Faris dengan emosi."


"Tidak ada editan, itu asli!" kata polisi dengan tatapam tajam "Lebih baik kau bertanggung jawab atau kau lebih memilih dipenjara?"


Faris tersenyum sinis, "Aku lebih memilih dipenjara dari pada harus bertanggung jawab atas kesalahan yang tidak ku perbuat!" kata Faris dengan mantap.


"Gila, dia gila. Kenapa malah memilih dipenjara dari pada menjadi menantu pak Kades." bisik orang orang yang ada disana.


"Saya yakin, tangkap saja saya sekarang, jika sekarang kebenaran tidak terungkap, suatu hari nanti pasti akan terungkap." ucap Faris mengulurkan kedua tangannya agar segera diborgol oleh polisi.


"Bagaimana ini pak Kades?" tanya salah satu polisi pada Pak Kades.


"Sudah, bawa saja jika tidak mau bertanggung jawab." kata Pak Kades santai, "Dia sudah merusak masa depan anak saya, dia harus dihukum mati agar tidak ada korban selanjutnya."


"Omong kosong apa itu Pak Kades, kau benar benar keterlaluan sudah menfitnah putra saya seperti itu!" sentak Slamet tak terima.


"Aku tidak membuat Fitnah, aku mengatakan yang sejujurnya. Kau itu keluarga miskin jika ingin menjadi besan ku lakukan dengan cara yang benar, jangan seperti ini." kata Pak Kades dengan tatapan menghina.


"Berhenti menghina keluarga saya!" teriak Faris tak terima, "Bawa saya sekarang, bawa saya jika itu bisa membuat kalian puas!"


Polisi itupun membawa Faris keluar dari ruangan dan segera masuk ke mobil tahanan yang sudah disiapkan.

__ADS_1


"Bukankah aku sudah pernah mengatakan untuk tidak macam macam denganku." bisik Pak Kades tepat ditelinga Slamet lalu menepuk bahu Slamet.


Slamet menatap geram ke arah Pak Kades, Ia benar benar merasa tak berdaya dan tak bisa membela putranya dari fitnah kejam ini.


Slamet dan Asih pulang tanpa Faris, Sepanjang perjalanan, orang orang menatapnya sinis bahkan ada yang mengucapkan kata kata kejam untuknya.


"Tidak hanya miskin tapi mereka juga tidak bisa mendidik anaknya dengan baik."


Asih menangis mendengar ada yang mengatakan itu padanya.


"Sudahlah Bu, kebenaran pasti akan terungkap." ucap Slamet saat keduanya sudah sampai dirumah.


"Tapi bagaimana jika tidak segera terungkap Pak? Bisa bisa Faris berada dipenjara selamanya atau mungkin mendapatkan hukuman mati." takut Asih.


"Jika sampai itu terjadi, putra kita mati dalam keadaan jujur, kita seharusnya bangga memiliki putra yang baik dan jujur." kata Slamet mencoba menenangkan istrinya namun justru membuat Istrinya semakin menangis.


"Ibu nggak mau Faris sampai mati karena fitnah ini pak."


"Sudah bu, sudah. Tidak ada yang mau ini terjadi. Kita serahkan saja semuanya pada yang Maha mengatur. Saat ini tidak ada yang bisa kita lakukan selain berdoa." kata Slamet yang akhirnya diangguki oleh Asih.


Pintu rumah diketuk, Asih membersihkan wajahnya dari sisa air mata lalu beranjak dari duduknya dan pergi membuka pintu.


Asih terkejut melihat siapa yang datang kerumahnya. Asih sangat mengenali orang yang datang ini.


"Neng Vanes..."


Vanes yang berdiri didepan pintu tersenyum mendengar Asih masih mengenali dirinya, "Ibu masih ingat saya?"


"Tentu saja masih, masa sama istri keponakan sendiri bisa lupa." ucap Asih.


Vanes menelan ludahnya mendengar Asih mengatakan Istri keponakannya. Rasanya Vanes ingin mengatakan jika dirinya sudah bercerai dari Rizal namun Vanes pikir, Asih sudah tahu hanya saja Asih masih berpura pura tidak tahu.


"Saya kesini mau mencari Mas Faris." ucap Vanes membuat Asih tertegun dan air matanya kembali mengalir.

__ADS_1


"Apa terjadi sesuatu Bu?"


Bersambung...


__ADS_2