
Ken memasuki ruangan Wira dimana Tuannya itu sudah menunggu dirinya disana.
Siang tadi Ken mendapatkan tugas dari Tuan Wira dan malam ini Ken sudah kembali dengan membawa hasil yang Ia cari seharian ini.
"Aku sudah tidak sabar, menunggumu." ucap Wira tersenyum senang saat melihat Ken memasuki ruangannya, "Aku harap dapat berita yang bagus malam ini."
Ken tersenyum, "Pria pilihan Nona benar benar orang baik Tuan."
"Jika begitu kenapa dia bisa dipenjara?" tanya Wira.
"Karena dia berkata jujur dan tidak ada satupun yang mempercayainya."
Wira terdiam sejenak sebelum akhirnya kembali bertanya, "Apa dia dijebak?"
Ken mengangguk, "Benar Tuan, dia dijebak oleh seorang Kades yang menginginkan dia menjadi menantu." ucap Ken lalu menjelaskan semua dengan detail pada Wira.
"Pantas saja Vanes sampai meminta bantuanku." gumam Wira mengingat putrinya itu jarang meminta tolong padanya.
"Lalu bagaimana Tuan? Apa yang harus kita lakukan?" tanya Ken.
Wira terdiam sejenak sebelum akhirnya Ia menjawab, "Besok pagi antar aku kesana, biarkan aku yang mengurus semua ini." ucap Wira yang langsung diangguki Ken.
Tengah malam dirumah Slamet, Asih tampak bangun untuk menunaikan sholat malam bersama Slamet. Disana mereka berdua berdoa sambil menangis agar ada keajaiban yang membuat putra mereka bisa dibebaskan.
"Ibu tidak bisa melihat Faris dipenjara Pak." ucap Asih masih dengan air mata berlinang.
"Bapak juga sama Bu, tapi kita tidak bisa melakukan apapun untuk membantu Faris." keluh Slamet sambil mengelusi punggung istrinya.
Asih tampak diam sejenak sebelum akhirnya Ia kembali berbicara, "Apa kita minta bantuan Neng Vanes saja ya pak."
"Husss... Jangan sampai merepotkan orang lain Bu, lagipula apa Ibu lupa siapa Neng Vanes itu?" tanya Slamet membuat Asih menunduk.
Jika saja Vanes bukan mantan menantu kakaknya sendiri, mungkin Asih sudah meminta tolong pada Vanes dan membiarkan Faris berhubungan dengan Vanes.
"Sudahlah Bu, kita serahkan saja semuanya pada yang di atas." ucap Slamet yang akhirnya diangguki lemas oleh Asih.
__ADS_1
Sementara itu dirumah Pak Kades, tengah malam begini Pak Kades dan istrinya belum tidur karena Ani baru saja muntah muntah.
"Jika memang sudah tidak tahan dengan bayinya, gugurkan saja." pinta Pak Kades membuat Ani terkejut dan langsung menggelengkan kepalanya.
"Tdak pak, Ani akan tetap mempertahankan bayi ini."
Pak Kades berdecak, "Dasar bebal! Untung saja Bapak kau ini pintar, jika tidak mungkin kau sudah dipermalukan didepan orang orang sekampung."
"Benar kata Bapak mu Ani, setelah ini jangan berbuat sesuatu yang bisa merugikan keluargamu, kasihan Bapakmu namanya jadi tercemar dikampung kita ini!" tambah Bu Kades.
Ani mulai menangis, entah mengapa orangtuanya selalu menekannya seperti ini padahal pria yang menghamilinya mau bertanggung jawab, jika saja Orangtuanya membiarkan kekasihnya bertanggung jawab, sudah pasti hal seperti ini tidak akan terjadi dan tidak ada korban lainnya seperti Faris. Ani benar benar merasa bersalah dan tidak tega melihat Faris dipenjara namun Ia juga tidak bisa melakukan apapun.
Pak kades kembali berdecak, "Nangis lagi! Waktu kamu bikin anak ada nggak kepikiran bakal nangis kayak gini!" sentak Pak Kades merasa kesal dengan Ani yang cenggeng.
"Sudah pak, sudah jangan dimarahi lagi. Yang penting sekarang orang orang sudah tahu tentang kehamilan Ani dan tidak lagi mempermasalahkannya." ucap Bu Kades.
"Semua juga karena Bapak Bu!" omel Pak Kades lagi lalu keluar dari kamar Ani dan pergi ke kamarnya untuk tidur.
Ani masih menangis sesenggukan, "Sudah sudah, apa yang kau tangisi, semua sudah selesai Ani!" ucap Bu Kades.
"Ani cuma kasihan sama Mas Faris bu."
"Mas Faris itu orang baik dan jujur, dia tidak mungkin mau bertanggung jawab atas kesalahan orang lain, setelah bayi ini lahir, Ani minta bebaskan saja Mas Faris."
Bu Kades tampak memegangi kepalanya yang berdenyut mendengar ucapan Ani, Ia tak menyangka putrinya menangis bukan karena menahan rasa sakit namun karena memikirkan keadaan Faris.
"Jangan jangan kamu suka lagi sama Faris!" sentak Bu Kades.
Ani hanya menunduk diam. Dulu Ani tidak menyukai para pria miskin seperti Faris namun setelah apa yang menimpanya ini, Ia mulai sadar akan kesombongannya dan mulai bisa melihat kebaikan orang lain.
"Jangan lagi bicara tentang para pria miskin itu Ani, Ibu mendengarnya saja tidak mau. Sekarang lebih baik kau menurut saja, ikuti apa kata Bapakmu, jangan membuat masalah lagi." ucap Bu Kades lalu keluar dari kamar Ani.
Ani kembali menangis seorang diri sambil mengelusi perutnya.
"Maafkan Ibu Nak yang tidak bisa berjuang agar kamu memiliki keluarga kecil yang bahagia."
__ADS_1
...****************...
Pagi pagi sekali Wira bersiap pergi ke kampung halaman Faris didampingi Ken dan beberapa anak buahnya.
Pertama yang Ia lakukan adalah pergi ke kantor polisi untuk menemui kepala polisi yang bertugas menangani kasus Faris.
"Bukankah Anda ini Pak Wira?" Tanya kepala polisi bernama Roni itu.
"Ternyata kau masih mengingatku." ucap Wira lalu tersenyum.
Roni pun mempersilahkan Wira untuk masuk keruangannya.
Suatu kebanggan untuk Roni karena Wira mau datang ke kampung untuk menemuinya. Roni ingat betul, banyak kasus yang Ia tangani dan berhasil berkat bantuan dari Wira hingga akhirnya Ia menjadi kepala polisi seperti sekarang ini.
"Anda datang jauh jauh hanya untuk menemui saya, sungguh itu membuat saya tersanjung Tuan." ucap Roni dengan senyuman lebar.
"Jangan senang dulu Roni, aku kesini karena ingin mengadilimu."
Roni mengerutkan keningnya, tak mengerti dengan ucapan Wira.
"Sejak kapan kau jadi polisi licik? Dulu aku menyukaimu karena kau ini polisi yang jujur tapi sekarang..." Wira tersenyum melihat Roni menunduk seolah mengetahui apa maksud Wira. "Apa kau sedang butuh uang banyak?"
Roni menunduk masih belum menjawab pertanyaan Wira.
"Kau menyukai seorang gadis kampung hingga membuatnya hamil, mengkhianati istri dan anak anakmu, itu sebabnya kau butuh uang yang banyak hingga melakukan segala cara, apa aku salah?"
Roni akhirnya memberanikan diri menatap Wira, "Bagaimana Tuan bisa tahu?"
Wira tersenyum, "Tidak peduli dari mana aku tahu tapi aku benar benar kecewa denganmu."
Roni kembali menunduk, "Maafkan saya Tuan, saya tidak bisa menahan diri."
Wira menghela nafas panjang, "Sejujurnya aku sudah tahu ini sejak lama namun aku mencoba tidak peduli karena itu urusanmu namun sekarang aku harus mendatangimu dan mengadilimu seperti ini karena kasus yang kau tangani menyangkut orangku."
"Katakan siapa orangnya Tuan? Saya akan membebaskannya saat ini juga!"
__ADS_1
Wira tersenyum lalu menjawab, "Faris namanya Faris,"
Bersambung...