TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
206


__ADS_3

Herman keluar dari kamarnya. Ia sudah rapi dengan baju dinasnya mengingat hari ini ada pertemuan dengan beberapa orang penting. Bel rumah berbunyi, tampak asisten rumah tangganya berlari ke arah pintu untuk membuka pintunya.


"Siapa yang datang sepagi ini." gumam Herman.


Herman yang penasaran berjalan ke arah pintu untuk melihat siapa yang datang.


"Sara..." Herman tampak terkejut melihat Sara yang datang sepagi ini.


"Pagi Om eh ayah..." lagi lagi Sara salah memanggilnya membuatnya tersenyum geli.


"Arga nya masih belum bangun." ucap Herman seolah tahu kalau Sara datang untuk mencari Arga, "Coba kamu bangunin sana." pinta Herman yang langsung diangguki oleh Arga.


Sara mengangguk, berjalan memasuki rumah Herman dan mulai menaiki tangga. Sara sudah berada didepan kamar Arga, meski sedikit ragu, Ia akhirnya masuk juga ke kamar Arga.


Sara kini sudah berada dikamar Arga, pria itu masih terlelap diranjangnya.


Sara duduk dipinggir ranjang lalu menyentuh lengan Arga, "Arga..." suara lembut Sara sama sekali tidak membuat Arga bangun hingga Sara sedikit menggoyangkan tubuh Arga yang akhirnya membuat pria itu membuka matanya.


"kenapa kau ada disini? Pasti ini mimpi." gumam Arga kembali memejamkan matanya.


Sara tertawa lalu mencubit pipi Arga, "Apa kau mimpi bertemu wanita cantik?"


Arga tersenyum dan kembali membuka matanya, "Ternyata aku tidak bermimpi."


"Bangunlah, apa kau tidak ke kantor?" tanya Sara.


"Sekarang jam berapa?"


"Jam 7."


Arga bengun lalu bersandar diranjangnya, "Mimpi apa aku pagi pagi sudah melihatmu kemari."


Sara memanyunkan bibirnya, "Semalam kau pulang jam berapa? Kenapa tak membalas pesanku?"


Arga tersenyum, "Aku tidak ke club, aku langsung pulang."


"Aku tidak percaya."


Arga berdecak, "Tanya saja pada Gala apa aku semalam ke sana."


"Aku tidak dekat dengan Gala."


Arga menatap Sara lalu tersenyum tengil, "Apa kau datang sepagi ini untuk memastikan apakah aku tidur dengan gadis lain atau tidak?" tebak Arga.


"Tidak, aku tidak bermaksud seperti itu." sangkal Sara meskipun apa yang dikatakan oleh Arga itu benar jika Ia datang kemari karena ingin mengecek Arga tidur dirumah atau dihotel dengan gadis lain.


Arga berdecak, "Jangan berbohong. Jadi apa kau sudah merasa cemburu sekarang?"


Sara ikut berdecak, "Apa kau senang?"


Arga tersenyum lebar, tak menyangka jika Sara akan mengakui perasaannya.


"Yah tentu saja aku senang." ucap Arga merangkul Sara lalu mencium bibir Sara.


Sara melotot kesal, "Kau!!"

__ADS_1


"Apa aku tidak boleh mencium sedikit saja?" protes Arga.


Sara menghela nafas panjang, Ia akhirnya diam tak jadi mengomel mengingat Arga sedang marah saat ini.


"Pergilah mandi, aku akan menunggu dimeja makan." ucap Sara melepaskan diri dari Arga dan keluar dari kamar Arga.


"Aneh, kenapa dia tidak mengomel?" gumam Arga merasa heran lalu menyentuh bibirnya yang baru saja mencium Sara.


"Pagi pagi udah dapat vitamin C." gumam Arga tertawa senang.


Setelah mandi dan bersiap ke kantor, Arga turun untuk sarapan dimeja makan dimana sudah ada Sara dan Herman disana.


"Ngapain senyam senyum?" tanya Arga menatap Sara aneh.


"Ternyata bener semalam kamu nggak ke club." kata Sara lalu tersenyum lebar.


Arga berdecak, "Di bilang aku nggak kesana, kamu aja yang ngeyel!"


"Ya maaf."


"Kurang kurangin Ga." Herman ikut berkomentar.


"Kurangin apa Yah?"


"Datang ke club. Udah mau nikah biar nggak ada masalah."


Arga berdecak, "Nikahnya masih lama, nyari masalah dulu nggak apa apa lah ya."


Plak ... plak... Sara memukul lengan Arga, "Bisa bisanya ngomong gitu."


Herman menggelengkan kepalanya tak percaya melihat tingkah childish Arga, "Besok kalau sudah nikah, banyakin sabarnya ya Sar ngadepin sifatnya Arga." nasehat dari Herman.


Sara mengangguk, "Dari sekarang udah sabar banget kok Yah."


"Alah orang nikahnya masih lama dibahas terus." omel Arga membuat Sara dan Herman langsung diam.


Sara semakin merasa bersalah melihat sikap Arga. Kini Ia bingung harus bagaimana lagi agar Arga bisa menerima keputusannya itu.


Selesai sarapan bersama, Arga dan Sara bergegas keluar rumah dimana sudah ada Zil yang menunggu mereka.


"Selamat pagi Tuan dan Nona calon pengantin." sapa Zil.


Arga tak menjawab sapaan Zil dan malah melotot ke arah Zil.


"Lah kok galak." heran Zil merasa tak ada yang salah dengan ucapannya.


"Zil udah tahu belum kalau nikahnya di undur?"


Zil mengangguk, "Tuan Herman sudah memberitahu saya Nona."


Arga semakin kesal saja lalu menendang Zil, "Kalau udah tahu ngapain pake manggil calon pengantin!"


Zil tertawa, "Ampun Tuan ampun, saya pikir Tuan tidak masalah." ucap Zil langsung kabur menghindari kekesalan Arga.


Sara menggelengkan kepalanya lalu memasuki mobil Arga. Sara tak membawa mobilnya, Ia datang kesini diantar Mang ujang.

__ADS_1


"Mau ke kantor Nona dulu atau Tuan dulu?" tawar Zil masih cengegesan seolah menggoda Arga.


"Kantor Arga dulu nggak apa apa Zil."


"Nggak, ke kantor kamu dulu saja." pinta Arga.


Zil akhirnya mengangguk, "Siap deh, kita anterin Nona dulu." ucap Zil.


Arga melihat ada pulpen didekatnya dan langsung Ia ambil lalu dilemparkan ke arah Zil hingga mengenai kepala Zil.


"Aduh... Tuan jangan kdrt!" omel Zil.


"Siapa suruh kamu ngejekin."


Zil tertawa, "Mana ada saya ngejekin Tuan, saya dari tadi bersikap profesional." kata Zil.


"Iya perasaan Zil dari tadi nggak ngapa ngapain." Sara membela Zil.


Arga berdecak, "Dia mengumbar tawa sedari tadi dan itu sangat menjengkelkan!"


Sara hanya bisa menggelengkan kepalanya lalu diam tak lagi mengomentari Arga.


Mobil yang mereka tumpangi akhirnya sampai dikantor Sara.


Sara bergegas untuk turun namun lengannya ditahan oleh Arga dan cup... Satu ciuman mendarat di pipi Sara.


Sara melotot penuh protes pada Arga, "Dasar gila, ada Zil!" omel Sara.


Arga tampak acuh, "Biarin aja, biar dia pengen."


Sara berdecak kesal lalu keluar dari mobil tanpa mengatakan apapun.


Sara memasuki kantornya berpapasan dengan Faris yang baru saja datang.


"Pagi pagi udah ngapel." goda Faris.


Sara hanya menghela nafas panjang, Ia sedang tidak ingin bercanda dengan Faris.


"Lo dan Arga pada kenapa dari kemarin kayaknya acuh banget." ucap Faris merasa ada yang tak beres dengan keduanya.


"Arga ngambek." cerita Sara, "Gara gara nikahnya di undur sebulan lagi."


Faris mengerutkan keningnya tak mengerti, "Maksudnya gimana?"


Sara akhirnya menceritakan pada Faris jika seharusnya mereka menikah minggu depan namun karena mengalah dengan Wira, Sara mengundur pernikahannya dan itu membuat Arga marah.


Faris berdecak, "Bareng aja kenapa sih, ribet amat."


Sara ikut berdecak, "Nggak mungkin lah, gila kali!"


"Ya sudah kalau gitu besok ke kua, ijab dulu dan buat resepsinya bisa bulan depan, beres." ucap Faris.


Sara terdiam memikirkan usulan Faris.


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa like vote dan komen yaaa


__ADS_2