
Pak Kades mengepalkan tangannya setelah mendengar ucapan dari Dokter yang baru saja memeriksa Ani.
Ia tak memperdulikan tatapan orang orang dan malah menatap Dokter itu dengan kesal.
"Seharusnya kau tak mengatakan itu disini!" sentak Pak Kades.
Dokter itu menatap Pak Kades bingung, "Apa masalahnya? saya hanya mengatakan yang sejujurnya."
"Jika ada janin berarti Neng Ani hamil?" tanya salah satu pria memberanikan diri karena penasaran.
"Ya, Pasien hamil muda jadi perlu banyak istirahat dan menjaga pola makan."
Semua orang kembali menatap Pak Kades dengan tatapan terkejut dan tak menyangka.
"Sudah puas kalian mempermalukan aku?" tanya Pak Kades dengan tatapan kesal.
"Tidak ada yang mempermalukan Bapak, kami hanya bertanya tentang kebenaran." ucap Salah satu warga.
Dokter yang baru saja memeriksa Ani pun segera pergi karena tak mengerti arah pembicaraan Pak Kades dan warganya.
"Jika Neng Ani hamil apakah dia juga akan di usir seperti putri saya waktu itu?" tanya salah satu warga yang memiliki putri seumuran dengan Ani.
"Apa kau ingin balas dendam?" tanya Pak Kades sinis menatap Imah, wanita paruh baya salah satu warga dikampungnya.
"Saya tidak balas dendam, saya hanya ingin Pak Kades memperlakukan hukum dikampung kita dengan adil.
Jika dulu putri saya di adili dan diusir dari kampung apakah putri Bapak juga agar mengalami hal yang sama?" tanya Imah.
"Ya benar kata Bu Imah, Pak Kades yang membuat peraturan itu seharusnya Pak Kades memberlakukan aturan itu dengan adil." protes warga lainnya.
Pak Kades terdiam, inilah yang Ia takutkan jika warganya tahu tentang kehamilan Ani. Orang orang yang pernah Ia adili pasti akan membalasnya.
Waktu itu Pak Kades membuat peraturan untuk warganya, siapapun yang hamil diluar nikah harus dipermalukan didepan umum dan di usir dari kampungnya.
Pak Kades sangat percaya diri membuat peraturan seperti itu karena Ia yakin Ani putri satu satunya tidak akan membuatnya malu namun ternyata... Ani juga melakukan hal yang sama seperti para gadis lainnya.
Itu salah satu alasan Pak Kades ingin cepat menikahkan Ani dengan Faris karena Pak Kades tidak mau semua orang tahu namun ternyata, semua tidak sesuai dengan harapan Pak Kades.
Kelima warga yang ada disini tidak mungkin diam saja, mereka pasti akan memberitahukan warga yang lain.
"Apa kalian butuh uang?" tanya Pak Kades.
__ADS_1
"Tidak, kami tidak mau disogok!" sentak Imah dengan mata memerah marah.
"Sialan, jadi kalian akan mempermalukan putriku?"
"Tentu saja, seperti anda yang pernah mempermalukan putri saya!" ucap Imah dengan tegas yang langsung diangguki keempat warga lainnya.
Kelima warga itu akhirnya pergi dari klinik, mereka ingin segera memberitahu warga yang lain tentang kehamilan Ani.
Dan tak butuh waktu lama, dalam semalam berita itu menyebar hingga sampai dikampung tetangga.
Pagi pagi sekali pintu rumah Faris digedor oleh seseorang.
Asih yang tengah memasak didapur pun segera membuka pintu dan ternyata itu Imah, tetangga yang mengantar Ani ke klinik kemarin petang.
"Mbak, aku kesini bawa berita." ucap Imah.
"Berita apa?" tanya Asih mengerutkan keningnya heran karena sepagi ini sudah ada yang mengajaknya bergosip.
"Ani anak Pak kades ternyata hamil."
Asih tidak terkejut sama sekali karena Ia sudah tahu sejak awal.
"Ohh, cuma itu beritanya."
"Itu urusan orang mbak, saya nggak mau ikut ikutan." kata Asih dengan sopan.
Imah menghela nafas panjang, "Dulu waktu putri saya dipermalukan satu kampung cuma Mbak Asih yang mau dekat sama saya dan masih baik sama saya. Mbak Asih bilang Allah tidak tidur, pasti akan membalas orang dzalim dan sekarang saya percaya itu mbak." ucap Imah dengan mata memerah menahan tangis.
Asih tersenyum, "Allah mencintai orang yang mampu bersabar mbak, mungkin Mbak Imah termasuk orang bersabar jadi Allah balaskan rasa sakit Mbak Imah."
Imah mengangguk lalu memeluk wanita paruh baya yang sangat bijaksana itu.
"Setelah ini Pak Kades dan Bu Kades akan merasakan bagaimana rasanya dipermalukan oleh orang sekampung." ucap Imah.
Asih mengangguk lalu tersenyum, dalam hatinya Ia sangat bersyukur karena putranya diselamatkan dari fitnah yang kejam.
Asih tidak bisa membayangkan jika saja putranya tetap menikah dengan Ani mungkin kehidupan putranya tidak akan bahagia.
Setelah Imah pulang, Asih kembali ke dapur untuk melanjutkan memasak.
"Siapa yang datang Bu?" tanya Slamet yang kini duduk didekat Asih yang tengah mengulek bumbu.
__ADS_1
"Imah, dia bilang kalau Ani hamil. Ibu rasa orang kampung sudah tahu pak."
Slamet sedikit terkejut, "Kok bisa mereka tahu? Kita nggak cerita sama siapapun, Faris juga." ucap Slamet merasa penasaran.
"Ibu nggak tahu pak, nanti paling kalau kita ke ladang orang orang juga bakal cerita."
Slamet mengangguk setuju, "Iya mungkin Bu."
"Lagi pada ngomongin apa sih? Serius banget." celetuk Faris yang baru saja selesai mandi.
"Ini kata Ibu orang orang sudah tahu kalau si Ani hamil. Apa kamu ngasih tahu ke orang tentang masalah itu?" tanya Slamet.
Faris pun ikut terkejut karena merasa tidak memberitahu siapapun.
"Enggak Pak, Faris mana ada waktu buat cerita."
"Sudahlah masih pagi jangan dibahas lagi. Kita harus banyak bersyukur karena kita tahu lebih awal dan Faris tidak harus bertanggung jawab atas kesalahan orang lain." ucap Asih yang langsung diangguki Faris dan Slamet.
Setelah sarapan bersama, Faris segera berangkat ke kampus namun baru saja keluar, Faris dikejutkan oleh beberapa warga yang mendatangi rumahnya.
"Faris! Mau kemana kamu!" sentak salah satu warga dengan tatapan marah.
Faris menatap heran ke arah semua warga yang kini mengelilingi dirinya.
"Saya mau berangkat ngajar pak, ada apa ini?" tanya Faris masih terlihat bingung.
"Ikut kami, dasar laki laki nggak bertanggung jawab!" sentak warga lainnya.
Beberapa warga mencekal kedua tangan Faris lalu menyeretnya pergi.
Slamet dan Asih yang mendengar keributan diluar pun terkejut saat melihat putra mereka diseret seperti orang yang bersalah.
"Ada apa ini, ada apa?" teriak Slamet menghentikan para warga.
"Nah ini juga orangtuanya kita bawa saja karena tak bisa mendidik anak dengan baik!"
Faris, Asih dan Slamet pun akhirnya dibawa ke gedung kelurahan dimana ada Pak Kades dan beberapa polisi juga warga sekampung yang memenuhi halaman kampung.
Faris sudah bisa menebak jika ini adalah jebakan yang diberikan oleh Pak Kades namun Ia mencoba tenang dan tidak gegabah agar bisa menang melawan Pak Kades.
Pak Kades menunjuk ke arah Faris, "Dia yang sudah memperkosa putri saya hingga hamil!"
__ADS_1
Bersambung...
Jan lupa like vote dan komen yaaa