TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
101


__ADS_3

Ken melepaskan bibirnya setelah cukup lama mereka berciuman. Ken ingin melakukan lebih apalagi setelah merasakan gunung kembar besar milik Rani, rasanya Ken ingin meniduri Rani saat ini juga Namun Ken sadar, Ia tidak bisa melakukan itu apalagi pada Rani.


"Maafkan aku." ucap Ken merasa bersalah.


Rani terlihat menunduk namun segera mendongak dan tersenyum tipis.


"Ternyata rasanya menyenangkan."


Ken menatap heran, "Menyenangkan bagaimana?"


"Ya berciuman ternyata rasanya menyenangkan apalagi dengan orang yang kita sukai."


Deg... Jantung Ken berdegup kencang mendengar Rani mengatakan itu padanya.


Ini gila, ini sangat gila. Lagi lagi Ia melecehkan gadis yang belum disentuh siapapun. Pertama Sara lalu Rani? Gadis ini bahkan belum pernah berciuman sebelumnya.


Ken harus mengakhiri ini semua atau dia akan terjebak dalam cinta segitiga yang sama sekali tak Ia inginkan.


"Sekali lagi aku minta maaf, aku baru bertengkar dengan kekasihku dan aku tak sadar melakukan itu padamu." kata Ken yang langsung membuat raut wajah Rani berubah.


"Bertengkar? Kekasihmu?"


Ken mengangguk, "Aku harus segera pergi, takut jika kekasihku mencariku." ucap Ken melepaskan tangan Rani yang sedari tadi memegangnya.


Ken bisa melihat raut wajah Rani tampak sedih, "Tampar aku... Tampar aku karena sudah berani melecehkanmu." pinta Ken namun Rani malah tersenyum.


"Tidak, pergilah sebelum kekasihmu tahu kita disini." ucap Rani yang langsung diangguki oleh Ken.


Setelah Ken keluar, tubuh Rani ambruk dan Ia menangis, "Dasar brengsek!" umpat Rani, "Kenapa dia harus mengambil ciuman pertamaku jika dia sudah punya kekasih!"


Sementara diluar, Ken tampak merenung. Ia mengingat wajah sedih Rani yang membuatnya semakin bersalah.


Ken menepuk nepuk wajahnya, "Sadar Ken... Dia hanya gadis aneh. Jangan coba mendekatinya. Kau harus bersama Nona Sara untuk mempertanggung jawabkan kesalahanmu." ucap Ken lalu pergi dari sana.


Ken berjalan menuju basement dan melihat Sara akan memasuki mobil. Ken berlari menghampiri Sara, tidak membiarkan Sara mengemudi mobil.


"Apa yang kau lakukan?" ketus Sara.


"Aku akan mengantar Nona."


"Tidak perlu, aku tidak sudi!"


Ken menghela nafas panjang, "Kenapa Nona masih membenciku? Aku sudah minta maaf."


Mata Sara melotot ke arah Ken, "Kau pikir maaf saja cukup?"

__ADS_1


Ken tersenyum, "Lalu apa aku harus tanggung jawab? Menikahi Nona?"


Plak... Ken malah mendapatkan tamparan dari Sara.


"Kau lancang sekali, memang siapa yang mau menikah denganmu!"


Ken mengempalkan tangannya, Ia merasa direndahkan oleh Sara namun Ia cepat sadar jika memang serendah itu, pantas saja Sara membencinya.


"Saya akan mengantar Nona." ucap Ken memaksa Sara masuk ke bangku penumpang.


Dengan bibir manyun, Sara terpaksa duduk dibangku penumpang.


"Nona mau kemana?"


"Pulang."


"Baiklah, kita akan pulang sekarang." kata Ken lalu mulai melajukan mobilnya.


Sementara itu Faris dan Vanes masih betah berada dikamar hotel mereka.


Mereka baru menemukan permainan baru yang menyenangkan yang membuat mereka ingin melakukan lagi lagi dan lagi.


"Sehari ini aku sudah keramas 3kali." keluh Vanes.


Faris tersenyum nakal, "Kenapa harus buru buru keramas padahal aku masih ingin melakukannya lagi." ucap Faris lalu memeluk Vanes dari belakang.


"Aku ingin jalan jalan malam." pinta Vanes, "Besok kita sudah kembali ke kampung untuk acara kita disana jadi sebelum kembali ke kampung aku ingin jalan jalan disini."


"Baiklah sayang, bersiaplah dan kita akan pergi jalan jalan."


Senyum Vanes mengembang karena apapun yang Ia inginkan selalu dipenuhi oleh Faris. sangat berbeda jauh saat menikah dengan Rizal dulu.


Faris dan Vanes keluar dari kamar hotel mereka usai sholat magrib.


Keluarga Vanes sudah banyak yang pulang kerumah begitu juga keluarga Faris. Bahkan Asih sudah pulang ke kampung halaman untuk menyiapkan acara ngunduh mantu yang akan dilaksanakan besok pagi.


"Nona dan Tuan muda mau pulang kerumah?" tanya sopir Vanes yang standby disana.


"Tidak, aku masih ingin jalan jalan. Sebaiknya kau pulang saja naik taksi, mobilnya akan ku pakai bersama suamiku." ucap Vanes yang akhirmya diangguki oleh sopirnya.


Kini Vanes dan Faris sudah berada didalam mobil. Faris langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan rendah agar mereka bisa menikmati jalan jalan mereka.


"Rasanya aku masih tak menyangka kita bisa menikah mas." ucap Vanes tiba tiba.


Faris tersenyum, Ia gunakan tangan satunya untuk mengenggam tangan Vanes, "Aku harap kamu bahagia bersamaku."

__ADS_1


"Tentu saja aku bahagia, sangat." balas Vanes yang membuat senyum Faris semakin lebar.


"Setelah ini kita akan tinggal dirumahku bersama Ibuku, aku hanyalah seorang dosen yang gajinya cukup untuk makan saja, apa kamu tidak masalah sayang?"


"Tidak apa apa mas, mau bagaimanapun kehidupannya asal bersamamu, aku akan ikut."


Senyum Faris semakin lebar, bahkan Ia mengenggam tangan Vanes semakin erat.


Faris menghentikan laju mobilnya lalu mengecup kening Vanes, "Aku mencintaimu, terima kasih sudah memilih pria sepertiku."


Vanes tersenyum, "Aku juga mencintaimu mas, sangat. Jangan pernah tinggalkan aku atau mengkhianatiku." pinta Vanes dengan mata berkaca membuat Faris tak tega dan akhirnya memeluk Vanes.


Setelah drama romantis yang membuat keduanya tak berhenti tersenyum, Faris kembali melajukan mobilnya. Kali ini Ia menghentikan mobilnya ditaman kota yang cukup ramai saat malam hari.


Keduanya turun dan mulai berjalan kaki ke area taman.


Setelah merasakan lelah berjalan kaki, keduanya memilih untuk duduk tak lupa membeli 2 cup es coklat untuk menemani mereka.


"Lihatlah anak kecil itu, mereka sangat lucu." ucap Vanes menunjuk ke arah anak anak kecil yang berlarian kesana kemari bersama orangtua mereka.


Faris merangkul Vanes, "Kita akan segera memiliki mereka."


"Kau tidak ingin menundanya mas?"


"Tidak, untuk apa ditunda. Apa kau belum siap?" tanya Faris.


Vanes menggelengkan kepalanya, "Aku sudah sangat siap Mas. Aku malah tidak sabar ingin segera hamil."


Faris tersenyum nakal lalu membisikan sesuatu ditelinga Vanes, "Jika begitu kita juga harus semangat lembur untuk membuat baby yang kita harapkan itu."


Vanes tertawa geli lalu memukul lengan Faris, "Dasar mesum."


"Aku mesum dengan istriku sendiri, tidak akan jadi masalah."


"Ya, jangan coba coba mesum dengan wanita lain!"


Faris tersenyum, Ia cukup mengerti apa yang membuat Vanes takut. Vanes memiliki masa lalu yang buruk saat bersama Rizal dan mungkin saat ini Vanes merasa trauma, takut Faris mengkhianatinya sama seperti saat bersama Rizal.


"Aku tidak akan melakukan sesuatu yang bisa merusak hubungan kita." ucap Faris sambil mengelus rambut Vanes, "Aku merasa beruntung memilikimu sampai tidak terpikirkan untuk melihat wanita lain."


Tanpa disadari air mata Vanes menetes, Vanes memeluk Faris. Erat, sangat erat.


Vanes benar benar takut jika Ia mengalami pengkhianatan lagi.


Bersambung...

__ADS_1


Jan lupa like vote dan komen yaaa


__ADS_2