
Faris ingin menarik masker pria dan melihat siapa sebenarnya pria yang menyerangnya itu namun sayangnya pria itu berhasil kabur sebelum Faris tahu siapa dia.
Faris meringgis merasakan perutnya sakit karena pukulan pria itu.
Faris akhirnya memutuskan untuk istirahat sejenak dipinggir jalan hingga sakitnya sedikit reda, barulah Faris melanjutkan perjalanannya.
"Dia terlihat tak asing." batin Faris sepanjang perjalanan mencoba menebak namun Ia sama sekali tidak mendapatkan jawaban.
Sementara itu, Ken menghentikan motornya digarasi rumah Wira. Salah satu rekannya langsung menghampiri Ken.
"Kau dipanggil Tuan." ucapnya yang langsung diangguki oleh Ken.
Dengan langkah tertatih karena merasakan sakit dibawah sana, Ken berjalan menuju ruangan Wira dimana pria itu tengah libur tidak ke kantor dan sedang duduk dikursinya.
"Kau dari mana?" tanya Wira yang langsung membuat Ken gugup.
"Maafkan saya Tuan, saya baru saja keluar membeli rokok." ucap Ken memperlihatkan rokoknya yang masih bersegel, baru saja Ia beli.
"Ck, kenapa tidak menyuruh orang lain saja." decak Wira.
Ken memaksakan senyum, "Tidak Tuan, saya ingin mencari udara segar diluar. Apa ada yang bisa saya kerjakan Tuan?" tanya Ken.
"Apa kau masih ingat Sara?"
Ken tampak mengingat sebelum akhirnya Ia menjawab, "Keponakan Tuan yang tinggal diluar negeri?"
Wira mengangguk, "Orangtuanya meninggal seminggu karena dibunuh tapi aku tidak bisa hadir kesana."
"Saya mengerti Tuan, sangat bahaya jika Tuan kesana karena disana banyak musuh yang mungkin akan mengincar nyawa Tuan." kata Ken mengingat Adik Wira adalah seorang mafia yang bermasalah diluar negeri.
"Sara, keponakanku tidak bisa tinggal disana jadi aku memintanya untuk kesini, aku ingin dia tinggal disini." ucap Wira.
Ken mengangguk mengerti, "Tuan ingin saya menjemputnya?"
"Ya, aku ingin kau menjemputnya dibandara." kata Wira lalu melihat ke arah jam tangannya, "Mungkin Ia akan sampai disini pukul 7 malam."
"Baiklah Tuan, saya akan ke bandara pukul 6 petang."
Wira mengangguk setuju, "Ngomong ngomong apa kau sedang sakit?"
Ken langsung menggelengkan kepalanya, terlihat sedikit panik. "Tidak Tuan.''
__ADS_1
"Ku pikir kau sakit karena wajahmu terlihat menahan sakit."
"Tidak Tuan saya baik baik saja." ucap Ken kembali memaksakan senyum padahal Ia menahan nyeri yang tak kunjung reda.
"Kau tahu, aku sedang bahagia hari ini." ungkap Wira tersenyum lebar.
Raut wajah Ken berubah kesal, Ia bisa menebak jika Wira bahagia karena kedatangan Faris kekasih dari Vanes.
"Apa karena kekasih Nona?" tebak Ken.
Wira langsung mengangguk, "Aku tidak menyangka setelah penderitaan yang dialami oleh putriku, dia akhirnya bisa mendapatkan pria yang baik."
"Apa Tuan benar benar sudah yakin jika pria itu baik untuk Nona?"
Wira mengangguk, "Tentu saja, kita bisa melihat ketulusan seseorang dari sorot matanya," ucap Wira yang seketika membuat Ken memalingkan matanya, tak ingin dilihat oleh Wira. "Sorot matanya sangat teduh, sama sepertimu, kau juga begitu tulus melayaniku, itulah sebabnya aku percayakan segalanya padamu."
Deg... jantung Ken terasa dikoyak saat mendengar ucapan Wira.
Ia tak menyangka Wira begitu mempercayainya padahal baru saja Ken melakukan perbuatan yang mungkin tidak akan disukai oleh Wira.
"Saya tidak sebaik itu Tuan." ucap Ken lalu menundukan kepalanya.
Wira tersenyum, "Kau baik, kau sangat baik."
Pria yang mengenakan masker yang baru saja menghajar Faris adalah dirinya.
Ken memang belum tahu tujuan Faris datang menemui Wira jadi Ia mengikuti Faris saat perjalanan pulang. Ken melihat Faris memasuki toko perhiasan dan membeli cincin disana yang langsung ditebak oleh Ken jika Faris ingin melamar Nona, gadis yang sudah lama Ia sukai itu.
Ken tak terima, seharusnya kejandaan Vanes bisa menjadi kesempatan dirinya untuk mendekati Vanes namun Karena Faris, Ia gagal memiliki Vanes.
Setelah melihat Faris keluar dari toko, Ken berencana menghajar pria itu namun sayangnya ternyata Faris diluar dugaan. Faris pandai menangkis pukulannya dan malah menyerang adik kecilnya dibawah sana yang menimbulkan rasa nyeri hingga saat ini.
"Istirahatlah, kau terlihat kesakitan." ucap Wira membuyarkan lamunan Ken.
Ken akhirnya keluar dari ruangan Wira dan pergi ke kamarnya.
"Sial, rasanya sakit sekali, bagaimana jika dia sampai tidak bangun." omel Ken lalu mengambil ponselnya untuk melihat video porno. Ken hanya ingin tahu apakah Adiknya masih berfungsi dengan baik atau tidak.
Ken tersenyum lebar saat melihat adik kesayanganya itu bangun setelah Ia melihat Video porno.
"Kau masa depanku, kau harus baik baik saja." gumam Ken lalu meletakan ponselnya. Ia harus istirahat sekarang agar nanti malam bisa menjemput keponakan Tuannya itu.
__ADS_1
Pukul 6 petang, Ken sudah bersiap pergi ke bandara. Ia memasuki bandara, membawa kertas besar yang bertuliskan nama Sara agar keponakan Tuannya itu tahu jika dirinya dijemput karena Ken juga belum pernah melihat wajah keponakan Tuannya itu.
Tepat pukul 7, rombongan pesawat baru saja tiba, Ken langsung merentangkan tanganya setinggi mungkin agar kertas yang Ia bawa dilihat oleh Sara.
Tak berapa lama, seorang gadis cantik memakai dress seksi tampak menghampiri Ken.
"Kau menjemputku?" tanya Gadis itu.
Ken malah diam menatap Gadis itu beberapa saat, Ia terlihat terpesona dengan Gadis yang kini berdiri didepannya itu.
"Hey, bodoh! Kau menjemputku atau tidak!" omelnya sedikit berteriak membuat Ken terkejut dan akhirnya sadar.
"Nona Sara? Keponakan tuan Wira?" tanya Ken memastikan.
Gadis bernama Sara itu memutar bola matanya malas, "Ya, dimana mobilnya?"
Dengan cepat, Ken membawakan koper yang sedari tadi diseret oleh Sara. Ken meminta Sara mengikuti dirinya hingga sampai di parkiran mobil.
Setelah membukakan pintu untuk Sara, Ken pun ikut masuk dan melajukan mobilnya menuju istana Wira.
Selama perjalanan, tanpa Sara sadari, Ken beberapa kali melihat ke spion untuk melihat Sara diam diam.
Sampai di istana Wira, Sara langsung disambut hangat oleh Wira.
"Kau terlihat dewasa sekarang." ucap Wira ingin memeluk keponakannya namun langsung ditolak oleh Sara.
"Aku sudah dewasa dan Paman pria dewasa, aku tidak mau membuat milik Paman bangun." ucap Sara yang membuat Wira terkejut.
"Apa yang kau katakan itu, aku ini pamanmu."
Sara tak menjawab, hanya tersenyum tipis, "Dimana kamarku, aku ingin mandi dan pergi keluar."
"Kemana kau ingin pergi?" tanya Wira, "Kau baru sampai, seharusnya kau makan malam dan istirahat."
"Tidak mau, aku ingin pergi ke club." ucap Sara lalu memasuki kamar yang sudah ditunjuk oleh Wira.
Wira menggelengkan kepalanya, "Sial, dia sangat liar." guman Wira.
"Ken..." panggil Wira dan segera Wira mendekat, "Mulai sekarang tugasmu mengawasi dan menjaga Sara."
Ken tersenyum lebar, "Baiklah Tuan."
__ADS_1
Bersambung...