TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
114


__ADS_3

Vanes dan Faris sudah berada dikamar. Mereka diam sejenak sebelum akhirnya Vanes mulai berbicara.


"Aku terserah Mas Faris saja mau mengiyakan atau tidak." kata Vanes.


"Berat sekali sayang, apa aku boleh meminta waktu untuk memikirkan lagi?" tanya Faris.


Vanes mengangguk, "Tidak perlu buru buru mas."


Keduanya kembali diam, Vanes mendekat lalu memeluk tubuh Faris.


Keduanya berpelukan dan masih saling diam.


"Mungkin sebaiknya kamu tinggal disini sampai aku mendapatkan jawban." kata Faris.


"Mas pulang sendirian?"


Faris mengangguk, "Beri aku waktu 3 hari, aku akan datang lagi, entah menjemputmu atau mungkin pindah kesini." kata Faris membuat Vanes tersenyum.


"Aku harap mas membuat keputusan terbaik."


Faris kembali mengangguk lalu mengelus kepala Vanes dan mengecup kening Vanes penuh sayang.


Selesai berbicara, Vanes mengantar Faris keluar. Melihat Ken dan Sara masih duduk disana. Namun Vanes merasa heran karena Sara terlihat gugup.


"Kalian sudah selesai bicara?" tanya Sara beranjak dari duduknya, pindah ke tempat duduk lain agar jauh dari Ken.


"Ya, Mas Faris akan tetap pulang." balas Vanes membuat Sara melotot dan menatap Faris kesal.


"Kau benar benar keras kepala." ucap Sara langsung emosi.


Faris menghela nafas panjang, tak memperdulikan ucapan Sara, menatap ke arah Vanes, "Aku akan berangkat sekarang." kata Faris mengulurkan tangannya agar dicium oleh Vanes lalu mengecup kening Vanes.


Faris keluar dari rumah tanpa mengatakan apapun pada Sara dan Ken.


"Dia benar benar keterlaluan!" omel Sara pada Ken namun juga tak mendapatkan respon dari Ken.


Sepanjang perjalanan pulang, Faris hanya diam menatap ke arah luar mobil. Sesekali berbicara pada Pak Hadi, sopir pribadi Wira yang kini mengantarnya. Faris berbicara pun jika ditanya, jika tidak Ia hanya diam saja.


"Aden, kita istirahat sebentar untuk makan siang nggak apa apa?" tanya Pak Hadi menghentikan mobilnya direst area.


"Nggak apa apa pak, tapi saya belum laper, Bapak makan sendiri saja." kata Faris.


"Loh, saya nggak enak nih kalau makan sendiri."


Faris tersenyum, "Nggak apa apa Pak."


Pak Hadi kembali menyalakan mobilnya, "Ee ya sudah saya ikut turun dan makan." kata Faris merasa kasihan dengan Pak Hadi.


Pak Hadi tersenyum, kembali menghentikan mobilnya dan segera keluar dari mobil di ikuti oleh Faris.


Pak Hadi memesan rawon sementara Faris memesan Soto untuk makan siang mereka.

__ADS_1


"Aden beda banget sama Suami Non Vanes yang sebelumnya." ungkap Pak Hadi membuat Faris hampir tersedak.


"Beda gimana pak?"


"Lebih kalem Aden." ungkap Pak Hadi lalu tersenyum.


"Jangan gitu pak, semua manusia itu sama saja, saya juga nggak sebaik yang terlihat kok."


Pak Hadi kembali tersenyum lalu melanjutkan makan siangnya.


Selesai makan siang, Mereka kembali memasuki mobil dan melanjutkan perjalanan.


"Saya sudah bekerja 25 tahun sama Tuan Wira." ungkap Pak Hadi mengajak Faris bercerita, "Tuan Wira sangat baik, dari pertama saya kerja sampai sekarang, nggak nyangka kalau orang sebaik Tuan Wira harus sakit seperti ini." tambah Hadi mengenang kebaikan Wira hingga tak sadar air matanya mulai menetes.


"Pak Wira juga baik sama saya pak, dengan keadaan saya yang seperti ini tapi beliau mengizinkan saya menikahi Vanes." ungkap Faris.


Hadi tersenyum, "Sejak dulu Tuan memang tidak menganggap rendah orang lain. Tuan selalu bersikap baik dengan semua orang."


"Saya berharap Tuan segera sadar dan kembali sehat." doa Pak Hadi yang langsung di amini oleh Faris.


Tak terasa akhirnya mobil yang dikemudikan Pak Hadi sudah sampai rumah.


Faris langsung disambut senang oleh Asih.


"Kamu pulang sendirian?" tanya Asih melihat tidak ada yang keluar lagi dari mobil.


"Saya balik ke kota lagi ya Den." pamit Pak Hadi setelah mengeluarkan barang bawaan Faris.


Pak Hadi kembali memasuki mobil dan melajukan mobilnya meninggalkan rumah Faris.


"Apa ada masalah Ris?" tanya Asih dengan raut wajah khawatir.


Faris duduk di sofa lusuh yang ada diruang tamu diikuti oleh Asih.


Faris masih diam padahal Asih masih menunggu Faris menjawab pertanyaan Asih.


"Apa keadaaan Pak Wira parah?"


"Koma Bu dan belum sadar sampai sekarang." ungkap Faris.


"Ya Allah, kalau begitu biarkan Neng Vanes berada disana menemani Papanya."


Faris menghela nafas panjang, "Masalahnya bukan itu Bu."


Asih mengerutkan keningnya, "Lalu masalahnya apa?"


"Papa meninggalkan amanat agar aku mau mengurus perusahaan Bu." ungkap Faris.


Kini giliran Asih yang terdiam, Asih sudah bisa menebak jika Faris pasti menolak keinginan Wira. Putranya itu pasti tidak mau mengurus perusahaan mertuanya mengingat putranya yang selalu ingin mandiri tanpa bantuan orangtua.


"Faris bingung Bu." ungkap Faris.

__ADS_1


Asih tersenyum, "Apa keberadaan ibu juga membuatmu bingung?"


Faris menggelengkan kepalanya, "Aku tidak akan meninggalkan Ibu, apapun yang terjadi Faris akan selalu disamping Ibu."


Asih kembali tersenyum, "Jika kamu mau tinggal dikota, pergilah Nak... Ibu akan tetap disini."


"Kenapa?"


"Dirumah ini ada banyak kenangan dengan Bapak dan Ibu nggak mau meninggalkan kenangan itu."


"Kalau begitu Faris juga nggak akan pergi." Kata Faris semakin banyak keraguan dihatinya.


"Ibu harap kamu menerima amanat itu," pinta Asih membuat Faris terkejut dan semakin bertambah bingung.


"Amanat itu satu tanggung jawab yang harus kita penuhi terlepas dari prinsip hidup kita Nak." kata Asih.


"Kamu pernah mengabaikan keinginan Bapak hanya karena memiliki prinsip hidup ingin mandiri hingga akhirnya kita kehilangan Bapak sebelum melihatmu menikah dengan Neng Vanes, lalu sekarang apa kau juga akan melakukan hal yang sama?" tanya Asih yang langsung menyadarkan Faris tentang kejadian sebelum Bapak meninggal.


"Ibu harap kamu bisa berpikir dengan baik agar tidak membuat semua orang kecewa." ucap Asih menepuk pundak Faris lalu beranjak dari duduknya, pergi meninggalkan Faris.


Faris termenung, memikirkan ucapan ibunya.


Sehari... Dua hari... Hingga tiga hari akhirnya Faris membuat keputusan yang menurutnya benar.


Mobil jemputan dari kota sudah datang. Faris bersiap untuk kembali ke kota dan mengatakan keputusannya pada Vanes.


"Kau yakin nak?" tanya Asih saat Faris memasukan baju ke dalam koper.


"Doakan saja ini keputusan yang terbaik bu."


Asih mengangguk, "Ibu selalu mendoakan kebahagiaanmu."


Faris mencium punggung tangan Ibunya lalu Ia segera memasuki mobil dimana sudah ada Pak Hadi yang kembali menjemputnya.


"Sehat Den?"


"Sehat pak,"


"Kasihan Non Vanes sudah galau 3 hari nggak ketemu."


Faris tersenyum, jujur Ia juga sangat merindukan istrinya itu.


Perjalanan terasa cepat kali ini, Faris sudah sampai kembali di istana Wira dan Ia langsung disambut oleh Vanes yang berdiri didepan pintu.


"Kangen." keluh Vanes memeluk Faris.


"Aku juga kangen sama istriku yang cantik."


Vanes tersenyum, "Jadi apa keputusan mas?"


Bersambung....

__ADS_1


Jan lupa like vote dan komenn


__ADS_2