
Sara menatap lama tato yang ada dipinggang Ken. Selama ini Sara tak menyadari jika ada tatto disana karena memang ukuran tattonya sangat kecil hingga Sara tak menyadarinya.
Sara berbalik, melepaskan diri dari Ken membuat pria itu keheranan. Ken malah memeluk Sara dari belakang membuat Sara merasa sesak hingga mendorong Ken agar melepaskan tubuhnya.
"Ada apa denganmu?" heran Ken.
"Aku mengantuk, ingin tidur." ucap Sara lalu menarik selimutnya dan memejamkan matanya.
Ken merasa aneh dengan sikap Sara yang tiba tiba berubah, Ia membalikan tubuh Sara membuat Gadis itu membuka matanya.
"Katakan kenapa?"
Sara berdecak, Ia memang tidak bisa menyembunyikan sesuatu, "Siapa v?"
"v?"
"Tatto kecil yang ada di pinggangmu."
Ken tersenyum, "Ohhh... Kau merasa kesal karena itu?"
"Tidak! Aku hanya bertanya!" ketus Sara.
"Namaku Kendra Virgiawan, Virgiawan adalah marga keluargaku jadi aku membuat Tatto disana, apa terlihat aneh?"
Seketika bibir Sara menyunggingkan senyum lalu kembali berbalik, Ia merasa malu karena sudah salah paham. Tadinya Sara pikir V adalah inisial nama kekasih Ken namun ternyata Sara salah.
"Katakan apa yang membuatmu kesal?" tanya Ken kembali memeluk Sara dan kali ini pelukan Ken tidak terasa sumpek hingga Sara tidak melepaskannnya.
"Aku tidak kesal, aku hanya ingin tidur. Aku sudah mengantuk."
Ken tersenyum seolah tak percaya, "Raut wajahmu saja berubah, jangan mencoba membohongiku sayang."
Sara berdecak, "Aku pikir V itu inisial nama kekasihmu."
"Kau ingin aku membuat Tatto namamu di tubuhku?" tanya Ken membuat Sara melonggo namun segera menggelengkan kepalanya.
"Tidak perlu, itu akan menyakitimu."
"Katakan saja dimana aku harus membuatnya? Apa dilengan atau didada? Atau dipunggung?"
Sara malah tertawa geli, "Tidak tidak, rasanya pasti akan menyakitkan. Sudahlah tidur saja." ajak Sara yang akhirnya diangguki oleh Ken.
"Baiklah tapi jangan memunggungiku, aku tidak suka."
__ADS_1
Sara mengangguk lalu berbaring menghadap Ken.
Ken mengecup kening Sara, "Good night my wife." ucap Ken yang membuat jantung Sara berdetak kencang hingga serasa melayang ke awan.
Setelah mata Sara terpejam, Ken menatap wajah ayu Sara yang jika dilihat lebih dekat, Sara mirip dengan Vanes. Ya karena mereka bersaudara sudah pasti akan ada kemiripan diantara mereka.
Ken menghela nafas panjang, sampai saat ini Ia masih belum merasakan getaran cinta untuk Sara, hanya merasa nyaman saja.
Dan Ken terpaksa membohongi Sara perihal tatto berinisial V itu. Bukan Virgiawan namun Itu inisial nama Vanes.
Ia sengaja membuat Tatto itu untuk membuktikan cintanya pada Vanes namun sayang Vanes sama sekali tidak melihat ke arahnya.
Jika Ken jujur mungkin Ken tidak hanya menghancurkan pernikahannya namun juga hubungan saudara antara Sara dan Vanes mengingat sifat Sara yang egois dan arogan.
"Ini sudah benar, apa yang ku lakukan ini sudah benar."
Hari berganti minggu... Minggu pun berganti bulan..
Tak terasa sudah 3 bulan lamanya Faris bekerja dikantor Wira. Faris mulai terbiasa dengan segala sesuatu yang ada dikantor Wira. Ia bahkan semakin sibuk dan hampir setiap hari pulang malam.
Beruntung Vanes istri yang sangat pengertian dan tidak banyak menuntut, mengingat dulu Wira juga seperti itu, setiap hari pulang malam.
"Aku lelah." ucap Faris saat melihat Vanes memakai lingerie seksi yang memperlihatkan lekuk tubuhnya yang seksi.
Faris ikut tersenyum lalu membawa Vanes ke dalam pelukannya, "Istriku sangat baik hati dan pengertian."
Tak berapa lama keduanya terlelap bersamaan karena memang sudah sama sama mengantuk. Faris terbangun pukul 1 dini hari. seperti biasa Ia merasa tenggorokannya kering, ingin minum. Faris beranjak dari ranjang dan tersenyum saat melihat ada segelas air putih dimeja kamar. setiap hari Vanes menyiapkan air minum untuknya karena sudah tahu kebiasaan Faris selalu bangun tengah malam untuk minum.
Setelah meneguk habis segelas air putih, Faris merasa dirinya kembali segar. Ia berbaring ingin menarik selimutnya namun matanya tergoda dengan pemandangan yang sangat indah dimana Vanes masih mengenakan lingerie seksinya.
"Maafkan aku sayang." ucap Faris merasa tak tahan hingga Ia menganggu lelap Vanes.
Vanes membuka matanya saat merasakan ada yang menyentuh dirinya. Ia terkejut saat melihat Faris sudah standby diatas bersiap untuk menyatukan mereka.
"Mas..."
Faris tersenyum lebar, "Maafkan aku sayang, aku tidak tahan."
Vanes menggelengkan kepalanya lalu tersenyum, Ia menikmati permaianan yang diberikan oleh Faris.
"Kembalilah tidur." ucap Faris setelah selesai bermain 1 ronde.
Vanes berdecak, "Mana bisa tidur mas kalau seperti ini."
__ADS_1
Faris tersenyum merasa tidak enak, "Maafkan aku karena tidak bisa menahan diri sayang."
"Tidak apa apa Mas, sudah kewajiban aku sebagai istri buat melayani mas."
Faris tersenyum lalu mendadak Ia melihat raut sedih diwajah istrinya, "Apa yang kau pikirkan sayang?"
"Umm apa besok pagi Mas ada waktu sebentar?"
"Aku tidak yakin karena semalam Wulan mengatakan jika besok pagi ada meeting dengan klien."
Vanes menghela nafas panjang, Ia merasa sedikit kecewa karena beberapa bulan terakhir Faris sangat sibuk padahal rencananya Ia ingin mengajak Faris periksa ke dokter perihal dirinya tidak kunjung hamil.
"Apa ada hal yang mendesak sayang?" tanya Faris melihat raut wajah istrinya berubah.
"Tidak ada, aku hanya bertanya saja."
Faris tersenyum, "Sebaiknya kita segera tidur karena besok kita harus bangun pagi."
Vanes mengangguk, Ia memaksa untuk memejamkan matanya padahal masih belum mengantuk hingga tak terasa Ia pun terlelap.
Hal yang berbeda dirasakan oleh Ken dan Sara, hampir 4 bulan berjalan hubungan mereka semakin harmonis, apalagi mereka juga sering bertemu karena Ken juga masuk ke dalam perusahaan Wira namun bekerja dibagian lapangan, meski begitu Ken selalu menyempatkan waktu untuk menemui Sara walaupun hanya mengajak Sara makan siang namun membuat hubungan keduanya semakin erat.
"Sepertinya kita butuh satu orang lagi." kata Sara pada Faris saat mereka sedang sarapan pagi bersama.
"Satu orang untuk apa?"
"Menjadi asisten Ken, aku rasa beban pekerjaannya sedikit berat." ucap Sara yang langsung diangguki oleh Faris.
"Tidak perlu, aku masih mampu bekerja sendiri." tolak Ken.
"Tidak sayang, aku rasa kau berhak mendapatkan asisten." Sara tampak ngeyel hingga ucapan mereka terhenti karena dering panggilan dari ponsel Faris.
"Halo, ada apa?" tanya Faris yang entah Ia mendapatkan telepon dari siapa.
"Kau butuh pekerjaan? datanglah ke kota, aku akan memberimu pekerjaan." ucap Faris lalu mengakhiri panggilannya.
"Aku sudah mendapatkan orang yang akan menjadi asisten Ken."
"Siapa?"
Bersambung...
Jangan lupa like vote dan komen...
__ADS_1