
Faris baru saja selesai bersiap. Setelah sarapan, Faris segera mencium punggung tangan kedua orangtuanya lalu keluar dari rumah. Faris memanasi motornya sebentar sebelum akhirnya Ia melajukan motornya menuju rumah Pak Kades.
Pagi ini Faris berangkat sangat awal, bukan tanpa sebab karena Ia ingin pergi kerumah Pak Kades lebih dulu.
"Ini nih yang Bapak tunggu akhirnya datang juga." ucap Pak Kades saat melihat Faris kerumahnya.
"Maaf pak, pagi pagi sudah menganggu." ucap Faris dengan sopan.
"Tidak, tentu saja tidak menganggu. Untuk calon menantu tidak akan menganggu kapanpun kamu datang, pintu rumah selalu terbuka untukmu."
Faris memaksakan tersenyum, Tak berapa lama Bu Kades dan Ani pun ikut keluar, mereka akhirnya duduk diruang tamu.
"Kedatangan saya pagi ini ingin menjawab tawaran dari Bu Kades yang sudah disampaikan pada Ibu saya."
Pak Kades dan Bu Kades tersenyum mengembang, berbeda dengan Ani yang tampak acuh.
"Sebelumnya saya minta maaf karena saya tidak bisa menerima tawaran Bu Kades."
Brakkk... Pak Kades langsung mengebrak meja. "Apa maksudmu menolak!" tiba tiba Pak Kades berubah jadi galak.
"Maafkan saya pak, saya masih belum punya uang untuk mahar Dik Ani." akui Faris.
Saat ini Faris merasa kesal dengan sikap arogan Pak Kades, Ia sama sekali tidak takut.
"Kalau masalah uang mahar kan biar dipikirkan sama orangtuamu. Lagian kamu bisa minta orangtuamu untuk jual ladang jagungnya buat mahar anak saya." tambah Bu Kades.
Faris benar benar sangat marah, "Tidak, saya tidak mau merepotkan orangtua saya!" tegas Faris.
"Begini Faris," ucapan Pak Kades kembali melembut, "Kamu tahu kan saya ini kades, saya juga orang paling kaya dan disegani dikampung ini. Jika kamu menikahi Ani, otomatis orangtua kamu pun ikut kena imbasnya, apapun akan dipermudah dan keluargamu tidak lagi dikucilkan hanya karena miskin, orangtua mu bisa dipandang dikampung kita ini, apa kamu yakin masih menolak?"
Faris mengangguk tanpa berpikir, "Sudah saya pikirkan matang matang saya tetap menolak pak."
Pak Kades semakin emosi bahkan sampai mengepalkan tangannya karena terlalu marah hingga obrolan serius mereka diganggu oleh Ani yang langsung berlari ke kamar mandi.
Hoekk... Hoekk... Suara Ani sedang muntah.
__ADS_1
Bu Kades tampak berlari mengejar Ani sementara wajah Pak Kades memerah malu, entah apa yang membuat Pak Kades malu, Faris pun tak tahu.
"Sepertinya dik Ani sedang masuk angin." celetuk Faris mencoba mencairkan suasana agar tidak kembali memanas.
"Ya setelah pulang dari kota, badannya jadi ringkih." kata Pak Kades.
"Kalau begitu saya permisi, saya takut terlambat pergi ke kampus." pamit Faris merasa kesempatan untuk dirinya pergi dari rumah Pak Kades.
"Pikirkan lagi ucapanku, aku akan memberimu waktu seminggu untuk berpikir, jika kau masih menolak, aku tidak yakin orangtuamu akan baik baik saya." kata Pak Kades sedikit mengancam.
Faris tak lagi menjawab, Ia memilih segera pergi tanpa mengatakan apapun lagi.
Sepanjang perjalanan menuju ke kampus, Faris banyak melamun memikirkan banyak hal. Tak hanya tentang ancaman Pak Kades namun juga ucapan Pak Kades yang mengatakan tentang Ani menjadi sering sakit setelah pulang dari kota. Faris menebak jika mungkin Ani mengidap satu penyakit yang berbahaya yang menjadi alasan Pak Kades ingin menjodohkan dengan dirinya.
"Jika keadaan Ani baik baik saja tidak mungkin kan Pak Kades mau memiliki menantu sepertiku?" batin Faris kembali kesal.
Sementara itu dikota...
Kembalinya Rizal ke kantor menghebohkan semua karyawannya.
Semua orang menganggap Nathan sudah dipecat karena menganggu hubungan Mira dan Rizal.
"Aku sudah memberi tanda tanganku dan kini semua aset kembali menjadi milikmu." ucap Mira dengan Rizal dan juga Hendra yang menjadi saksi disana.
"Sudah jelas semuanya, kini kau resmi menjadi pemilik perusahaan ini lagi, aku akan segera memberitahu para penanam saham." ucap Hendra yang langsung diangguki oleh Rizal.
Setelah Hendra keluar, Rizal menghampiri Mira dan langsung merengkuh tubuh gadis itu.
"Terima kasih sayang karena kau sudah kembali mempercayaiku." ucap Rizal tanpa disadari oleh Mira, Rizal tersenyum licik.
"Aku bahagia sekali, karena sekarang kau sudah menjadi milik ku sepenuhnya, aku tidak lagi menjadi pelakor dalam rumah tanggamu." kata Mira tersenyum mengembang.
"Tentu saja sayang, sekarang sebaiknya kau pulang ke apartemen, kau sedang hamil. Aku tidak mau kau kelelahan dan membuat baby kita bermasalah." pinta Rizal sambil mengecup kening Mira.
Mira sangat bahagia, merasa Rizal memikirkan dirinya dan calon anak mereka "kau sangat perhatian sayang, baiklah aku akan pulang sekarang. Aku tunggu di apartemen." kata Mira mengambil tasnya lalu mencium pipi kanan Rizal dan keluar dari ruangan Rizal.
__ADS_1
Rizal tersenyum bahagia saat Mira sudah keluar, "Dasar bodoh, apa dia masih tidak sadar juga." ucap Rizal lalu tertawa.
Rizal mengambil ponselnya untuk menghubungi Mamanya, "Mama selalu mengatakan aku ini bodoh, sekarang aku sudah mendapatkan perusahaanku kembali dan setelah ini aku akan mendapatkan hati Vanes dan Wira lagi." ucap Rizal penuh percaya diri lalu mengakhiri panggilannya.
Rizal kembali tersenyum, setelah ini Ia akan membalas Mira dan mendapatkan Vanes kembali menjadi miliknya.
"Semuanya sangat mudah, sangat mudah sekali untuk ku!" ucap Rizal lalu tertawa dengan keras.
Sementara itu Mira baru saja sampai di apartemen, mendadak mood Mira berubah kesal saat melihat ada Nathan didalam apartemennya.
"Apa lagi yang kau inginkan!" sentak Mira dengan nada tak suka, "Kita sudah berakhir, hubungan kita sudah berakhir!" Mira memperjelas ucapannya, Ia ingin Nathan sadar diri dan tak lagi menganggunya.
"Kau gila Mira, bagaimana bisa kau memberikan perusahaan pada Rizal lagi, dia tidak mencintaimu, dia hanya menipumu!" ucap Nathan dengan emosi.
"Dia mencintaiku jadi jangan ganggu aku lagi!"
"Kau bodoh, Mira kau bodoh. Lihatlah kau pasti akan menyesal!" ucap Nathan lalu keluar dari apartemen Mira.
Mira tersenyum sinis, "Mana mungkin aku menyesal, Rizal sudah mencintaiku lagi bahkan dia menceraikan istrinya demi aku, dia yang bodoh karena mencintaiku!" Mira menertawakan Nathan.
Malam ini, Mira merias wajahnya dan memakai pakaian yang menggoda, menunggu kepulangan Rizal.
Tak berapa lama, pintu apartemen terbuka, jantung Mira berdegup kencang ingin melihat ekspresi Rizal. Mira yakin Rizal akan semakin cinta padanya dengan surprise yang Ia berikan.
Namun kali ini Mira salah, bukan Rizal yang terkejut malah dirinya yang terkejut melihat Rizal pulang tidak sendiri tetapi bersama seorang gadis cantik dan juga seksi. Rizal bahkan merangkul gadis yang lebih muda darinya itu.
"Apa apaan ini!"
Rizal tersenyum, "Jangan marah dulu sayang, kau sedang hamil. Aku tidak mau membuatmu lelah jadi aku meminta gadis ini untuk menemaniku malam ini."
Deg... Rasanya jantung Mira berhenti berdetak, Ia bahkan sampai jatuh ke lantai karena merasa bodoh sudah kembali percaya pada Rizal.
Bersambung...
Jangan lupa like vote dan komennn
__ADS_1