
Sara sudah berada dikamar Arga, duduk dipinggir ranjang, tak peduli dengan tatapan Arga yang nakal dan ingin mengejeknya.
Sara melihat ada piyama disampingnya, Ia mengambil piyama itu lalu berlari ke arah kamar mandi namun sayang usahanya gagal karena Arga mencegahnya masuk ke kamar mandi.
"Apa yang kau lakukan?" omel Sara.
"Seharusnya aku yang tanya begitu, ini piyamaku kenapa kau membawanya?"
Sara berdecak, "Aku harus ganti pakaian dan tidak mungkin jika memakai jubah mandi ini untuk tidur." ucap Sara mengingat jubah mandi sangatlah mudah dilepas, bisa bisa Arga melepasnya saat Ia sudah tidur nanti.
"Aku tidak masalah." kata Arga santai.
"Otakmu memang mesum!"
Arga tertawa, "Aku hanya memiliki satu piyama jika kau pakai lalu aku memakai apa?" protes Arga.
Sara berdecak, "Kalau begitu antar aku ke kamar." pinta Sara.
"Kau bilang berani kenapa sekarang takut?"
"Sudahlah jangan banyak protes, antarkan aku!" omel Sara.
Mau tak mau Arga mengantar Sara kembali ke kamar Sara untuk mengambil barang barang Sara yang ada disana.
"Ku bilang kita satu kamar tapi kau malah ngeyel!" omel Arga
Mata Sara melotot tak terima, "Salahmu karena menyewa kamar horor seperti ini!"
Arga berdecak tak mau disalahkan, "Jangan menyalahkan ku, yang mencari hotel Zil bukan aku."
Sara tak menjawab, Ia menyeret kopernya berjalan lebih dulu meninggalkan Arga.
"Seharusnya kau mengalah, tidur dikamar samping menggantikan aku agar kita tak harus sekamar!" ucap Sara sesampainya dikamar Arga.
"Memang kau pikir hanya kamar mu yang horor? Kamar ini pun juga horor." ucap Arga dan beberapa detik kemudian lampu kamar mati hingga membuat Sara menjerit karena terkejut.
Arga berdecak mencari stop kontak untuk menyalakan lampunya kembali. Arga berjalan sembarangan hingga Ia malah menabrak Sara dan tak sengaja menyentuh dada Sara.
"Dasar mesum kurang ajar!" omel Sara.
Arga berjalan menjauh dari Sara lalu mendapatkan stop kontaknya dan... lampu kembali menyala.
Arga tersenyum ke arah Sara yang menatapnya tajam.
__ADS_1
Sara kini bahkan menyilangkan kedua tangannya agar Arga tidak bisa menyentuhnya secara sembarangan lagi.
"Aku benar benar tidak sengaja, kenapa harus marah?" heran Arga lalu duduk di pinggir ranjang.
"Kau pikir aku tak tahu otak mesum mu itu!" omel Sara lagi lalu mengambil piyamanya dan masuk ke kamar mandi untuk ganti pakaian.
"Aku benar benar tidak sengaja tapi dia tak percaya." ucap Arga melihat tangannya yang baru saja menyentuh sesuatu yang kenyal. "Lumayan besar juga." gumam Arga lalu tersenyum tengil.
Sara keluar dari kamar mandi dan sudah mengenakan piyama. Ia menatap Arga sengit lalu mengambil bantal dan juga selimut, membawanya ke sofa.
"Apa kau akan tidur disana?" tanya Arga.
"Tentu saja, aku sudah tak percaya padamu lagi. Otakmu benar benar mesum!" omel Sara.
"Astaga, kau berlebihan sekali. Lagipula jika kita melakukan sesuatu juga tidak masalah karena sebentar lagi kita akan menikah." kata Arga santai lalu berbaring diranjangnya.
"Sangat luas dan empuk, apa kau yakin akan menyakiti badanmu disofa? Badanmu bisa pegal pegal." ucap Arga.
"Aku tidak peduli, jangan bicara padaku lagi." omel Sara lalu berbaring disofa dan mulai memejamkan matanya.
"Lagipula kita bisa melakukan disofa jika kau mau." celetuk Arga membuat Sara bangun lalu melempar Arga menggunakan bantal.
"Aku akan membunuhmu jika kau berani menyentuhku!" omel Sara.
"Uuhh aku sangat takut." ejek Arga lalu tertawa puas.
"Menyebalkan dan mesum!" batin Sara.
Sementara itu ...
Wira, Faris dan Vanes baru saja sampai dirumah setelah menikmati perjalanan selama 4 jam didalam mobil.
"Segera istirahat dikamar, Vanes pasti kelelahan." pinta Wira yang langsung diangguki Faris dan Vanes.
"Mau ku pijit?" tawar Faris.
Vanes menggelengkan kepalanya, "Bukankah kamu juga lelah mas?"
"Sedikit tapi aku masih sanggup untuk memijitmu." ucap Faris.
"Tidak mas, kita langsung tidur saja."
"Baiklah tapi ganti dulu bajunya dan juga cuci tangan cuci kaki."
__ADS_1
Vanes tertawa lalu mengangguk, menuruti ucapan Faris.
Di lantai bawah... Wira baru saja selesai memakai piyama. Ia keluar untuk mengambil air minum karena Ia harus minum obat.
"Saya bisa antarkan minuman ke kamar Tuan, kenapa harus repot keluar?" kata Bik Tri.
"Tidak masalah aku bisa mengambilnya sendiri."
Bik Tri menghela nafas panjang. Ia sedikit kesal karena Wira membedakan dirinya dan Bik Sri. Jika Bik Sri pasti diperbolehkan masuk ke kamar Wira namun dirinya yang sudah lama kerja dengan Wira belum sekalipun masuk ke kamar Wira saat Wira ada didalam kamar.
"Apa semua orang sudah pulang?" tanya Wira ingin memastikan.
"Non Rani sudah pulang tapi Non Sara belum pulang lagi malam ini."
Wira berdecak lalu mengambil ponselnya yang ada disaku celananya, Ia menghidupkan ponselnya yang sedari tadi Ia matikan selama perjalanan pulang.
Ada beberapa pesan salah satunya dari Sara yang mengatakan jika Ia tak pulang karena Arga mengajaknya pergi keluar negeri.
Wira tersenyum, Ia langsung paham kemana Arga mengajak Vanes pergi.
"Pasti ke makam Ibunya." gumam Wira.
"Tuan ingin dihangatkan makan malam?" tawar Bik Tri.
"Tidak, aku sudah makan malam. Kembalilah istirahat. Sudah larut." pinta Wira namun tak dituruti oleh Bik Tri.
Bik Tri malah ikut duduk, melihat Wira yang sedang meminum obatnya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Wira menatap Bik Tri sinis.
"Saya hanya ingin bertanya, Apa Tuan ingin menikahi Bik Sri?"
Wira mengangguk, "Ya aku berencana menikahinya, ada apa?"
"Sejujurnya saya juga sudah menjadi janda cukup lama Tuan dan sudah lama saya melihat Tuan tapi sekarang kenapa Tuan malah menikahi Bik Sri? Padahal jika dibandingkan Bik Sri, saya lebih muda dan cantik." ungkap Bik Tri penuh percaya diri.
"Ya jika kamu membandingkan Bik Sri denganmu memang Bik Sri akan kalah, kamu memang cantik dan masih muda." puji Wira yang langsung membuat Bik Tri tersenyum bangga.
"Tapi yang ku cari saat ini bukanlah tentang fisik. Mendiang istriku bahkan jauh lebih cantik darimu dan jika aku ingin wanita cantik, diluar sana ada banyak wanita cantik yang mau denganku tapi bukan itu yang ku cari." kata Wira yang langsung membuat Bik Tri menunduk menahan malu. "Aku mencari hati seseorang yang tulus mencintaiku yang tidak hanya mengincar hartaku, apa kau paham sekarang?"
Bik Tri mengangguk, "Maafkan Saya Tuan, maafkan saya bersalah." kata Bik Tri merasa malu sudah ditolak mentah mentah oleh Wira.
"Pergilah, aku sedang tidak ingin melihatmu."
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa like vote dan komen yaaa