TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
79


__ADS_3

Ken berlari ke atas dan langsung mengetuk pintu kamar Wira.


Wajah Ken tampak pucat dan khawatir setelah mendengar berita tentang Rizal yang kecelakaan.


Ken memang meminta rekannya untuk mengawasi Rizal, takut jika Rizal merencakan hal jahat pada Wira dan Vanes namun siapa sangka Ken malah mendapati berita mengejutkan ini.


Pintu terbuka, nampak Wira masih memakai piyama tidurnya. "Maaf Tuan menganggu Tuan sepagi ini karena ada berita sangat penting yang harus saya sampaikan."


"Berita apa?"


"Rizal kecelakaan Tuan dan dia meninggal ditempat."


Wira ikut shock mendengar berita itu, Ia kembali masuk ke kamar untuk segera bersiap.


"Dimana dia sekarang?" tanya Wira saat sudah siap berangkat.


"Ada dirumah sakit citra medika,"


"Aku akan kesana dengan yang lainnya, kau cari tahu penyebab kecelakaan." pinta Wira.


"Baik Tuan."


Wira segera masuk ke dalam mobil dimana anak buahnya yang lain sudah menunggu. Mobil segera melaju kerumah sakit tempat mayat Rizal berada.


Sampai dirumah sakit, Wira segera dibawa menuju kamar mayat, Ia sempat shock saat melihat mayat Rizal yang hampir tak berbentuk lagi.


"Tidak ada keluarganya, jadi bagaimana ini pak?" tanya salah seorang perawat yang berjaga dikamar mayat.


"Saya yang akan mengurusnya." ucap Wira dengan tegas.


Meskipun Wira sempat membenci Rizal karena sudah menyakiti putrinya namun tetap saja Wira tak tega melihat Rizal harus mati mengenaskan seperti ini. Semenjak Papa Rizal meninggal, Wira sudah menganggap Rizal sebagai putranya sendiri. Sebenarnya Rizal anak yang baik dan pintar namun karena mengikuti ambisi Tantri yang seperti itu membuat Rizal pun mau tak mau menjadi seperti Tantri.


Wira ingat saat pertama kali Tantri mengatakan jika Tantri ingin menjodohkan Rizal dengan Vanes, Rizal tampak terkejut dan seolah tak suka namun karena Tantri memaksa, Rizal tidak memiliki alasan untuk menolak hingga akhirnya menerima rencana Tantri itu.


Rizal tak bersalah, dia anak baik yang harus mengikuti ambisi Mamanya, itulah yang ada dipikiran Wira saat ini.

__ADS_1


Ada sedikit penyesalan dihati Wira karena menolak permintaan Rizal kemarin. Rizal hanya meminta Mamanya dibebaskan dan Rizal berjanji tidak akan menganggu Wira lagi namun sayangnya Wira tidak mengabulkan permintaan Rizal.


Jika saja Wira tahu ini hari terakhir Rizal mungkin Wira akan menuruti keinginan Rizal. Sayangnya Wira tidak sehebat itu hingga tahu hari kematian seseorang. Tidak ada yang tahu kapan hidup kita akan berakhir dan dengan cara apa hidup kita berakhir, semua sudah diatur oleh Sang Penguasa kehidupan.


"Semoga kau tenang disana." gumam Wira kembali menutup mayat Rizal.


Sementara itu dipenjara, Tantri terdengar histeris setelah mendengar kabar jika Rizal meninggal karena kecelakaan.


"Tidak mungkin, dia pasti dibunuh. Ya... Wira pasti sudah membunuh putraku!" teriak Tantri dengan air mata mengalir.


"Jangan menfitnah orang sembarangan, Tuan kami tidak mungkin melakukan itu!" sentak anak buah Wira yang baru saja memberikan kabar duka itu pada Tantri.


"Aku tidak menfitnah, aku berkata sejujurnya, pasti Wira pelakunya, pasti Wira!" tegas Tantri.


"Itu kecelakaan, bagaimana bisa kau menuduh seperti itu? Anakmu mabuk dan tidak bisa mengendalikan mobilnya jadi berhenti menuduh orang lain." ucap polisi yang berjaga merasa kesal dengan ucapan Tantri.


"Tidak mungkin, Wira pasti sudah membunuhnya huhuhu anak ku yang malang." tangis Tantri semakin pecah.


Anak buah Wira tampak menghela nafas panjang, "Tadinya Tuan memintaku untuk menjemputmu agar bisa datang ke pemakaman Rizal namun mendengarmu menuduh Tuanku seperti itu, aku berubah pikiran."


Tantri menggelengkan kepalanya, "Tidak... Aku harus datang kesana. Aku harus menemani putraku!" pinta Tantri kini memohon pada anak buah Wira.


"Hanya 1 hari ini, pastikan dia kembali setelah acara selesai."


Anak buah Wira mengangguk setuju dan Tantri diberikan bebas untuk menemani acara pemakaman Rizal.


Tak hanya Tantri, mobil Wira yang lain bertugas untuk menjemput Vanes, Faris, Slamet dan Asih yang ada dikampung.


Vanes dan Faris yang masih ada dikampus pun terkejut dengan berita meninggalnya Rizal. Begitu juga dengan Asih dan Slamet yang terus mengalirkan air mata setelah mendengar berita duka itu.


"Sudahlah Pak... Bu.. Mungkin ini memang jalan hidupnya Mas Rizal." Faris mencoba menghibur kedua orangtuanya.


"Tapi kenapa harus secepat ini? Rasanya masih tak percaya." ucap Asih.


Faris menghela nafas panjang, Ia melihat ke samping dimana Vanes tertunduk dan hanya diam sedari tadi.

__ADS_1


Faris mengerti apa yang dirasakan oleh Vanes, Ia pun merangkul tubuh Vanes, "Ikhlaskan... Ikhlaskan..." ucap Faris sambil mengelus kepala Vanes.


"Dia memang pernah menyakitiku tapi aku tidak sekalipun mendoakan hal yang buruk untuknya, aku selalu berdoa dia bahagia." ungkap Vanes.


Faris mengangguk, "Aku tahu, aku mengerti. kau sudah melakukan yang terbaik, jangan sedih."


Setelah perjalanan beberapa jam, mobil yang mereka tumpangi akhirnya sampai di istana Wira dimana acara dilakukan dirumah Wira.


Semua orang tampak hadir melayat bahkan teman teman bisnis Wira banyak yang datang.


Slamet, Asih, Faris dan Vanes tampak mendekati peti mati Rizal dimana ada Tantri yang tengah menangis sambil memeluk peti mati putranya.


"Mbak..." panggil Asih sambil mengelus bahu Tantri.


Tantri menegok, Ia melihat wajah Asih dan Slamet lalu bergantian menatap Vanes dan juga Faris yang seketika membuat emosinya meluap.


"Apa apaan ini, kalian datang bersama? Tak tahu malu, jadi selama ini keluargamu yang sudah menyembunyikan Vanes?" tuduh Tantri membuat Semua orang menatap ke arahnya bingung.


"Menjijikan, kau menantu tak tahu diri. Bagaimana bisa kau dekat dengan iparmu sendiri setelah bercerai dari putraku!" sentak Tantri sambil menunjuk ke arah Vanes.


Kini Slamet, Asih dan Faris mengerti apa yang dituduhkan oleh Tantri.


"Semua hanya salah paham mbak, kami tidak tahu apa apa." ucap Asih membela diri.


"Omong kosong! Selama ini Rizal berusaha mencari Vanes karena Ia tak mau bercerai dari Vanes tapi ternyata kalian yang menyembunyikan Vanes. Aku benar benar muak melihat kalian, pergi dari sini, tidak perlu datang jika hanya ingin menertawakan kekalahanku!"


Asih tak kuasa untuk menahan tangisnya, Ia kembali menangis, tak menyangka jika Kakaknya akan menuduhnya seperti itu padahal dirinya tulus ingin datang melayat.


"Hentikan drama mu Tantri!" sentak Wira yang sedari tadi mendengar ucapan Tantri dari kejauhan.


"Kau benar benar sudah kelewatan, disamping mayat anakmu pun kau tidak bisa membiarkan dia pergi dengan tenang." tambah Wira dengan raut wajah marah.


"Sebaiknya kau diam! Dasar pembunuh, tidak hanya membunuh suamiku sekarang kau juga membunuh putraku!" tuduh Tantri menatap Wira tajam lalu melihat ke arah meja dimana ada pisau disana.


Tantri berlari mengambil pisau itu lalu berlari ke arah Wira dan.....

__ADS_1


Bersambung....


Jangan lupa like vote dan komen yaaaa


__ADS_2