TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
135


__ADS_3

Ken panik saat Sara semakin kesakitan hingga akhirnya Sara menangis. Ken membawa tubuh Sara ke ranjang, mengelus perut Sara karena Ia tak tahu apa yang harus Ia lakukan untuk membuat Sara tidak kesakitan lagi.


"Aku akan memanggil dokter." ucap Ken mengambil ponselnya untuk menghubungi Dokter pribadi keluarga Wira.


Dan tak menunggu lama, Dokter pribadi keluarga Wira pun segera datang.


"Apa yang terjadi?" tanya Vanes saat melihat ada Dokter masuk kerumah dan langsung dibawa oleh Ken ke atas kamarnya.


"Sara merasa kesakitan jadi aku memanggil dokter."


Rani yang melihat raut cemas Vanes pun ikut naik ke atas kamar Sara, "Ada apa mbak?" tanya Rani pada Vanes.


"Sara sakit, perutnya sakit."


Raut wajah Rani berubah, Ikut cemas dengan keadaan Sara.


"Janinnya lemah, harus bedrest beberapa hari dirumah." ucap Dokter usai memeriksa Sara, "Nanti akan ada perawat khusus yang datang untuk memberikan infus pada Sara."


"Baik Dok terima kasih banyak." ucap Vanes yang langsung diangguki oleh Dokter.


Setelah Dokter pergi, Vanes dan Rani masuk ke kamar dimana Sara terbaring lemah disana, "Pergilah, aku baik baik saja dirumah." kata Sara dengan suara lemas.


Ken tampak diam, Ia terlihat bingung antara harus pergi atau tidak. Rasanya tak mungkin jika harus meninggalkan istrinya yang sedang sakit namun pekerjaannya saat ini sangat penting untuk masa depan perusahaan.


"Jika boleh bicara, aku ada sedikit saran." kata Rani tiba tiba ikut bicara.


"Saran apa?" Vanes menatap Rani.


"Mas Ken tak mungkin meninggalkan Mbak Sara yanh sedang sakit jadi aku pikir biarkan aku dan Dylan yang pergi. kami akan berusaha maksimal untuk perusahaan." jelas Rani.


"Tidak bisa!" Ken terdengar mengertak.


"Jika kau tidak percaya pada mereka, pergilah mas. Aku akan baik baik saja." suara lemah Sara kembali terdengar.


Rani menatap kesal ke arah Ken, Rani tak habis pikir dengan Ken yang tega meninggalkan istrinta yang sedang sakit hanya demi pekerjaan.


"Aku pikir Rani benar, biarkan Rani dan Dylan yang pergi, kau jagalah istrimu dirumah." suara Faris terdengar di depan pintu.


"Apa kau yakin bisa menghandle pekerjaannya?" tanya Ken pada Rani dengan nada meremehkan.


"Akan ku usahakan yang terbaik,"


"Tenang saja Ken, aku akan terus memantau Rani dari kantor." tambah Faris lagi seolah tak ingin membiarkan Ken pergi.


Ken menghela nafas panjang, "Baiklah, jika memang harus seperti itu. Aku tidak akan pergi."

__ADS_1


Rani dan Faris tersenyum senang.


"Terima kasih mas, maaf karena aku merepotkan." ucap Sara antara senang dan merasa bersalah.


"Apa yang kau bicarakan, aku tidak menganggapmu seperti itu." ucap Ken mengelus dahi Sara lalu mengecup keningnya.


Tak ingin menganggu romantisme antara Sara dan Ken, Faris, Vanes serta Rani pun keluar dari kamar Sara.


"Jika kau kesulitan disana, jangan lupa hubungi aku." ucap Faris sambil menepuk bahu Rani.


"Siap mas, makasih mas sudah mau bantuin aku." kata Rani lalu mengedipkan matanya seolah memberi kode rahasia pada Faris.


"Sebenarnya kalian membicarakan apa?" Vanes merasa ada yang aneh dari Faris dan Rani.


"Nggak ada apa apa mbak, ini rahasia jadi nggak boleh tahu." ucap Rani lalu tertawa dan pergi meninggalkan Faris dan Vanes.


"Apa sih mas?" Vanes mendesak Faris.


"Kan udah dibilang kalau rahasia."


Vanes memukul lengan Faris, "Nyebelin."


Faris tertawa lalu merangkul Vanes, "Ini masalah pribadinya Rani, aku nggak berani cerita, biar nanti Rani sendiri yang cerita sama kamu." jelas Faris tak ingin istrinya salah paham.


"Iya deh iya." Vanes memaksakan senyumnya.


Rani memasukan koper ke dalam mobil yang akan mengantarnya ke kantor.


Sesampainya dikantor, Ia langsung disambut senyuman girang Dylan. Rani bisa menebak jika Dylan tersenyum pasti karena Ia tak jadi pergi dengan Ken dan malah dengan Dylan.


"Kau tahu, aku sangat senang." ungkap Dylan


"Ya aku pun juga senang karena tak harus pergi berdua dengan Pak ken."


"Betul sekali, aku sempat malas untuk bekerja hari ini namun setelah mendapatkan telepon dari Bos Ken dan mengatakan jika aku harus menggantinya, semangatku mendadak datang." ungkap Dylan lalu tertawa.


"Ya jelas sekali terlihat diwajahmu." ucap Vanes ikut merasakan kebahagiaan yang dirasakan oleh Dylan, "Ayo kita berangkat sekarang." ajak Rani yang langsung diangguki oleh Dylan.


Keduanya berangkat menuju bandara dengan mobil yang mengantar Rani.


Sampai dibandara, mereka terbang menuju kota yang akan menjadi tujuan mereka pergi.


"Aku tidak menyangka tempatnya akan seindah ini." ucap Dylan saat keduanya sudah sampai disebuah desa terpencil dekat pantai.


"Ya, rasanya kita bekerja sembari berlibur."

__ADS_1


Dylan mengangguk setuju, "Benar sekali, jika kau mau nanti malam setelah pekerjaan selesai, aku ingin mengajakmu berjalan jalan menikmati suasana pantai dimalam hari." ajak Dylan yang langsung diangguki oleh Rani.


"Ya baiklah, mari kita lakukan apapun yang membuat kita senang." ucap Rani, menatap ke arah Dylan dan Rani bisa merasakan ketulusan Dylan untuknya.


Mereka sudah sampai dipenginapan, tempat yang akan ditinggali saat mereka berada disini.


"Tidak ada hotel, hanya penginapan ini." ucap Dylan setelah mendapatkan 2 kunci kamar mereka.


"Tidak masalah, selama kita bisa istirahat."


Dylan mengangguk setuju, keduanya segera masuk ke kamar masing masing untuk mandi dan istirahat sebelum sore nanti mereka bekerja.


Sementara itu dirumah Wira...


Ken baru saja selesai mandi, Ia keluar dari kamar mandi sudah berpakaian lengkap, melihat istrinya tengah tertidur pulas.


Ken mendekati istrinya, memastikan jika Istrinya benar benar tertidur pulas, setelah dirasa aman, Ken mendekati brangkas yang ada dikamar Sara.


Ia segera menekan tombol sandi dan pintu brangkas terbuka.


Ken tersenyum saat melihat ada tumpukan uang cash didalam sana.


Ia mengambil uang 10 juta lalu memasukan ke dalam amplop cokelat.


Ken kembali menutup brangkas dan memastikan segalanya aman, Ia tak ingin Sara curiga jika nominal uang dibrangkasnya berkurang.


Ken memakai jaket, menyembunyikan amplop berisi uang itu ke dalam jaket lalu Ia keluar dari kamar Sara.


Ken turun ke bawah, tidak ada seorangpun disana membuatnya senang karena keadaan aman.


Ken menghampiri Alea yang tengah membersihkan kolam ikan di taman belakang.


"Kau tidak meminta uangmu?"


Alea terkejut dengan kedatangan Ken, Ia sempat celingukan karena takut ada yang melihat.


Ken mengeluarkan amplop uangnya lalu diberikan pada Alea, "10 juta, aku menunggumu lagi digudang nanti malam." ucap Ken lalu pergi meninggalkan Alea.


Tangan Alea bergetar saat membuka amplop dan berisi uang ratusan. Kali pertama Alea memiliki uang sebanyak ini.


"Apa itu?" Alea kembali terkejut saat mendengar suara Bik Sri.


Buru buru Alea menyembunyikan uangnya dan pergi meninggalkan Bik Sri.


"Kenapa dia terlihat ketakutan." gumam Bik Sri merasa aneh dengan sikap Alea.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2