
Tengah malam Faris keluar dari kamar untuk minum didapur.
Saat akan menuruni tangga, Ia melihat Ken juga keluar dari kamar Sara. Mereka saling bertatapan namun dengan wajah datar.
Karena Ken sama sekali tak tersenyum atau menyapa membuat Faris tak lagi mengubris Ken dan mulai melangkahkan kakinya menuruni tangga.
Sampai didapur, ternyata Ken juga menyusulnya. Mengambil sebotol air lalu meneguknya ditempat.
Faris memandangi Ken dari atas sampai bawah secara dekat, Ia yakin postur tubuh Ken terasa tak asing untuknya.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Faris dan langsung mendapatkan tatapan datar Ken.
"Tidak." balas Ken lalu pergi meninggalkan Faris.
Faris masih menatap punggung Ken hingga akhirnya Ia mengingat sesuatu.
"Apa mungkin dia?" Faris ingat saat Ia pulang dari rumah Wira, Ia dihadang oleh seorang pria dan postur tubuhnya sangat mirip dengan Ken. Faris tidak menuduh, entah kebetulan atau memang Ken, Faris juga tidak masalah. Faris hanya masih penasaran dengan motif pria bermotor itu.
Setelah mencuci gelas bekas Ia minum, Faris naik ke atas untuk kembali tidur karena besok pagi Ia harus berangkat awal untuk pulang ke kampung halamannya.
Paginya...
Faris dan Vanes sudah bersiap, sebelum pulang keduanya pergi keruang rawat Wira untuk berpamitan pada Wira.
"Maafin Vanes ya paa..." Faris sempat mendengar Vanes membisikan kata itu pada Wira.
Faris menghela nafas panjang, sungguh Ia tak ingin membuat Vanes merasa tertekan dengan keputusannya, Ia sudah mengizinkan Vanes untuk tinggal disini sementara hanya saja Vanes yang tidak mau melakukannya.
"Kau bisa tetap tinggal disini jika mau sayang." kata Faris yang langsung digelengi oleh Vanes.
"Aku akan tetap ikut denganmu mas."
"Aku mengizinkan mu sayang."
Vanes tetap menggelengkan kepalanya, "Tidak mas, aku ikut pulang sekarang."
Faris kembali menghela nafas panjang, Ia tak mungkin berada disini lebih lama karena ada tanggung jawab yang harus Ia emban. Pekerjaan menunggunya dikampung halaman karena Ia memang hanya meminta cuti 3 hari.
"Kita berangkat sekarang mas." ajak Vanes setelah mencium kedua pipi Wira.
"Baiklah, tapi jangan menangis lagi hmm." Faris memeluk Vanes, "Ada tanggung jawab yang harus ku penuhi dikampung, aku harap kamu bisa mengerti sayang." ucap Faris yang langsung diangguki oleh Vanes.
__ADS_1
Keduanya keluar dari ruangan Wira, disambut oleh Ken dan Sara yang menatap tak suka ke arah mereka.
"Aku benar benar masih tak menyangka kalian akan tega seperti ini!" ucap Sara.
Vanes menghela nafas panjang, semakin terlihat raut wajah sedih dan bingungnya.
"Maafkan kami, kami hanya mendapatkan cuti 3 hari tapi kami janji jika weekend akan sering datang kesini." kata Faris.
"Aku tidak peduli, aku hanya ingin kau tinggal disini dan mengurus perusahaan."
Vanes menatap Sara dengan tatapan aneh. Ia merasa Sara sangat memaksa sejak kemarin.
"Maaf kami tidak bisa."
"Kalian ini benar benar." omel Sara.
"Sudahlah." ucap Ken menepuk bahu Sara.
"Jangan menyentuhku!" omel Sara membuat Ken kesal sekaligus malu.
Bik Sri berlari kecil menghampiri keempat orang yang tengah bertengkar itu.
"Ada tamu datang."
"Hendri, pengacara pribadi Tuan.
Mereka akhirnya pergi keruang tamu untuk menemui Hendri pengacara pribadi kepercayaan Wira yang kini sudah duduk diruang tamu.
"Selamat pagi Pak.." sapa Ken yang mengenal siapa Hendri ini.
"Pagi Ken... Aku datang sepagi ini apa menganggu kalian?" tanya Hendri yang langsung digelenggi oleh semua orang.
"Ada amanah yang harus aku sampaikan dan sepertinya ini momen yang pas karena ada Menantu baru Tuan Wira juga." kata Hendri membuat Faris tersenyum ke arahnya.
"Amanah apa?" tanya Vanes sudah penasaran.
"Jadi begini Non Vanes, sebelum penyakit Tuan kambuh, Tuan memanggil saya untuk membicarakan tentang Amanah ini. Tuan mengatakan jika terjadi sesuatu pada Tuan, Beliau ingin Faris menantunya dan juga Sara mengurus perusahaan bersama."
Deg... seketika dada Faris terasa sesak setelah mendengar amanah dari Papa mertuanya itu.
"Saya harap Faris dan Sara mau melakukan apa yang di amanahkan oleh Tuan Wira mengingat saat ini kondisi Tuan Wira sedang koma dan tidak bisa menjalankan perusahaan padahal perusahaan butuh pemimpin saat ini." jelas Hendri mengakhiri ucapannya.
__ADS_1
"Ya aku sangat setuju denganmu, karena Paman hanya memiliki Vanes jadi memang sudah seharusnya suami Vanes menjadi penerus perusahaan." cibir Sara sedikit melirik ke arah Faris yang hanya tertunduk.
Vanes menatap ke arah Faris, mendadak Ia merasa gelisah karena jujur Vanes tidak ingin memaksa Faris untuk melakukan sesuatu yang tak di inginkannya.
"Kalau saya terserah Mas Faris saja mau bagaimana." ucap Vanes.
Hendri menunggu jawaban Faris namun Faris masih menunduk seolah belum ingin menjawab apa yang disampaikan oleh Hendri.
"Baiklah jika memang masih ingin dipikirkan tidak masalah, saya hanya ingin menyampaikan amanah dari Tuan Wira." kata Hendri lalu mengemasi berkasnya dan beranjak dari duduknya,."Tolong pikirkan ini demi Tuan Wira, saya permisi dulu." kata Hendri lalu pergi dari ruang tamu.
"Apa kau juga masih ingin menolak?" tanya Sara menatap ke arah Faris.
"Aku ingin bicara berdua di atas." ajak Faris pada Vanes, mengabaikan pertanyaan Sara.
Vanes mengangguk setuju, keduanya meninggalkan Ken dan Sara yang masih duduk disana.
"Dia bahkan belum menjawab pertanyaanku, dasar menyebalkan!" omel Sara.
"Bagaimana jika Faris tidak mau, apa kau sendiri yang akan mengurus perusahaan?" tanya Ken pada Sara.
"Aku juga tidak mau. Sejujurnya aku meminta mereka tinggal disini karena aku tidak mau mengurus perusahaan paman sendirian. Aku takut membuat perusahaan paman bangkrut seperti yang sudah ku lakukan pada perusahaan Papa ku dulu." akui Sara yang langsung membuat Ken tersenyum geli.
"Apa lucu?" sebal Sara.
"Tidak, aku baru tahu ternyata kau pernah membuat perusahaan Papamu bangkrut."
Sara menghela nafas panjang, "Aku sudah bilang pada Papa kalau aku tidak memiliki potensi mengurus perusahaan tapi Papa memaksaku dan akhirnya aku membuat salah satu perusahaan Papa ku bangkrut."
"Lalu papa mu marah?"
"Tentu saja karena aku sudah membuatnya rugi hingga milyaran."
Ken kembali tertawa membuat Sara semakin kesal, "Kenapa kau malah mendengar ceritaku, seharusnya kita mencari ide agar si Faris itu mau tinggal disini lagipula Paman sedang sakit, aku hanya ingin Vanes selalu berada disamping Paman agar tak menyesal di kemudian hari jika sampai terjadi sesuatu pada Paman."
Ken terdiam, menatap ke arah Sara. Ia selalu berpikir Sara gadis yang suka berperilaku buruk dan kasar namun nyatanya Sara memiliki banyak sisi baik yang tidak pernah Ia perlihatkan pada siapapun.
"Kenapa menatapku seperti itu!" protes Sara.
Ken tak menjawab, Ia malah mendekatkan bibirnya dan cup...
Ken mengecup kening Sara.
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa like vote dan komen yaaasss