TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
214


__ADS_3

Sara menatap ke arah Arga, mendengar pertanyaan Arga, Ia flashback, kembali mengingat saat pernikahannya dulu dengan Ken.


Waktu itu Ia dan Ken menikah secara mendadak karena Vanes dan Faris mengetahui mereka tidur seranjang hingga membuat Mereka harus menikah tanpa rasa suka sama sekali.


Ya waktu itu Sara belum mencintai Ken namun seiring berjalannya waktu, Sara akhirnya bisa membuka hatinya untuk Ken dan siapa sangka Ken malah menghancurkan hatinya hingga Sara memiliki trauma, takut jatuh cinta lagi dan setelah pertemuannya dengan Arga semua terasa berbeda untuk Sara.


Dibalik sikap konyol Arga yang sering membuatnya kesal bisa menumbuhkan benih cinta dihati Sara hingga Sara yakin dan mantap menerima pinangan Arga.


"Jika tidak ada rasa cinta bagaimana kita bisa setia?" tanya Arga yang lagi lagi hanya membuat Sara terdiam.


"Selama ini tidak ada yang bisa membuatku jatuh cinta seperti aku jatuh cinta pada cinta pertamaku tapi setelah bertemu denganmu, anehnya aku langsung jatuh cinta dan ingin menikahimu." ungkap Arga.


"Siapa cinta pertamamu?" tanya Sara penasaran.


"Tidak perlu khawatir, dia tidak tinggal disini." balas Arga.


"Jika dia disini apa kau akan jatuh cinta lagi padanya?"


Arga menggelengkan kepalanya, "Aku tidak yakin karena dikepalaku saat ini sudah dipenuhi dengan namamu."


Sara tertawa, "Dasar tukang gombal!"


Arga tersenyum, "Aku serius, aku tidak bercanda. jika kau tidak percaya belah saja kepalaku." ucap Arga.


"Baiklah, lepaskan aku biarkan aku mengambil pisau dan aku akan segera membelah kepalamu." ucap Sara yang membuat Arga tertawa dan semakin erat memeluk Sara.


"Kau kejam sekali."


"Aku hanya menuruti ucapanmu, kenapa malah mengataiku kejam." protes Sara.


Arga tertawa dan semakin mempererat pelukannya.


Keduanya segera terlelap setelah puas bercanda.


Paginya...


Arga membuka matanya, pagi ini terasa berbeda dengan pagi biasanya. Jika biasanya Arga bangun dan hanya melihat asisten rumah tangganya namun kali ini yang dilihat oleh Arga seorang bidadari cantik yang memakai jubah mandi dengan rambut basah serta bau wangi dari sabun yang dipakai oleh Sara.


Arga menyunggingkan senyum lalu menghampiri Sara yang tengah duduk didepan meja rias dan sedang memakai skincarenya.


Arga memeluk Sara dari belakang lalu menghirup aroma wangi tubuh Sara.


"Apa yang kau lakukan? Pergilah mandi." ucap Sara melepaskan pelukan Arga karena menganggu dirinya yang sedang memakai skincare.


"Bau nya harum, rasanya aku ingin mencium aroma tubuhmu dan..."


"Dan apa?" Tanya Sara perasaannya sudah mulai tak enak.


"Dan..." Arga mengendong tubuh Sara dan membawanya ke ranjang.


"Apa kau gila? aku sudah mandi!" omel Sara.

__ADS_1


"1 ronde saja sayang," ucap Arga tak menunggu persetujuan dari Sara dan langsung melucuti jubah mandi yang dipakai oleh Sara.


Sara ingin kesal namun Ia juga tak bisa menolak karena melayani Arga sudah menjadi kewajibannya mulai sekarang. Sara akhirnya pasrah, ikut menikmati permainan Arga yang memang rasanya cukup memabukan.


Tadinya Arga hanya ingin bermain 1 ronde namun karena masih belum puas, Arga meminta lagi pada Sara hingga permainan berakhir setelah 2 ronde.


Dan nyatanya tidak cukup sampai disitu, saat keduanya mandi, Arga kembali meminta pada Sara hingga mereka kembali melakukan lagi sambil mandi.


"Gila, kau benar benar gila!" omel Sara.


Arga tersenyum tipis, "Apa kau lelah sayang?"


"Tentu saja, sepagi ini kau sudah minta 3x." omel Sara lagi.


"Kalau lelah tidak usah pergi ke kantor lagipula kemarin kita ini pengantin baru harusnya kita mendapatkan cuti." ucap Arga.


"Aku tidak bisa libur, ada banyak pekerjaan yang harus ku selesaikan hari ini sebelum besok libur dan kita harus pergi ke kampung halaman Bik Sri."


Arga manggut manggut, "Ah iya, hampir saja aku melupakan pernikahan Papa mertua."


"Bukankah kau juga sibuk?"


Arga mengangguk, "Ya ada banyak pekerjaan yang harus ku selesaikan tapi tidak masalah jika harus cuti lagi, Ayah pasti mengerti." kata Arga dengan santainya.


Plak... Plak... Sara memukul lengan Arga, "Bagaimana bisa kau berkata seperti itu, dimana tanggung jawabmu sebagai pengganti pemilik perusahaan." omel Sara.


Arga tersenyum malu, "Baiklah baiklah, akan ku selesaikan hari ini jadi berhentilah mengomel." ucap Arga menoel pipi Sara gemas.


Keduanya segera turun ke lantai bawah dimana Herman sudah menunggu mereka untuk sarapan bersama.


"Kayak nggak pernah muda aja Yah."


Herman tersenyum, "Tapi Ayah dukung kalian kalau mau lembur terus biar Ayah cepet punya cucu."


"Kami nggak buru buru Yah." ucap Arga.


Herman menghela nafas panjang, "Ya sudah terserah kalian saja maunya gimana."


Selesai sarapan, Arga dan Sara keluar rumah dimana sudah ada Zil yang menunggu keduanya disamping mobil.


"Hari ini kami tidak butuh dirimu Zil." ucap Arga meminta kunci mobil pada Zil.


"Kenapa Tuan? saya tidak akan menganggu dan mengintip." ucap Zil seketika membuat Sara tertawa.


"Kami tidak akan melakukannya didalam mobil Zil." canda Sara.


Arga mulai tersenyum tengil, "Sepertinya dimobil ide yang bagus juga, kita bisa mencobanya." celetuk Arga.


Sara melotot menatap Arga tajam, "Dasar gila, aku tidak mau!"


Arga tertawa lalu mengajak Sara masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


"Ada yang ingin ku tanyakan."


"Apa?" tanya Arga.


"Kenapa kau tidak menuruti ucapan Ayah dan memilih menunda momongan?"


Arga tersenyum, "Karena aku tahu kau belum siap." ucap Arga yang langsung membuat Sara terdiam sejenak.


"Sebelum bercerai aku tahu jika kau pernah mengalami keguguran dan itu pasti membuatmu trauma." kata Arga.


Sara menatap Arga, "Dari mana kau tahu?'"


"Aku tidak akan memaksamu jika kau ingin menundanya.'' kata Arga lagi.


"Katakan siapa yang sudah memberitahumu?"


"Tidak ada."


"Mas Faris? Mbak Vanes atau..."


"Aku mencari tahu sendiri."


Sara berdecak seolah tak percaya dengan ucapan Arga.


"Mungkin mulai nanti malam aku akan menggunakan pengaman." kata Arga.


Sara menggelengkan kepalanya, "Tidak perlu, jika aku sampai hamil juga tidak apa apa."


"Apa kau yakin?" tanya Arga memastikan.


"Ya, aku baik baik saja."


Arga tersenyum lalu mengelus kepala Sara, "Terima kasih."


Tak terasa mobil sudah sampai dikantor Sara. Arga ikut turun bersama Sara yang membuat Sara langsung protes.


"Kenapa kau ikut turun?"


"Aku hanya ingin mengantarmu sampai dalam." balas Arga lalu mengenggam tangan Sara.


Sara menghela nafas panjang, pasrah saja dengan sikap Arga yang kadang kadang terasa aneh untuknya.


Sepanjang jalan menuju ruangan Arga tak henti hentinya menatap ke sekitar hingga Ia kini sudah sampai diruangan Sara.


"Aman."


"Apanya yang aman?" tanya Sara.


"Aman, tidak ada banyak pria tampan dikantor ini jadi aku tak akan khawatir kau menyukai pria lain."


Sara hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar ucapan posesif suaminya itu.

__ADS_1


Bersambung...


Jan lupa like vote dan komen yaa


__ADS_2