TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
131


__ADS_3

Rani mengaduk aduk soto yang hampir dingin. Ia belum makan sesuap pun, sibuk melamun memikirkan sesuatu yang mengganjal di pikirannya saat ini.


"Aku makan aja ya?" Dylan menggeser mangkuk Rani.


"Eh jangan, aku belum makan." Rani kembali menarik mangkuknya.


"Lagian enggak makan malam melamun." omel Dylan, "Mikirin apa?"


Rani menatap Dyaln sejenak sebelum akhirnya Ia berbicara, "Memang peraturan perusahaan gitu ya?"


"Ohh tentang Bos Ken tadi? Enggak lah dia cuma mengada ada. harusnya kalau memang peraturannya gitu dari awal bilang sama kita kan?"


Rani mengangguk setuju,


"Apa mungkin Bos Ken suka sama kamu?"


Rani menggelengkan kepalanya, seolah tak setuju dengan ucapan Dylan, "Nggak mungkin, dia udah punya istri lagian sekarang kami ini bersaudara."


Dylan tersenyum kecut, "Ya mungkin bukan kamu yang suka tapi Bos Ken yang suka sama kamu. Kalau saran aku, jangan mau lah Ran. Pertama, dia itu suami orang yang kedua..." Dylan tak melanjutkan ucapannya.


"Yang kedua?"


"Karena aku suka sama kamu Ran."


Seketika hening, Rani menunduk meskipun Dylan masih menatapnya penuh harap.


"Aku tahu Ran mungkin sulit buat kamu. Aku cuma mau ngungkapin perasaan aku saat ini, entah diterima atau tidak, setidaknya kamu tahu apa yang kurasakan saat ini Ran." ungkap Dylan yang masih membuat Rani terdiam.


Sejujurnya Rani juga ingin memiliki kekasih apalagi Dylan juga baik dan tak kalah tampan dari Ken hanya saja Ia takut jika memaksa perasaan pada Dylan dan berakhir menyakiti pria itu.


"Nggak harus dijawab sekarang Ran." ucap Dylan tersenyum penuh ketulusan membuat Rani ikut tersenyum.


"Nah gitu kan cantik," puji Dylan.


"Dasar gombal!"


Dylan tertawa, "Enggak gombal, aku ngomong apa adanya ini lho, tulus dari hati aku."


Rani mengangguk, "Semisal nanti ada yang suka sama kamu dengan tulus, jangan nungguin aku ya Mas Dylan."


Dylan kembali tertawa namun terdengar hambar, "Aku nggak yakin."


Sementara itu ditempat lain,


Ken berlari memasuki gedung kantor milik Wira. Ia segera menuju ruangan Sara dan melihat istrinya itu berbaring lemas disofa ditemani sekretarisnya.


"Apa yang terjadi sayang?" tanya Ken yang kini sudah disamping Sara, mengelus kepala Sara.


"Saya permisi." ucap Sekretaris Sara tak ingin menganggu Sara dan Ken.


"Aku mual dan kepala ku pusing." keluh Sara dengan wajah pucatnya.

__ADS_1


"Kenapa tidak langsung ke klinik?"


"Aku menunggumu karena ingin ke klinik bersamamu."


Ken tersenyum lalu mengendong tubuh Sara, membawanya ke mobil. Perlakuan Ken membuat orang orang dikantor baper dan memuji Ken.


"Wah beruntung banget Bu bos dapet suami kayak Pak Ken. Nggak cuma ganteng tapi juga perhatian." celetuk salah satu karyawan kantor yang langsung diangguki rekannya.


Ken segera melajukan mobilnya menuju Klinik terdekat dan kembali mengendong Sara, membawanya ke IGD.


Ken keluar dari IGD, membiarkan dokter memeriksa Sara.


Tak berapa lama Dokter yang memeriksa Sara keluar dari IGD, Ken segera berlari mendekati Dokter itu.


"Apa yang terjadi pada Istri saya Dok?"


Dokter itu tersenyum, "Sepertinya kau akan senang setelah mendengar berita ini."


Ken mengerutkan keningnya tak mengerti, "Apa maksud Dokter?"


"Selamat, sebentar lagi kau akan jadi Ayah."


Ken terkejut, sangat terkejut hingga Ia melonggo menatap Dokter itu tak percaya.


"Kau tidak senang?"


Ken mengangguk cepat, "Senang, tentu saja saya senang." ucap Ken.


"Kandungannya baru berumur 3 minggu, masih sangat muda dan rentan jadi kau harus bekerja extra menjaga istrimu agar tidak kelelahan."


"Jika istrimu kelelahan, dia akan mengalami keguguran jadi sebaiknya kau jaga dia agar tidak kelelahan. Apa dia bekerja?"


Ken mengangguk,


"Pastikan dia tidak kelelahan." ucap Dokter itu lalu pergi meninggalkan Ken.


Ken memasuki IGD, melihat istrinya masih tampak lemas dan pucat. Ia menghampiri Sara lalu memeluknya.


"Ada apa? Apa aku memiliki penyakit yang berbahaya?"


Ken melepaskan pelukannya lalu tersenyum, bahkan mengecup kening Sara, "Sebentar lagi keinginanmu akan terwujud."


Sara mengerutkan keningnya gak mengerti.


"Kau hamil sayang."


Seketika senyum lebar Sara terlihat, wajah pucat Sara berubah bahagia.


"Tadinya sekretarisku sudah menebak aku hamil tapi aku tidak percaya dan sekarang.... Aku sangat senang sekali."


Ken mengelus kepala Sara, "Aku juga senang sayang karena sebentar lagi kita akan menjadi orangtua."

__ADS_1


Setelah selesai pemeriksaan, Sara dan Ken keluar dari rumah sakit. Sebelum mengantar Sara pulang kerumah, Ken menebus obat diapotik terlebih dulu.


"Kenapa pulang? Aku harus kembali ke kantor." ucap Sara.


"Tidak bisa sayang, kau harus pulang. Dokter bilang kau harus banyak istirahat jadi aku harap kau memikirkan untuk resign." kata Ken.


"Resign? Aku tidak mau!" Sara langsung menolak dengan tegas.


Sara tidak bisa membayangkan jika Ia harus berada dirumah tanpa melakukan apapun, pasti akan sangat membosankan.


Ken menghela nafas panjang, "Pikirkan lagi sayang."


Sara terdiam cukup lama sebelum akhirnya Ia menjawab, "Baiklah, akan aku pikirkan lagi."


Sesampainya didepan rumah, Ken mengecup kening Sara lalu membiarkan istrinya itu keluar dari mobil.


Sara sempat melambaikan tangan ke arah Ken sebelum Ken melajukan mobilnya untuk kembali ke kantor.


Sampai dikantor, Ken masuk keruangan Rani untuk meminta berkas yang sedang dikerjakan oleh Rani.


Saat membuka pintu, Ken melihat ada Dylan disana. Lagi lagi ada perasaan tak suka saat melihat Dylan mendekati Rani.


"Ngapain kamu disini?" tanya Ken dengan suara sinis.


"Cuma bantuin Rani Bos, komputernya rusak." Dylan memperlihatkan bongkaran komputer yang baru saja Ia kerjakan.


Ken berdecak, "File nya yang tadi sudah siap?" tanya Ken pada Rani.


"Belum pak, komputer saya malah rusak."


"Kerjakan diruangan saya sekarang, tidak ada waktu buat nunda, itu berkas penting." perintah Ken yang langsung diangguki oleh Rani.


Rani membawa map penting ke ruangan Ken, Ia mulai mengerjakan file disana.


Tampak Ken ikut masuk ke ruangan, menatap Rani yang fokus mengerjakan File, pura pura acuh padahal tahu jika Ken menatap ke arahnya.


"Kamu pacaran sama Dylan?" tanya Ken.


Rani menghentikan gerakan jarinya yang sedang mengetik lalu menatap Ken, "Kalau iya kenapa?"


Mata Ken langsung saja melotot, "Apa nggak ada cowok lain hah! Bukannya aku sudah bilang kalau dilarang pacaran sama teman kantor?"


Rani tersenyum, "Nggak ada peraturan seperti itu, saya tahu itu hanya akal akalan bapak saja." kata Rani dengan tegas.


"Akal akalan, apa kamu pikir aku cemburu?"


Rani tersenyum lalu kembali melajutkan pekerjaannya.


Hanya beberapa menit Rani sudah menyelesaikan pekerjaannya.


Rani berdiri dari duduknya, "File nya sudah saya simpan di komputer Bapak dan saya ingin mengatakan sesuatu pada Bapak, dulu saya memang menyukai Bapak tapi itu dan sekarang saya sudah memiliki kekasih jadi saya pikir seharusnya kita bahagia dengan pasangan masing masing, bukankah begitu?"

__ADS_1


Rani tersenyum, tak menunggu jawaban Ken dan langsung keluar dari ruangan Ken.


Bersambung...


__ADS_2