
Pagi ini semua orang bersiap untuk pulang ke kota kecuali Wira yang masih harus menetap selama beberapa hari sebelum pulang memboyong Bik Sri beserta putra sambungnya Arka, apalagi hari ini masih ada tamu yang berdatangan jadi Wira tidak bisa ikut pulang ke kota.
Dan untuk sementara Asih akan ikut tinggal dikota mengingat beberapa minggu lagi ada pesta pernikahan Wira juga Sara yang hanya berselang beberapa minggu jadi Ia tak mungkin bolak balik dari kampung ke kota hingga akhirnya memutuskan untuk tinggal dikota selama 2 bulan. Hal itu tentu saja membuat Faris dan Vanes senang.
"Ayah mau semobil sama Faris saja." ucap Herman pada Arga.
"Dasar Ayah nggak sadar umur!" omel Arga yang tahu jika Ayahnya ingin pdkt dengan Asih.
"Namanya juga usaha." kata Herman sambil tertawa kecil.
Herman berjalan menghampiri Faris yang bersiap masuk mobil, "Aku ikut di mobil kamu ya Ris?"
Faris sempat mengerutkan keningnya sebelum mengangguk, "Kenapa memang Om?"
"Si Arga sama Sara mau langsung honeymoon katanya, nggak tahu mereka mau kemana." alasan Herman.
Faris tersenyum lalu mengangguk, "Siap deh Om, masuk aja dibangku belakang masih kosong disamping Ibu lagian Dylan sama Rani naik mobil satunya jadi masih longgar." ucap Faris.
Dalam hati Herman bersorak gembira karena Faris memintanya duduk disamping Asih. Kebetulan sekali memang ini yang Ia inginkan pikir Herman.
Herman segera masuk ke mobil, tanpa basa basi Ia langsung duduk di bangku belakang dimana sudah ada Asih yang tersenyum kepadanya.
"Numpang di sini nggak apa apa kan?" tanya Herman tak ingin membuat Asih tidak nyaman.
"Tidak apa apa Pak, santai saja."
"Lah jangan manggil Pak dong." celetuk Herman sambil tertawa.
Asih mengerutkan keningnya tak mengerti.
"Mas saja biar lebih enak dengernya." kata Herman masih tertawa.
"Ohh ya Mas." Asih masih tampak bingung namun Ia menuruti saja ucapan Herman.
Herman tersenyum senang mendengar Asih memanggilnya Mas.
"Selangkah lebih baik." batin Herman.
Baru setengah perjalanan, Mang Ujang menghentikan mobilnya disebuah rest area untuk sholat dzuhur sekaligus makan siang.
"Om Herman yang jadi imamnya ya?" celetuk Faris saat mereka sedang berada di mushola.
"Aduh jangan, kamu saja." tolak Herman mengingat Ia saja jarang sholat bagaimana mungkin menjadi Imam.
Asih menatap Herman seolah berharap agar Herman mau menjadi imam mereka mengingat umur Herman yang lebih tua dari Faris.
"Jujur sholatnya saja masih bolong bolong jadi biar Faris saja yang menjadi imam." Akui Herman dengan jujur sembari menatap Asih, melihat raut Asih yang masih sama tidak berubah sama sekali.
"Ya sudah Om kalau begitu aku saja." kata Faris akhirnya.
__ADS_1
Selesai sholat berjamaah, mereka pergi ke kantin untuk makan siang.
"Kenapa sedikit sekali makan nya?" Heran Herman melihat isi piring Asih.
"Ibu memang gitu Om, makannya sedikit." timpal Faris.
"Sudah bisa makan saja Alhamdulilah, nggak perlu berlebihan." kata Asih yang entah mengapa membuat Herman kembali tersentak.
Sesederhana itu kah? Batin Herman.
Selesai makan siang, mereka kembali melajutkan perjalanan pulang kerumah.
Pukul 3 sore mereka baru sampai dikota. Mang Ujang mengantar Herman lebih dulu.
"Lah itu mobilnya Arga juga baru sampai, katanya mau honeymoon." bisik Vanes pada Faris.
Faris menggelengkan kepalanya, Ia juga tak mengerti kenapa Herman ingin semobil dengannya.
"Mampir masuk dulu." tawar Herman.
"Nggak usah Om, capek. Langsung pulang saja."
Herman mengangguk mengerti, meskipun Ia ingin mereka mampir namun juga tak ingin memaksa.
"Makasih ya sudah mau nganterin Om."
"Iya Om santai saja."
"Seneng nih yang habis pdkt." cibir Arga pada Herman yang baru saja memasuki rumah.
Herman tersenyum lebar, "Seneng dong."
"Papa alesan apa sama Faris sampai dibolehin numpang mobilnya?" tanya Sara penasaran.
"Ada lah pokoknya, kalian nggak perlu tahu." ucap Herman lalu pergi meninggalkan Sara dan Arga.
"Dasar tua tua keladi." ejek Arga.
"Huss, nggak boleh gitu mas." Sara mengingatkan.
Arga hanya tersenyum.
...****************...
Seharian ini Wira dan Sri masih menyambut tamu yang berdatangan hingga sore hari barulah tamu mereka sudah habis dan keduanya bisa beristirahat.
Kini Wira tengah duduk didepan televisi sambil menikmati secangkir teh hangat serta pisang goreng buatan istrinya.
Tiba tiba Ia dikejutkan dengan kedatangan Arka yang langsung duduk disampingnya.
__ADS_1
"Habis dari mana?" tanya Wira mengingat seharian ini Ia belum melihat Arka.
"Sekolah, nggak mau bolos." ucap Arka lalu mencomot sebiji pisang goreng dan langsung melahapnya.
Wira akhirnya ingat jika hari ini adalah hari senin, Arka masuk sekolah dan pantas saja Ia tak melihat putra sambungnya seharian ini.
"Nanti kalau sekolah kamu pindah ke kota gimana? biar bisa ketemu sama Ibu setiap hari." rayu Wira pada Arka agar mau tinggal serumah bersamanya.
"Nanti Arka pikirin."
"Saya harap kamu mau Arka, mau bagaimanapun Ibu pasti senang kalau kamu bisa tinggal bareng sama kita." kata Wira.
Arka menghela nafas panjang, sejujurnya Ia juga ingin tinggal ke kota bersama Ibunya, bersekolah disana dan menata masa depan yang lebih baik hanya saja... Entahlah rasanya sulit sekali meninggalkan kampung halamannya ini.
"Lagi ngobrolin apa?" Sri yang baru saja dari dapur ikut bergabung, duduk disamping Wira.
"Aku pengen ngajak Arka tinggal bareng sama kita dikota." ungkap Wira.
Sri tersenyum, "Ibu nggak akan maksa, kalau Arka mau Ibu akan bahagia sekali tapi kalau Arka nggak mau juga nggak apa apa."
Arka mengangguk, "Nanti Arka pikirin lagi, memangnya kapan mau pulang ke kota?"
"Mungkin 2 hari lagi."
"Nanti ada asisten yang bakal bantu mengurus perpindahan sekolah kamu." kata Wira.
Arka mengangguk, lalu beranjak dari duduknya, "Arka mau keluar dulu." ucapnya lalu pergi meninggalkan Sri dan Wira.
"Apa Arka marah?" tanya Wira tampak khawatir jika menyinggung putra sambungnya itu.
Sri menggelengkan kepalanya, "Kalau dilihat dari raut wajahnya, enggak kok mas."
Wira menghela nafas lega, "Syukurlah, aku takut membuat Arka marah."
Sri tersenyum, "Enggak mas, aman kok."
"Aku belum berani meminta Arka memanggilku Ayah, takut Arka belum siap atau malah marah." ungkap Wira.
Sri tersenyum, "Terimakasih ya mas."
Wira mengerutkan keningnya, "Kok malah terimakasih?"
"Karena mas mau menerima Arka dengan baik bahkan mengerti Arka yang masih sangat labil dan emosional." ucap Sri mengingat Arka masih belum bisa sepenuhnya bersikap baik pada Herman.
"Aku mencintai Ibunya, tentu saja aku juga harus mencintai putranya."
Sri kembali tersenyum dan kali ini ditambah dengan dirinya yang langsung memeluk Wira.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa like vote dan komen yaaa