
Pria brengsek akan tetap menjadi brengsek, mungkin itulah kata yang tepat di ucapkan untuk Ken karena pada kenyataannya Ken memilih pergi menemui Alea dibandingkan kembali keruangan Sara setelah makan malam.
Alea tampak tersenyum melihat Ken namun Ken tak mengubris senyuman Alea. Ken menarik tangan Alea dan segera membawanya masuk ke dalam rumah kosong itu.
Disana Ken memulai permainan panasnya. Sejenak Ken ingin melupakan dukanya hari ini karena tidak munafik, Ken juga harus menyenangkan adik kecilnya dibawah sana yang seharian ini sudah berteriak ingin meminta kehangatan.
Katakan Ken brengsek, dia memang brengsek dan jahat namun Ken juga tidak memiliki pilihan lain karena itu salah satu kebutuhan biologis yang harus Ia penuhi setiap hari.
Ken tersenyum lega saat berhasil mengeluarkan benih percintaan didalam rahim Alea.
Hanya 1 ronde, Ken memungguti celananya dan mengambil 2 lembar uang ratusan.
"Belilah pil penunda kehamilan dan minum setiap pagi dengan teratur." pinta Ken mengulurkan uang pada Alea.
"Baik Tuan, maafkan kesalahan saya kemarin Tuan." kata Alea tak ingin Ken marah lagi dan bersikap ketus padanya.
Ken tak menjawab, Ia memilih keluar dari rumah kosong, meninggalkan Alea yang masih polos belum mengenakan sehelai benangpun.
Ken berjalan menuju ruangan Sara. Saat Ia membuka pintu, Ken terkejut melihat Sara ternyata tidak tidur.
"Apa tadi kau pura pura tidur agar aku bisa makan malam?" tanya Ken duduk disamping ranjang lalu mengelus kepala Sara.
Sara tersenyum lalu mengangguk, "Aku tidak ingin kau menyiksa diri hanya karena mencintaiku."
Ken terdiam, entah mengapa Ia merasa ada yang aneh dengan ucapan Sara.
"Itu bukan suatu siksaan tapi kebanggaan."
"Benarkah?" Sara menatap Ken lama hingga membuat pria itu gugup.
"Kau berkeringat? Mau mandi? Bukankah seharian ini kau belum mandi?"
Ken mengangguk, Ia memang merasa gerah setelah melakukan olahraga malam dengan Alea. Ia harus mandi sekarang.
"Baiklah aku akan mandi sekarang." ucap Ken beranjak dari duduknya lalu memasuki kamar mandi.
Sara menatap pintu kamar mandi dan tanpa Ia sadari air matanya jatuh menetes.
"Dia benar benar jahat."
Selesai mandi, Ken keluar dengan baju ganti yang sudah dibawakan oleh Alea. Ia menatap ke arah Sara dan melihat istrinya sudah kembali terlelap.
Ken tersenyum, menghampiri istrinya lalu mencium kening istrinya setelah itu Ken berbaring disofa yang ada diruangan itu.
Tanpa Ken sadari, lagi lagi Sara meneteskan air matanya.
Beberapa hari berlalu...
Setelah dirawat dirumah sakit selama hampir 1 minggu kini akhirnya Sara diperbolehkan untuk pulang.
__ADS_1
Dan kepulangan Sara disambut bahagia Wira dan Vanes yang saat itu berada dirumah.
"Maafkan aku paman karena gagal memberi Paman cucu." ucap Sara terdengar sedih.
Wira berdecak, "Apa masalahnya? Kau bahkan bisa membuatnya lagi." kata Wira yang langsung membuat semua orang tertawa.
"Papa sengaja mengajakmu bercanda agar kau tidak sedih lagi." ucap Vanes mengelus bahu Sara.
"Ya aku tahu."
"Sudah sekarang istirahatlah ke kamarmu." pinta Wira yang langsung diangguki oleh Sara.
Ken segera menuntun Sara ke kamarnya, membantu Sara berbaring diranjangnya.
"Istirahatlah, aku akan menemanimu disini." ucap Ken ikut berbaring disamping Sara.
"Kau tidak akan meninggalkan ku?"
Ken menggelengkan kepalanya, "Tentu saja tidak, aku akan disini."
Sara tersenyum lalu memejamkan mata. Rasanya baru sesaat Sara memejamkan mata, namun saat Ia membuka mata, sudah tidak ada Ken disampingnya.
Sara tersenyum kecut, "Kau bilang tidak akan meninggalkan ku?"
Sara kembali memejamkan matanya dan lagi lagi air matanya mengalir membasahi pipi.
"Sial, apa maksud dari senyumannya itu. Dasar gadis nakal. Aku akan memberimu pelajaran nanti malam." batin Ken kembali meneguk minumannya hingga habis.
Ken baru ingin kembali ke kamar Sara namun langkahnya terhenti mendengar panggilan dari Wira.
"Bisakah aku meminta tolong padamu Ken?"
"Tentu saja Pa, katakan apa yang harus ku lakukan?" tanya Ken tampak senang karena ini kali pertamanya Wira meminta tolong padanya setelah Wira sadar dari komanya.
"Ambilkan brankas ku yang ada dikantor, ada banyak data penting yang belum diketahui Faris. Aku tidak mungkin ke kantor saat ini." pinta Wira.
"Baiklah Pa."
Ken segera bergegas menuju kantor Wira. Disana Ia bertemu dengan Faris yang langsung menyapanya padahal sebelumnya Faris tidak pernah sekalipun menyapanya.
"Aku diminta Papa mengambil brankas yang ada diruangan ini." ucap Ken.
"Baiklah ambil saja."
Ken segera mengambil brankas kecil yang ada didalam lemari. Ia membawa brankas itu keluar dari lemari.
"Aku baru tahu ada brankas disana." ucap Faris seolah ingin memulai obrolan dengan Ken.
"Ya, Papa memang sengaja tidak menanam di dinding agar bisa dibawa pulang kerumah."
__ADS_1
Faris mengangguk paham, "Apa kau buru buru?"
Ken mengerutkan keningnya menatap Faris, "Tidak, ada apa?"
Faris berdehem sebelum mengatakan pada Ken, "Ada yang ingin ku bicarakan padamu."
"Tentang apa?" Ken duduk di depan Faris menandakan jika Ia mau diajak mengobrol Faris.
"Sebelumnya aku minta maaf."
Ken dibuat terkejut dengan ucapan Faris, Ia benar benar tak mengerti apa yang dibicarakan oleh mantan rivalnya itu.
"Minta maaf untuk apa?"
"Karena aku sudah mencurigaimu dengan Alea."
Deg... Ken terkejut bukan main namun Ia mencoba menyembunyikan keterkejutannya itu agar Faris tidak curiga.
"Malam itu Alea masuk dari pintu dapur dan tak berapa lama kau juga masuk dari pintu yang sama. Aku mencurigaimu ada hubungan dengan Alea hingga memasang cctv di belakang rumah dan kini aku menyesali perbuatanku. Maafkan aku."
Ken tersenyum meski dalam hatinya Ia terkejut dan tak menyangkan namun Ia memaksakan senyumannya agar Faris tidak curiga jika Ia memiliki hubungan dengan Alea.
"Aku benar benar tak tahu harus mengatakan apa tapi semua ini terdengar menjengkelkan."
Faris tersenyum, "Aku tahu jadi aku minta maaf padamu."
"Aku menerima maafmu tapi bongkar cctvnya!"
Faris mengangguk, "Baiklah, akan segera ku lakukan."
Tanpa mengatakan apapun Ken keluar dari ruangan Faris.
Sementara itu dirumah Wira...
Sara berjalan menuruni tangga dengan hati hati lalu memasuki kamar Wira.
"Sara... Ada apa?" Wira tampak terkejut dengan kedatangan Sara yang tak biasa.
Dengan wajah pucatnya Sara berjalan menghampiri Wira dan duduk dipinggir ranjang Wira, "Paman... Aku tahu mungkin Paman akan kecewa tapi aku tidak bisa menahan ini lebih lama." ucap Sara dengan bibir bergetar.
"Katakan apa yang kau inginkan?"
"Aku ingin bercerai dengan Ken."
Bersambung...
katanya kalau perempuan itu lebih peka dengan apapun yang dilakukan sama suaminya, nah mungkin itu yang dirasakan Sara selama ini.
Jangan lupa like vote dan komen yaaa
__ADS_1