TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
216


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang ke kantor, Rani lebih banyak diam tidak cerewet seperti biasanya. Dylan yang sedari tadi juga diam pun bisa merasakan jika Rani sedang kesal saat ini. Meskipun begitu Dylan juga tak bisa melakukan apapun. Jika Ia memaksa mengajak Rani bicara hanya akan membuat mereka bertengkar lagi.


Dylan mengerti Rani pasti cemburu dengan Yesi yang terang terangan menggodanya. Ia hanya berharap Rani bisa percaya padanya jika Ia tak akan tergoda dengan wanita manapun termasuk Yesi sekalipun meskipun Yesi lebih cantik dari Rani, Dylan tidak akan tergoda.


Sampai dikantor, masih belum berbicara apapun, Rani meninggalkan Dylan begitu saja memasuki ruangan.


Dylan hanya menghela nafas panjang. Ia pun segera keruangannya untuk melanjutkan pekerjaan.


"Merindukanku?" goda Dylan saat Rani memasuki ruangan Dylan.


"Seperti biasa aku hanya ingin meminta tanda tangan." kata Rani mengulurkan berkas yang Ia bawa.


Dylan tersenyum, "Sebentar lagi Yesi datang kesini jika bisa aku ingin memintamu menemaniku." kata Dylan.


"Kenapa harus ditemani bukankah malah lebih enak jika hanya berdua tanpa aku?" cibir Rani.


Dylan menghela nafas panjang, beranjak dari duduknya dan berjalan menghampiri Rani, "Sebenarnya apa yang membuatmu marah?"


"Aku tidak marah."


"Tapi kau kesal, aku tahu jika Yesi tertarik denganku tapi kau sendiri juga tahu jika aku sama sekali tidak merespon Yesi. Masalahnya dimana sekarang?" protes Dylan akhirnya tak tahan dengan Rani yang setiap kali marah padanya hanya karena Yesi.


Rani terdiam, memikirkan ucapan Dylan.


"Aku hanya ingin kau percaya padaku, aku tak akan tertarik dengan Yesi atau siapapun itu. hanya kamu satu satunya wanita yang ku cintai setelah ibuku jadi tolong, jangan marah lagi hanya karena masalah sepele seperti ini." pinta Dylan.


Diam diam Rani tersenyum kecil mendengar Dylan mengatakan jika Ia satu satunya untuk Dylan.


"Maaf, aku hanya takut jika kau tergoda dengan Yesi."


"Tidak akan pernah, percayalah padaku." kata Dylan.


Rani akhirnya tersenyum lalu memeluk Dylan,


"Jika kau tak ingin aku tergoda dengan wanita lain, kau harus menempel padaku setiap saat." pinta Dylan.


"Baiklah baiklah, aku akan menempel padamu setiap saat agar tak ada yang berani menggodamu!" ucap Rani yang langsung membuat Dylan tersenyum.


Baru beberapa detik Rani melepaskan pelukan Dylan, pintu ruangan terbuka membuat Dylan dan Rani melihat siapa yang datang.

__ADS_1


"Apa aku menganggu?" suara centil Yesi dengan wajah menyebalkan milik Yesi terlihat didepan pintu.


"Meskipun kau ini klien kami tapi seharusnya kau mengetuk pintu lebih dulu jika ingin memasuki ruanganku!" ucap Dylan terdengar galak.


"Ups, jadi aku sudah salah ya? Maafkan aku. Aku tidak berniat lancang, aku hanya ingin kita lebih akrab saja agar tidak canggung." kata Yesi membela dirinya.


"Tetap saja, seharusnya kau mengetuk pintu lebih dulu agar tidak menganggu privasi orang!" omel Dylan.


Rani menatap Dylan tak percaya, kali pertamanya Ia melihat Dylan mengomel seperti ini apalagi dengan klien mereka. Sekalipun Dylan belum pernah mengomel seperti ini.


"Kau terlalu berlebihan, sebaiknya berikan saja berkasnya dan aku akan segera pergi!" ucap Yesi dengan raut wajah berubah.


Dylan mengambil berkas yang ada dimejanya lalu memberikan pada Yesi, "Kau bisa pergi sekarang, aku sudah memastikan jika berkas ini sudah benar dan tak ada kesalahan sedikitpun." ucap Dylan lalu menutup pintu ruangannya.


Dylan berbalik menatap ke arah Rani yang masih terkejut dengan apa yang baru saja Ia lakukan, "Kau akan marah lagi padaku?" tanya Dylan yang langsung digelengi oleh Rani.


"Aku tak menyangka kau akan bersikap seperti itu."


Dylan tersenyum tipis lalu mencium pipi Rani, "Aku akan melakukan apapun asal tidak membuatmu kesal."


Rani ikut tersenyum, "Bagaimana jika Yesi marah dan mengadu pada Tuannya?"


Rani tersenyum lebih lebar, kini Ia percaya jika Dylan benar benar mencintainya. Rani kembali memeluk Dylan.


...****************...


Malam ini semua orang bersiap pergi ke kampung halaman Bik Sri karena 2 hari lagi acara pernikahan digelar disana.


Keluarga Wira datang 1 hari lebih awal karena mereka tak ingin melewatkan serangkaian acara tradisi pernikahan dikampung halaman Bik Sri.


Ada 3 mobil yang berangkat malam ini,


1 mobil berisi barang barang seserahan untuk pernikahan, mobil kedua ada Mang Ujang, Faris, Vanes dan Wira lalu mobil terakhir ada Zil, Arga, Sara dan Herman yang ikut serta karena ingin menjadi saksi dipernikahan sahabatnya itu.


Saat mereka akan berangkat, ada satu mobil yang masuk ke pelataran rumah Wira.


"Siapa itu? Mobilnya tampak tak asing." ucap Wira akhirnya keluar untuk melihat mobil siapa yang datang.


Wira tersenyum saat melihat Wang keluar dari mobil, "Apa kau tak menganggapku sahabat hingga aku tak di ajak pergi ke pernikahanmu?" protes Wang membuat Wira tertawa.

__ADS_1


"Bukan begitu, aku pasti akan mengundangmu di acara resepsi ku." ucap Wira.


"Tidak, sekarang aku juga ingin ikut menjadi saksi pernikahanmu." pinta Wang.


Wira tak mempunyai pilihan lain selain mengajak Wang ikut serta bersamanya.


"Kau dengan siapa? Istrimu?" tanya Wira melihat ada orang lain dimobil Wira.


"Bukan, aku bersama asisten ku." ucap Wang.


Wira menghela nafas panjang, "Kau memang tak pernah berubah."


Wang hanya tersenyum.


"Kenapa lama sekali?" teriak Herman ikut keluar dari mobil dan melihat Wang, "Kenapa kau disini?" heran Wang mengingat pagi tadi Ia sempat bertemu dengan Wang untuk membicarakan masalah pekerjaan.


"Dia yang mengatakan padaku jika kau akan menikah." adu Wang pada Wira sambil menunjuk Herman.


"Mulutmu benar benar ember." omel Wira pada Herman.


Herman tertawa, "Kita ini sahabat, seharusnya hal penting seperti ini memang harus dibicarakan." ucap Herman.


"Ya sudah kalau begitu, kita akan berangkat sekarang menuju kampung halaman istriku." ucap Wira.


Mereka pun kembali memasuki mobil masing masing dan mobil segera melaju meninggalkan halaman rumah Wira.


"Apa tidak masalah kita ikut?" tanya Yesi pada Wang.


"Tentu saja tidak masalah sayang, Wira itu sahabatku, sudah seharusnya aku ikut menemani hari bahagianya." ucap Wang mengelus rambut Yesi, "Terima kasih karena kau sudah mau menemaniku."


Yesi tersenyum, "Tentu saja aku harus menemanimu lagipula istri mu yang lumpuh itu tidak mungkin bisa menemanimu." kata Yesi.


"Ya kau benar, dia memang tak berguna."


Dalam hatinya Yesi bersorak senang, setelah ini Ia akan membalas perbuatan Dylan dan Rani dimana siang tadi Dylan sudah membuatnya malu.


Bersambung...


Jangan lupa like vote dan komen yaa

__ADS_1


__ADS_2