TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
229


__ADS_3

Rani meletakan tespack dimeja dengan jari tangan bergetar, melihat hal itu, Dylan segera mengenggam tangan Rani seolah tahu ketakutan yang dirasakan Rani saat ini.


"Kamu hamil sayang?" tanya Dylan sekali lagi saat Rani masih belum menjawabnya.


Rani mengangguk, "Sekarang bagaimana?" tanya Rani mulai menangis.


Melihat Rani menangis, Dylan membawa Rani ke dalam pelukannya, "Tentu saja kita akan segera menikah."


"Bagaimana bisa? Lalu Ibuku?"


"Kita akan pulang, mengatakan yang sejujurnya dan meminta restu sekali lagi." ucap Dylan membuat tangis Rani semakin pecah.


"Bagaimana jika Ibu masih tak merestui?" tanya Rani dengan suara sesenggukan.


"Tidak sayang, Ibu pasti merestui. Kita sudah seperti ini tidak mungkin jika Ibu masih tak merestui." kata Dylan dengan santainya.


"Apa mungkin kau sengaja?" tanya Rani menatap Dylan curiga.


"Sengaja bagaimana?" Dylan pura pura tak mengerti.


"Sengaja membuatku hamil agar kita bisa menikah." tuduh Rani.


Dylan tersenyum lalu mengangguk, "Aku tidak mau kehilangan kamu dan aku juga ingin kita segera menikah."


Rani menatap Dylan kecewa, "Tapi bagaimana bisa? Bukankah setiap kali melakukan kau selalu memakai pengaman?"


"Aku sengaja membuat pengamannya bolong. Sudahlah sayang jangan sedih lagi yang penting sekarang aku akan tanggung jawab untuk menikahimu." ucap Dylan masih terlihat santai.


Tangis Rani semakin pecah, Ia masih tak percaya Dylan akan melakukan itu padanya. Rani sadar tidak sepenuhnya salah Dylan, Dia merasa bodoh karena terlalu percaya pada Dylan.


"Jangan menangis dan sedih, aku tak mau membuat calon anak ku ikut sedih." kata Dylan kini mengelus perut Rani.


Rani menyentak tangan Dylan, tak membiarkan Dylan mengelus perutnya. Rani segera keluar dari ruangan Dylan. Dia sangat marah pada Dylan saat ini.


Melihat Rani keluar dari ruangannya, Dylan menghela nafas panjang, "Maafkan aku... Aku melakukan ini karena tak mau kehilangan dirimu, aku hanya ingin kita segera menikah." gumam Dylan.


Sementara itu...


Arka baru saja tiba disekolah barunya. Arka merasa masih canggung dan tidak percaya diri, beruntung Faris dan Vanes menemaninya jadi Arka tidak merasa sendiri.


"Ayo ku antar ke kelasmu." kata salah satu guru.


Arka mengangguk lalu menatap Faris dan Vanes bergantian seolah memberi tanda jika Arka meminta izin masuk kelas pada kedua kakaknya itu.


"Nanti pulang dijemput Mang Ujang." kata Faris yang langsung diangguki oleh Arka.

__ADS_1


Arka mengikuti gurunya memasuki kelas, "Pagi semua... Hari ini kita kedatangan murid baru." ucap guru itu yang langsung disambut sorak gembira para penghuni kelas.


"Ganteng amat, namanya siapa?" seorang siswi yang terlihat cantik dan genit menatap Arka penuh minat.


"Nama saya Arka Dharma Putra, saya pindahan dari sekolah nusa bangsa." ucap Arka memperkenalkan diri.


"Oke Arka kamu duduk disamping Genta." pinta guru itu menunjuk ke arah salah satu murid laki laki dimana ada bangku kosong disebelahnya.


Arka menuruti ucapan Guru itu, langsung duduk disamping murid laki laki bernama Genta.


"Gue Genta, preman dikelas ini." bisik Genta memperkenalkan diri.


Arka tersenyum geli, jika dilihat dari tampangnya, Genta memang seperti preman.


"Gue Arka, semoga kita bisa jadi teman baik."


Genta mengangguk, "Selama Lo ikutin aturan gue, nggak akan ada yang gangguin Lo." ucap Genta.


Arka tersenyum tipis lalu mengangguk paham.


Setelah mengantar Arka, Vanes dan Faris pergi ke Dokter kandungan untuk pemeriksaan rutin kehamilan Vanes.


Kini perut Vanes sudah terlihat buncit karena kandungannya sudah berusia 4 bulan lebih masih tersisa 4 bulan lagi untuk bertemu dengan calon bayi mereka.


"Apa ada yang ingin kau makan sayang?" tanya Faris saat keduanya sudah berada didalam mobil.


"Hubungi aku jika kau ingin sesuatu." pinta Faris tak ingin melewatkan kesempatan ngidam istrinya.


"Jikapun aku ingin sesuatu, Rio pasti membantu mencarikan apa yang ingin ku makan." kata Vanes.


Faris berdecak, "Sebenarnya suamimu itu aku atau Rio?"


Vanes tertawa geli, "Masa iya mas cemburu sama Rio?"


Faris menggelengkan kepalanya, "Bukan masalah cemburu, aku hanya tak ingin melewatkan momen ngidam mu."


Vanes tersenyum, "Baiklah baiklah lain kali jika aku ingin sesuatu, aku akan segera menghubungi Mas."


Faris tersenyum lalu mengelus kepala Vanes, "Nah gitu dong."


Setelah mengantar Vanes ke kampus. Faris segera melajukan mobilnya ke kantor. Ia sudah sangat terlambat hari ini namun karena Ia sudah menjadi Bos tentu saja tidak ada yang berani mempermasalahkan hal ini.


Faris sampai dikantor dan langsung disambut oleh sekretarisnya.


"Pak ada tamu." ucap Sekretaris Faris.

__ADS_1


"Siapa?" heran Faris mengingat Ia tidak memiliki janji dengan siapapun hari ini.


"Pak Herman."


Faris mengerutkan keningnya, untuk apa Om Herman datang ke kantornya padahal Ia juga tak memiliki jadwal pertemuan dengan Om Herman batin Faris.


"Beliau sudah ada diruangan pak."


Faris mengangguk dan langsung masuk ke ruangannya dimana Herman duduk di sofa yang ada diruangannya.


"Baru datang?" tanya Herman dengan raut wajah ramah.


"Iya nih Om... tadi nganter Arka ke sekolah sama Vanes periksa kandungan." balas Faris lalu duduk disamping Herman, "Ada apa Om? Apa ada yang mendesak?"


Herman menggelengkan kepalanya, "Ada yang ingin Om bicarakan berdua sama kamu jadi Om datang kesini. Kamu nggak ada jadwal meeting pagi ini?" tanya Herman memastikan.


Faris menggelengkan kepalanya, "Free nih Om, gimana Om mau bicara masalah apa? Kerjaaan?" tanya Faris sudah sangat penasaran.


Herman tertawa kecil, "Bukan masalah kantor tapi masalah hati."


Faris mengerutkan keningnya, masih tak mengerti apa yang Herman katakan.


"Om mau langsung ke intinya saja, jadi gini Om itu suka sama Ibu kamu." akui Herman yang langsung membuat Faris tersentak, terkejut setengah mati.


"Jangan bercanda Om."


"Om nggak bercanda, kalau perlu Om akan nikahi Ibu kamu sekarang juga biar kamu percaya kalau Om ini serius." kata Herman dengan mantap.


Faris menggelengkan kepalanya, Ia masih tak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh Herman.


"Om mau minta restu dari kamu Faris, kalau kamu mengizinkan, Om akan berusaha mendekati Ibu kamu tapi kalau kamu nggak mengizinkan Om akan memperjuangkan restu dari kamu lebih dulu."


Faris menatap Herman, Ia bisa melihat dari sorot mata Herman jika pria itu tulus dan serius dengan ibunya.


"Apa Om yakin sama Ibunya Faris? Diluar sana banyak wanita yang mungkin lebih sepadan dengan Om."


Herman menggelengkan kepalanya, "Kalau sudah menyangkut hati nggak akan melihat status sosial, kamu paham kan?"


Faris mengangguk, setuju dengan ucapan Herman. Jika sudah jatuh cinta kadang memang tidak memandang status sosial.


"Jadi bagaimana kamu mengizinkan Om apa tidak?"


Faris terdiam cukup lama sebelum akhirnya Ia menjawab.....


Bersambung...

__ADS_1


Jan lupa like vote dan komen...


__ADS_2