
Tanpa protes, Vanes kembali masuk ke dalam untuk bersiap.
Selesai berganti pakaian dan memakai make up tipis, Vanes segera keluar karena Faris sudah menunggunya.
"Nanti kalau pulang larut malam, aku kunci gerbangnya dan jangan harap bisa masuk!" ucap Nani wanita bertubuh gemuk yang tadi membuka kan pintu untuk Faris.
Nani adalah penjaga sekaligus tukang bersih bersih dikosan yang Ia huni.
"Siap mbak, mau dibeliin apa mbak?" rayu Vanes seolah tahu jika Nani mudah dirayu apalagi kalau masalah makanan.
Nani tersenyum lebar, "Martabak manis toping coklat keju."
Vanes mengangguk, "Nanti bukain gerbangnya ya mbak, aku beliin deh."
"Ya sudah sana, ingat jangan macam macam sama cowok itu!" Nani tampak mengingatkan.
Vanes tersenyum lalu mengangguk dan segera keluar karena Faris sudah menunggu.
"Nggak pakai jaket?" tanya Faris melihat Vanes hanya mengenakan celana jeans panjang dan kaos lengan panjang.
"Nggak usahlah, kan udah pakai kaos panjang ini."
Faris berdecak, "Tapi nanti tetap kedinginan, ambil dulu aku tungguin." pinta Faris namun Vanes tetap kekeh tidak mau memakai jaket.
Faris akhirnya menyerah, Ia bukan tipe pria pemaksa jadi membiarkan Vanes melakukan apapun yang membuat wanita itu nyaman.
"Mau ngajakin kemana?" tanya Vanes saat sudah naik ke motor Faris.
"Nanti juga tahu."
Vanes memanyunkan bibirnya karena penasaran dan tak mendapatkan jawaban dari Faris hingga akhirnya Ia tahu jika Faris membawanya ke pasar malam.
"Wahh pasar malam." ucap Vanes terlihat senang.
"Suka ke pasar malam kan?" tanya Faris memastikan.
Vanes mengangguk, terakhir Ia ke pasar malam saat berusia 15 tahun, saat itu Mama nya masih ada dan setelah Mama nya meninggal, Vanes sama sekali belum pergi ke pasar malam lagi.
Faris tersenyum lega mengetahui Vanes juga senang pergi ke pasar malam. Saat Slamet mengatakan jika ada pasar malam, Faris langsung kepikiran ingin mengajak Vanes datang. Ia pikir bisa bersenang senang dengan Vanes disini.
Faris mengenggam tangan Vanes lalu mengajaknya masuk ke dalam.
"Aku mau masuk ke rumah hantu trus abis itu naik kadang burung." pinta Vanes.
__ADS_1
"Siap nyonya."
Faris segera membeli tiket untuk masuk ke rumah hantu.
"Bener nih nggak takut? Hantu disini serem serem lho nggak kayak dikota." kata Faris sebelum masuk ke rumah hantu.
Vanes berdecak, "Justru yang nakutin itu manusia apalagi kalau sampai dia selingkuh, bener bener nakutin."
Seketika tawa Faris membuncah mendengar ucapan Vanes.
Keduanya pun masuk kerumah hantu, baru beberapa langkah, Vanes sudah mengenggam erat lengan Faris.
"Bener nih nggak takut? Kalau takut bisa kok keluar sekarang. Belum jauh ini." kata Faris namun digelengi oleh Vanes.
"Jangan ngeremehin, aku berani kok."
Faris tersenyum geli, keduanya pun melajutkan perjalanan hingga bertemu dengan tuyul yang baru saja lewat didepan mereka. Bukannya takut, Vanes malah tertawa melihat anak kecil dengan kepala plotos itu.
Setelah melihat tuyul, Keduanya kembali melihat beberapa hantu, ada pocong, kuntilanak dan zombie. Vanes masih terlihat biasa, tidak nampak takut meskipun tangannya mengenggam erat lengan Faris. "Itu pintu keluar." ucap Faris saat pintu keluar sudah terlihat didepan mata membuat Vanes tersenyum lega mengingat perjalanan mereka dirumah hantu akan segera berakhir, namun tiba tiba Langkah kaki Vanes terhenti bersamaan dengan jeritan yang keluar dari mulutnya. Faris terkejut mendengar teriakan Vanes, Ia menatap wajah Vanes berubah sudah pucat.
"Ada apa?" Faris terlihat khawatir.
"Ba bawah..."
Faris melihat ke bawah dimana Ia kembali terkejut saat tahu ada suster ngesot yang memegangi kaki kanan Vanes.
"Nggak, nggak mau, kasihan. Dia kan manusia juga."
Faris berdecak kesal lalu Ia melepaskan tangan Suster ngesot yang memegangi kaki Vanes, "Lepas bang, cewek gue udah ketakutan." pinta Faris menatap kesal pada cosplayer suster ngesot yang masih tak mau melepaskan kaki Vanes padahal tahu jika Vanes sudah ketakutan.
Akhirnya Suster ngesot itu tersenyum lebar lalu melepaskan kaki Vanes.
Sedetik kemudian, Vanes sudah berlari keluar lebih dulu meninggalkan Faris yang masih didalam rumah hantu.
Faris hanya bisa menggelengkan kepalanya, melihat tingkah Vanes yang membuatnya geli itu.
"Katanya nggak takut?" cibir Faris melihat Vanes sudah berada diluar tengah mengatur nafas yang terengah.
"Aku nggak takut cuma kaget aja."
"Huh alasan." cibir Faris lalu kembali mengenggam erat tangan Vanes.
Faris membeli 2 botol minuman lalu diberikan pada Vanes yang kini duduk disalah satu bangku yang disediakan.
__ADS_1
"Minum dulu biar tenang abis itu kita naik kandang burung."
Vanes mengangguk, meneguk minuman yang sudah dibuka tutupnya oleh Faris.
Setelah terlihat tenang, Faris kembali membeli tiket untuk naik ke kandang burung dan keduanya pun segera masuk ke kadang burung.
"Wah pemandangannya bagus banget mas kalau malam gini." puji Vanes saat kandang burung yang ditumpangi keduanya sudah sampai diatas.
Faris tersenyum, memberanikan diri lebih dekat dan merangkul bahu Vanes.
Menyadari itu, Vanes menatap Faris hingga tatapan keduanya beradu.
Seolah kembali mengulang adegan beberapa waktu yang lalu, Vanes mendekatkan wajahnya hingga bibir Vanes menempel di bibir Faris.
Vanes menunggu Faris ******* bibirnya namun pria itu tak kunjung melakukannya hingga membuat Vanes kesal dan memalingkan wajahnya.
Faris tersenyum geli, Bukan Ia tak mau melakukanny, jika boleh jujur Faris sendiri pun merasa tak tahan jika sedang berdekatan dengan Vanes namun Faris masih mencoba menahan diri karena Ia tak mau melakukan sesuatu yang membuat mereka menyesal nantinya.
Semua ada waktunya, itulah yang selalu dipikirkan oleh Faris hingga Ia bisa menahan diri sejauh ini.
Setelah waktu habis, keduanya keluar dari kandang ayam. Vanes yang masih kesal tampak berjalan mendahului Faris.
"Aku ingin pulang." pinta Vanes dengan nada marah.
Vanes merasa malu karena mendapat penolakan dari Faris.
"Jangan marah." pinta Faris sambil mengenggam tangan Vanes.
Vanes masih memalingkan wajahnya, enggan menatap Faris.
"Rasanya aku ingin melakukan banyak hal bersamamu tapi aku sadar aku tidak boleh melampaui batas." ucap Faris namun Vanes masih tidak bergeming.
"Akan terasa indah jika kita melakukan saat sudah waktunya, percayalah." ucap Faris lagi.
Vanes masih diam, masih tak mau menatap wajah Faris.
"Apa kau sangat marah hingga mengacuhkan aku?"
Vanes berdecak lalu memukuli dada Faris, "Aku malu karena merasa aku ini gatal sekali hingga mencium mu padahal kau sama sekali tidak merespon!"
Faris tertawa lalu membawa Vanes ke dalam pelukannya, "Maafkan aku, nanti jika sudah waktunya, aku yang akan melakukannya lebih dulu."
Vanes tersenyum lalu ikut memeluk erat Faris, beruntung mereka berada jauh dari keramaian jadi tidak ada yang melihat dan menganggu romantisme mereka berdua saat ini.
__ADS_1
Bersambung...
Jan lupa like vote dan komenn yaaa