
Vanes baru saja selesai mandi, Ia kembali masuk ke kamar Faris dan tidak mendapati pria itu dikamar.
Vanes memutuskan untuk keluar mencari keberadaan Faris dan Ia malah berpapasan dengan Ken.
"Apa kau melihat mas Faris?" tanya Vanes pada Ken.
"Tidak Nona."
Vanes mengangguk, "Aku akan mencarinya lagi." Vanes berjalan meninggalkan Ken yang tanpa disadari oleh Vanes, Ken menatap ke arahnya tanpa kedip.
Ken menghela nafas panjang, entah mengapa dadanya merasa sesak saat mengingat fakta jika Vanes sudah menikah. Ia sudah berusaha keras untuk move on dan membuka hatinya pada Sara namun ternyata tidak semudah itu.
Ken berbalik kembali berjalan tanpa tujuan, Ia merasa bosan berada didepan dan berniat mengelilingi sekitar rumah Faris.
Tanpa sengaja Ken melihat Rani sedang menyuapi makan seorang anak kecil yang tengah asyik bermain dengan teman temannya.
Ken tersenyum sinis, Rani terlihat lugu namun ternyata Ia sudah memiliki anak.
Dan tanpa disengaja lagi, mata mereka bertatapan, Rani langsung tersenyum lebar kearah Ken yang sedang melihat kearahnya.
"Mas... Aku pikir tidak ikut kesini?" sapa Rani terlihat sumringah.
"Dia anak mu?" tanya Ken tak mau basa basi.
Rani menggelengkan kepalanya, "Keponakanku, kenapa mas? Lucu ya?" ucap Rani lalu tertawa membuat Ken ikut mengulas senyum dibibirnya.
"Dimana ibunya? Kenapa bukan Ibunya yang menyuapi makan?"
"Ibunya sudah meninggal mas, dia tinggal dirumahku bersama orangtuaku." jelas Rani dengan raut wajah sedihnya.
"Maaf, aku nggak bermaksud ..."
Rani kembali mengulas senyum lalu menggelengkan kepalanya, "Nggak apa apa mas. Kenapa malah disini nggak didepan?"
"Bosen." kata Ken membuat keduanya kembali tersenyum.
"Sudah tante, aku nggak mau makan lagi." teriak anak kecil perempuan yang memakai dress berwarna pink dengan rambut dikuncir 2 membuatnya terlihat mengemaskan.
"Sedikit lagi Shena, tinggal sedikit." ucap Rani terlihat sabar dan telaten hingga gadis kecil bernama Shena itu kembali membuka mulutnya.
Tanpa sadar, Ken menatap kagum ke arah Rani. Meskipun Rani masih terlihat muda namun Rani sangat keibuan dan terlihat sudah lihai mengurus anak kecil.
"Kau disini? Aku mencarimu!" suara Sara terdengar dibelakang Ken mengejutkan Ken.
__ADS_1
Sara menatap ke arah Rani, tak hanya Sara, Rani pun ikut menatap Sara. Keduanya bertatapan sebelum akhirnya Sara memutuskan tatapan mata mereka lebih dulu.
"Ayo kita kembali ke hotel, aku merasa tak nyaman berada disini." ajak Sara.
"Baiklah Nona."
Tanpa mengatakan apapun, Ken pergi begitu saja meninggalkan Rani yang menatap ke arahnya.
"Apa dia kekasihnya?" gumam Rani lalu menghela nafas panjang.
Ken membawa Sara masuk ke dalam mobil, lalu melajukan mobil menuju hotel tempat mereka akan menginap.
"Apa gadis tadi kekasihmu?" tanya Sara.
"Tidak Nona, saya tidak memiliki kekasih."
"Kau menatapnya tanpa kedip dan sambil tersenyum, ku pikir dia kekasihmu."
"Tidak Nona, jangan salah paham."
Sara menatap kesal Ken, "Kau pikir aku cemburu? Aku hanya bertanya."
"Baiklah Nona maafkan saya."
Ken hanya bisa menghela nafas panjang, "Ada apa lagi dengan gadis itu?"
Ken memasuki kamar hotelnya, Ia ingin tidur karena merasa lelah dan mengantuk mengingat semalam Ia hanya tidur 2 jam saja.
Baru ingin memejamkan mata, Ken mendengar suara kamarnya diketuk.
Ken kembali beranjak dan saat membuka pintu ternyata Sara lagi. Gadis itu langsung menyerobot masuk tanpa mengatakan apapun.
"Nona kenapa kesini? Jika Tuan Wira tahu pasti akan marah." ucap Ken.
"Jika Paman tahu kau yang sudah memperkosaku waktu itu, pasti Paman akan marah dan memecatmu." balas Sara dengan santai dan tersenyum tengil.
Sara sudah berbaring diranjang Ken, "Aku ingin melakukannya lagi."
Ken menggelengkan kepalanya, Ia merasa Sara sudah ketagihan dengan nikmatnya bercinta, "Tidak Nona, jangan sekarang. Saya lelah."
"Kau menolak ku? Kau pikir siapa berani menolak ku seperti itu!" sentak Sara membuat Ken tak memiliki pilihan lain selain menerima ajakan Sara meskipun jujur, Ken merasa lelah dan tidak ingin melakukan itu.
Sara tampak menikmati permainan Ken hingga meminta tambah menjadi 2 ronde, setelah itu Sara kelelahan dan terlelap diranjang Ken.
__ADS_1
Ken ikut berbaring disamping Sara. Ia juga merasa kelelahan namun kantuknya sudah hilang. Ken menatap Sara dari samping. Wajah Sara sangat cantik namun tidak ada yang bisa mengalahkan kecantikan Vanes dimata Ken. Sejak pertama melihat Sara, Ken suka karena Sara cantik namun jantungnya tidak berdegup kencang menandakan jika perasaannya hanya sebatas suka karena fisik.
Dan saat bertama kali mereka bercinta, Ken pikir Sara sudah pernah melakukannya namun ternyata Sara masih virgin membuat Ken merasa bersalah hingga harus mempertanggung jawabkan perbuatannya itu.
Entah suka atau tidak, mau atau tidak, Ken harus bertanggung jawab atas Sara karena Ia yang sudah membuat Sara seperti ini apalagi Tuan Wira saja sudah memberikan restu, Ken harus bisa mencintai Sara mulai sekarang.
Ken mengecup kening Sara lalu terlelap disamping Sara.
...****************...
Wira duduk sambil mengenggam tangan Vanes putrinya yang kini juga duduk disampingnya.
"Rasanya aku tak mau berpisah lagi denganmu tapi suamimu tidak mau tinggal dikota." ucap Wira mengingat Faris menolak semua fasilitas yang Ia berikan termasuk menjadi penerus perusahaan.
"Maafkan kami Pa... Kami hanya ingin mandiri." ucap Vanes membuat Wira tersenyum.
"Jadilah istri yang penurut, jangan membantah ucapan suamimu." nasihat Wira.
Vanes mengangguk, "Sepertinya aku sudah berpengalaman dalam hal ini." ucapnya lalu tertawa dan Wira pun ikut tertawa.
Asih berjalan menghampiri Vanes dan Wira, "Makanan sudah saya siapkan, silahkan makan lebih dulu pak sebelum pulang." ajak Asih yang langsung diangguki oleh Wira.
Vanes membiarkan Wira makan bersama Asih, Ia tak ingin menganggu Wira yang mungkin ingin mengatakan sesuatu pada Asih.
"Maafkan kami jika hanya rumah sederhana ini yang bisa kami berikan untuk Neng Vanes." kata Asih memulai obrolan dengan Wira.
"Apalah arti rumah mewah jika tidak bisa membuat Vanes bahagia? saya tidak masalah bagaimanapun keadaannya asal Vanes bisa bahagia. Jangan khawatirkan hal seperti ini Bu." balas Wira yang membuat Asih merasa lega.
"Terimakasih atas kepercayaan Bapak pada Putra saya."
Wira tersenyum, "Orangtua seperti kita hanya bisa mendoakan yang terbaik dan kebahagiaan anak anak Bu, tidak perlu memikirkan apapun." kata Wira lagi.
Keduanya akhirnya mulai makan dan selesai makan, Wira pamit untuk pulang.
"Papa titip Vanes, tolong bahagiakan dia." bisik Wira ditelinga Faris.
"Insha Allah Pa... Faris akan berusaha untuk membahagiakan Vanes." kata Faris dengan mantap.
Wira menepuk bahu Faris lalu memeluk Vanes setelah itu Ia memasuki mobil, meninggalkan rumah Faris.
Bersambung...
Jan lupa like vote dan komen yaaa
__ADS_1