
Rani duduk termenung didepan cermin sambil menyisir rambutnya. Setelah mengobrol dengan Sara dan mengetahui kehamilan Sara membuat Rani shock.
Bagaimana tidak shock, Sara hamil dan Ken masih ingin bermain main dengannya.
Entah hanya perasaan Rani atau memang benar, Rani merasa selalu diberi harapan oleh Ken, sesuatu yang seharusnya tidak Ken lakukan.
Pintu kamar Rani diketuk, membuyarkan lamunan Rani. Rani melihat ke belakang, pintu kamarnya dibuka dan seseorang yang belum Ia kenali masuk ke kamarnya.
"Selamat malam Nona, perkenalkan nama saya Alea, saya pembantu baru disini." ucap seorang gadis yang terlihat masih sangat muda itu.
"Ohh hay Alea, Panggil saja aku Rani, tidak perlu memakai Nona karena aku juga menumpang disini."
Alea tersenyum lalu menggelengkan kepalanya, "Tidak Nona, saya akan tetap memakai Nona."
Rani tertawa, "Terserah kau saja kalau begitu."
"Nona, makan malam sudah siap dan semua orang juga sudah berkumpul dimeja makan."
Rani mengangguk, "Baiklah aku akan segera turun kebawah."
Alea mengangguk dan berniat keluar namun suara Rani menghentikan langkah kakinya, "Apa mas Faris dan Mbak Vanes sudah kembali?"
"Sudah Nona."
Rani menghela nafas lega, jika ada Faris dan Vanes, Ia tak perlu khawatir hanya makan berdua dengan Ken dan Sara.
Setelah selesai menyisir rambutnya, Rani keluar dari kamarnya dan segera pergi ke meja makan.
Dan benar saja, semua orang sudah berkumpul disana.
"Bagaimana kabarmu Rani? Apa kau merindukan kami?" tanya Vanes beranjak dari duduknya agar bisa memeluk iparnya itu.
"Tentu saja aku betah, aku harus bekerja keras seperti Mas Faris." balas Rani membuat Faris tertawa.
"Sudah sebaiknya kau segera duduk, kita mulai makan malam,"
"Ya ayo duduk, kasihan bumil kita sudah kelaparan." ucap Vanes membuat Rani menatap ke arah Sara dan ken yang sudah siap untuk makan.
"Aku tidak ingin makan nasi." keluh Rani hanya mengambil sayur bening saja.
"Kenapa? Apa mual jika makan nasi?" Ken tampak khawatir, Rani jelas melihat raut khawatir Ken.
"Tidak, aku hanya sedang tidak berselera makan nasi."
"Baiklah, setelah ini aku akan keluar untuk membelikanmu susu hamil."
Sara mengangguk setuju, "Aku mau susu rasa coklat."
"Baiklah Tuan putri."
__ADS_1
"Aku benar benar iri dengan kalian." celetuk Vanes.
"Kenapa harus iri, kau juga memiliki suami." balas Sara.
Vanes tersenyum, "Kalian semakin bahagia apalagi sebentar lagi akan memiliki bayi, kebahagiaan kalian pasti bertambah."
Tanpa disadari semua orang, Rani mengepalkan tangannya, Ia merasa jika Ken memiliki kepribadian ganda. Saat dikantor, Ken selalu cemburu jika Rani bersama Dylan namun saat dirumah, Ken sangat perhatian dengan istrinya, tidak memikirkan perasaan Rani sama sekali.
Beruntung makan malam berakhir dengan cepat jadi Rani bisa segera pergi dari meja makan.
Rani pergi ke taman belakang, Ia ingin menghirup udara malam yang sedikit membuatnya tenang.
Rani menghela nafas panjang, mengingat besok Ia harus pergi ke luar kota bersama Ken dan hanya berdua.
Rasanya Rani tidak ingin pergi, Ia benar benar merasa muak dengan Ken.
"Apa yang kau pikirkan?" suara Faris terdengar dan pria itu duduk disampingnya.
"Kenapa keluar? Mana Mbak Vanes?"
"Sedang berada dikamar Papanya, aku tidak ingin menganggu.''
Rani mengangguk paham.
"Sejak dimeja makan kau terlihat gelisah, apa yang kau pikirkan?"
Rani menggelengkan kepalanya, "Tidak ada, aku baik baik saja.''
Rani kembali menghela nafas panjang, Faris tak akan percaya padanya namun Ia juga tak bisa jujur pada Faris tentang apa yang Ia rasakan saat ini.
"Aku baik baik saja mas."
"Kau tidak betah bekerja dengan Ken?" tebak Faris.
"Jika aku menjawab iya, apa kau akan memindahkan ku ke kantormu?"
Giliran Faris yang menghela nafas panjang, "katakan dengan jelas apa yang membuatmu tidak betah, mungkin jika alasanmu tepat, aku bisa membantumu pindah.''
Rani terdiam, Ia benar benar tak ingin jujur dengan Faris.
"Jika kau tidak mengatakan apapun mungkin aku tidak bisa membantu."
"Aku takut jatuh cinta pada Ken, apakah alasan itu sudah tepat?"
Ucapan Rani sontak membuat Faris terkejut, "Jangan gila Ran."
"Aku tidak gila, aku mengatakan ketakutanku saat ini, aku benar benar tidak ingin menyakiti siapapun." ungkap Rani.
Faris menepuk bahu Rani, Ia kembali flashback ke masa lalunya dimana Ia juga jatuh cinta pada iparnya sendiri dan sekarang hal yang sama terjadi lagi.
__ADS_1
Tidak, Faris tidak akan membiarkan ini terjadi apalagi hubungan Ken dan Sara terlihat harmonis, Faris tidak ingin Rani menghancurkan keharmonisan keluarga Sara.
"Nanti ku pikirkan caranya agar kau bisa pindah tanpa ada yang tahu alasanmu."
Rani tersenyum lega, "Terima kasih banyak mas."
Faris mengangguk, "Sebaiknya kau segera masuk dan tidur, kau bisa masuk angin jika terlalu lama kena angin malam."
Rani mengangguk, Ia masuk lebih dulu ke dalam membiarkan Faris duduk ditaman sendirian.
Rani berjalan menuju kamarnya, saat akan menaiki tangga, Ia berpapasan dengan Ken yang juga akan menaiki tangga.
Ken tampak membawa kantong plastik berlogo supermarket sejuta umat.
Rani bisa menebak jika itu pasti susu hamil seperti yang tadi Ken bicarakan saat dimeja makan.
Rani membiarkan Ken berjalan lebih dulu, Ken sempat tersenyum manis ke arahnya sebelum akhirnya Ia melewati Rani, berjalan lebih dulu menaiki tangga.
"Susu hamil rasa coklat." ucap Ken saat membuka pintu dan melihat istrinya belum tidur. "Mau ku buatkan sekarang?'' tawar Ken.
Sara tersenyum lalu mengangguk, Ia tak menyangka jika Ken bisa sangat perhatian seperti ini.
Ken pergi ke dapur untuk membuatkan susu hamil. dengan membaca petunjuk yang ada di kemasan, Ken berhasil membuatkan segelas susu coklat hangat untuk Sara.
"Bagaimana rasanya?" tanya Ken saat Sara sudah meneguk habis segelas susunya.
"Enak, rasanya pas."
"Kalau begitu aku akan membuatkan susu untukmu setiap hari."
Sara tersenyum, "Terima kasih sayang."
Ken meletakan gelas dimeja, Ia mendekati istrinya memberikan kode jika Ia sedang ingin saat ini.
"Mas... sejujurnya aku tidak ingin menolak keinginanmu tapi..." Sara terlihat tak enak.
"Kau sedang tidak ingin melakukannya?"
Sara mengangguk, "Tubuhku terasa tidak nyaman."
Ken memaksakan senyumnya, "Baiklah tidak masalah." Ken beranjak dari ranjang lalu mengambil rokoknya.
"Mas marah?" tanya Sara saat Ken berjalan ingin keluar dari kamar.
Ken tersenyum dan kembali menghampiri istrinya. Ken mengecup kening Sara, "Aku tidak marah, aku hanya sedang menahan diri jadi aku akan merokok diluar. Istirahatlah, aku bisa mengerti dirimu." ucap Ken kembali memberikan kecupan dikening Sara lalu pergi meninggalkan Sara.
Ken keluar dari kamarnya dan pergi ke taman belakang. Saat aka duduk dibangku, Ia melihat seorang gadis muda duduk disana sendiri. Ken semakin mendekat dan Ia yakin jika belum pernah melihat gadis itu sebelumnya.
"Siapa kamu?"
__ADS_1
Bersambung..
Jangan lupa like vote dan komen yaaa