
Herman dan Asih baru saja sampai dirumah sakit. Tadinya Asih meminta Herman agar tak ikut masuk karena jujur Asih merasa malu dengan Rani jika Ia datang bersama Herman namun karena Herman memaksa ikut masuk, Asih tak memiliki pilihan lain selain membiarkan Herman ikut masuk bersamanya.
"Maaf ya Bu merepotkan." ucap Dylan yang sudah rapi, bersiap pergi ke kantor, sesekali Dylan melirik ke arah Herman yang ikut datang bersama Asih.
"Tidak masalah, jangan sungkan. Kamu bekerja saja dengan tenang, Rani pasti aman bersamaku." kata Asih yang membuat Dylan lega.
Setelah mencium punggung tangan Asih dan Herman, Dylan segera pergi ke kantor.
Kini tinggalah Asih, Rani dan Herman yang ada diruangan itu.
"Tadi mau mandi tapi nggak ada baju ganti." cerita Rani.
"Budhe sudah bawakan baju ganti bersih, sekarang ayo Budhe bantuin mandi." tawar Asih yang langsung diangguki oleh Rani.
"Aku jalan jalan keluar dulu kalau begitu Dik." ucap Herman merasa tak enak ikut berada diruangan.
Asih tak menjawab hanya mengangguk.
Setelah Herman keluar, Asih segera membantu Rani untuk mandi.
"Sepertinya Pak Herman tulus mencintai Budhe." ucap Rani.
Asih tersenyum, "Apa kamu juga mendukung Budhe sama Pak Herman?"
Rani langsung mengangguk, "Di masa tua, Budhe juga butuh teman dan sepertinya Pak Herman cocok."
"Budhe juga masih belum tahu,"
"Tapi Budhe sudah mulai suka kan sama Pak Herman?"
Seketika Asih dibuat salah tingkah dengan pertanyaan Rani.
"Belum tahu Rani."
Rani tersenyum geli, ini pertama kalinya Ia tersenyum setelah beberapa hari hanya menangis dan sama sekali tidak bisa tersenyum.
"Keliatannya Budhe juga suka tuh." celetuk Rani.
"Kenapa kamu ngomong gitu?" tanya Asih sambil membantu Rani memakai bajunya.
"Budhe suka salah tingkah kalau ngomongin Pak Herman."
Asih berdecak, "Enggak seperti itu, Budhe hanya..."
"Hanya suka kan?" goda Rani yang kini sudah bersih dan wangi, siap kembali berbaring diranjangnya.
"Sudahlah jangan dibahas lagi." ucap Asih yang kembali merasa malu.
"Ketahuan kalau Budhe juga naksir sama Pak Herman."
"Jangan bilang gitu Rani, nanti kalau Bapak kamu tahu, Budhe jadi nggak enak."
Rani berdecak, "Kenapa harus ngerasa nggak enak. Bapak pasti bisa mengerti kalau Budhe mau nikah lagi." balas Rani mengingat Slamet adalah Kakak dari Bapaknya Rani.
"Ya tetap saja, Budhe nggak mau nyari pengganti Pakde kamu secepat itu."
__ADS_1
Rani menatap Asih, "Artinya Budhe mau menolak lamaran Pak Herman?"
Asih terdiam cukup lama sebelum akhirnya Ia menjawab, "Budhe juga masih belum tahu."
Rani tersenyum, "Kalau jawaban Budhe kayak gitu artinya masih ada harapan Budhe bisa menerima Pak Herman."
Asih hanya tersenyum karena Ia tak ingin lagi berdebat dengan keponakannya.
Siang harinya, Herman kembali masuk ke ruangan Rani dengan membawa banyak makanan.
"Makan siang dulu dik." ucap Herman mengeluarkan semua makanan yang Ia beli.
"Malah merepotkan." Asih terlihat sungkan.
"Sama sekali tidak repot, sudah segera dimakan." pinta Herman membuka sebungkus nasi padang lalu Ia sodorkan ke arah Asih.
"Mas nggak makan?"
"Ni juga mau makan biar makan bareng." ucap Herman membuka bungkus nasi padang untuk dirinya sendiri.
Diranjang tampak Rani pura pura tidur agar tidak menganggu romantisme Herman dan Asih.
"Rani sudah makan siang?" tanya Herman disela sela kunyahannya.
"Sudah kok Mas, tadi makan nasi rumah sakit."
Herman mengangguk.
"Tadi Mas pulang?" tanya Asih penasaran karena Herman berada diluar cukup lama.
Asih cukup terkejut karena tadinya Ia berpikir Herman pulang namun ternyata masih dirumah sakit.
"Nunggu diluar? Kenapa nggak masuk saja mas."
Herman tersenyum, "Takut ganggu kamu sama Rani."
"Kalau gitu harusnya Mas pulang saja tadi."
Herman menatap Asih, "Kamu ngusir aku?"
Asih tersenyum lalu menggelengkan kepalanya, "Enggak, bukan begitu mas."
"Aku juga nggak akan pulang meskipun kamu usir karena aku mau menunggu kamu pulang baru aku pulang." kata Herman.
"Tapi mas, aku pulangnya masih nanti malam kalau Dylan sudah kesini."
Herman tersenyum, "Nggak apa apa, tetap aku tungguin."
Asih menghela nafas panjang, Ia tak bisa menolak keinginan Herman dan membiarkan Herman melakukan apapun yang Herman ingin lakukan.
Selesai makan siang Herman kembali keluar dari ruangan Rani. Ia ingin membeli kopi dan merokok diluar.
"Kamu sudah bangun?" tanya Asih melihat Rani sudah bangun dan langsung tersenyum menggoda ke arahnya.
"Tadi Rani nggak tidur kok Budhe, cuma pura pura tidur biar nggak ganggu Budhe sama Pak Herman." akui Rani sambil tertawa.
__ADS_1
"Dasar anak nakal." Asih ikut tersenyum mendengar pengakuan Rani.
"Udah diterima saja Budhe."
Asih tersenyum, "Anak kecil nggak boleh ikut ikutan."
Rani tertawa, "Siap Budhe, yang penting Pak Herman diterima."
Asih kembali tersenyum, "Minggu depan acara resepsi Pak Wira. Kamu harus lekas sembuh."
Rani mengangguk, "Budhe masih lama kan tinggal disini?"
"Ya mungkin setelah resepsi Sara sama Arga, Budhe bisa pulang."
"Nanti kalau Budhe pulang kasihan Pak Herman kesepian." goda Rani.
Asih hanya tersenyum.
Pukul 7 malam, Dylan datang membawa buah untuk Rani.
"Harusnya kamu tidur dirumah saja tidak apa apa." kata Asih merasa kasihan dengan Dylan apalagi setelah mendengar Rani menceritakan tentang Ibu Dylan yang lumpuh membuat Asih tak tega dengan keadaan Dylan.
"Nggak apa apa Bu, Meskipun Rani belum menjadi istri saya tapi saya sudah berjanji akan menjaga Rani dengan baik. Ini semua kesalahan saya jadi saya akan bertanggung jawab sampai akhir." kata Dylan.
Asih tersenyum lalu menepuk bahu Dylan, "Jika kamu mencintai Rani, jangan pernah lelah untuk memperjuangkan Rani." ucap Asih yang langsung diangguki oleh Dylan.
Asih bersiap untuk pulang, tak lupa berpamitan dengan Rani yang masih belum tidur.
"Mau pulang sekarang?'' tanya Herman yang menunggunya diluar.
Asih mengangguk,
"Jalan jalan malam dulu mau nggak?" tawar Herman.
Asih terdiam, memikirkan tawaran Herman. Sejujurnya Ia ingin menolak tawaran Herman namun mengingat seharian ini Herman sudah menemaninya, Asih merasa sungkan jika harus menolak Herman.
Asih akhirnya mengangguk setuju membuat bibir Herman menyunggingkan senyuman lebar.
"Kita makan nasi goreng di pinggir jalan sana gimana dik?" tawar Herman lagi sambil menunjuk ke arah gerobak penjual nasi goreng.
Asih kembali mengangguk.
Herman menghentikan mobilnya didepan penjual nasi goreng. Ia segera mengajak Asih turun.
Setelah memesan, Herman dan Asih mencari tempat duduk lesehan.
Baru saja duduk, keduanya mendengar suara yang familiar dari samping.
"Eh ada Papa sama Bu Asih."
Keduanya berbalik melihat ke arah suara dan seketika Herman mengumpat saat mengetahui pemilik suara itu adalah putranya sendiri.
Arga.
Bersambung..
__ADS_1
jan lupa like vote dan komen yaaa