
Rizal terganggu lelapnya setelah mendengar ponselnya berbunyi.
Ia berdecak kesal saat melihat ada nomor baru yang menghubunginya.
Rizal tak menerima panggilan itu dan memilih kembali tidur namun tak berapa lama, panggilan ponselnya kembali terdengar membuat Rizal mau tak mau menerima panggilan dari nomor tak dikenal itu.
"Siapa?" tanya Rizal dengan mata terpejam. Beberapa detik setelah mendengar suara si penelepon, mata Rizal langsung melotot dan Ia beranjak dari ranjang.
"Kantor polisi? Baik saya akan segera kesana."
Rizal berdecak kesal, membuang ponselnya lalu bergegas pergi mandi.
Setelah bersiap, Rizal melajukan mobilnya menuju kantor polisi dimana Mama nya ditahan.
"Ada apa ini Ma?" tanya Rizal melihat Tantri tertunduk dengan tangan diborgol dihadapan polisi.
"Tersangka ditangkap karena berniat membunuh Tuan Wira menggunakan racun."
Seketika Rizal memukul jidatnya, "Bukankah sudah ku katakan untuk bersabar dan tidak melakukan hal bodoh Ma!" bisik Rizal dengan nada kesal.
"Aku juga menyesal, panggil Hendra, dia harus membebaskan Mama." pinta Tantri memohon.
"Tidak bisa Ma, jika Hendra tahu lawannya Wira pasti dia tidak akan mau."
Tantri melotot menatap putranya, "Lalu kau akan membiarkan Mama dipenjara?"
Rizal menghela nafas panjang, "Tidak ada pilihan lain Ma."
"Bodoh, percuma aku memiliki putra yang tak bisa melakukan apapun."
Rizal menatap Tantri tak percaya, "Bagaimana bisa Mama mengatakan itu padaku? Jika tidak ingin mendapat masalah jangan membuat masalah!" kesal Rizal lalu beranjak dari duduknya pergi meninggalkan Tantri.
"Hey mau kemana kau! Mama belum selesai bicara!" teriak Tantri namun tak digubris oleh Rizal dan pergi begitu saja meninggalkan kantor polisi.
"Bagaimana sekarang? Anda tidak bisa memanggil pengacara?" tanya Polisi yang sedang mengintrogasi Tantri.
"Aku tidak memiliki pengacara, putraku yang memiliki pengacara malah pergi meninggalkan ku sekarang."
"Kalau begitu, sekarang waktunya Anda masuk ke dalam sel." kata polisi memberikan kode pada anak buahnya agar segera membawa Tantri masuk ke sel penjara.
Tantri mulai memberontak, "Ku mohon beri keringanan untuk ku, aku tidak mau dipenjara!" teriak Tantri namun tidak digubris oleh para polisi, Tantri tetap dimasukan ke dalam penjara.
Diluar kantor, Rizal kembali memasuki mobilnya. Ia kebingungan harus melakukan apa untuk membebaskan Mamanya dari penjara. Jika Ia menyewa pengacara pun juga percuma karena pasti akan kalah melawan Wira, hanya menghabiskan uang saja.
__ADS_1
"Aku harus menemui Papa." batin Rizal segera melajukan mobilnya menuju rumah Wira.
Sampai di istana Wira, Ia tidak diperbolehkan masuk oleh para penjaga dirumah Wira.
"Aku hanya ingin bertemu dengannya sebentar!" pinta Rizal mencoba melawan para penjaga berbadan kekar itu.
"Untuk apa kau kemari? Kau ingin membunuh Tuan kami seperti Ibumu itu?" suara Ken terdengar baru saja keluar dari dalam rumah membuat Rizal berhenti memberontak.
"Tutup mulutmu, aku hanya ingin bertemu dengan Papa mertuaku."
Sontak tawa Ken dan para anak buahnya terdengar, "Apa kau tidak malu menyebut Tuan kami sebagai Papa mertuamu padahal sudah jelas kau telah bercerai dari Nona kami."
"Sial, mulutmu memang harus ku robek." ucap Rizal ingin memukul Ken namun sayang Ia yang lebih dulu dipukul hingga jatuh ke lantai.
"Sebaiknya kau pergi, jangan menganggu Tuan kami lagi!"
"Tidak, aku tidak akan pergi sebelum Papa membebaskan Mama ku dari penjara!" sentak Rizal kembali bangun dan memegangi pipinya yang memar karena pukulan Ken.
"Percuma, itu tidak akan terjadi. Sebaiknya kau pergi saja jangan pernah datang lagi!"
Rizal menggelengkan kepalanya, "Katakan pada Papa, jika membebaskan Mama ku, aku berjanji akan membawa Mama ku pergi dan tak akan menganggu lagi." pinta Rizal namun Ken masih saja menggelengkan kepalanya.
"Tuan kami sudah tidak mempercayai mu lagi!" ucap Ken lalu meminta anak buahnya untuk masuk ke dalam dan mengunci pintu gerbang.
Rizal masih tak menyerah, Ia berteriak dan memohon didepan pintu gerbang agar Wira bisa mendengarnya namun percuma karena Wira tak kunjung keluar hingga Ia kehabisan suara, tenggorokannya sakit dan akhirnya Ia memutuskan untuk pulang.
"Tidak Tuan, baru saja saya melihatnya pergi."
Wira tersenyum sinis, "Sebenarnya apa yang mereka pikirkan hingga melakukan hal bodoh seperti itu."
"Entahlah Tuan, saya pikir mereka hanya mengincar harta Tuan." kata Ken.
"Aku sudah berencana menghabiskan separuh hartaku untuk mereka tapi ternyata aku baik pada orang yang salah."
"Saya akan menjaga Tuan lebih ketat lagi mulai sekarang." ucap Ken.
Wira tersenyum, "Terima kasih Ken, kau memang yang terbaik." kata Wira yang langsung diangguki oleh Ken.
"Bulan ini kau belum mengambil libur?" tanya Wira.
Ken menggeleng, "Saya tidak mengambil libur saya Tuan."
"Kenapa?"
__ADS_1
Ken hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya hingga membuat Wira sadar jika Ibu Ken baru meninggal 3 bulan yang lalu, biasanya Ken mengambil libur untuk bersenang senang dengan Ibunya dan kali ini tidak lagi karena mungkin Ken tidak ada alasan untuk libur dan pulang kerumah.
"Carilah kekasih atau mau ku carikan?" tawar Wira sambil tertawa.
Ken malah menggelengkan kepalanya.
"Apa kau tidak menyukai seseorang?"
"Ada Tuan." ucap Ken sambil tersenyum malu.
"Siapa? Apa aku tidak boleh tahu?"
Ken hanya tersenyum tidak menjawab membuat Wira tak lagi bertanya karena Wira pikir itu privasi Ken.
Malam harinya...
Setelah pulang dari rumah Wira, Rizal berada dirumahnya. Ia memikirkan berbagai cara untuk membebaskan Mamanya.
Ia sudah meminta bantuan pada Hendra namun seperti dugaannya, Hendra sama sekali tidak mau membantunya.
Rizal frustasi benar benar frustasi tak bisa berpikir jernih lagi.
Tepat pukul 9 malam, Rizal keluar dari rumah. Ia ingin pergi ke club, minum minum dan bersenang senang dengan para gadis.
Sampai diclub, Rizal sudah menghabiskan 2 botol alkohol, kepalanya sudah pusing. Ia sudah mabuk hingga dibantu seorang gadis muda ke atas untuk istirahat.
"Aku akan menemani malam mu Tuan." ucap Gadis itu membuat Rizal tersenyum senang.
"Dan aku akan membayarmu gadis manis."
Rizal bercinta dalam keadaan mabuk hingga Ia kelelahan dan terlelap.
Rizal sadar saat pukul 4 pagi. Ia memutuskan untuk pulang meninggalkan gadis yang menemaninya tidur. tak lupa Rizal memberikan uang diranjang sebagai bayaran gadis itu.
Rizal masih merasa kepalanya pusing namun tetap memaksa untuk mengemudi.
Rizal melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi karena jalanan sepi. Didepan ada lampu merah, Rizal ingin menghentikan laju mobilnya namun sayang remnya sama sekali tidak berfungsi.
"Sial, apa ini." umpat Rizal tak bisa mengendalikan mobilnya hingga Ia menabrak kontainer dan...
Ambulance datang cukup terlambat, petugas membantu menyelamatkan Rizal lebih dulu namun sayang saat diperiksa oleh petugas, nyawa Rizal sudah tak tertolong lagi.
Rizal meninggal ditempat.
__ADS_1
Bersambung...
Jan lupa like vote dan komen yaaa