
Bik Sri menyeruput teh hangat yang dihidangkan untuknya. Ia kini merasa lebih tenang dan tidak takut lagi saat bertatapan dengan Wira.
Bik Sri tahu siapa Wira itu hingga alasan Wira mengundangnya kerumah pun Bik Sri sudah bisa menebak.
"Kamu sudah bekerja membantu Vanes hampir 8 bulan, saya pikir kamu tahu sedikit tentang putri saya." ucap Wira dengan suara lembut.
"Informasi seperti apa yang Tuan butuhkan?" tanya Bik Sri.
"Bagaimana bisa putri saya bertahan disaat suaminya melakukan kejahatan yang menyakitinya."
Bik Sri tersenyum, "Saya sering melihat Nona menangis."
Wira mengepalkan tangannya, "Aku bahkan tidak pernah membuat putriku menangis."
"Nona sangat mencintai Tuan Rizal mungkin itu sebabnya Nona bertahan dan berharap Tuan Rizal bisa berubah namun sekarang saya rasa Nona sudah tidak memiliki perasaan itu lagi."
Wira cukup terkejut mendengar pengakuan Bik Sri, "Apa maksudnya? Vanes sudah tidak mencintai Rizal lagi?"
"Benar sekali Tuan."
"Lalu kenapa dia tidak meminta cerai? Untuk apa dia masih bertahan disana." Wira terlihat geram.
"Karena Tuan Rizal mengancam Nona. Jika Nona meminta cerai, Tuan Rizal akan mengadukan..." Bik Sri terlihat ragu untuk mengatakan.
"Mengadukan tentang apa? Tolong ceritakan semuanya, jangan membuatku bingung." pinta Wira.
"Tuan memiliki riwayat penyakit lemah jantung dan itu menjadi alasan Nona bertahan sekarang. Tuan Rizal mengancam akan mengadukan skandal Nona jika meminta cerai."
"Skandal?"
Bik Sri mengangguk, "Saat ini tidak hanya Tuan Rizal yang selingkuh namun juga Nona."
Kali ini Wira benar benar sangat shock, Ia bahkan merasa sesak di dadanya dan harus minum obat lebih dulu.
"Ceritakan lagi." pinta Wira setelah minum obatnya.
"Apa Tuan tidak apa apa? Saya tidak yakin untuk melanjutkan ceritanya."
"Tidak, aku baik baik saja. cepat katakan semuanya."
Bik Sri mengangguk dan kembali memulai ceritanya, "Tuan memiliki sepupu bernama Faris."
__ADS_1
"Tunggu, aku merasa tak asing dengan nama itu. Apa dia juga bekerja dikantor Rizal?"
Bik Sri kembali mengangguk, "Dia datang dari kampung. Den Faris pria yang baik dan sopan. Sangat perhatian dengan Nona, mungkin itu yang membuat Nona jatuh cinta.
Sebelumnya mereka juga liburan bersama saat Tuan Rizal pergi keluar kota namun sayang Tuan Rizal pulang lebih dulu dan mengetahui Nona liburan bersama Faris.
Tuan sangat marah hingga memecat dan mengusir Faris.
Awalnya Nona juga ingin ikut pergi namun Tuan Rizal mengancam akan mengadukan ini pada Tuan Wira jika sampai pergi. Nona takut hingga akhirnya Ia memilih bertahan." ungkap Bik Sri panjang lebar.
"Jadi menurutmu putriku sudah tidak mencintai Rizal lagi?"
"Benar Tuan, Nona sekarang bersikap acuh dengan Tuan Rizal."
Wira menghela nafas panjang, Ia tak menyangka jika rumah tangga putrinya akan serumit ini.
Rizal, penyebab semua masalah ini. Pria itu benar benar keterlaluan pikir Wira.
"Yang kau tahu sudah berapa lama Rizal selingkuh?"
"Sejak awal menikah Tuan, mereka bahkan tidur terpisah. Nona sama sekali belum disentuh oleh Tuan Rizal."
Bik Sri mengangguk setuju, "Saya juga tidak tega jika melihat Nona akan menderita bersama Tuan Rizal lebih lama lagi."
Bik Sri kembali menyeruput teh hangat yang sudah dingin. Tenggorokannya terasa kering setelah bercerita panjang lebar.
Dan malam ini, Rizal benar benar tak bisa tidur. Sejak Hendra pengacaranya pergi, Tantri tak henti hentinya mengomeli kebodohan Rizal. Tantri baru berhenti mengomel setelah melihat Vanes memasuki kamar inapnya.
Tantri pergi tanpa mengatakan apapun dan kini tinggalah Rizal dan Vanes yang ada diruangan itu.
Rizal masih duduk diranjangnya dengan tatapan marah sementara Vanes berada disofa, duduk santai sambil membaca majalah dan sesekali mendengar umpatan Rizal.
"Brengsek, bagaimana bisa Hendra mengkhianatiku bahkan tidak mau membantu disaat terpuruk seperti ini!" ucap Rizal yang didengar oleh Vanes.
"Wanita gila itu benar benar brengsek!" umpat Rizal lagi.
"Apa kau sama sekali tidak peduli padaku?" tanya Rizal menatap Vanes kesal karena gadis itu malah sibuk membaca majalah dan tidak berada didekatnya.
"Jika aku tidak peduli mungkin aku sudah pergi dari sini sejak kemarin." balas Vanes santai.
"Pergilah kalau begitu!" kata Rizal dengan tatapan kesal.
__ADS_1
"Kau yakin? Aku akan pergi kalau begitu." balas Vanes beranjak dari duduknya lalu mengambil tasnya.
Baru saja melangkah untuk keluar, Rizal sudah kembali berteriak, "Kau benar benar istri durhaka, bagaimana bisa kau meninggalkan suamimu disaat seperti ini!" sentak Rizal.
Vanes berbalik menatap Rizal malas. Ia sungguh bingung dengan maunya pria itu apa. tadi mengusirnya dan sekarang malah mengatainya istri durhaka padahal jika dipikir justru Rizalnya yang menjadi suami durhaka.
"Aku sudah bangkrut sekarang, semua hartaku habis, perusahaanku juga hilang dan sekarang kau juga akan pergi?"
Vanes menghela nafas panjang, "Bukankah yang terjadi juga karena ulahmu sendiri? Kau yang menanam ini semua sejak awal jadi sekarang inilah yang kau panen lalu untuk apa kau menyalahkan orang lain?"
Rizal menggelengkan kepalanya, "Aku tidak salah, aku hanya khilaf sebentar. Wanita itu sangat licik, ya Mira sangat licik!" kata Rizal lalu merintih saat merasakan kepalanya berdenyut pusing.
Vanes kesal karena Rizal masih saja tidak mau mengakui kesalahannya namun disisi lain Vanes merasa tak tega melihat Rizal kesakitan, Ia akhirnya memilih berbalik untuk mengambilkan Rizal obat dan air minum.
"Ku mohon jangan tinggalkan aku Vanes. Aku benar benar tak bisa hidup tanpamu." ucap Rizal bersamaan dengan pintu yang terbuka dimana ada Wira berdiri disana, menatap Rizal dengan tatapan marah.
Rizal sangat terkejut, tangannya bahkan bergetar. Ia merasa ini adalah akhir dari segalanya.
"Untuk apa kau bertahan dengan pria macam itu Vanes, pulang saja. Papa masih sanggup menerimamu dan membuatmu bahagia."
Kali ini tak hanya Rizal yang terkejut namun juga Vanes.
"Apa maksud Papa?" tanya Vanes berjalan mendekati Wira.
"Selama ini Papa sudah tahu kedekatan Rizal dengan asistennya tapi Papa masih tak menyangka ada banyak hal kejam yang sudah Rizal lakukan padamu. Pria itu benar benar tak pantas melakukan ini pada putriku!" ucap Wira sambil menunjuk Rizal.
"Pa... Ini hanya salah paham. Jangan percaya dengan informasi palsu." kata Rizal membela diri namun tidak digubris oleh Wira.
"Kamu tidak perlu khawatirkan Papa. mulai saat ini Papa yang akan membantu kamu bercerai dengan Rizal." kata Wira lalu merangkul putrinya.
Rizal tampak shock hingga tidak bisa mengatakan apapun.
"Itu tidak akan pernah terjadi Pak Wira."
Wira, Vanes dan Rizal menatap ke arah suara dimana itu adalah suara Tantri.
"Anda tidak bisa melakukan itu semua setelah membunuh suami saya."
Bersambung...
Jan lupa like vote dan komen yaaa
__ADS_1