
Hari libur ini Faris menggunakan waktu luangnya untuk membantu Bapaknya mengurus ladang karena ini sudah memasuki musim panen jagung.
Setelah mengumpulkan semua jagung yang baru Ia panen, Faris istirahat sejenak untuk mengurangi rasa lelah yang mendera.
"Mas Faris..." panggil seseorang yang membuat Faris melihat ke belakang dan ternyata itu adalah Ani, anak pak Kades yang datang sambil membawa rantang makanan.
"Aku masakin bekal buat Mas Faris, ada es buah juga." ucap Ani mengulurkan rantang dan gelas plastik berisi es buah.
Faris menerima uluran rantang dan gelas, "Kenapa harus repot?" tanya Faris merasa sungkan.
"Nggak repot kok mas, cuma makanan ini. Aku masak sendiri lho." ucap Ani.
Faris tersenyum, Ia memang sedikit aneh dengan sikap Ani dan Pak Kades yang mendadak baik dan ramah. Ia merasa ada niat terselubung yang mungkin sudah direncanakan oleh Pak Kades.
"Lho ada Neng Ani." tiba tiba Slamet ikut bergabung bersama Faris.
Ani hanya mengangguk dan tersenyum.
"Dibawain bekal sama Ani pak." ucap Faris mulai membuka bekal pemberian Ani.
"Wah kayaknya enak tuh." celetuk Slamet.
"Tapi cuma 1 porsi, Ani bawain buat mas Faris." ungkap Ani terlihat kesal membuat raut wajah Slamet dan Faris berubah.
"Oh ya sudah buat Faris saja, Bapak biar makan dirumah nanti." kata Slamet.
"Enggak pak, ini buat Bapak saja lagian Faris kan alergi sama udang." ungkap Faris melihat di makanan ada campuran udang.
"Mas Faris alergi udang?" tanya Ani tampak terkejut.
"Iya, jadi biar dimakan Bapak nggak apa apa kan?"
Ani terpaksa mengangguki permintaan Faris karena memang dirinya yang tidak tahu jika Faris memiliki alergi.
Ani merasa kesal melihat makanan yang Ia buat dimakan dengan lahap oleh Slamet.
"Tau gitu nggak usah capek capek masak." batin Ani.
"Enak Neng, masakannya enak." puji Slamet setelah menghabiskan bekal lanjut menyeruput es buah.
"Kalau begitu Bapak mau kesana dulu." pamit Slamet.
"Seengaknya es buahnya buat Mas Faris, enggak dimakan Bapak semuanya." protes Ani saat Slamet sudah pergi.
"Kalau Mas memang selalu mengutamakan orangtua dulu, maaf kalau itu menyinggung kamu." ungkap Faris.
Ani menghela nafas panjang, tak lagi protes karena rasanya percuma. Jika dilihat Faris memang begitu menyayangi kedua orangtuanya, Mungkin Ani akan kalah namun mau bagaimana lagi, Ani tidak memiliki pilihan lain.
__ADS_1
Tiba tiba Ani berbalik lalu memuntahkan sesuatu membuat Faris Khawatir, "Kamu kenapa Ani?"
Dengan cepat Ani menggelengkan kepalanya, "Nggak apa apa Mas, mau masuk angin kayaknya."
"Kalau gitu aku anterin kamu pulang." ucap Faris beranjak dari duduknya.
Faris membersihkan tangan dan kakinya sebelum kembali mendekati Ani.
"Ayo aku anterin kamu pulang." ajak Faris yang langsung diangguki oleh Ani.
Dengan motor buntutnya, Faris mengantar Ani sampai depan rumah Ani.
"Aku nggak mampir ya? Kotor semua baju aku." ucap Faris.
"Mampir dulu lah mas sebentar." Ani sedikit memaksa.
"Nggak bisa Ani, Aku harus langsung-"
"Loh ada cah bagus to, masuk dulu." tiba tiba Bu Kades ada dibelakang Ani dan memotong ucapan Faris.
"Nggak usah Bu, cuma nganter Dik Ani, sekarang mau langsung pulang dulu." ucap Faris sopan.
"Masuk dulu, ngemil ngemil dulu. Abis makan siang kan?" tebak Bu Kades.
"Nggak jadi Bu, makan siangnya malah dimakan sama Pakde Slamet." adu Ani tampak masih kesal.
Deg... Hati Faris merasa teriris melihat betapa jijiknya pandangan orang lain tentang Bapaknya.
"Nggak diminta Bu, karena saya nggak bisa makan udang jadi makanannya saya berikan pada Bapak saya. Maafkan atas ketidaksopanan Saya."
"Besok lagi jangan seperti itu, kasihan Ani udah capek capek buatin makanan malah dimakan orang lain."
Faris mengangguki ucapan Bu Kades, "Besok lagi tidak perlu repot Bu, saya juga sudah dimasakin sama Ibu dirumah."
"Eee jangan suka nolak rejeki, nggak baik."
Faris kembali mengangguk, semakin lama berada disini bisa membuatnya bertambah kesal, Faris akhirnya pamit untuk pulang.
"Diajak masuk dulu nggak mau." omel Bu Kades saat Faris sudah melajukan motornya.
"Sudahlah Bu, biarin saja nggak usah dipaksa." Ani mengajak Bu Kades masuk.
Sampai dirumah, Faris memakirkan motornya didepan rumah. Ia langsung masuk kerumah dimana Bapak dan Ibunya sudah berada didalam rumah sedang membereskan hasil panen yang sudah diantar kerumah.
"Panen kali ini lumayan, rejeki kita memang lagi banyak tahun ini." ucap Slamet sambil merokok.
"Alhamdulilah ya Pak, pas kita mau ada hajatan rejekinya datang." celetuk Asih.
__ADS_1
Faris mengerutkan keningnya, "Hajatan apa sih?"
Asih malah tersenyum, "Nanti Ibu ceritakan sama kamu sekarang lebih baik kamu buruan mandi trus makan siang abis itu kita mau bicara penting."
Faris nengangguk dan langsung menuruti ucapan Asih.
Selesai mandi, Faris menyisir rambut didepan cermin. Jika Ia melihat wajahnya yang sekarang lebih gemuk dibanding beberapa bulan yang lalu.
Sebelum bisa menghasilkan uang sendiri, Faris memang merasa sedikit tertekan mengingat orangtunya hanyalah petani. keluarganya dipandang miskin oleh orang orang terutama keluarga Pak Kades.
Ani, jangankan memasak makanan untuknya seperti tadi, menatapnya saja tidak pernah. Keluarga Pak Kades bahkan sering melontarkan kata kata hinaan untuk keluarganya.
Lantas kenapa sekarang keluarga Pak Kades begitu baik padanya? Apa karena dirinya sekrang menjadi dosen?
"Ah entahlah, memikirkan mereka membuatku kesal saja."
Faris kembali mengingat ucapan pedas Bu Kades saat mengantar pulang Ani.
"Mereka hanya menyukai ku karena aku dosen tapi masih memandang rendah Bapak!"
Faris segera keluar dari kamar, bergabung diruang tengah untuk makan pisang goreng sembari menonton televisi.
"Ini Ibu sudah buatkan kopi." Asih menyodorkan secangkir kopi hangat untuk Faris.
"Terima kasih Bu, pokoknya Ibu yang terbaik." ucap Faris sambil mengacungkan jempolnya.
"Nanti kalau kamu sudah punya istri, pasti Ibumu terbaik nomer 2 ya?" tebak Asih dengan nada bercanda.
"Apa sih Bu, tetep nomor 1 buat Faris lagian Faris juga belum kepikiran buat nikah."
Asih dan Slamet saling berpandangan satu sama lain membuat Faris sedikit bingung.
"Bapak sama Ibu itu sudah tua, maunya kamu buruan nikah." ucap Slamet.
Faris langsung saja terbahak, "Nanti saja Pak, perjalanan masih panjang."
"Ani gadis cantik dan baik ya Ris?" tiba tiba Ibunya menanyakan tentang Ani membuat Faris kembali kesal.
"Biasa saja Bu."
"Tadi Bu Kades datang kerumah, Bu Kades bilang ingin menjadikan kamu menantunya."
Seketika Faris menyemprotkan kopi yang baru saja ingin diteguk,
"Enggak Bu, Faris nggak mau!"
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa like vote dan komeen men temennn