TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
157


__ADS_3

Hampir 30 menit Faris menunggu Vanes didepan kampus namun istrinya itu tak kunjung keluar. Faris mencoba menghubungi nomer ponsel istrinya namun juga tidak dibalas.


"Waktu istirahatku hampir habis, apa belum pulang?" batin Faris mengingat pagi tadi Vanes mengatakan jika Vanes hanya memiliki 2 kelas dan akan pulang lebih awal.


Biasanya jika Vanes pulang awal, Faris menyempatkan untuk menjemput istrinya sekaligus mengajaknya makan siang namun entah apa yang terjadi pada Vanes didalam sana hingga terlambat keluar.


Setelah hampir 1 jam, Faris menyerah dan memutuskan untuk kembali ke kantor namun saat akan menyalakan mobilnya, Faris melihat Vanes berjalan keluar kampus, menerbitkan senyum dibibir Faris namun hanya beberapa detik saja dan senyum Faris memudar saat melihat Vanes berjalan bersama seorang pria.


Entah mengapa hati Faris terasa nyeri karena Vanes sempat tersenyum ke arah pria itu.


Faris melambaikan tangan ke arah Vanes agar Vanes segera masuk mobil.


"Maafkan aku karena terlambat keluar." ucap Vanes saat sudah memasuki mobil.


"Apa yang terjadi dan siapa pria tadi?" tanya Faris memperlihatkan wajah tak suka nya.


"Jangan salah paham mas, dia temanku. Kami berjalan bersama karena dia menanyakan beberapa hal padaku."


"Pertanyaan apa?"


"Hanya tugas dari dosen." balas Vanes.


"Baiklah, aku akan mengantarmu pulang sekarang."


"Kita tidak makan siang dulu?" tanya Vanes karena biasanya Faris selalu mengajak makan siang saat menjemputnya.


"Tidak, aku sudah makan." balas Faris, "Makan hati." ucap Faris dalam hatinya.


Vanes menghela nafas panjang, mendengar jawaban acuh Faris memperlihatkan jika Faris sedang marah padanya meskipun Vanes sudah menjelaskan namun sepertinya Faris masih salah paham padanya.


Faris melajukan mobilnya untuk mengantar Vanes pulang kerumah. Sampai didepan rumah, Faris hanya mencium kening Vanes lalu kembali melajukan mobilnya setelah Vanes keluar dari mobil.


Krucukkk... Krucukk...


Perut Faris bersuara karena memang Ia menahan lapar sedari tadi.


Faris akhirnya membelokan mobilnya di rumah makan untuk mengisi perutnya sekaligus menghilangkan rasa kesal mengingat senyuman Vanes pada pria tadi.


Sementara itu, Arga kembali mengantar Sara ke kantor setelah keduanya selesai makan siang.


"Jangan datang lagi setelah ini." ucap Sara saat akan keluar dari mobil.


"Aku tidak yakin.''

__ADS_1


Sara kembali menatap Arga kesal, "Yakinkan dirimu untuk tidak menemui ku lagi!"


"Aku benar benar tidak yakin karena perusahaan kita bekerja sama, artinya kita akan sering bertemu setelah ini."


Sara berdecak, "Menyebalkan!" ucapnya lalu keluar dari mobil.


Arga tersenyum tipis, "Dia benar benar menganggumkan." ucap Arga lalu melajukan mobilnya meninggalkan kantor Sara.


Arga memasuki kantornya dimana Zil sudah menunggunya disana.


"Tuan kenapa lama sekali, Tuan dari mana?" tanya Zil.


Arga berdecak, "Yang penting aku kembali, kenapa kau cerewet sekali!" omel Arga lalu melemparkan kunci mobil ke arah Zil yang langsung ditangkap oleh Zil.


"Setidaknya beri tahu saya kemana Tuan pergi jadi saya tidak khawatir."


Arga kembali berdecak, "Kau khawatir karena takut Ayahku menanyakan padamu kan?" tebak Arga dan Zil hanya tersenyum tipis.


"Mulai sekarang kau ini anak buahku, kau harus banyak membantuku dari pada Ayahku." pinta Arga.


"Tapi Tuan..."


"Tidak ada kata tapi melainkan harus, ingat Zil kau harus berada dipihak ku!" ucap Arga yang akhirnya diangguki oleh Zil.


"Baiklah Tuan, baik. Saya tidak akan mengkhianati Tuan dan Saya akan berada di pihak Tuan." kata Zil.


Arga tersenyum puas, "Bagus Zil, bagus. kau membuat keputusan yang tepat." ucap Arga lalu menepuk bahu Zil.


Arga duduk dikursinya, "Setelah ini apa yang harus ku kerjakan Zil?"


Zil membuka jadwal Arga hari ini, "Tuan ada meeting dengan Nona Sara."


"Katakan sekali lagi Zil." pinta Arga memastikan jika Ia tak salah dengar.


"Tuan ada meeting dengan Nona Sara, perusahaan milik Tuan Wira."


"Ah baiklah, bisakah kita berangkat sekarang." ajak Arga tampak bersemangat.


"Tidak Tuan, Nona Sara yang akan datang kemari."


"Ah baiklah baiklah aku akan menunggu." Arga kembali tersenyum lebar, "Bukankah aku sudah mengatakan jika kita akan bertemu lagi sayang." gumam Arga bersorak senang.


Sementara itu diruangan Sara, gadis itu tampak terkejut mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh sekretarisnya.

__ADS_1


"Siang ini ada jadwal pertemuan dengan putra Tuan Herman Bu."


"Katakan sekali lagi, aku harap aku salah mendengar ucapanmu." kata Sara namun sekretaris Sara menggelengkan kepalanya, "Tidak Bu, anda tidak salah. Siang ini kita akan bertemu dengan pihak Tuan Herman."


"Astaga.... Aku sudah bertemu dengannya pagi tadi dan siang lalu sekarang aku harus bertemu dengannya lagi?"


Sekretaris Sara tersenyum lalu mengangguk, "Bisakah Mas Faris saja yang pergi?"


"Tidak bisa bu karena siang ini Pak Faris ada pertemuan dengan klien jadi harus Ibu yang datang."


"Benar benar sial." omel Sara yang akhirnya Ia berangkat juga menemui pria menyebalkan itu karena tak memiliki pilihan lain.


Sara sampai di gedung pecakar langit milik Hermans group, Ia datang diantar sopir yang ada dikantor Wira. Sopir yang bekerja khusus mengantar para karyawan yang mendapat tugas diluar.


"Selamat datang dikantor kami Nona." ucap seorang pria yang menyambut kedatangan Sara. "Nama saya Zil dan Nona sudah ditunggu diruangan Pak Arga." ucap Zil.


"Kenapa harus diruangannya? Kenapa tidak diruang meeting saja?" protes Sara.


"Maaf Nona, Ruang meeting kami sedang digunakan jadi tidak ada tempat lain selain ruangan Pak Arga."


"Baiklah baiklah," balas Sara malas, "Aku tak percaya kantor semewah ini hanya ada 1 ruang meeting." omel Sara dengan suara pelan.


"Wow lihat siapa yang datang." ucap Arga terdengar senang melihat kedatangan Sara.


Sara memutar bola matanya malas, "Segera selesaikan agar aku bisa cepat pulang."


Arga tertawa lalu menghampiri Sara, ikut duduk disamping Sara, "Jangan terlalu dekat!" omel Sara.


"Bukankah biasanya seperti ini jika kita sedang membahas pekerjaan? Jika aku berada di kursiku dan kau disini pasti semua orang akan mendengar apa yang kita bicarakan." ucap Arga.


"Baiklah baiklah, terserah kau saja."


Arga tersenyum penuh kemenangan setelah itu Ia memulai pembicaraan tentang pekerjaan.


"Aku tak menyangka jika kau lumayan juga, aku pikir kau hanya anak manja yang suka merenggek minta uang." ejek Sara setelah keduanya selesai membicarakan masalah pekerjaan.


"Kau terlalu meremehkan aku Nona. Aku cukup bertanggung jawab untuk setiap pekerjaan yang ku lakukan apalagi jika..."


"Jika apa?" tanya Sara mengerutkan keningnya.


"Jika menjadi suami, aku akan lebih bertanggung jawab dalam segala hal."


Sara menelan ludahnya, Ia mengambil dokumen miliknya lalu pergi meninggalkan Arga begitu saja sementara Arga kembali tersenyum tipis, "Dia terlihat gugup."

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2