TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
85


__ADS_3

Vanes menutup pintu kamarnya, bibirnya masih menyunggingkan senyum mengingat apa yang baru saja terjadi antara dia dan Faris.


"Bagaimana dia bisa selucu itu." gumam Vanes lalu berbaring diranjang.


"Dan lagi miliknya sangat besar, aku benar benar tidak bisa membayangkan jika benda itu masuk arghhh.... Aku gila, aku bisa gila." ucap Vanes lalu mengguling gulingkan tubuhnya ke ranjang.


Vanes merasa gila saat ini karena memikirkan hal kotor yang seharusnya tidak Ia pikirkan saat ini.


"Astaga, aku benar benar sudah gila." ucap Vanes lagi kembali tertawa.


Hal yang sama juga terjadi pada Faris, sepanjang perjalanan pulang kerumah, Faris tak henti hentinya menyunggingkan senyumnya mengingat percakapan gila yang baru saja terjadi dengan Vanes.


"Bagaimana aku bisa mengatakan jika kita menikah sementara aku belum memiliki persiapan apapun." gumam Faris, "Gila, ini gila. Setelah melihat tubuh gadis tadi aku jadi penasaran bagaimana dengan tubuh Vanes,


Arrghhhh, benar benar membuat gila."


Baru memasuki rumah, Faris sudah disambut Asih dengan mata mengantuknya. Faris melihat ke arah jam dinding sudah pukul 11 malam, wajar saja jika Ibunya itu mengantuk.


"Jika aku pulang terlalu malam, jangan ditunggu Bu... Lebih baik Ibu tidur saja dulu."


Asih tersenyum lalu menggelengkan kepalanya, "Bagaimana jualannya?"


"Habis Bu, hari ini sangat laris."


"Alhamdulilah, ibu seneng dengernya. Jangan lupa uangnya ditabung."


Faris mengangguk setuju, "Bapak sudah tidur?"


Asih mengangguk, "Bapak lagi masuk angin, jadi tidur duluan."


"Oh ya sudah, Ibu juga buruan istirahat." pinta Faris yang langsung diangguki oleh Asih.


Setelah mandi dengan air hangat yang sudah disiapkan Ibunya, Faris segera berbaring untuk tidur karena besok Ia harus bangun awal untuk membuat dagangan bakso bakar lagi.


Rasanya baru sebentar Faris tidur dan Ia sudah harus bangun lagi.


"Semangat, demi bisa menikah dengan Vanes." ucap Faris segera beranjak dari ranjang dan pergi mandi.


Setelah sholat subuh bersama dengan kedua orangtuanya, Faris bersiap untuk berangkat ke pasar.


"Ada apa pak?" tanya Faris saat melihat Slamet tengah menatapnya dengan wajah pucat.


"Kamu buru buru?" Slamet malah balik bertanya.


"Ada apa? Bapak mau diantar ke dokter?" tanya Faris dengan raut wajah khawatir.


Slamet menggelengkan kepalanya, "Bukan itu, sebenarnya Bapak mau ngomong sama kamu tapi kalau kamu buru buru, besok saja tidak apa apa."


Faris kembali mematikan motornya, Ia berjalan mendekati Slamet, "Nggak buru buru kalau buat bapak."


Slamet tersenyum, mengajak Faris masuk ke kamarnya lalu mengambil sesuatu dilemari bajunya.

__ADS_1


"Buku rekening milik siapa?" heran Faris saat Slamet mengulurkan buku rekening yang belum pernah Ia lihat.


"Milik Bapak, selama ini diam diam Bapak nabung."


Faris mengangguk lalu membuka buku rekening dimana ada saldo 50 juta.


"Wah bisa keturutan naik haji nih bapak." goda Faris tersenyum senang.


Slamet menggelengkan kepalanya, "Bapak sudah nggak pengen naik haji."


Faris menatap Slamet heran, "Kenapa pak?"


"Bapak merasa umur Bapak sudah nggak lama lagi."


Deg.. Faris terkejut mendengar ucapan Slamet.


"Nggak boleh ngomong gitu pak."


Slamet tersenyum, "Bapak ada satu permintaan, tapi tidak yakin kamu mau menurutinya."


"Apapun pasti akan Faris lakukan untuk Bapak." ucap Faris dengan lantang.


"Apapun? Apa itu benar?" Slamet tampak tak yakin dengan ucapan Faris namun Faris mencoba meyakinkan hingga akhirnya Slamet mengatakan keinginannya.


"Menikahlah dengan uang ini."


...****************...


Seharusnya Faris membeli daging fillet namun Ia malah membeli bagian paha. Faris harus kesusahan menfilet dagingnya sendiri sebelum dibawa ke penggilingan bakso.


"Fokus Faris... Fokus." omel Faris pada dirinya sendiri.


Faris pulang dari pasar, mendengar suara batuk Slamet didalam kamar membuatnya terdiam, memikirkan permintaan Slamet yang sulit untuk Ia lakukan.


Faris menghela nafas panjang saat mengingat ucapan Slamet, Bapak cuma mau lihat kamu menikah sebelum meninggal.


"Apa aku iyakan saja permintaan Bapak? Tapi itu uang buat naik haji Bapak sama Ibu, nggak mungkin aku... Arghhhh!" Faris mengacak rambutnya karena frustasi.


"Gimana? Sudah dipikirkan tawaran Bapak?" tanya Slamet lagi saat sedang sarapan bersama.


"Tawaran apa pak?" Asih nampak penasaran karena belum diberitahu masalah apapun.


"Tentang uang yang semalam Bapak ceritakan sama Ibu."


Asih mengangguk paham, "Iya Ris, turuti saja apa mau Bapakmu," pinta Asih pada Faris.


Faris terdiam cukup lama sebelum akhirnya Dia menjawab, "Faris tetap tidak bisa Bu, tapi Faris usahakan 3 bulan lagi bisa menikahi Vanes."


Slamet menghela nafas panjang, Ia tampak kecewa mendengar keputusan Faris yang lagi lagi menolak permintaannya.


"Sudahlah pak, kita sabar dulu saja." ucap Asih pada Suaminya.

__ADS_1


Slamet tak menjawab, Ia hanya diam lalu beranjak dari duduknya dan pergi memasuki kamar.


"Bapak marah." gumam Faris menghela nafas panjang memandangi punggung Slamet yang kini sudah tak terlihat lagi.


"Pasti sulit kan menuruti keinginan Bapak?" tanya Asih yang langsung diangguki Faris.


"Kenapa tidak mencoba dulu?" Asih setengah memaksa.


"Faris tetap nggak bisa Bu... Lagipula pernikahan juga tidak harus buru buru kan?"


"Ibu tahu tapi kita tidak tahu umur Bapak sampai kapan, Ibu hanya takut..."


"Semua akan baik baik saja Bu, Bapak pasti sehat lagi." ucap Faris beranjak dari duduknya lalu mencium punggung tangan Asih. Faris ingin menghentikan perdebatan ini jadi Ia memutuskan untuk segera berangkat.


"Bapak pasti masih marah jadi nitip pamit buat Bapak ya Bu, Faris mau berangkat dulu." pinta Faris yang langsung diangguki oleh Asih.


Faris berangkat dalam keadaaan pikiran yang kalut namun entah mengapa saat bertemu dengan Vanes, kegelisahan hatinya sedikit membaik.


Sejujurnya Faris juga ingin segera menikahi Vanes seperti yang diinginkan orangtuanya namun Faris hanya ingin berusaha sendiri tanpa merepotkan orangtuanya. Selama ini orangtuanya sudah berjuang membesarkan hingga menyekolahkan dirinya sampai perguruan tinggi, Faris hanya ingin berjuang sendiri untuk pernikahannya tanpa campur tangan orangtuanya lagi.


"Ada apa Mas? kamu banyak melamun?" tanya Vanes sesampainya dikampus.


Faris menggelengkan kepalanya.


"Apa ada masalah?" Vanes terlihat tak percaya.


"Semua baik baik saja, jangan khawatir." kata Faris lalu merangkul Vanes.


Dengan cepat, Vanes melepaskan rangkulan Faris, "Banyak yang ngeliatin tuh."


Faris tersenyum memperlihatkan giginya yang putih dan rapi.


Vanes segera ke kelas dan Faris menuju ruangannya.


Kelas pertama, kelas kedua hingga kelas ketiga sudah Faris lewati.


Semakin siang Faris semakin lupa akan masalahnya dirumah.


Faris bersiap untuk pulang karena hari ini tidak banyak kelas jadi Faris memutuskan untuk segera pulang awal agar Ia bisa segera berjualan.


Entah mengapa perasaan Faris mendadak gelisah, jantungnya bahkan berdegup dengan kencang.


Pyaaarrrrr... Faris bahkan tak sengaja menjatuhkan gelas hingga Vanes yang baru masuk keruangannya pun ikut terkejut.


"Ada apa mas?"


Faris menggelengkan kepalanya, "Entahlah, perasaanku tidak enak. Aku ingin segera pulang."


Tanpa disadari, Air mata Faris bahkan menetes dan dadanya juga terasa sesak.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa like vote dan komen yaaa


__ADS_2