TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
190


__ADS_3

Arga ingin mengantarkan Sara masuk kerumah Wira namun Sara menolak. Alasannya, Sara tidak ingin orang dirumahnya khawatir atas apa yang sudah menimpa Arga.


Setelah Arga melajukan mobilnya, Sara memasuki rumah dimana Ia langsung melihat Wira sedang duduk diruang tamu.


"Belum tidur Pa?" tanya Sara menghampiri Wira lalu duduk disamping Wira.


"Nggak tau kenapa Papa nggak bisa tidur." ungkap Wira.


Sara tersenyum tengil, "Gara gara Bik Sri pulang kampung nih pasti." goda Sara.


"Bukan itu, Papa memang sering telat tidur saja akhir akhir ini," kata Wira, "Gimana kamu sama Arga? Sudah ngomong sama Arga kalau kamu mau nikah sama dia?"


Sara mengangguk, "Sudah Pa... tapi kami belum menentukan tanggalnya."


"Kalau gitu biar besok Papa ngobrol sama Herman enaknya mau bagaimana." ucap Wira yang langsung diangguki oleh Sara.


"Ya sudah sana tidur, besok kamu masih harus ngantor kan?"


Sara mengangguk dan segera ke atas meninggalkan Wira.


Wira melanjutkan membaca koran hingga Ia merasa ada yang mendekat, "Tuan mau saya buatkan kopi?" tawar Bik Tri, pengganti Bik Sri.


"Tidak, aku sudah minum kopi."


"Atau mungkin air madu?" tawar Bik Tri yang masih saja digelengi oleh Wira.


"Bagaimana kalau teh hangat Tuan?" Tri tampaknya tak menyerah.


"Tidak usah, pergilah tidur. Bukankah kau besok harus bangun pagi untuk membuat sarapan?"


Tri mengangguk, "Baiklah Tuan."


Dengan raut wajah kecewa, Tri meninggalkan Wira.


"Apa sih bagusnya Bik Sri? padahal lebih cantik aku dan tentunya lebih muda aku, kenapa Tuan malah memilih Bik Sri." gerutu Bik Tri berjalan menuju kamarnya.


...****************...


kereta yang ditumpangi Bik Sri akhirnya sampai di stasiun tujuan. Bik Sri turun dari kereta dan langsung melihat Arka putra semata wayangnya sudah menunggu di stasiun.


Arka mencium punggung tangan Bik Sri lalu membawakan 2 koper yang dibawa Bik Sri.


"Sudah menunggu lama nak?" tanya Bik Sri menatap wajah tampan putra semata wayangnya yang kini sudah tumbuh dewasa.


Arka menggelengkan kepalanya, "Tidak Bu, baru saja datang, untung nggak keduluan sama Ibu." ucap Arka sambil menyunggingkan senyum.


Arga membawa 2 koper milik ibunya memasuki mobil yang sengaja Ia sewa untuk menjemput Ibunya.


"Memang kamu bisa nyetir nak?" tanya Bik Sri.


"Bisa dong Bu, Pak Lurah suka minta tolong Arka buat jadi sopir kalau lagi diluar kota." ungkap Arka, "Lumayan Bu, bayaran nya bisa buat tambah jajan."

__ADS_1


Sri tersenyum mendengar putra semata wayangnya begitu mandiri, "Uang yang Ibu kirim setiap bulan tidak kurang kan Nak?" tanya Sri memastikan.


Arka menggelengkan kepalanya, "Tidak Bu, lebih dari cukup."


Arka mulai melajukan mobilnya menuju kampung halaman mereka dimana semua sanak keluarga Sri sudah menunggu kedatangan Sri.


Sampai dirumah, Sri tak langsung istirahat, Ia mengobrol dengan sanak saudaranya hingga tak terasa sudah tengah malam, semua sanak saudaranya pulang kerumah masing masing.


"Kasihan Ibu baru bisa istirahat." ucap Arka yang kini duduk disamping Sri.


"Nggak apa apa, udah lama juga nggak ketemu sama saudara jadi nggak kerasa capeknya."


"Sekarang Ibu istirahat gih." pinta Arka.


Sri menatap putranya sejenak, "Ada yang mau Ibu bicarakan."


Arka tersenyum, "Bicara apa Bu? Besok saja lah, Ibu pasti capek, baiknya segera istirahat."


Sri akhirnya mengangguk, rasanya terlalu cepat jika Ia mengatakan pada Arka malam ini, mungkin Sri akan mencari waktu yang tepat untuk bicara dengan Arka agar apapun yang di inginkan oleh Bik Sri bisa diterima oleh Arka.


Setelah masuk ke kamar, Sri segera tidur diikuti oleh Arka yang juga masuk ke kamarnya untuk tidur.


Paginya...


Sri bangun subuh seperti biasa. Meskipun Ia tak bekerja namun Ia tetap harus membuatkan sarapan untuk putra semata wayangnya.


"Berangkat jam berapa sekolahnya?" tanya Sri saat melihat putranya bangun pukul 5 pagi.


"Jam 7 Bu... Kebiasaan bangun jam segini buat bikin sarapan ee lupa kalau Ibu sudah pulang." celetuk Arka yang memang tinggal sendiri beberapa tahun terakhir karena neneknya sudah meninggal.


"Siap Bu." ucap Arka.


Selesai mandi dan bersiap, Arka sudah berada dimeja makan bersama Sri.


"Nggak buru buru kan?"


Arka menggelengkan kepalanya, "Enggak kok bu, kenapa Bu? Mau dianterin kemana?"


Sri tersenyum, "Enggak minta anter cuma mau ngomong sedikit sama kamu.".


"Ngomong apa Bu?"


"Begini Arka, Ibu mau bicara tentang-"


Ucapan Sri terhenti saat ponsel Arka berdering. Sri tak melanjutkan ucapannya karena Arka lebih memilih menerima panggilan yang entah dari siapa.


"Bu... bicara nanti saja kalau Arka sudah pulang sekolah , Arka buru buru." ucap Arka lalu berlari meninggalkan rumah padahal sarapannya belum selesai.


Sri menghela nafas panjang, lagi lagi Ia gagal bicara dengan Arka.


Sementara itu dirumah Wira...

__ADS_1


Semua orang sudah berkumpul dimeja makan untuk sarapan.


Menu sarapan kali ini berbeda, jika biasanya Bik Sri membuat beberapa menu sarapan, kali ini berbeda. Karena yang memasak Bik Tri hanya membuat 1 menu sarapan.


"Rasanya nggak seenak buatan Bik Sri." celetuk Sara dengan suara berbisik.


"Husssstttt... Jangan gitu." ucap Vanes takut Bik Tri mendengar.


"Ya memang benar kok."


"Banyakan protes memang calon bini orang." goda Faris yang langsung membuat mata Sara melotot.


"Kalau sekarang memang benar calon bini orang." kata Wira membocorkan rahasia Sara.


"Serius Pa? di terima si Arga?" tanya Vanes menatap Wira dengan senangnya.


Wira mengangguk,


"Lagi ngobrolin apa nih?" suara Arga terdengar mengejutkan semua orang.


"Udah kayak jalangkung aja Ga, datang nggak dijemput pulang nggak diantar, ee tiba tiba nonggol aja." celetuk Faris.


Arga tertawa lalu duduk disamping Sara, "Kan sebentar lagi calon mantu jadi nggak masalah kan kalau langsung masuk trus ikut sarapan?"


Faris dan Wira mengangguk bersamaan, "Sangat tidak masalah." ucap Faris, "Ngomong ngomong muka Lo kenapa bonyok gitu?"


Arga tersenyum, "Biasa anak muda." balas Arga tak ingin semua orang tahu tentang ancaman Ken semalam


Arga mengambil piringnya yang masih kosong lalu memberikan pada Sara, memberi kode agar Sara mengisi piringnya dengan nasi goreng.


Sara tersenyum nakal, memberikan 3 centong nasi goreng hingga piring Arga penuh, "Habiskan ya..." ucap Sara masih dengan senyuman anehnya.


"Tumben, ada apa nih?" heran Arga langsung menyuapkan sesendok nasi goreng ke mulutnya dan... Rasa nasi goreng yang asin dan tidak seperti biasa membuat Arga ingin memuntahkan makanannya.


Pantas saja Sara semangat mengambilkan dirinya nasi gorengnya ternyata ada sesuatu dibalik semua itu.


"Harus dihabiskan ya? Jangan suka buang buang makanan." kata Sara membuat semua orang yanh ada disana hanya menggelengkan kepalanya, tak percaya jika Sara bisa seusil itu.


"Mbak Sara udah klop banget sama Mas Arga ya?" ucap Rani yang sedari tadi hanya memperhatikan.


"Biarin aja Rin, biar nanti ku balas!" ancam Arga.


Sara baru ingin mengomeli Arga namun Ia urungkan mendengar suara ponsel Wira berdering.


"Halo..."


Ponsel Wira terjatuh sesaat setelah menerima panggilan.


"Kenapa Pa?"


Dengan bibir bergetar Wira menjawab, "Ken... Meninggal."

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa like vote dan komen yaaa


__ADS_2