TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
211


__ADS_3

Setelah Yesi pergi dari kantornya, Dylan mengajak Rani ke ruangannya. Sebelumnya raut wajah Rani terlihat marah dan cemburu namun setelah Dylan mengenalkan jika Rani adalah calon istrinya, raut wajah Rani berubah sumringah.


Dylan mengunci pintu ruangannya lalu berjalan menghampiri Rani yang sudah duduk disofa.


Cup... Satu kecupan mendarat di pipi Rani.


"Bagaimana dengan acaranya? apa lancar?"


"Ya, Mbak Sara dan Mas Arga sudah sah menjadi suami istri."


Dylan menghela nafas panjang, rasanya sedikit sesak karena Ia dan Rani harus bersabar lagi untuk menikah padahal saat ini Dylan sudah ingin menikahi Rani.


"Sepertinya Yesi tertarik padamu." ucap Rani tiba tiba.


"Lalu kenapa jika tertarik?"


"Dia cantik dan seksi, mungkin dia juga siap jika kamu mengajaknya menikah, tidak seperti aku yang masih terhalang restu." ungkap Rani.


"Aku akan menunggu." balas Dylan santai.


"Tapi aku takut."


"Apa yang kau takutkan?" tanya Dylan.


"Jika kau tergoda dengan wanita lain."


Dylan tertawa, "Kenapa kau harus takut padahal setiap saat aku selalu bersamamu."


Rani tersenyum, "Kadang wanita memang seperti itu. Banyak ketakutan jika menyangkut pria yang Ia cintai."


Dylan tersenyum, "Apa kau sedang mencoba merayuku sekarang?" tanya Dylan gemas lalu mencium pipi Rani.


Dylan menatap Rani penuh keinginan, Ia lalu membuka kancing baju yang dikenakan oleh Rani.


"Mas..." suara berat Rani terdengar seolah tak ingin Dylan berbuat lebih.


"Pintunya sudah dikunci. Aman." ucap Dylan mendorong Rani hingga jatuh ke sofa dan memulai aksinya.


Semenjak Dylan belum mendapatkan restu dari Siti Ibunya Rani, Dylan memang gila. Ia melakukan segala cara agar Rani terkunci dengannya termasuk mengambil kesucian Rani. Namun Dylan tak menyangka jika melakukan hal itu membuatnya candu, rasanya ingin melakukan lagi lagi dan lagi bahkan hampir tiap hari mereka melakukan hal itu, entah dikantor maupun dirumah Dylan.


Keduanya sama sama suka, tak ada keterpaksaaan dari satu pihak.


"Kamu nggak pakai pengaman mas?" tanya Rani yang kini sudah dirundung gairah.


"Nggak, aku bakal main aman." ucap Dylan mulai menyatukan miliknya hingga ruangan Dylan hanya terdengar suara kenikmatan dari keduanya.


Dylan mengulurkan handuk pada Rani, mereka baru saja selesai mandi bersama. Setelah melakukan disofa, mereka kembali melakukan di kamar mandi lalu mandi bersama.

__ADS_1


"Mau ku antar pulang sekarang?" tanya Dylan setelah Rani selesai berpakaian.


"Nanti saja bareng Mas Dylan kalau sudah pulang." balas Rani kembali duduk disofa dan memilih memainkan ponselnya.


"Nemenin aku kerja nih ceritanya." celetuk Dylan lalu mencium pipi Rani.


"Udah mas, capek." keluh Rani.


Dylan tertawa, "Orang cuma mau cium pipi nggak ngapa ngapain kok."


Rani memanyunkan bibirnya dan kembali asyik memainkan ponselnya.


Pukul 4 sore, Dylan sudah bersiap untuk pulang. Ia memang rencana pulang awal hari ini karena ingin mengajak Rani jalan jalan sore.


"Kerjaan udah selesai semua kan mas?" tanya Rani memastikan karena Rani tak ingin Dylan lebih mementingkan dirinya dari pada pekerjaan.


"Sudah, ayo kita beli nasi goreng favorit kita." ajak Dylan.


"Sekalian nanti beliin martabak kesukaan ibuk." tambah Rani yang langsung membuat Dylan tersenyum.


Dylan sangat mencintai Rani karena Rani tidak hanya menerimanya namun juga Ibunya yang lumpuh.


Dylan mengecup kening Rani lalu memakai kan helm untuk Rani.


"Bang nasi goreng 2, telurnya ceplok kayak biasanya ya." pinta Dylan pada penjual nasi goreng langganan nya.


Dylan menghampiri Rani yang sudah duduk lebih dulu "Masih sepi, enak belum rame jadi nggak antri." ucap Dylan yang langsung diangguki oleh Rani.


Baru beberapa menit berada di kedai nasi goreng, suara si penganggu terdengar, "Eh ada Mas Dylan sama Mbak Ran... Duh lupa namanya."


Dylan dan Rani berbalik untuk melihat suara siapa itu dan ternyata adalah suara Yesi.


"Ngapain disini Yes?" tanya Dylan.


"Mau beliin nasi goreng buat pak Bos."


"Belum pulang?" tanya Dylan.


"Belum nih mas, masih lembur."


Dylan berohh ria, Ia baru sadar jika kedai nasi goreng langganannya ternyata dekat dengan kantor Yesi.


"Nggak mau makan bareng sekalian?" tanya Rani dengan nada tak suka.


"Emang nggak apa apa ya? Boleh deh kalau gitu." ucap Yesi tanpa malu ikut duduk semeja dengan Dylan dan Rani.


Dalam hatinya Rani sangat kesal, niatnya hanya ingin mencibir Yesi namun siapa sangka Yesi malah mengiyakan permintaannya.

__ADS_1


"Nggak ganggu kan?" tanya Yesi pura pura ramah.


"Nggak!" balas Rani seolah memberi kode pada Yesi agar pergi.


Dylan menghela nafas panjang, Ia tak bisa melakukan apapun untuk membela Rani karena mau bagaimanapun perusahaan tempat Yesi bekerja adalah investor diperusahan Wira. Ia tak ingin hubungan kedua perusahaan jadi rusak hanya karena masalah pribadi.


"Mas Dylan besok awal bulan ada pesta diperusahaan aku, mau datang kan?" tawar Yesi dengan suara genitnya, "Kalau mau nanti undangan nya aku kasih."


Dylan menggelengkan kepalanya, "Aku ini cuma atasan dikantor cabang jadi sepertinya tidak perlu, biar Mas Faris saja yang datang." tolak Dylan.


"Ya nggak apa apa Mas, sekali kali pergi ke pesta, mau kan?"


"Dih maksa!" omel Rani.


"Nggak maksa kok mbak lagian Mas Dylan juga bisa ngajak Mbak Rani." kata Yesi lagi.


"Aku nggak mau datang!" balas Rani.


Lagi lagi Dylan hanya menghela nafas panjang mendengar suara Rani yang ketus, "Maaf Yes, nggak aja biar mas Faris." tolak Dylan lagi yang akhirnya diangguki oleh Rani.


Ketiganya mulai makan setelah pesanan nasi goreng datang.


"Mas cobain punyaku nggak pake kecap lebih enak." ucap Yesi ingin menyuapi Dylan tanpa memperdulikan tatapan kesal Rani.


Dylan tentu saja langsung menolak suapan Yesi, Ia benar benar tak mau membuat masalah dengan Rani.


"Kamu suka sama Mas Dylan?" tanya Rani akhirnya tak tahan lagi dengan sikap genit Yesi.


"Ran..." Dylan mengingatkan Rani agar tak membuat keributan.


"Kenapa mas? Salah ya kalau aku tanya gitu?" protes Rani yang membuat Dylan akhirnya memilih diam.


"Suka gimana sih mbak? Aku sama mas Dylan kan rekan kerja jadi wajar aja sih kalau dekat." kata Yesi pura pura bodoh.


Rani tersenyum sinis, "Itu namanya nggak deket tapi kamu aja yang kegatelan!"


"Ran... Please." pinta Dylan melihat orang orang sekitar mulai menatap ke arah mereka.


"Dahlah kamu lanjutin aja makan sama Yesi, aku mau pulang!" ucap Rani lalu beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan Dylan dan Yesi.


Dylan yang tak ingin Rani marah, berlari menyusul Rani tanpa memperdulikan teriakan Yesi.


Yesi tersenyum puas melihat pertengkaran Rani dan Dylan.


Bersambung...


Jangan lupa like vote dan komen yaaa

__ADS_1


Siapa yang nungguin Sara dan Arga belah duren? Wkwkw dikasih jeda dulu biar pada greget hehe


__ADS_2