TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
28


__ADS_3

Melewati perjalanan udara selama 2 jam, Rizal dan Mira akhirnya sampai dikota tujuan mereka.,Rizal dan Mira langsung menuju ke hotel yang sudah disiapkan oleh kliennya untuk tempat istirahat keduanya.


Mereka mendapatkan 1 kamar mewah dihotel itu dimana ada 2 ruang kamar, ruang keluarga dan dapur.


"Kita hanya akan menggunakan 1 kamar seperti biasa kan?" tanya Mira memastikan.


"Tentu saja, kenapa harus bertanya." balas Rizal membuat Mira lega karena Rizal kembali hangat seperti Rizalnya yang dulu, Pria itu tak lagi acuh padanya.


"Jam berapa kita pergi ke tempat pertemuan?" tanya Rizal tampak berbaring diranjang diikuti oleh Mira yang langsung memeluk pria itu.


"Masih nanti sore, ada banyak waktu kita untuk hari ini."


Rizal tersenyum nakal, "Benarkah?" Rizal mengelus lembut pipi Mira.


"Sudah lama kau tidak menyentuhku, aku pikir kau sudah bosan dan mendapatkan gadis lain."


Rizal mencium bibir Mira sejenak lalu melepaskannya, "Bagaimana bisa kau berpikiran seperti itu hmm." Rizal kembali mencium bibir Mira.


Saat ini Rizal hanya ingin memuaskan hasratnya, menikmati tubuh Mira sebelum Ia benar benar meninggalkan Mira. Rencananya setelah pulang dari perjalanan bisnis, Rizal ingin mengakhiri hubungannya dengan Mira.


Dan siang ini, dingin Ac dihotel itu tak terasa karena Rizal bermain sangat keras hingga keduanya berkeringat.


Sementara itu dikampung halaman Faris, Asih masih berdiri memandangi Vanes yang kini tertunduk malu.


Asih mengingat jelas siapa gadis yang ada didepannya itu meskipun hanya sekali bertemu sewaktu di pesta pernikahan keponakannya.


"Bukankah kau ini menantunya Mbak Tantri?" tanya Asih yang langsung diangguki oleh Vanes.


"Gini lho Bu, Mas Rizal lagi diluar kota trus Mbak Vanes sendirian dirumah jadi Faris ajak aja kesini soalnya Mbak Vanes bilang mau ke pantai dekat sini." jelas Faris sedikit gugup.


Asih menatap Faris sejenak sebelum akhirnya Ia tersenyum, "Ohh gitu, ya sudah ayo masuk nduk tapi rumahnya jelek lho nggak kayak rumah kamu dikota." kata Asih mendadak ramah.


"Sama saja Bu, saya malah jadi sungkan kalau Ibu bilang gitu." kata Vanes.


Asih merangkul Vanes dan mengajak gadis itu masuk kerumahnya. Ada perasaan lega dihati Faris melihat ibunya bersikap biasa namun masih satu lagi rintangannya, Bapak Faris yang masih di ladang, Faris tak yakin jika Bapaknya bisa bersikap ramah pada Vanes seperti ibunya mengingat betapa kerasnya sifat Slamet jika mengenai hal yang tidak diperbolehkan seperti ini.


Faris masuk kerumah, melihat Vanes duduk diruang tamu sederhana. Vanes tampak asyik menatap ke arah bingkai foto yang tertempel didinding ruang tamu.


Ada banyak foto Faris disana, foto dari Faris masih bayi hingga foto wisuda.


"Mbak haus? Mau minum apa?" tawar Faris duduk disamping Vanes.


"Kayaknya lagi dibuatin- eh itu udah dibuatin." kata Vanes menatap ke arah Asih yang membawa nampan berisi 2 gelas air teh hangat.


"Karena habis perjalanan jauh jadi dibikinin teh hangat biar perutnya enak." kata Asih menyodorkan secangkir teh hangat untuk Vanes dan Faris.

__ADS_1


"Bapak belum pulang Bu?" tanya Faris langsung menyeruput teh hangat buatan ibunya yang sangat Ia rindukan itu.


"Belum paling sebentar lagi."


"Nanti kalau Bapak pu-"


"Ibu mau kedapur buat siapin makan siang dulu ya, Neng Vanes istirahat dikamar Faris dulu saja kalau capek." kata Asih langsung pergi ke dapur.


"Ayo mbak istirahat ke kamarku kalau capek." ajak Faris yang langsung diangguki Vanes.


Faris membiarkan Vanes berbaring diranjang sederhana miliknya lalu Faris keluar untuk menemui Ibunya didapur.


Asih terlihat sedang mengiris bumbu untuk menumis sayir kangkung yang baru dipetik dari ladang.


Faris tersenyum dan langsung memeluk ibunya dari belakang, mengejutkan Asih.


"Bagaimana bisa kamu sangat dekat dengan iparmu sendiri Ris, apa kata Budhe mu kalau sampai tahu." kata Asih dengan suara dingin.


Faris menghela nafas panjang lalu melepaskan pelukannya. Faris mengambil kursi lalu duduk disamping ibunya.


"Ibu pasti kecewa sama Faris ya?"


Asih mengangguk lalu menatap putra semata wayangnya, "Tentu saja Ibu kecewa, Ibu hanya tidak mau kita mempunyai masalah dengan Budhe Tantri dan Rizal."


"Tapi Faris lebih kecewa kalau tidak menyelamatkan Mbak Vanes dari Mas Rizal." ungkap Faris tak membuat Asih terkejut. Asih malah menghela nafas panjang kembali menatap putranya. Kali ini Asih mengelus kepala putranya itu.


Kini malah Faris yang terkejut, "Ibu tahu sesuatu tentang Mas Rizal?"


Asih tak menjawab, hanya menghela nafas panjang.


"Apa ibu tahu kalau-"


"Wah lihatlah siapa yang pulang." ucapan Faris terhenti saat mendengar suara Slamet.


Faris beranjak dari duduknya dan langsung mencium punggung tangan Slamet.


"Bapak sudah pulang, Ibu malah belum masak." keluh Asih.


"Karena Faris pulang gimana kalau kita makan siang diluar aja?" tawar Faris.


"Jangan Faris boros, lebih baik uangnya kamu tabung saja."


"Benar kata Ibumu, nunggu Ibu selesai masak nggak apa apa." tambah Slamet.


Faris menghela nafas panjang, tak lagi memaksa karena percuma, orangtuanya sama sekali tidak bisa dirayu.

__ADS_1


Slamet mengambil handuk dan segera pergi mandi. Faris kembali menghampiri ibunya, "Bapak gimana Bu?" tanya Faris.


"Nanti biar Ibu yang ngomong."


"Makasih banyak Bu."


Asih mengangguk, "Cukup sekali ini saja Ris, jangan lagi melakukan hal seperti ini." pinta Asih.


Faris hanya diam tak menjawab ucapan Ibunya.


"Ibu mohon, jangan membuat retak keluarga besar kita Faris." pinta Asih lagi.


Faris akhirnya mengangguk, "Faris ngerti Bu."


Melihat Slamet keluar dari kamar mandi, Faris memilih pergi ke depan, membiarkan orangtuanya berbicara berdua.


Faris duduk diruang tamu, lagi lagi Ia merasa kalut melihat ibunya memberi lampu merah untuk Faris.


"Tentu saja semua orang akan bersikap seperti ini lagipula siapa yang rela anaknya mendekati iparnya sendiri." batin Faris lalu menghela nafas panjang.


Pintu kamar Faris terbuka, tampak Vanes keluar dari kamar Faris.


"Aku mau bantuin ibu masak saja." kata Vanes.


"Kenapa mbak? Nggak enak ya gara gara ranjangnya nggak empuk?"


Vanes menggelengkan kepalanya, "Nggak kok, aku ngerasa sungkan kalau nggak bantuin apa apa."


"Udah mbak masuk kamar lagi aja." pinta Faris namun Vanes menggelengkan kepalanya dan malah berjalan menuju dapur.


Faris khawatir karena takut Ibunya belum selesai bicara dengan Bapaknya, Ia mengikuti langkah kaki Vanes.


Vanes menundukan kepalanya saat melihat Slamet didapur bersama Asih.


"Ohh jadi ini neng Vanes." sapa Slamet mengulurkan tangannya yang langsung dicium oleh Vanes.


Faris tampak terkejut karena Slamet bersikap ramah dengan Vanes padahal tadinya Faris pikir Bapaknya itu akan bersikap dingin atau mungkin malah memarahi dirinya didepan Vanes.


"Saya mau bantuin Ibu masak." ucap Vanes.


"Ya sudah kalau begitu biar Bapak ke depan sama Faris."


Slamet merangkul Faris lalu mengajak putranya itu ke depan.


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa like vote dan komen yaaa


__ADS_2