
Sudah hampir sebulan Sara tidak melihat Ken. Entah Ken dipecat atau mengundurkan diri, Sara tidak tahu. Terakhir Ia bersama Ken saat perjalanan pulang dari kampung halaman Faris dan setelah itu Ia tidak lagi melihat Ken.
Sara ingin bertanya pada Pamannya namun gengsinya lebih tinggi dan Ia tidak mau pamannya mengetahui hubungan antara dirinya dan Ken.
Sara turun untuk sarapan dimana Wira juga sudah berada dimeja makan sedang sarapan. Akhir akhir ini Sara melunak, mau menemani Wira makan bersama.
"Kau akan ke kantor sepagi ini?" tanya Wira pada Sara yang sudah rapi dengan setelannya siap pergi ke kantor.
Sudah 3 minggu ini Sara bekerja dikantor Wira. Ia menjadi manager disana.
"Ya, aku tidak mau orang orang memandangku sinis jika berangkat sesukaku hanya karena aku ini keponakan pemilik perusahaan." ucap Sara lalu mulai mengunyah rotinya.
Wira tertawa, "Tidak perlu memikirkan pandangan orang lain."
"Paman bisa bilang begitu karena Paman bos tapi aku berbeda, aku tidak mau dipandang remeh oleh orang lain."
Wira masih tertawa, "Baiklah baiklah, lakukan apapun yang membuatmu senang." ucap Wira.
Senyum Wira mendadak luntur saat Ia merasakan dadanya sesak. Wira segera memanggil Bik Sri.
"Ambilkan obatku yang ada dikamar." pinta Wira pada Bik Sri.
"Baik Tuan."
Bik Sri segera bergegas ke kamar Wira untuk mengambil obat yang diperlukan oleh Wira.
"Silahkan Tuan." Bik Sri menyodorkan botol kecil berisi obat tak lupa membawakan segelas air putih.
Wira segera menelan obatnya lalu meneguk habis segelas air putihnya.
"Aku baik baik saja." ucap Wira saat Sara memandang ke arahnya sedari tadi seolah ingin tahu apa yang terjadi pada Wira namun enggan untuk menanyakan.
"Mau ke dokter?" tawar Sara.
"Tidak perlu, hanya minum obat dan semua akan baik baik saja." kata Wira merasa senang karena akhirnya Sara sedikit memperhatikan dirinya.
"Istirahat saja dirumah, jangan ke kantor."
"Jika kau mau menggantikan aku sebagai pemilik perusahaan, aku akan pensiun." pinta Wira yang dengan cepat digelengi oleh Sara.
"Aku belum mampu, kenapa Paman tidak meminta menantu Paman saja untuk menjadi pengganti?" Heran Sara.
"Dia tidak mau dan aku juga tidak bisa memaksanya."
__ADS_1
Sara menghela nafas panjang lalu segera beranjak dari duduknya. "Aku berangkat dulu." ucap Sara lalu pergi meninggalkan Wira.
Sara memasuki mobilnya, Ia masih memikirkan penyakit apa yang diderita pamannya saat ini. Sara ingin banyak bertanya namun entahlah, Ia tidak ingin dikatakan perhatian dengan Pamannya itu tetapi jika tidak bertanya, Sara penasaran sendiri.
"Ck, sial!" decak Sara.
Jika saja Ken masih disini, mungkin Sara bisa mendapatkan informasi dari Ken namun Ken saja menghilang entah kemana, membuat Sara tidak tahu harus bertanya pada siapa.
"Kemana juga pria itu pergi! Bisa bisanya dia pergi meninggalkan ku setelah menikmati tubuhku." umpat Sara segera melajukan mobilnya keluar dari istana Wira.
Hampir seharian ini Sara tidak fokus bekerja hanya karena memikirkan sakit apa yang diderita oleh Wira.
Meskipun Ia selalu bersikap dingin pada Wira namun dalam hatinya, Sara tak mau jika sampai terjadi sesuatu pada Wira.
Hanya Wira yang peduli dengan Sara setelah orangtua Sara meninggal. Wira bahkan tidak peduli dengan masa lalu mereka yang saling bermusuhan, Wira tetap menganggap Sara sebagai putrinya.
"Sial, kemana aku harus bertanya? Apa sebaiknya aku hubungi Vanes saja?" gumam Sara lalu segera menggelengkan kepalanya, "Tidak, Vanes pasti juga tidak tahu."
Sara masih berpikir hingga Ia merasa buntu tak bisa berpikir lagi.
Jam pulang tiba, Sara bergegas untuk pulang. Ia melajukan mobilnya agar cepat sampai rumah. Melihat Wira tak datang ke kantor saat ini, Sara sedikit khawatir sudah terjadi sesuatu pada Wira.
"Jalannya macet, benar benar menyebalkan!" omel Sara saat Ia terjebak dalam jalan yang macet parah.
Saat melihat ke arah luar, dimana ada club tempat hiburan malam yang sering Ia datangi. Sara menyunggingkan senyum mengingat sudah hampir sebulan Ia tidak pergi kesana. Setelah Ken menghilang, Sara memang tidak lagi datang ke club karena Ia merasa tidak ada yang menjaganya dan lagi Ia takut jika sampai dilecehkan orang.
Setelah hampir 30 menit terjebak macet akhirnya kini Sara sampai di istana Wira.
Keadaan istana cukup sepi, hanya ada beberapa anak buah Wira yang berjaga disekitar sana.
Sara memasuki rumah megah Wira dan langsung disambut oleh Bik Sri.
Melihat Bik Sri, Sara jadi memiliki ide untuk bertanya pada Bik Sri tentang penyakit Wira mengingat Bik Sri lah yang pagi tadi mengambil obat untuk Wira.
"Nona mau disiapkan makan malam?" tanya Bik Sri dengan ramah.
"Ikut aku sebentar!" Sara mengajak Bik Sri ke taman belakang.
"Ada apa Non?"
"Jangan bilang pada siapapun termasuk pada Paman. Aku mau tanya, hari ini paman nggak pergi ke kantor, Apa paman masih sakit?"
Bik Sri mengangguk, "Tuan istirahat dirumah seharian ini Nona."
__ADS_1
"Apa kau tahu paman sakit apa?"
Bik Sri menggelengkan kepalanya namun Sara tampak ragu, melihat raut wajah Bik Sri, pastilah Bik Sri tahu apa yang terjadi pada pamannya itu.
"Jangan bohong!" kata Sara sedikit menyentak.
"Maaf Nona, tapi Tuan melarang saya memberitahukan ini pada siapapun." kata Bik Sri dengan raut wajah takut.
Sara berdecak, "Katakan sebenarnya paman sakit apa?"
"Anu Nona, sebenarnya Tuan sakit... Lemah jantung."
Deg... Sara terkejut dan degup jantungnya berdetak cepat mendengar Bik Sri mengatakan itu. Orang yang memiliki penyakit lemah jantung biasanya akan mengalami meninggal mendadak.
Seketika Sara menggelengkan kepalanya, "Jangan... Jangan lagi." batin Sara.
"Nona pura pura tidak tahu saja, jangan tanyakan apapun pada Tuan." Bik Sri terlihat cemas.
"Aku tidak akan melakukan itu." ucap Sara lalu memasuki rumah.
Sara pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri dan bersiap makan malam bersama.
Sara turun ke bawah, melihat Wira sudah duduk dimeja makan, menunggu dirinya.
Sara bisa melihat raut pucat Wira, Ia benar benar khawatir setelah mengetahui penyakit Wira.
Sara merasa sudah mulai nyaman berada disini dan menganggap Wira pengganti Papanya, kini Ia takut jika sewaktu waktu Wira...
Ah tidak, hentikan pikiran kotormu itu Sara! omel Sara dalam hati.
"Apa yang kau pikirkan Sara?" tanya Wira membuyarkan lamunan Sara.
"Tidak ada!!" balas Sara ketus lalu mulai menyuapkan nasi ke mulutnya.
Wira hanya tersenyum dan mulai menikmati makanannya hingga seseorang dari luar berjalan mendekati Wira dan Sara.
"Akhirnya kau datang juga." ucap Wira membuat Sara mendongak untuk melihat siapa yang datang.
Seketika Sara menjatuhkan sendoknya, Ia terkejut saat melihat siapa yang berdiri disamping pamannya itu.
Bersambung...
Jan lupa like vote dan komen...
__ADS_1