
Setelah mengantar wanita hamil itu kerumah sakit, Zil kembali melajukan mobilnya pulang kerumah. Sepanjang perjalanan Arga lebih banyak diam dan melamun.
Arga masih membayangkan sakitnya melahirkan hingga membuat wanita tadi menjerit kesakitan.
"Kau tidak mau turun?" tanya Sara membuyarkan lamunan Arga.
Arga baru sadar jika mobil yang mereka tumpangi sudah sampai dirumah.
"Apa kau marah karena kita mengantar orang melahirkan tadi?" tanya Sara menatap Arga penuh selidik.
"Tidak... Bukan seperti itu."
"Lalu kenapa kau diam saja sedari tadi?" heran Sara.
"Aku masih membayangkan betapa sakitnya wanita tadi melahirkan."
Sara tersenyum, "Tidak perlu dibayangkan, lagipula kau juga tidak akan merasakan."
"Memang bukan aku tapi kamu..."
Sara kembali tersenyum, "Kalau begitu jangan membuat anak." ucap Sara lalu berjalan melewati Arga.
"Hey tidak bisa seperti itu!" protes Arga berlari mengejar Sara hingga Sara tertangkap dan langsung merangkul gadis itu, "Kita menikah sudah seharusnya memiliki keturunan kan? Lagipula Ayah dan Papa mertua pasti sudah menantikan cucu."
"Artinya kau tidak kasihan padaku jika aku sampai kesakitan seperti wanita tadi?"
Arga menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal, "Bu bukan seperti itu juga. Mungkin aku bisa berbagi kesakitanmu seperti suami wanita hamil tadi."
Sara memanyunkan bibirnya, "Kau terlalu banyak bicara!"
Arga tersenyum lalu mengajak Sara masuk ke dalam kamar.
"Tunggu... Kamu tidak melupakan sesuatu kan?"
"Melupakan apa?"
"Pagi tadi kamu bilang jika tidak akan tidur denganku malam ini."
Arga terdiam, kembali mengingat ucapannya pagi tadi dan memang Ia mengatakan jika tidak akan tidur bersama Sara malam ini.
"Kau menjebak ku, jika saja aku tahu kalau hari ini kita menikah, tentu aku tidak akan mengatakan itu padamu!" protes Arga.
"Janji adalah janji, tidak boleh mengingkarinya." balas Sara tersenyum puas.
"Kau licik, lihat saja aku akan membawamu ke ranjangku lalu memperkosa mu." ancam Arga.
__ADS_1
Sara menggelengkan kepalanya tak percaya, sepertinya Arga benar benar sudah tak tahan untuk melakukan itu padanya.
"Aku tidur disofa dan kau tidur diranjang." ucap Sara tak ingin mertuanya curiga jika mereka harus tidur dengan kamar terpisah.
"Tidak tidak, kita akan tidur diranjang bersama!" paksa Arga lagi.
"Tidak mau, janji tetap janji!"
Arga menghela nafas panjang, Ia merasa sangat lelah hari ini.
"Terserah kau saja!"
Sara tersenyum tengil, "Apa kau marah? Kau marah?" tanya Sara menyentuh lengan Arga namun langsung ditolak oleh Arga.
"Tidak, aku ingin mandi." balas Arga ketus lalu memasuki kamar mandi.
"Dasar menyebalkan, jika saja aku tahu hari ini kita menikah, tentu saja aku tidak akan menolak tidur bersamanya. Aku sudah menahan diri sejak siang tadi dan sekarang masih harus menahan diri lagi? Benar benar menjengkelkan!" omel Arga segera mengguyur tubuhnya dibawah air shower yang dingin agar perasaan kesalnya bisa hilang.
Selesai mandi, Arga keluar dan kini giliran Sara yang masuk kamar mandi. Arga melewati Sara begitu saja, tidak mengubris tatapan Sara. Ia sedang marah pada Sara.
Pintu kamar mandi terbuka namun hanya kepala Sara yang keluar, "Aku lupa membawa handuk." ucap Sara namun Arga pura pura tak mendengar, pria itu malah asyik bermain dengan ponselnya.
"Mas..." panggil Sara dengan suara lembut namun masih tak digubris oleh Arga.
"Oke mas kalau kamu mau marah, aku juga bisa!" ucap Sara.
Sara tak menjawab, Ia kembali menutup pintu masuk ke dalam kamar mandi.
"Kita lihat saja bagaimana dia akan keluar." gumam Arga kembali melanjutkan bermain ponselnya.
Pintu kamar mandi terbuka, Awalnya Arga tak ingin melihat Sara mengingat Ia sedang marah saat ini namun karena penasaran Arga melirik sedikit ke arah Sara dan betapa terkejutnya Arga saat melihat Sara keluar hanya mengenakan bra dan ****** ***** saja.
Kulit putih mulus juga tubuh seksi yang indah milik Sara membuat Arga tak berkedip sama sekali bahkan ponsel yang dibawa Arga jatuh ke lantai.
"Kau sudah berjanji, kita tidak akan tidur bersama." ucap Sara dengan nada menggoda seolah sedang mengerjai Arga.
Arga tersenyum nakal, melihat tubuh Sara yang terekspos membuat Arga memiliki ide.
Arga beranjak dari ranjang lalu berjalan pelan ke arah Sara.
"Aku berjanji kita tidak tidur bersama tapi bukan berarti kita tidak bisa bercinta." ucap Arga seketika membuat Sara bergindik dan menyesal karena telah menggoda Arga.
"Bercinta sama saja dengan tidur bersama." kata Sara ingin memakai baju namun tangannya ditahan oleh Arga.
Arga tak membiarkan Sara memakai baju.
__ADS_1
"Tentu saja tidak sayang, kita bisa bercinta di sofa lalu setelah itu barulah kita tidur masing masing. Aku di ranjang dan kau di sofa, bagaimana?" Arga memperlihatkan senyuman liciknya dan gagal sudah niat Sara untuk mengerjai Arga malam ini.
"Ak aku lelah, bisakah kita melakukan-" ucapan Sara terhenti karena Arga ******* bibirnya. Tak sampai disitu, Arga mendorong tubuh Sara hingga jatuh ke sofa.
"Malam ini akhirnya datang, dimana aku bisa kembali mendengar suara desahanmu yang indah itu." bisik Arga segera memulai permaianan panasnya.
Meskipun ini kali pertamanya Arga bercinta namun Arga mampu membuat Sara mengeluarkan suara suara indah Sara dimana suara itu yang membuat Arga jatuh cinta pada Sara waktu itu.
"Tidurlah diranjang, kau akan sakit jika tidur disini." pinta Arga.
"Tapi bukankah seharusnya kita tidur berpisah."
Arga berdecak, "Berhenti mengerjaiku, kita bahkan sudah bercinta untuk apa tidur terpisah." kata Arga membuat Sara tersenyum malu karena akhirnya Ia ketahuan jika sedang mengerjai Arga saat ini.
Dengan tubuh polosnya, Sara berlari ke ranjang dan langsung menyelimuti dirinya menggunakan selimut.
Arga tersenyum geli lalu menyusul Sara, Ia ikut berbaring disamping Sara.
"Apa kau tidak menyesal?" tanya Sara.
Arga mengerutkan keningnya tak mengerti, "Menyesal kenapa?"
"Karena menikah denganku, kau bahkan masih perjaka tapi malah mendapatkan aku yang sudah tidak perawan." ucap Sara.
Arga tersenyum, "Apa bedanya? Sepertinya sama saja. milikmu masih terasa legit."
Sara tertawa mendengar Arga mengatakan legit, "Apa kau pikir makanan?"
Arga tersenyum, "Apa kau takut?"
"Takut apa?" Sara tak mengerti.
"Takut jika aku berpaling." ucap Arga.
Sara mengangguk karena jujur Ia merasa takut jika suatu hari nanti Arga bosan padanya lalu berpaling dan memilih gadis yang masih perawan.
Arga memeluk tubuh Sara, "Tidak akan, aku tidak akan menyakitimu."
"Di awal dulu Ken juga pernah mengatakan itu padaku namun akhirnya..."
Arga tersenyum, "Apa Ken menikahimu atas dasar cinta?"
Sara seketika terdiam.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa like vote dan komennn