TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
37


__ADS_3

Rizal baru saja sampai dirumah, Ia berharap Vanes yang membuka pintu untuknya namun itu hanya harapan Rizal saja. Bik Sri tersenyum saat membuka pintu untuk Rizal namun tidak mendapatkan feedback yang sama.


Rizal berjalan masuk namun seketika Ia menghentikan langkahnya, "Dimana Vanes?"


"Nona baru saja selesai makan malam dan sekarang sudah naik ke atas kamarnya Tuan."


"Vanes sudah makan malam?" Rizal tampak terkejut.


"Benar Tuan, apa Tuan juga mau disiapkan makan malam? Nona hanya memasak 1 porsi untuk dirinya sendiri."


Rizal mengepalkan tangannya, "keterlaluan, bagaimana Ia hanya memikirkan dirinya sendiri seperti ini!"


"Saya akan menyiapkan makan malam untuk Tuan." kata Bik Sri beranjak dari tempatnya berdiri.


Rizal segera naik ke atas kamarnya, tempat yang menjadi tujuannya adalah kamar Vanes.


Ia ingin mencoba masuk ke kamar Vanes namun sayang pintunya terkunci dari dalam.


Rizal tak menyerah, Ia mengedor pintu kamar Vanes namun cukup lama Ia mengedor, Vanes tak kunjung membuka pintunya.


Rizal benar benar kehabisan kesabaran. Ia akhirnya mendobrak pintu hingga rusak agar Vanes tidak seenaknya mengunci pintu kamar.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Vanes menatap Rizal dengan tatapan malas. Saat ini Vanes tengah duduk disofa sambil membaca majalah. Vanes mengenakan setelan piyama pendek yang memperlihatkan paha mulusnya membuat Rizal tergoda.


"Kenapa harus mengunci pintunya?"


Vanes tersenyum sinis, "Ini tempat privasiku jadi aku harus menguncinya dan kau malah merusaknya!" omel Vanes.


"Aku ini suamimu!"


"Sejak kapan kau menganggap dirimu begitu? bukankah biasanya kita sama sama acuh?"


"Mulai sekarang itu tidak akan pernah terjadi, aku ingin hubungan kita lebih baik."


"Aku tidak mau!" tolak Vanes dengan tegas, "Sudah terlambat, semua sudah hancur!"


"Tidak, masih belum terlambat untuk memperbaiki semuanya."


Vanes acuh dan kembali membaca majalahnya, Ia benar benar sudah lelah berdebat dengan Rizal yang egois dan semaunya sendiri.


"Dan mulai malam ini, aku akan tidur disini bersamamu." kata Rizal penuh percaya diri.


Mata Vanes langsung saja melotot, Vanes bahkan melempar majalahnya ke lantai, "Kau sudah sangat berlebihan, aku tidak mau!" tolak Vanes.

__ADS_1


"Aku tidak meminta persetujuan darimu, aku akan tetap tidur disini meskipun kau menolak." kata Rizal tersenyum nakal dan keluar dari kamar Vanes.


"Gila, dia benar benar gila!" umpat Vanes.


Vanes pikir tidur bersama hanya ancaman saja namun ternyata tidak. Setelah mengatakan itu pada Vanes, 30 menit kemudian Rizal kembali ke kamarnya sudah memakai piyama seolah siap untuk tidur.


"Kau gila? aku tidak mau tidur denganmu!" ucap Vanes dengan nada marah.


Rizal tak mengubris ucapan Vanes, Ia tetap berbaring diranjang Vanes lalu menepuk nepuk ranjang sampingnya yang kosong, "Kemarilah sayang, ayo tidur bersama." ajak Rizal sambil tersenyum nakal.


Vanes menggelengkan kepalanya tak percaya, Rizal sangat percaya diri. Karena tak sudi berada didekat Rizal, Vanes memutuskan untuk keluar kamarnya sendiri.


"Sabar, kau harus lebih bersabar untuk bisa mendapatkan hatinya." gumam Rizal lalu bersiap untuk tidur, Rizal percaya jika Vanes akan menyusulnya dan tidur disampingnya.


Vanes menuruni tangga dengan wajah kesal, Ia ke dapur untuk minum agar dirinya lebih tenang.


"Dia benar benar sangat percaya diri Bik, bagaimana bisa dia tidur dikamarku!" curhat Vanes pada Bik Sri.


"Jika Nona tidak mau tidur bersama Tuan, kenapa Nona tidak tidur dikamar Den Faris saja?" usul Bik Sri seketika membuat Vanes tersenyum lebar.


Vanes merasa ide Bik Sri sangat cemerlang.


"Kamarnya juga sudah saya bersihkan kok Non." tanbah Bik Sri.


Vanes langsung berbaring diranjang dan Ia bisa mencium bau parfum Faris yang masih menempel disprei.


"Kenapa aku malah jadi rindu." decak Vanes memeluk erat guling yang mungkin juga pernah dipeluk oleh Faris.


Dikamar itu Vanes malah mengingat ciuman pertamanya yang Ia berikan pada Faris. Entah sejak kapan Ia menyukai Faris, yang pasti saat bersama Faris, Vanes merasa lebih tenang dan lebih dicintai.


"Apa yang sedang dia lakukan sekarang? Apa dia tidak merindukan aku?" Vanes menghela nafas panjang, Ia merasa sedih saat ini.


Hal yang sama pun juga dirasakan oleh Faris. seharian berada dirumah, Ia menyibukan dengan banyak kegiatan agar bisa lupa tentang Vanes namun pikirannya malah semakin mengingat Vanes.


Faris menutup bukunya karena merasa percuma sedari tadi membaca buku dan tidak ada yang masuk ke otaknya sedikitpun.


Faris memilih berbaring agar segera tidur karena besok dirinya ada interview untuk menjadi dosen disalah satu kampus rekomendasi temannya.


Faris memejamkan matanya namun sayang Ia tak kunjung terlelap. Pikirannya melayang memikirkan tentang keadaan Vanes. Faris khawatir Vanes akan kembali disakiti oleh Rizal. Faris berharap Rizal bisa berubah dan menepati janjinya meskipun Ia masih ragu akan ucapan Rizal namun Faris mencoba memberi kesempatan untuk Rizal.


Karena tak kunjung tidur, Faris memutuskan keluar dari kamarnya untuk mencari udara segar.


Faris duduk didepan rumahnya, suasana gelap dan sepi menemaninya.

__ADS_1


"Nggak bisa tidur?" suara Slamet mengejutkan Faris.


"Bapak kok juga belum tidur?" Faris malah balik bertanya.


"Mau persiapan ronda. Malam ini giliran bapak." balas Slamet yang membuat Faris manggut manggut.


"Kepikiran iparmu lagi?"


Faris tersenyum, "Aku khawatir pak kalau disana dia disakiti sama Mas Rizal lagi."


Slamet tersenyum lalu menepuk bahu Faris, "Bukankah dia putri orang kaya?"


Faris mengangguk, "Papanya memiliki banyak perusahaan."


"Jika Bapak menjadi kamu, bapak akan melupakan gadis itu." kata Slamet.


Faris tersenyum kecut, Ia sudah menduga jika Slamet akan mengatakan hal seperti itu lagipula orangtua mana yang ingin anaknya menjadi perusak rumah tangga orang.


"Bukan melupakan untuk meninggalkan tapi melupakan untuk menjadi orang yang lebih pantas." tambah Slamet.


Faris mengerutkan keningnya tak mengerti, "Apa maksud Bapak?"


"Jika iparmu itu memang jodohmu pasti dia akan kembali padamu. Saat dia kembali bukankah kau harus menjadi orang yang lebih sukses agar kau tidak dianggap remeh oleh keluarganya?"


Faris mengulas senyum lebar setelah tahu maksud ucapan Slamet.


Benar kata Bapaknya, dirinya harus melupakan sejenak tentang Vanes, menata masa depannya dan harus menjadi orang sukses agar kelak jika Vanes menjadi jodohnya, Ia pantas menjadi pendamping Vanes.


"Jadi saran Bapak diterima?" tanya Slamet memastikan.


"Sangat diterima Pak," Faris tersenyum lebar.


Slamet terlihat lega karena tak lagi melihat raut sedih diwajah putranya itu.


"Sekarang sebaiknya kau segera tidur. Bukankah besok ada interview?"


Faris mengangguk dan langsung beranjak dari duduknya, "Faris tidur dulu pak, Bapak hati hati ya ngerondanya." kata Faris lalu memasuki rumah.


Slamet menggelengkan kepalanya melihat tingkah putra semata wayangnya itu namun Ia akhirnya ikut tersenyum juga sebab putranya itu sangat mudah diberi nasehat olehnya.


"Dengan ini mungkin kau akan melupakan iparmu dan kembali pada hidupmu." gumam Slamet lalu bergegas pergi ke pos ronda.


Bersambung...

__ADS_1


Jan lupa like vote dan komen yaaa


__ADS_2