
Faris berangkat ke kampus dengan membawa beberapa tusuk bakso bakar yang baru saja Ia buat.
Rencananya, Faris ingin Vanes mencicipi bakso buatannya itu.
"Ku pikir kau tidak ke kampus." ucap Vanes saat naik ke motor Faris.
"Aku terlambat 15 menit, maafkan aku karena ada yang harus ku urus."
Vanes mengerutkan keningnya, "Apa ada masalah?"
Faris menggelengkan kepalanya, "Tidak, ada sesuatu yang harus ku kerjakan."
"Apa itu?"
Faris malah tertawa, "Kau ini bawel sekali."
"Aku hanya penasaran." ucap Vanes lalu tersenyum.
"Nanti kau akan tahu."
Vanes berdecak, "Membuat penasaran saja.''
Sampai dikampus Vanes mengikuti Faris sampai ruangannya, Vanes masih mempertanyakan apa yang dikerjakan oleh Faris hingga membuat Faris gemas dan mencium pipi Vanes.
"Katakan apa itu dan aku tidak akan bertanya lagi." ucap Vanes masih belum menyerah.
"Bukan apa apa, sekarang sebaiknya kau segera ke kelas." pinta Faris.
Vanes menggelengkan kepalanya, "Aku akan tetap disini sampai kau memberitahu apa itu."
Faris menghela nafas panjang, gadisnya itu sangat keras kepala namun itu yang membuat Faris suka.
Faris membuka tas ranselnya, lalu mengeluarkan tepak berisi beberapa tusuk bakso bakar.
"Cobalah ini." pinta Faris membuka tepaknya.
"Kau membuat ini?" tanya Vanes yang langsung diangguki oleh Faris.
"Bagaimana rasanya?"
"Enak, untuk apa membuat ini?" tanya Vanes.
"Aku berencana membuka usaha dan aku pikir ini akan cocok menjadi ide usahaku."
Vanes menatap Faris seolah tak percaya, "Kau tidak mau menjadi dosen lagi?"
Faris tertawa, "Bukan tak mau, itu hanya sampingan ku saja."
"Ada lahan kosong dipinggir jalan milik Ibuku, aku hanya ingin memanfaatkan saja."
Vanes berohh ria, "Bagus sekali, kita bisa jualan disana setiap sore sepulang dari kampus."
"Kita? Kau mau ikut?"
Vanes mengangguk, "Tentu saja, apa tidak boleh?"
Faris menggelengkan kepalanya, "Bukan begitu hanya saja, apa kau tidak malu?''
__ADS_1
Vanes tersenyum, "Tidak, untuk apa aku harus malu."
Faris akhirnya ikut tersenyum, "Baiklah, usaha ini pasti akan laris karena penjualnya sangat cantik.''
Pipi Vanes langsung saja merona mendengar ucapan Faris.
Beberapa hari berlalu, Faris benar benar membuka usaha berjualan bakso bakar dilahan kosong milik Ibunya.
Hari pertama masih sepi hanya beberapa pembeli namun Faris tak menyerah, Ia mencoba lagi hari berikutnya namun masih tetap sama, belum ada peningkatan hingga hari ke tujuh, sudah mulai ada peningkatan penjualan.
"Setelah 7 hari, kita baru bisa menikmati keuntungan." ucap Faris.
Vanes tersenyum lalu mengelus punggung Faris, "Harus perbanyak sabar dan jangan mudah menyerah."
"Tentu saja, untuk mendapatkan sesuatu yang mahal memang membutuhkan banyak perjuangan."
Vanes mengerutkan keningnya tak mengerti, "Sesuatu yang mahal seperti apa?"
Faris tersenyum, "Nanti kau juga akan tahu."
Plak ... Plak... Vanes memukul lengan Faris, "Kau selalu seperti itu!" omel Vanes yang membuat Faris tertawa.
"Lalu aku harus bagaimana sayang?"
Seketika Pipi Vanes merona mendengar Faris memanggilnya sayang.
"Berhenti menggodaku!" Vanes memperingatkan.
"Aku tidak menggoda, aku hanya mengucapkan sayang, apa masalahnya?"
Vanes berdecak tak lagi menanggapi Faris yang membuatnya salah tingkah.
"Apa tidak masalah kita disini?" tanya Vanes sedikit takut karena rumah kosong itu sangat gelap dan terlihat menyeramkan.
"Tidak masalah, disini aman. Apa kau takut?"
"Sedikit."
Faris tersenyum lalu membersihkan tempat duduk yang kotor dan mengajak Vanes duduk disana.
"Begini akan membuatmu aman." ucap Faris merangkul bahu Vanes.
"Seharusnya begini." ucap Vanes malah memeluk Faris.
Faris tertawa, "Jika ada orang yang melihat kita pasti disangka orang mesum."
Vanes memanyunkan bibirnya lalu melepaskan pelukannya, "Aku tidak akan melakukannya lagi."
Faris tertawa, gemas melihat Vanes lalu menarik Vanes dan membawanya ke dalam pelukan, "Tapi begini lebih menyenangkan." ucap Faris akhirnya.
Keduanya kini sama sama diam, Vanes bisa merasakan jantung Faris yang berdegup kencang.
"Apa mungkin Faris gugup?" batin Vanes lalu tersenyum seolah ingin membuat Faris semakin gugup dengan mempererat pelukanya.
"Ak aku bisa sesak nafas." ucap Faris.
"Kau sesak nafas atau gugup?" goda Vanes.
__ADS_1
Faris tersenyum lalu menoel hidung Vanes, "Dasar nakal.''
Vanes ikut tersenyum, mereka saling berpandangan. Faris benar benar menikmati wajah cantik Vanes dengan jarak dekat. Apalagi saat melihat bibir Vanes tersenyum, rasanya Faris ingin menggigit bibir Vanes saking gemasnya.
Tanpa mereka sadari, keduanya serasa terbius dengan pesona keindahan didepan mata, saling mendekat, mendekat dan akhirnya bibir keduanya menempel lalu saling ******* satu sama lain.
Satu detik dua detik hingga Vanes menghentikan lumatannya setelah mendengar suara aneh dari rumah kosong itu.
Sssshhhhh .. ..sshhhhhh.. Suara seperti desisan yang semakin kencang terdengar.
"Kau mendengarnya?" bisik Vanes dengan raut wajah pucat.
Faris mengangguk, "Apa itu ular?"
Vanes menggelengkan kepalanya, "Suaranya seperti manusia. Apa mungkin terjadi pembunuhan didalam sana." tebak Vanes raut wajahnya semakin pucat.
Faris berdecak, "Mana mungkin, jika pembunuhan seharusnya ada jeritan atau rintihan bukan desisan."
"Ayo kita pergi saja." pinta Vanes.
Faris melihat hujan semakin deras, jika memaksa mungkin motor tuanya akan mogok ditengah jalan.
"Biar aku periksa." ucap Faris beranjak dari duduknya.
Vanes menahan lengan Faris, "Tidak, jangan pergi. Tetaplah disini." pinta Vanes.
Faris akhirnya menuruti Vanes, kembali duduk di tempatnya dan memeluk Vanes, "Maafkan aku, karena hanya motor butut itu yang ku punya, aku tidak bisa membiarkan mu kehujanan." ucap Faris.
"Tidak, sungguh aku tidak mempermasalahkan apapun yang kau miliki." Vanes merasa tidak enak. "Aku hanya takut dengan suara tadi."
Faris mengangguk paham.
Semakin lama suara itu semakin menghilang membuat Vanes tampak lega dan tak takut lagi namun hanya beberapa saat setelah itu muncul suara aneh dan kali ini Faris yakin jika itu suara manusia bukan hewan atau semacamnya.
"Aku harus melihatnya." ucap Faris kembali berdiri namun Vanes kembali menahan lengannya.
"Tidak, jangan pergi."
"Ikut saja jika takut disini." ucap Faris.
"Ta tapi bagaimana jika yang ada didalam orang jahat."
Faris menggelengkan kepalanya, "Percayalah padaku, semua akan baik baik saja." ucap Faris penuh percaya diri karena dulu Ia pernah menjadi juara taekwondo, Ia memiliki keahlian melindungi diri.
Vanes akhirnya tak memiliki pilihan lain selain ikut masuk ke dalam bersama Faris.
Faris membuka pintunya dengan pelan, suara itu semakin kencang dan terasa tak asing ditelinga Vanes.
Faris dan Vanes berjalan semakin masuk ke dalam hingga keduanya terkejut saat mengetahui asal suara itu.
Sepasang anak muda yang tengah bercinta dengan beralaskan tikar.
Vanes langsung menutup matanya sementara Faris masih melihat hingga tak sadar milik Faris ikut bangun dan terasa sesak dibawah sana.
"Ohh shittt!"
Bersambung...
__ADS_1
Jan lupa like vote dan komen yaaa