
Rani menatap Ken dan Dylan secara bergantian. Mereka tidak terlihat seperti atasan dan bawahan. Apalagi Dylan yang berani cengegesan padahal sedang bersama Bosnya. Meski begitu Rani juga sempat dibuat baper oleh Ken yang tidak memperbolehkan dirinya berada satu ruangan bersama Dylan.
"Ada apa? Kenapa tidak boleh? Apa benar Ken cemburu?" batin Rani namun seketika Rani menghilangkan pemikiran itu.
Rani sudah meyakinkan dirinya jika Ia bisa melupakan Ken. Ya mulai sekarang Ia akan bersikap profesional. Tidak melibatkan masalah hati untuk pekerjaan mereka.
"Saya satu ruangan dengan Mas Dylan juga tidak apa apa pak." ucap Rani.
Dylan semakin girang berbeda dengan Ken yang melotot seolah tak rela jika Rani harus satu ruangan bersama Dylan.
"Nggak bisa Rani, kamu harus punya ruangan sendiri." kata Ken.
Dylan tampak kesal, "Lah kenapa sih bos, orang Rani nya aja mau satu ruangan sama aku." protes Dylan.
"Kalau kalian satu ruangan bisa bisa Lo nggak kerja dan malah godain Rani terus!" omel Ken.
"Yaela Bos, nyenengin anak buahnya dikit napa sih pelit amat dah!"
"Sudah jangan ribut lagi, Lo siapkan ruangannya sekarang atau mau dipecat!" ancam Ken membuat Dylan bergindik dan akhirnya melakukan apa yang Ken minta.
"Kalau memang nggak ada ruangan, aku nggak masalah harus satu ruangan sama Dylan." ucap Rani lagi saat Dylan sudah keluar dari ruangan Ken.
Ken berdecak, "Udahlah nurut aja apa susahnya sih!"
"Dasar aneh." umpat Rani merasa kesal dengan sikap Ken.
Ken menjambak rambutnya, terlihat frustasi, "Gini ya, aku nggak ngebolehin kamu satu ruangan sama Dylan bukan karena aku cemburu, aku cuma nggak mau Dylan jadi gak fokus kerja gara gara ada kamu. Paham kan?"
Rani tersenyum sinis, "Aku juga nggak merasa kamu cemburu, jangan jangan kamu yang baper sendiri." ucap Rani semakin membuat Ken kesal hingga mendekati meja Rani.
Seketika Rani menutup bibirnya saat Ken mendekat membuat pria itu tertawa, "Sekarang yang baper siapa? Kamu pikir aku bakal nyium kamu?"
Wajah Rani memerah malu karena Ia sempat berpikir jika Ken mendekat untuk menciumnya lagi, "Aku nggak baper. Buat jaga jaga aja soalnya kalau pengantin baru suka nyosor, ya kan takut kalau disosor sama suami orang." ucap Rani lalu berdiri dan keluar dari ruangan Ken.
Rani menutup pintu dengan kencang, Ia sangat kesal dengan Ken. baru hari pertama bekerja, Ken sudah membuatnya kesal apalagi kalau setiap hari. Namun tiba tiba, Rani malah mengukir senyuman, "Nggak apa apa deh, mendingan kesel gini jadi bisa cepet move on dari pada di bikin baper ntar malah susah move on." gumam Rani.
"Eh ada Neng cantik." suara Dylan kembali terdengar.
"Dimana ruangan barunya mas?" tanya Rani sudah ingin cepat pindah agar tidak melihat Ken setiap waktu.
"Bentar ya Neng, baru dibersihin sama petugas kebersihan."
Rani mengangguk setelah itu Ia sedikit bingung dengan apa yang harus Ia lakukan setelah ini.
"Neng, emang nggak ada kerjaan ya kok berdiri disini?" tanya Dylan membuat Rani malu dan akhirnya kembali masuk ke ruangan Ken.
__ADS_1
"Kerjain ini, kalau nggak paham tanya!" pinta Ken memberikan beberapa berkas dimeja Rani.
Rani segera duduk dikursinya, Ia menghela nafas panjang mengingat pekerjaan yang tadi diberikan saja belum selesai dan sekarang sudah ditambah lagi. Meskipun begitu, Rani segera mengerjakan setumpuk berkas itu.
Selesai dengan setumpuk berkasnya, Rani segera membawa semua berkas ke meja Ken.
"Silahkah dicek pak, apakah sudah benar pekerjaan saya." ucap Rani yang langsung diangguki oleh Ken.
Rani melihat jam dipergelangan tangannya, sudah pukul 12 siang, waktunya untuk makan siang.
"Ikut aku." pinta Ken berjalan menuju pintu lalu keluar.
"Mau kemana? Bukannya ini jam makan siang." gumam Rani tanpa protes, Ia mengikuti langkah kaki Ken.
Rani melihat Ken memasuki mobil, Ia pun ikut masuk ke mobil Ken.
"Mau kemana pak?"
"Cari makan siang."
Rani menghela nafas panjang, "Saya bisa mencari sendiri pak."
"Kalau begitu kenapa kamu masuk ke mobil?" tanya Ken menatap Rani sinis lalu menghentikan mobilnya.
Tak menjawab ucapan Ken, Rani keluar begitu saja dari mobil, "Dia benar benar orang yang aneh." ucap Rani saat mobil Ken sudah melaju meninggalkan tempat Rani berdiri.
"Eh Neng cantik, mau makan siang ya?" ucap Dylan yang ternyata juga sedang makan disana.
"Ya nih mas."
"Sini duduk sama mas aja." Dylan menatap Rani genit.
Rani tersenyum lalu membawa piring makan siangnya di meja Dylan.
"Ruangan kamu udah jadi Neng, abis makan siang bisa langsung ditempati." kata Dylan yang langsung membuat Rani tersenyum senang.
"Nanti aku bantuin pindah barangnya." tambah Dylan lagi yang langsung diangguki oleh Rani.
Selesai makan siang, Dylan dan Rani berjalan bersama menuju kantor. Keduanya memasuki gerbang bersamaan dengan mobil Ken yang juga masuk.
"Pindah sekarang aja ya mas." ajak Rani.
"Siap Neng."
Keduanya memasuki ruangan Ken, tak berapa lama Ken juga ikut masuk, menatap Rani dan Dylan bergantian.
__ADS_1
"Bos, ruangannya sudah siap." lapor Dylan.
"Trus ngapain kamu disini?"
"Mau bantuin si Eneng angkat angkat barangnya bos."
Ken berdecak, "Barangnya cuma sedikit, nggak usah dibantuin. Mendiangan kamu balik kerja sana."
"Ta tapi bos-" baru ingin protes, Ken sudah melotot menatap Dylan membuat pria itu tak berkutik dan menuruti perintah Ken.
"Kalau niat kerja itu nggak usah manja!" omel Ken pada Rani.
Rani menatap kesal Ken lalu pergi membawa satu kardus barang barangnya dari ruangan Ken.
Rani memasuki ruangan barunya, sangat bersih dan nyaman.
"Aku akan betah berada disini." gumam Rani mulai meletakan barang barang ditempatnya.
Baru saja selesai membereskan barangnya, telepon berdering, Rani segera menerima panggilannya.
"Keruanganku sekarang!" ucap Ken lalu mengakhiri panggilan.
Rani menghela nafas panjang, meletakan ganggang telepon lalu keluar dari ruangannya. Sebelum masuk keruangan Ken, Rani mengetuk pintu lebih dulu hingga Ia mendengar suara Ken barulah Rani membuka pintu ruangan Ken.
"Bapak memanggil saya?"
Ken melempar semua berkas dimeja, "Salah semua, kamu niat kerja nggak!" Ken terdengar galak.
Rani sempat terkejut, Ia mencoba mengendalikan dirinya karena sadar jika Ken adalah atasannya.
"Maaf pak, akan saya perbaiki."
"Kalau kerja itu niat, jangan main main."
"Sekali lagi maaf pak." ucap Rani lagi.
"Kamu dibayar buat kerja bukan cuma godain cowok."
Habis sudah kesabaran Rani mendengar omelan Ken yang semakin lama terdengar aneh.
"Pak... mencampur adukan masalah pekerjaan dan pribadi."
"Siapa bilang masalah pribadi, kamu pikir aku cemburu liat kamu jalan berdua sama Dylan?" sinis Ken.
Rani sempat melonggo namun akhirnya Ia tersenyum. Mengambil semua berkas lalu keluar dari ruangan Ken.
__ADS_1
Bersambung....
Rani tuh udah sadar diri gaeess, dia nggak mau jadi pelakor tapi Ken aja yang kegatelan hehe