
Arga dan Sara baru saja sampai dirumah Wira. keduanya langsung turun dari mobil dan segera masuk ke rumah Wira. Awalnya Sara ingin protes karena Arga ikut masuk ke rumah namun akhirnya Ia membiarkan Arga ikut masuk.
Kepulangan Sara tentu saja langsung disambut senyuman merekah Wira dan Vanes yang sore itu berada dirumah.
"2 hari nggak pulang keliatan cerah amat muka." goda Vanes melihat kedatangan Sara dan Arga.
"Biasa mbak habis liburan keluar negeri." balas Arga tak mau kalah.
"Wihh, belum nikah aja udah liburan keluar negeri." celetuk Vanes.
"Nanti kalau udah nikah langsung ke hawai mbak." kata Arga.
Sara tak menanggapi ucapan Arga dan Vanes. Ia hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar ocehan keduanya.
"Duduk dulu ada yang mau Papa bicarakan sama kalian." ajak Wira sambil menepuk nepuk sofa sampingnya.
"Pas banget Om, kami juga mau ngomong." kata Arga yang langsung duduk disamping Sara.
"Papa mau ngomong apa? Keliatannya penting." Sara ingin Wira memulai lebih dulu.
"Jadi gini, lamaran Papa sudah diterima sama Bik Sri." ucap Wira yang langsung membuat raut wajah Sara senang, "Dan rencananya Papa mau menikah minggu depan." tambah Wira.
Sara dan Arga tampak terkejut hingga mereka saling menatap satu sama lain.
"Tapi om, kami juga mau aduhhhh." ucapan Arga terhenti saat Sara menginjak kaki Arga.
"Sakit!" keluh Arga sambil menatap Sara kesal.
"Diam dulu." bisik Sara.
"Kalian kenapa?" tanya Vanes.
"Apa kalian juga sudah menentukan tanggal pernikahan?" Wira juga ikut bertanya.
"Kami masih bulan depan kok Pa... Ya kami masih bulan depan." ucap Sara yang membuat Arga tak terima dan ingin protes namun malah Sara menginjak kakinya lagi hingga Arga kembali kesakitan.
"Kalian kenapa sebenarnya?" heran Wira melihat Arga kesakitan.
"Sara nginjek kaki ku om." adu Arga dan Sara hanya melotot.
Wira menggelengkan kepalanya melihat tingkah kekanakan keduanya, "Ya sudah Papa cuma mau ngasih kabar bahagia itu dan Papa juga ikut bahagia kalau kalian mau menikah bulan depan." ucap Wira.
Seketika tubuh Arga melemas mendengar ucapan Wira. Seharusnya minggu depan bukan bulan depan, jika bulan depan terlalu lama untuknya.
Selesai berbincang, bersamaan dengan Faris dan Rani yang sudah pulang, mereka akhirnya makan malam bersama.
Dimeja makan malam ini, Arga terlihat lesu dan banyak diam padahal biasanya Ia paling bawel mengoceh banyak hal namun malam ini Ia sangat berbeda.
"Lemes amat Ga?" tanya Faris disela sela makan.
"Kecewa gue kecewaa!" balas Arga jujur.
__ADS_1
Sara menghela nafas panjang, Ia tahu apa yang Arga rasakan namun Ia juga tak bisa berbuat banyak.
"Kecewa kenapa?" heran Faris.
"Perasaan tadi kalian baik baik saja." tambah Vanes.
"Kalian lagi ada masalah?" Wira juga tak mau kalah.
"Nggak ada apa apa, memang dia orangnya suka drama, melebih lebihkan." kata Sara.
Arga menatap ke arah Sara dan Sara bisa melihat raut wajah kecewa Arga.
Selesai makan malam Arga ingin pulang namun Sara mengajakanya berbicara di balkon kamarnya.
"Maaf." ucap Sara merasa bersalah atas mundurnya pernikahan mereka.
"Kenapa harus mundur? Kenapa tidak acara dihari yang sama?" protes Arga.
"Kalau kita bilang mau menikah dihari yang sama, Papa pasti bakal ngalah sama kita sedangkan perjuangan Papa buat dapetin Bik Sri itu susah, aku harap kamu bisa ngerti." jelas Sara.
"Tapi perjuangan aku buat dapetin kamu juga susah, apa kamu nggak paham?" Arga masih protes.
"Ya aku tahu, aku tahu. Tapi sekarang aku disini, aku nggak akan kemana mana. Aku sudah nerima kamu, apa susahnya kita sedikit mengalah toh kita juga akan tetap menikah." kata Sara meminta pengertian Arga.
"Jelas susah harus menunggu 1 bulan lagi. Gila benar benar gila!"
Sara mengenggam tangan Arga, "1 bulan nggak lama, aku harap kamu bisa ngertiin keluarga aku." pinta Sara.
"Apa? Jangan aneh aneh!" Sara kembali ke mode galak.
"Selama 1 bulan ini kita harus lebih dekat dan jangan coba coba untuk berpaling!"
Sara tersenyum lalu mengangguk.
Sara memeluk Arga, kali pertamanya Ia memeluk Arga disaat marah seperti ini.
"Ck, lagi gini aja dipeluk!" omel Arga membuat Sara tertawa.
"Ya gimana dong, aku juga usaha biar kamu nggak ngambek lagi soalnya kalau ngambek pasti kamu nggak jemput aku besok pagi." kata Sara lalu melepaskan pelukan Arga.
Arga tertawa lalu menoel pipi Sara. Semakin dekat dengan Sara semakin membuatnya bahagia, itulah sebabnya Ia kecewa atas mundurnya pernikahan dirinya namun apa boleh buat jika Sara sudah menginginkan itu, Arga mencoba mengerti meskipun dirinya sangat kecewa.
"Nanti aku bilang Papa sama Zil kalau mundur." ucap Arga.
"Makasih sayang." ucap Sara kembali memeluk Arga.
"Jiah... Ada maunya aja disayang sayang, coba nggak gini pasti ngomel deh dipegang dikit aja." ucap Arga membuat Sara tertawa dipelukannya.
Selesai berbincang, Arga ingin pulang dan Sara mengantarnya keluar kamar.
"Heh kalian abis ngapain?" suara Faris terdengar mengejutkan keduanya.
__ADS_1
"Ngobrol." balas Arga sedang tak ingin bercanda dengan Faris mengingat moodnya sedikit tidak baik malam ini.
"Ngobrol dikamar mentang mentang udah mau nikah." kata Faris.
Arga menghela nafas panjang dan melewati Faris begitu saja membuat Faris keheranan melihat sikap Arga yang tak biasa.
"Kenapa laki Lo?"
"Lagi nggak bisa diajak bercanda."
"Oh pantes. Lagi ribut?"
"Kepo!" balas Sara lalu melewati Faris begitu saja.
"Tumben aneh mereka." gumam Faris menggelengkan kepalanya lalu kembali masuk kamar.
Setelah berpamitan dengan Wira, Arga keluar dari rumah masih diikuti Sara.
"Langsung pulang?" tanya Sara memastikan.
"Mau ke club dulu."
Sara menghela nafas panjang, "Jangan main cewek." Sara mengingatkan.
Arga tersenyum, "Nggak akan, cuma mau minum dikit."
Sara mengangguk cukup mengerti dengan apa yang dirasakan oleh Arga.
Mobil jemputan Arga sudah datang, kali ini bukan Zil yang menjemput namun sopir pribadi Herman yang menjemput Arga.
"Hati hati, jangan pulang larut." pesan Sara yang langsung diangguki oleh Arga.
Setelah Arga memasuki mobil dan mobil sudah melaju meninggalkan halaman rumah Wira, Sara segera masuk ke dalam rumah.
"Langsung pulang Tuan?" tanya Sopir Herman.
"Ke club dulu."
"Tapi Tuan Herman sudah menunggu."
Arga berdecak, "Jangan banyak protes bisa nggak?"
Sopir Herman tersentak hingga akhirnya menuruti permintaan Arga pergi ke club malam langganan Arga.
Sesampainya didepan club, Arga tak kunjung turun masih duduk didalam mobil.
"Sudah sampai Tuan." ucap Sopir Herman.
Arga terdiam cukup lama sebelum akhirnya menjawab, "Putar balik, kita pulang!"
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa like vote dan komenn...